Yang pasti mereka akan saling buka-bukaan; seperti yang terjadi pada hari Selasa, 25 Agustus 2010 yang lalu. Berlokasi di Gado-Gado Cemara, Menteng, berkumpulah para NLPers untuk berbuka puasa bersama para ICONers (Indonesia Community of Neuro-Semantics).
Acara non formal yang seru dan asyik ini terselenggara berkat prakarsa Ibu Mariani Ng selaku kepala suku Neuro-Semantics di Indonesia. Saya sendiri hadir mewakili NLP Into Action yang diundang untuk copy darat dengan para contributor www.nlpintoaction.com yang walau sudah sangat akrab di dunia maya tapi belum pernah bertemu di dunia nyata.
Selain dihadiri para alumni Neuro Semantic, juga turut hadir para NLP Trainers dari berbagai aliran.
Berikut ini liputannya; mohon maaf bila ada yang kurang, toh selalu ada Deletion, Generalization dan Distortion.
Saat saya tiba, sudah ada beberapa orang yang datang lebih dahulu. Di salah satu meja, duduklah tiga orang Certified NLP Trainer (Bu Mariani, dr. Stef dan Pak Jonwin) dan dua orang kawan dari praktisi NLP yang juga trainer; Pak Prasetya Brata dan . Mereka kelihatannya seru sekali mendiskusikan sebuah teknik intervensi TERBARU dan TERCEPAT – KHAS Indonesia.
Kasus bermula dari Bu Mariani yang mengeluh mengenai aroma asap rokok dari peserta meeting yang baru saja dihadirinya. Gangguan ini membuat diri beliau merasa agak mual. Singkat cerita, para original developer ini tanpa sengaja malah mengembangkan sebuah teknik yang memungkinkan Bu Mariani Ng menjadi seorang pecandu rokok. Hasilnya? Yang saya saksikan sendiri adalah Bu Mariani langsung meminta sebatang rokok. Hehehe……
Setelah sebagian besar para undangan datang, kami pun pindah ke ruangan yang lebih tertutup. Para NLP Trainer yang tampak hadir pada malam itu adalah dr. Stef dari NLPU, Pak Jonwin dari NLP Academy, Bu Issa dari ABNLP, Pak Erwin Wong dari Neuro-Semantics, serta Bu Irene yang baru saja pulang dari Santa Cruz dalam rangka mengambil sertifikasi Master Trainer NLPU.
Bu Mariani membuka acara dengan pidato singkat mengenai tujuan undangan, yaitu saling bersilahturahmi (baca : kumpul-kumpul). Lalu para tamu undangan pun mulai memperkenalkan diri satu-persatu. Sesi ini yang menurut pandangan saya sangat menghibur secara intelektual karena para hadirin seolah mengolah kemampuan linguistik mereka. Ditambah lagi celetukan-celetukan yang cerdas antar Trainer. Oh iya, ditengah-tengah acara ini, Pak Jerry (pemilik Quantum Study) dan Pak Louis Sastrawijaya (motivator dan penulis buku 100% Motivated) datang. Disusul oleh Pak Wahyudi Akbar, NLP Trainer dari Neuro-Semantics.
Setelah sesi perkenalan diri selesai; mulailah Bu Mariani dan beberapa tamu lain memprovokasi Bu Irene untuk sharing up date terbaru dari Santa Cruz.
Apa itu yang dimaksud dengan NLP Generasi ke-3?
Di tengah-tengah sharing dari Bu Irene; Bu Mariani pun ikut menyumbangkan pengetahuan beliau mengenai konsep dari NLP Generasi ke-3, disusul oleh Bu Issa dengan pengetahuannya tentang Huna dan dr. Stef, sebagai orang Indonesia pertama yang belajar ke NLPU menambahkan dan memperkaya konsep dari NLP Generasi ke-3. Bahkan ide dari tentang NLP itu sendiri. Pak Jonwin pun turut menyumbangkan pemikiran yang didapatnya dari John Grinder (co-founder NLP) bahwa model NLP modern lebih ringkas dan didapat bukan dari dunia barat, tetapi dari Amerika Latin, Asia dan Indonesia!!!
Bu Mariani melanjutkan bahwa Suzi Smith dan Tim Hallbom pernah memodel healing ke suku Indian di Amerika. Pak Jonwin menambahkan informasi bahwa awalnya ketika Gregory Bateson ke Bali mempelajari healing Bali bukan dari teknik-tekniknya, tetapi dari tulisan-tulisan di daun lontar.
Dari diskusi yang luar biasa ini, akhirnya kami semua sepakat bahwa ujung-ujungnya dari berbagai aliran NLP di dunia adalah satu; yaitu menuju dimensi spiritual. Satu hal lagi yang sangat menyenangkan ketika berada dengan para NLPer ini adalah semangat belajar mereka yang luar biasa. Hampir sebagian besar trainer NLP di Indonesia ternyata juga belajar langsung dari para creator dan original contributor. Pertemuan kemarin seolah menyatukan berbagai macam potongan puzzle menjadi gambaran besar tentang ilmu NLP ini. Two Tumbs Up!
Ketika sesi tanya jawab, Pak Zaki; salah seorang undangan melontarkan pertanyaan yang kira-kira berbunyi:“Apa yang membedakan kita-kita yang tahu NLP (aliran mana pun dan generasi ke berapa pun) dengan orang-orang yang tidak mengerti NLP di luar sana. Toh mereka kelihatannya juga baik-baik saja?”
dr. Stef kemudian angkat bicara dengan memberikan penjelasan mengenai apa itu ilmu NLP dengan bingkai 4 pilar NLP menurut Robert Dilts. NLP Practitioner sebetulnya ditujukan lebih kepada diri sendiri, bukan bagaimana “memperbaiki” orang lain. Istilahnya adalah Sense of Self (SoS). Setelah SoS udah mumpuni, maka kita mulai sadar apa yang kurang atau belum kita kuasai. Dari sinilah kemudian belajar modeling di NLP Master Practitioner, untuk mengintegrasikan skill orang lain yang excellent ke dalam diri sendiri sehingga masalah bukanlah menjadi masalah lagi.
Bu Issa melanjutkan sharing dr. Stef bahwa beliau bahkan perlu 3 kali ikut NLP Practitioner dan setelah beliau menjadi NLP Trainer-pun masih belum merasakan NLP menyatu dalam dirinya hingga suatu kejadian yang membuat beliau menjadi paham bahwa NLP is about experiencing. Bu Mariani pun menyuarakan hal senada. Dalam kelas-kelas sertifikasi yang diselenggarakan Bu Mariani; pada akhir kelas beliau menekankan kepada para peserta bahwa sertifikat itu hanyalah sepotong kertas. Ilmu baru didapat jika dipraktekan.
Acara berakhir menjelang pukul sembilan malam. Ditutup dengan sesi terakhir berupa foto bersama. Seusai foto bersama, para hadirin saling berkenalan lebih dekat lagi satu sama lainnya. Wow, indahnya saat-saat itu. Terima kasih Bu Mariani atas acara yang luar biasa ini! Nantikan acara berikutnya!
August 26th, 2010 at 9:17 pm
Biasa aja ….
September 1st, 2010 at 10:57 am
sepertinya acara ini membuat orang2 saling memperkaya pengetahuan
tentang bagaimana mensiasati hidup, sukses selalu
September 1st, 2010 at 1:02 pm
oh iya…para NLP-ers ? mau tanya donk…!!! apa yang ada di NLP adalah hal kecil yang terdapat dalam suatu ajaran agama. lalu saya mau tanya, apa yang ada di NLP, tidak terdapat di ajaran sebuah agama ?
saya melihat, begitu bangganya orang menjadi practioner NLP sampai dengan bergelar master. padahal para Kyai, Ustadz, Pendeta, Pandega, Biksu dan lain-lainya juga memiliki ilmu yang lebih kompleks dan tidak terlalu di bangga-banggakan.
terimakasih
September 5th, 2010 at 12:27 pm
saya setuju dengan pak/bu Andra
“harusnya” menjadi NLP practitioner apalagi master, bukan untuk bangga-bangga-an, tetapi harus bertanggung jawab, pertama bertanggungjawab untuk diri sendiri dulu, baru ke orang lain (mengutip jawaban pak Stef)
seperti ustad, pendeta, biksu dll, menjadi contoh tauladan bagi umat
“konon katanya”, ilmu NLP akan men-TRANSFORMASI-kan kehidupan ?
so TRANFORMASI apa yang sudah/sedang terjadi bagi para PRACTITIONER/MASTER NLP ?
coba deh pak/bu Andra tanya ke kenalan anda yang ngakunya practitioner/master NLP ?
sudah baca artikel pak Stef “PETUAH YANG DISALAH GUNAKAN” ?
sekilas sepertinya gara-gara NLP kehidupan jadi lebih jelek (jadi tukang bohong ?)
menurut saya, hubungan NLP dan AGAMA adalah, NLP hanya sebatas ilmu komunikasi saja, mau dipakai mengajarkan AGAMA bisa, komunikasi manusia menjadi hamba TUHAN yang TAQWA bisa, komunikasi orang menjadi pemuja SETAN juga bisa
yang NLP gak bisa adalah komunikasi ke BINATANG dan TUMBUHAN
Mohon maaf jika yang saya tulis ada yang menyinggung hati dan perasaan