Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali menjadi program manager untuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu. Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka dengan sebuah pertanyaan menggelitik. Ya, bahkan sampai sekarang saya masih terus tergelitik setiap kali mengingatnya.
“Siapa di sini yang ingin jadi pemimpin?” tanya beliau.
Serempak seluruh trainee pun mengacungkan tangan penuh percaya diri. Maklum, mereka ini adalah karyawan pilihan yang memang sudah ditengarai bibit kepemimpinannya sejak proses seleksi. Dalam hati, saya pun ikut mengacungkan tangan saya. Namun karena jaim sebagai senior, maka saya senyum-senyum saja. Hehehe…
“Bagus,” ujar beliau. Dan para trainee pun menurunkan tangan mereka.
“Nah, kalau semua orang ingin jadi pemimpin, lalu siapa dong yang jadi pengikutnya?” Tanya beliau lagi sambil tersenyum.
by Erwin Wong
Ketika Michael Jordan ditanya apa yang membuatnya menjadi terbaik dari pemain basket NBA lainnya. Michael berkata “Banyak orang yang memiliki bakat dari Tuhan, dan saya adalah salah satunya. Tapi apa yang memisahkan saya selama ini adalah anda tidak akan pernah menemukan seseorang yang lebih kompetitif dari saya. Saya tidak akan bermalas-malasan sedikitpun dalam hal apapun.”
Salah satu titik balik dari kehidupan Michael Jordan terjadi ketika dirinya berada pada kelas SMP (Tenth grade). Apa yang tidak diketahui banyak orang mengenai Michael Jordan sebagai pemain basket yang luar biasa adalah ia dikeluarkan dari Laney High School Bucaneers. Ia pulang kerumah menangis sedih sampai sore.
Apa yang biasanya terjadi pada orang lain, pada umumnya adalah menyerah dan biasanya bergabung dengan orang-orang yang salah.
Michael mengubah rasa sakit hatinya menjadi keinginan yang membara. Ia menetapkan standar yang lebih tinggi dan gol yang lebih tinggi untuk dirinya. Ia menetapkan untuk menjadi orang yang bukan hanya pemain tim yang terbaik akan tetapi juga menjadi pemain terbaik di lapangan.
by Iwan Ketan
Seberapa sering anda datang ke seminar motivasi?
Dan seberapa sering kemudian anda menjadi lemas kembali setelah kembali dari seminar tersebut?
Pernahkah anda menyadari,
Seminar motivasi bertujuan agar anda bisa mengakses ruangan ekselensi anda pribadi. Sehingga di dalam ruangan itu, anda bisa begitu semangat. Anda begitu cemerlang.
Sayangnya kebanyakan seminar motivasi “lupa” memberikan anda kunci ruangan ekselensi pribadi anda. Sehingga ketika anda membutuhkan motivasi atau untuk kembali mengakses ruangan ekselensi, anda tidak tahu bagaimana memasuki ruangan itu kembali.
Namun kini salah satu bentuk Rahasia Motivasi telah terungkap dalam tulisan ini. Dan anda akan mengetahuinya dan langsung bisa mempraktikkan agar anda selalu semangat. Yah sangat semangat. Sehingga anda bisa memunculkan rasa semangat itu kembali sepertihalnya anda sangat termotivasi ketika berada dalam acara motivasi yang pernah anda kunjungi.
Sejak saya pertama kali datang ke Medan. Tepatnya ke kampung halaman mertua di Sumatera Utara. Ada sebuah tradisi unik yang belum pernah saya temuin di kota asal saya yaitu Palembang. Tradisi tahunan yang unik ini dilaksanakan setiap mau memasuki Tahun Baru. Tepatnya satu jam sebelum jam berdentang sebanyak dua belas kali. Entahlah sudah berapa lama kegiatan rutin ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat Batak.
Makna TAHUN BARU
Bagi sebagian orang Batak setiap pergantian tahun bukan hanya sebuah ritualitas makan bersama. Atau menunggu detik-detik pergantian tahun. Lalu meniup terompet begitu jam menunjukkan sudah datangnya awal tahun baru. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yaitu setiap menyambut awal tahun baru BUTUH dan PERLU melepaskan setiap belenggu perasaan seperti benci, dendam, marah, egois, kecewa dll. Intinya setiap permasalahan yang dialami di tahun yang lalu, perlu dilepaskan. Kok di awal tahun baru masih mau mengendong masalah. Biar seperti busur panah yang lepas dan mampu melaju kencang menuju sasaran.
Artikel ini terinspirasi dari pembicaraan dengan seorang sahabat yang Miracle nya. Beliau mengatakan hasil dari sebuah survey badan PBB menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia mengalami masalah mental dan pikiran.
Masalah adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan kita. Kita semua pernah mengalami nya. Kita semua pernah menghadapinya. Masalah membuat kita tetap sebagai manusia. Masalah membuat kita tetap menjadi Miracle dalam kehidupan kita.
Masalah adalah salah satu bagian terpenting dari Miracle yang diberikan Allah SWT kepada hambanya. Itu merupakan miracle yang memberikan kesuksesan pada hambanya.
Apakah NLP benar-benar berguna? Tanya seorang teman dengan sikap sinikalnya. Selanjutnya ia pun berkomentar bahwa NLP tidak pantas diberi embel-embel “ilmu” sebab NLP hanyalah bualan yang dibentuk dari tambal sulam berbagai teknik; seperti hypnotherapy, Gestalt therapy, dan Family therapy. NLP juga memungut pemikiran-pemikiran sumber lain, sebut saja Noam Chomsky, Gregory Bateson dan….(cepat-cepat saya potong: Transformational Grammar!). Teman saya membeliak, “Apa itu transformational grammar?” Sambil tersenyum saya menjawab, “Itulah Meta-model yang menjadi cikal-bakal “ilmu gathuk ini!” (Silakan baca buku The Structure of Magic Vol I oleh Richard Bandler dan John Grinder).
Di saat merenung dalam hati, saya justru dapat melihat dan menyelami kelebihan NLP, sebab diramu dengan banyak sekali pemikiran, maka teknik-teknik yang tercipta sangat fleksibel. Untuk melakukan terapi atau membantu seorang klien kita tidak perlu pusing-pusing menentukan teknik yang mana yang akan kita gunakan, sebab teknik, model, atau alat mana saja dapat digunakan untuk mengatasi masalah mana pun sepanjang kita sebagai coach atau fasilitator percaya diri. Hal ini telah sering saya saksikan dalam kelas-kelas pelatihan, dan berikut ini salah-satu contohnya.
Dalam suatu sesi assessment di ujung pelatihan, seorang peserta pelatihan (kita sebut saja dia Amat) mendapat kesempatan mempraktekkan teknik NLP yang disebut Parts Integration. Secara spesifik dia mendapatkannya dengan menarik undian, jadi bukan maksudnya memilih teknik ini. Barangkali ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu sepintas teknik NLP Parts Integration ini, siapa tahu ada pembaca yang kurang atau belum familiar.
Di kelas NS – NLP Practitioner, kita mempelajari tentang berbagai tools NLP, diantaranya submodalities, swiss pattern, six steps reframing, time line, visual squash, meta model, dll.
Dan satu hal yang kita juga pelajari adalah presuppositions, dalam perjalanan saya mempelajari NLP dan mempraktekan NLP di kehidupan sehari, saya menemukan bahwa presuppositions di NLP dan NS sangat penting untuk kita pahami benar.
Presuppositions inilah yang mendasari setiap tools yang ada dalam NLP maupun Neuro-Semantics, seperti dalam dunia persilatan setiap jurus yang tercipta pasti ada filosofinya, dan begitu juga di NLP dari setiap tools yang kita praktekan ada filosofi atau presuppositions dibelakangnya. Dengan kita memahami presuppositionsnya saya yakin tools itu akan lebih gampang dijalani dan dipahami untuk dipraktekan.
Halo Sobat setia NLP Into Action, kabar baik? Kali ini kami akan menurunkan “Field Report” dari Padepokan Subang. Kami sangat beruntung turut diundang menjadi tamu di Padepokan Subang oleh sebuah komunitas Praktisi NLP yang menamakan dirinya BB#10 (konon kepanjangannya adalah Best Batch #10). Selain NLP Into Action, juga turut hadir beberapa Praktisi NLP dan para sahabat di luar BB#10.
Sekitar pukul 11, rombongan kami tiba di lokasi yang tepat berhadapan dengan milestone KM 156 dari Jakarta menuju Ciater. Tampak sebuah rumah dengan tembok putih, dengan pagar biru muda yang di samping kiri kanannya dihiasi patung Semar dan Togog.
Begitu memasuki pekarangan, kami menemukan sebuah gubuk yang didalamnya sudah ada tiga orang pria; yang sepertinya sudah menunggu kami. Mereka dikenal dengan nama Pak Syaiful Bachri, dr. Stefanus Isaac Tamzil dan Pak Okky Sulistijo.
The Summary of Teleconference with Michael Hall on 8-9pm HK Time
Asia Pacific Alliance of Coaches (APAC) Monthly Talk yang menghadirkan L.Michael Hall, PhD yang mengetengahkan sebuah dialog interaktif mengenai Meta-Coaching , acara tele conference yang selalu diselenggarakan oleh APAC denganmengundang para international speaker ternama ini berjalan sangat meriah. Diawali dengan diskusi para coach yang di pimpin oleh Dr. Woraphat, diskusi mengenai apa itu meta coaching ? beberapa pendapat di sampaikan oleh para coach yang dari berbagai Negara yaitu Indonesia, Bangkok, Australia, France, German,Singapore dll. Meta Coaching adalah sebuah model coaching yang memampukan klien untuk terus tumbuh dan berevolusi, meta coaching merupakan karya Michael Hall yang bernuasa NLP (Neuro Linguistic Programming) yang membedakan dari coaching pada umum yaitu dengan digunakan nya pola linguitik NLP seperti Meta Model and Milton Model yang mampu memberikan presisi linguistic sehingga dapat meningkatkan efektifitas coaching dalam level yang tinggi dan meberikan coaching best practice dan juga World Class, begitu lah tanggapan dari sesi awal yang juga di iringi suara ding….ding….ding…zzzz..zzz…zzz, nada para penelpon yang masuk yang untuk ikut tele conference.
Seorang Coach dari Australia bertanya, apakah meta coaching lebih kepada life coaching disbanding Executive Coaching, pertanyaan yang sangat untuk dan menjadi pertanyaan saya pribadi. Pertanyaan yang membuat beberapa dari coach sadar bahwa sudah 20 menit berlalu dan Michael Hall belum terdengar suaranya, oops Meta Problem dimana pembicara yang telah di tunggu tunggu oleh coach dari berbagai Negara belum muncul juga , saya pun mengusulkan Meta Solution, diskusi mengenai:
Hai pembaca, apa kabar? Terima kasih banyak atas dukungannya terhadap penulisan artikel NLP yang bersetting budaya nusantara ini. Saya TAHU bahwa masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut supaya artikel yang saya tulis ini menjadi sebuah trigger untuk lebih membangkitkan cinta terhadap kebudayaan Indonesia. Saya merindukan bila ada teman-teman yang dapat mengupas tuntas kebudayaan lain seperti seni tari KECAK BALI, seni DULMULUK PALEMBANG, seni WAYANG KULIT, seni JAIPONGAN khas JAWA BARAT dan tentu saja masih banyak kebudayaan lain yang perlu kita lestarikan.
Baik kita teruskan lanjutan dari artikel pertama. Bilamana pada artikel pertama saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan BATAK (SUMATERA UTARA) dengan tradisi mewariskan budaya PESTA ADAT secara turun termurun. Maka pada artikel kedua ini saya mencoba melakukan pembahasan pada kebudayaan PALEMBANG ( SUMATERA SELATAN). Apa yang saya bahas kali ini?
TRADISI KELAKAR
Ya, pada tulisan kali ini saya mencoba membahas tentang kebiasaan KELAKAR yang sering dilakukan oleh masyarakat Palembang. Lebih tepatnya BUDAK PALEMBANG(baca=orang palembang). Walaupun seni kelakar ini jugo banyak dilakukan oleh masyarakat lain. Seperti budaya CINO dengan istilah “kongkow-kongkow”. Tapi kali ini pasti teraso IWAKNYO (baca =lebih istimewa, lebih enak) dibandingken yang lain. Salah satu seni kelakar Palembang yang sering dipentaskan untuk wisatawan adalah DULMULUK. Dimana dalam DULMULUK , seni kelakar ini menggunakan bahasa Palembang asli dan dikombinasikan dengan berbalas pantun. Bagi masyarakat Palembang tentu ingat salah satu tokoh DULMUK yang cukup terkenal diantaranya adalah Wak YA dan Wak PET.