Nov 27

by Daniel Kurniawan

Sejak saya pertama kali datang ke Medan. Tepatnya ke kampung halaman mertua di Sumatera Utara. Ada sebuah tradisi unik yang belum pernah saya temuin di kota asal saya yaitu Palembang. Tradisi tahunan yang unik ini dilaksanakan setiap mau memasuki Tahun Baru. Tepatnya satu jam sebelum jam berdentang sebanyak dua belas kali. Entahlah sudah berapa lama kegiatan rutin ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat Batak.

Makna TAHUN BARU

Bagi sebagian orang Batak setiap pergantian tahun bukan hanya sebuah ritualitas makan bersama. Atau menunggu detik-detik pergantian tahun. Lalu meniup terompet begitu jam menunjukkan sudah datangnya awal tahun baru. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yaitu setiap menyambut awal tahun baru BUTUH dan PERLU melepaskan setiap belenggu perasaan seperti benci, dendam, marah, egois, kecewa dll. Intinya setiap permasalahan yang dialami di tahun yang lalu, perlu dilepaskan. Kok di awal tahun baru masih mau mengendong masalah. Biar seperti busur panah yang lepas dan mampu melaju kencang menuju sasaran.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (12 votes cast)
Nov 21

by Yudhi K. Gunawan

Artikel ini terinspirasi dari pembicaraan dengan seorang sahabat yang Miracle nya. Beliau mengatakan hasil dari sebuah survey badan PBB menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia mengalami masalah mental dan pikiran.

Masalah adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan kita. Kita semua pernah mengalami nya. Kita semua pernah menghadapinya. Masalah membuat kita tetap sebagai manusia. Masalah membuat kita tetap menjadi Miracle dalam kehidupan kita.

Masalah adalah salah satu bagian terpenting dari Miracle yang diberikan Allah SWT kepada hambanya. Itu merupakan miracle yang memberikan kesuksesan pada hambanya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (13 votes cast)
Nov 17

by Erni Julia Kok

Apakah NLP benar-benar berguna? Tanya seorang teman dengan sikap sinikalnya. Selanjutnya ia pun berkomentar bahwa NLP tidak pantas diberi embel-embel “ilmu” sebab NLP hanyalah bualan yang dibentuk dari tambal sulam berbagai teknik; seperti hypnotherapy, Gestalt therapy, dan Family therapy. NLP juga memungut pemikiran-pemikiran sumber lain, sebut saja Noam Chomsky, Gregory Bateson dan….(cepat-cepat saya potong: Transformational Grammar!). Teman saya membeliak, “Apa itu transformational grammar?” Sambil tersenyum saya menjawab, “Itulah Meta-model yang menjadi cikal-bakal “ilmu gathuk ini!” (Silakan baca buku The Structure of Magic Vol I oleh Richard Bandler dan John Grinder).

Di saat merenung dalam hati, saya justru dapat melihat dan menyelami kelebihan NLP, sebab diramu dengan banyak sekali pemikiran, maka teknik-teknik yang tercipta sangat fleksibel. Untuk melakukan terapi atau membantu seorang klien kita tidak perlu pusing-pusing menentukan teknik yang mana yang akan kita gunakan, sebab teknik, model, atau alat mana saja dapat digunakan untuk mengatasi masalah mana pun sepanjang kita sebagai coach atau fasilitator percaya diri. Hal ini telah sering saya saksikan dalam kelas-kelas pelatihan, dan berikut ini salah-satu contohnya.

Dalam suatu sesi assessment di ujung pelatihan, seorang peserta pelatihan (kita sebut saja dia Amat) mendapat kesempatan mempraktekkan teknik NLP yang disebut Parts Integration. Secara spesifik dia mendapatkannya dengan menarik undian, jadi bukan maksudnya memilih teknik ini. Barangkali ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu sepintas teknik NLP Parts Integration ini, siapa tahu ada pembaca yang kurang atau belum familiar.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (19 votes cast)
Nov 8

by Wahyudi Akbar

Di kelas NS – NLP Practitioner, kita mempelajari tentang berbagai tools NLP, diantaranya submodalities, swiss pattern, six steps reframing, time line, visual squash, meta model, dll.

Dan satu hal yang kita juga pelajari adalah presuppositions, dalam perjalanan saya mempelajari NLP dan mempraktekan NLP di kehidupan sehari, saya menemukan bahwa presuppositions di NLP dan NS sangat penting untuk kita pahami benar.

Presuppositions inilah yang mendasari setiap tools yang ada dalam NLP maupun Neuro-Semantics, seperti dalam dunia persilatan setiap jurus yang tercipta pasti ada filosofinya, dan begitu juga di NLP dari setiap tools yang kita praktekan ada filosofi atau presuppositions dibelakangnya. Dengan kita memahami presuppositionsnya saya yakin tools itu akan lebih gampang dijalani dan dipahami untuk dipraktekan.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (19 votes cast)
Nov 5

Halo Sobat setia NLP Into Action, kabar baik? Kali ini kami akan menurunkan “Field Report” dari Padepokan Subang. Kami sangat beruntung turut diundang menjadi tamu di Padepokan Subang oleh sebuah komunitas Praktisi NLP yang menamakan dirinya BB#10 (konon kepanjangannya adalah Best Batch #10). Selain NLP Into Action, juga turut hadir beberapa Praktisi NLP dan para sahabat di luar BB#10.

Sekitar pukul 11, rombongan kami tiba di lokasi yang tepat berhadapan dengan milestone KM 156 dari Jakarta menuju Ciater. Tampak sebuah rumah dengan tembok putih, dengan pagar biru muda yang di samping kiri kanannya dihiasi patung Semar dan Togog.

Begitu memasuki pekarangan, kami menemukan sebuah gubuk yang didalamnya sudah ada tiga orang pria; yang sepertinya sudah menunggu kami. Mereka dikenal dengan nama Pak Syaiful Bachri, dr. Stefanus Isaac Tamzil dan Pak Okky Sulistijo.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (16 votes cast)
Nov 3

by Issa Kumalasari

The Summary of Teleconference with Michael Hall on 8-9pm HK Time

Asia Pacific Alliance of Coaches (APAC) Monthly Talk yang menghadirkan L.Michael Hall, PhD yang mengetengahkan sebuah dialog interaktif mengenai Meta-Coaching , acara tele conference yang selalu diselenggarakan oleh APAC denganmengundang para international speaker ternama ini berjalan sangat meriah. Diawali dengan diskusi para coach yang di pimpin oleh Dr. Woraphat, diskusi mengenai apa itu meta coaching ? beberapa pendapat di sampaikan oleh para coach yang dari berbagai Negara yaitu Indonesia, Bangkok, Australia, France, German,Singapore dll. Meta Coaching adalah sebuah model coaching yang memampukan klien untuk terus tumbuh dan berevolusi, meta coaching merupakan karya Michael Hall yang bernuasa NLP (Neuro Linguistic Programming) yang membedakan dari coaching pada umum yaitu dengan digunakan nya pola linguitik NLP seperti Meta Model and Milton Model yang mampu memberikan presisi linguistic sehingga dapat meningkatkan efektifitas coaching dalam level yang tinggi dan meberikan coaching best practice dan juga World Class, begitu lah tanggapan dari sesi awal yang juga di iringi suara ding….ding….ding…zzzz..zzz…zzz, nada para penelpon yang masuk yang untuk ikut tele conference.

Seorang Coach dari Australia bertanya, apakah meta coaching lebih kepada life coaching disbanding Executive Coaching, pertanyaan yang sangat untuk dan menjadi pertanyaan saya pribadi. Pertanyaan yang membuat beberapa dari coach sadar bahwa sudah 20 menit berlalu dan Michael Hall belum terdengar suaranya, oops Meta Problem dimana pembicara yang telah di tunggu tunggu oleh coach dari berbagai Negara belum muncul juga , saya pun mengusulkan Meta Solution, diskusi mengenai:

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
Oct 29

by Daniel Kurniawan

Hai pembaca, apa kabar? Terima kasih banyak atas dukungannya terhadap penulisan artikel NLP yang bersetting budaya nusantara ini. Saya TAHU bahwa masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut supaya artikel yang saya tulis ini menjadi sebuah trigger untuk lebih membangkitkan cinta terhadap kebudayaan Indonesia. Saya merindukan bila ada teman-teman yang dapat mengupas tuntas kebudayaan lain seperti seni tari KECAK BALI, seni DULMULUK PALEMBANG, seni WAYANG KULIT, seni JAIPONGAN khas JAWA BARAT dan tentu saja masih banyak kebudayaan lain yang perlu kita lestarikan.

Baik kita teruskan lanjutan dari artikel pertama. Bilamana pada artikel pertama saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan BATAK (SUMATERA UTARA) dengan tradisi mewariskan budaya PESTA ADAT secara turun termurun. Maka pada artikel kedua ini saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan PALEMBANG ( SUMATERA SELATAN). Apa yang saya bahas kali ini?

TRADISI KELAKAR

Ya, pada tulisan kali ini saya mencoba membahas tentang kebiasaan KELAKAR yang sering dilakukan oleh masyarakat Palembang. Lebih tepatnya BUDAK PALEMBANG(baca=orang palembang). Walaupun seni kelakar ini jugo banyak dilakukan oleh masyarakat lain. Seperti budaya CINO dengan istilah “kongkow-kongkow”. Tapi kali ini pasti teraso IWAKNYO (baca =lebih istimewa, lebih enak) dibandingken yang lain. Salah satu seni kelakar Palembang yang sering dipentaskan untuk wisatawan adalah DULMULUK. Dimana dalam DULMULUK , seni kelakar ini menggunakan bahasa Palembang asli dan dikombinasikan dengan berbalas pantun. Bagi masyarakat Palembang tentu ingat salah satu tokoh DULMUK yang cukup terkenal diantaranya adalah Wak YA dan Wak PET.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (12 votes cast)
Oct 25

by Jonwin Lee

Di suatu hari yang indah, “ Aku “ berada di sebuah mal didaerah kawasan Senayan dalam rangka mengadakan meeting makan siang dengan seorang pimpinan perusahaan untuk membicarakan proyek terbaru yang amat penting bagi perusahaan. Maklum baru belajar mengerjakan hal hal penting dalam hidup dan berusaha menjadi orang penting.

Pas udah mau selesai, kebetulan aku ngeliat cewek cakep dan seksi buanget, ya Tuhan indahnya ciptaanmu yang satu ini.

Ga tau gimana “ Aku terpesona amat sangat “ jadi “ aku “ ngikutin aja kemana cewek itu berjalan di Mal, dengan harapan aji mumpung bisa kenalan…. barangkali.

Saking asiknya “Aku” ngikutin jadi lupa ama waktu.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (14 votes cast)
Oct 19

by Hingdranata Nikolay

Tanyakan pertanyaan sederhana ini: “Berapa menit dalam keseharian normal Anda, Anda habiskan untuk memikirkan dan melakukan sesuatu untuk, dengan, atau bersama orang lain atau sesuatu?” Dan agar pertanyaan ini lebih fair untuk semua, maka kita tidak hitung orang-orang yang benar-benar di jalur profesi dan di waktu operasional seorang profesional. Kita hanya menghitung yang bersifat fun, luang, intermezo, bercengkerama, bercanda, melepas penat, dll.

Saya kasih hint. Katakanlah Anda punya seorang sahabat, si A. Anda setiap hari, rata-rata menelpon dia sekitar 15-30 menit 1 hari, ber-bbm atau ber sms ria dengan dia sekitar 30 menit 1 hari. Tidak jarang bertemu dan menghabiskan waktu sekitar 1-2 jam bersama dia setiap hari. Lalu ada juga si B, yangmana Anda telpon atau bbm atau sms sekitar 10-15 menit setiap hari. Atau si C juga sekitar 15 menit. Atau mungkin kelompok D dan E, di daftar chatting atau bbm Anda, masing-masing sekitar 15-30 menit setiap hari. Atau ber-facebook ria dengan si A, B, C, dan lainnya, sekitar 30-60 menit setiap hari. Atau melakukan hobby Anda, sekitar 1-2 jam sehari.

Saya agak perlahan-lahan di sini, karena saya tahu Anda hampir tidak pernah, atau bahkan tidak berani menghitung dengan cara seperti ini. Kenapa? Lihat saja angkanya. Dengan gambaran sederhana di atas, Anda bisa habiskan sekitar 5-6 jam untuk memikirkan dan melakukan berbagai hal dengan para sahabat Anda atau hobby Anda, setiap hari normal Anda. Kalau Anda mau kurangi waktu kerja (bagi yang bekerja), misalnya, 8 jam dan waktu tidur 8-9 jam, waktu bersih-bersih, 2 kali mandi dan berpakaian, dan 3 kali makan, maka waktu yang tersisa setiap hari normal adalah sekitar 6 jam. Bagi para wanita yang perlu waktu bersiap lebih lama, bisa sekitar 5 jam tersisa. Berarti? Sisa waktunya adalah untuk A, B, C, D, E, dan hobby di atas! Dan tidak ada sisa lagi!

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (7 votes cast)
Oct 10

by Henry Yonathan

Artikel ini diangkat dari sharing yang saya berikan di kantor saya untuk para sales force selama kurang lebih sekitar dua sampai tiga jam. Dalam waktu yang singkat tersebut, materi yang dibahas pun tidak terlalu banyak. Tentunya artikel ini tidak dapat menggantikan suasana kelas yang sebenarnya, dimana terdapat pembelajaran multi-sensorik yang lebih mempermudah pembelajaran.

Artikel ini akan dibagi menjadi tiga seri, yang merupakan fondasi untuk seri artikel saya selanjutnya mengenai praktek NLP dalam penjualan dan pemasaran di lapangan. Dimana pada seri pertama akan dibahas secara singkat apa itu NLP dan asumsi-asumsi yang menjadi fondasi dan roh NLP. Pada artikel kedua akan dibahas secara singkat pula apa itu Rapport dan penggunaannya. Dan artikel terakhir akan dibahas secara singkat seni linguistik dalam penjualan.

Lingkup Bahasan

Dalam artikel ini, saya akan membatasi lingkup pembahasan dengan mengasumsikan dua hal berikut ini :

  • Barang dan atau jasa yang Anda tawarkan kualitasnya sama dengan yang Anda janjikan atau promosikan.

    Saya kira, ini hal yang sangat mutlak Anda perlukan bila Anda ingin terjadi penjualan jangka panjang. Lain halnya bila Anda tidak ingin demikian, siapa yang tahu? Dalam artikel ini saya asumsikan Anda menginginkan terjadinya penjualan jangka panjang.

  • Perlunya Etika

    Poin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Artikel ini tidak akan mengajarkan etika ataupun teknik-teknik NLP untuk membangun etika (ada segelintir praktisi NLP yang menyebutkan dapat membangun etika dengan seketika, sementara saya tidak menganut paham demikian). Namun demikian pada seri artikel saya selanjutnya Anda akan saya ajak memahami konsekuensi-konsekuensi dari tidak beretikanya menggunakan teknik-teknik dahsyat NLP.

  • Penerapan NLP aplikatif dalam kaca mata dan pengalaman saya.

    Menerapkan NLP dalam dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dapat berbeda dengan apa yang Anda baca dari buku ataupun pelatihan dikelas. Dan dalam artikel ini akan saya paparkan penerapan NLP dalam dunia nyata atau keseharian menurut kaca mata dan pengalaman saya pribadi.

Apa Itu NLP?

Saya tidak akan panjang-panjang bahas sejarah NLP dan apa itu NLP. Namun demikian, setidaknya Anda perlu mengetahui sedikit mengenai apa itu NLP.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (9 votes cast)