Fiuh..Penasaran apasih itu NLP maka gw ikut doong pelatihan en el pe..Setelah mendapat pelajaran apa itu NLP, ternyata NLP cuma sekumpulan huruf en el dan pe di gabung..garink..!!
Yess bgitu Training Prac NLP wuiiih emang gila nih powerfull banget. Kebayang Deh gmana gw gunain untuk coaching di pekerjaan harian. Tools ini dan tools itu..begitu selesai training ibarat baru turun dari gunung belajar kungfu di shaolin..kayaknya semua elmu perlu untuk di terapkan segera..mau pake jurus Hong In Bun Hoat (jurus sastra angin dan awan) di sertain Tenaga Dalam Hui Yang Sin Kang atau pun menggunakan Thi Ki I Beng (Jari Pembetot Sukma)..poko’e hajar Bleh
Alias mau pake swish pattern, dll pokoe siap deh..BENTAAAR..pikir piker ibarat mau nyetir mobil prakteknya di jalan komplek dulu biar gak nabrak dan tantangannya sedikit. Akhirnya prakteklah ke diri sendiri.
Read the rest of this entry »
NLP adalah sebuah buku manual pikiran manusia yang paling miracle. Banyak hal yang dibahas secara konsisten. NLP sangat menekankan pentingnya melakukan fleksibilitas dalam menanggapi setiap respon yang terjadi di lingkungan kita. Karena fleksibilitas nya itu, prinsip-prinsip dasar dalam NLP tidak dinamakan sebagai sebuah prinsip, melainkan dikatakan sebagai sebuah asumsi-asumsi NLP atau dikenal dengan istilah Presupposition.
Presuposisi ini adalah pandangan NLP terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan untuk memudahkan kita meraih Personal Freedom dan Miracle Life. Banyak pandangan yang berbeda mengenai presuposisi NLP. Ada yang menggunakan 10 presuposisi, ada yang 12 Presuposisi bahkan ada yang 14 presuposisi. Sekarang, kita membahas presuposisi ini dalam konteks yang dikembangkan oleh Tad James.
Presuposisi NLP yang menjadi favorit saya adalah, “Everything is evaluated in the term of context and ecology”. Setiap hal itu dievaluasi berdasarkan ekologis dan konteks nya. Dari presuposisi ini, setiap hal memiliki makna yang berbeda dalam berbagai konteks. Contoh sederhana nya adalah, kata “iye” di Makassar berarti ucapan setuju kepada orang yang lebih tua dan sangat sopan dilakukan. Saat ke Jakarta, maka kata ini menjadi tidak sopan dan terkesan menyindir. Read the rest of this entry »
by Tjia Irawan
Ide yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.
NLP BUSINESS SERIES
NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS
Neuro Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis. NLL sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.
Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment, Behaviour, Capability, Value & Belief, Identity dan Spiritual sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS. Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :
-
Kapan dan Dimana
-
Apa
-
Bagaimana
-
Mengapa
-
Siapa
- Untuk Tujuan Apa
APA
Hai Business Practitioner, apa kabar? Jangan beri saya jawaban luar biasa setiap ditanya apa kabar. Hampir disetiap forum apabila saya bertanya apa kabar? Hampir selalu jawabannya adalah luar biasa. Jawaban yang tidak keluar dari hati menurut saya, bahkan jawaban yang tanpa roh dan seolah-olah mekanik. Menjawab luar biasa bukan karena luar biasa tapi karena kebiasaan menjawab luar biasa semata. Well, saya sedang tidak hendak membahas hal ini, namun ingin melanjutkan artikel NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS yang selama ini sengaja saya tunda karena saya fokus pada area lain.
Pak Lurah punya hobi memelihara berbagai macam jenis burung. Di suatu pagi, burungnya hilang semua. Merasa ulah si maling sudah keterlaluan, Pak Lurah berencana untuk membawa masalah ini di pertemuan warga. Maka disebarkanlah undangan kepada para warga. Ada sekitar 200 orang warga yang hadir.
Setelah berbicara panjang lebar soal moral, akhirnya Pak Lurah masuk ke inti masalah sebenarnya mengapa mereka diundang. Lalu bertanyalah dia, “Siapa yg punya burung?” Seluruh laki-laki yang hadir segera berdiri.
Menyadari kesalahannya dalam cara bertanya. Lalu Pak Lurah buru-buru berkata, “Bukan itu maksud saya. Maksud saya adalah, siapa yg pernah lihat burung?” Seluruh warga wanita berdiri.
Berkunjung ke Psikologi UNM Makassar memberikan pelajaran berharga bagi saya. Apalagi saat bertemu dengan alumni-alumni Basic Hypnosis Class dan kembali berlatih bersama mereka melakukan proses therapy. Di Psikologi UNM saya juga bertemu dengan seorang mahasiswa yang bertanya mengenai satu kasus yang sedang ia alami. Pertanyaan ini berlanjut pada diskusi panjang tentang kemampuan diri kita. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol diri nya sepenuh nya.
Awalnya saya memiliki pemahaman yang seperti kebanyakan orang. Lingkungan itu sangat mengontrol diri kita, sehingga untuk memperbaikinya maka kita harus mengubah kondisi lingkungan yang sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Akibat dari pemahaman ini saya begitu banyak menyalahkan orang disekitar saya atas kegagalan saya, bahkan sebelum melakukan sesuatu saya sudah menyalahkan dan tidak yakin dengan outcome saya. Saya juga banyak menulis tulisan yang menghujat pemerintah yang saat itu saya yakini mengakibatkan saya menjadi seperti diri saya saat itu.
Perubahan drastic terjadi saat Tahun 2007 saya mengenal NLP dari seorang sahabat. Menjelajahi NLP kemudian mempertemukan saya dengan guru saya “Issa Kumalasari“. Dari mempelajari NLP ini maka saya mengetahui bahwa diri saya sendirilah yang mengontrol diri saya, dan bukan nya lingkungan. “Siapa yang memutuskan untuk marah, sedih, takut, jengkel, tidak melakukan sesuatu?”. Bukankah yang memutuskan hal tersebut adalah diri kita sendiri. Bahkan untuk tidur pun yang memutuskan adalah diri kita sendiri.
Seorang wanita usia 27 Tahun dengan kondisi punggung ditekuk datang ke kantor PT. Transformasi, setelah 3 hari sebelumnya janjian untuk berdiskusi tentang permasalahan yang ia hadapi.
Dengan wajah penuh ketakutan dan suara bergetar ia mengatakan bahwa ia minder saat berhadapan dengan orang lain termasuk dengan atasannya sendiri, hal ini menyebabkan ia belum bisa meningkatkan karir di perusahaan tersebut setelah lebih dari 5 tahun bekerja, sementara teman-temannya sudah jauh lebih maju.
“Mas Dudi, apa saya bisa ber Transformasi menjadi lebih baik sementara untuk membangun kepercayaan diri saja terseok seok”
by Tjia Irawan
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan Konseling dalam sebagai bagian dari pengembangan area Personal Growth dalam Wheel of Life pribadi . Bagi para NLP-ers tentunya nama Virginia Satir tidaklah asing lagi karena ia adalah seorang Family Therapist besar dijamannya yang dimodel oleh para founder NLP. Oleh sebab itu training ini menjadi menarik karena teknik-teknik yang diajarkan adalah teknik Konseling dari Virginia Satir.
Awalnya saya menyangka akan mencium aroma NLP yang kuat di dalamnya. Ternyata saya keliru aroma yang tercium memang berbeda karena ada aroma kesegaran lain yang menurut saya menyenangkan dan menyegarkan. Ada fenomena yang menarik yang saya dapat dari training ini, yaitu sekitar 99% dari peserta training adalah bukan mereka yang berprofesi sebagai terapis atau konselor. Profesi mereka rata-rata adalah sebagai seorang General Manager di dalam perusahaan. Pertanyaannya adalah apa motivasi mereka atau perusahaan mereka mengikuti training ini?
Perhatikan bagaimana sebuah mesin bekerja. Konon komponen-komponen mesin terbuat dari logam pilihan. Mereka dirancang untuk bekerja dalam putaran tinggi dan tahan terhadap gesekan. Bahkan mereka dirancang untuk bekerja dalam suhu yang ekstrim. Namun dapatkah anda bayangkan mesin yang komponen-komponenya terbuat dari logam pilihan tersebut anda hidupkan atau anda fungsikan tanpa anda menaruh minyak pelumas di dalamnya? Kira-kira apa yang akan terjadi dengan mesin tersebut? Benar, mesin tersebut akan rusak karena komponen-komponennya rontok satu persatu.
Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali menjadi program manager untuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu. Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka dengan sebuah pertanyaan menggelitik. Ya, bahkan sampai sekarang saya masih terus tergelitik setiap kali mengingatnya.
“Siapa di sini yang ingin jadi pemimpin?” tanya beliau.
Serempak seluruh trainee pun mengacungkan tangan penuh percaya diri. Maklum, mereka ini adalah karyawan pilihan yang memang sudah ditengarai bibit kepemimpinannya sejak proses seleksi. Dalam hati, saya pun ikut mengacungkan tangan saya. Namun karena jaim sebagai senior, maka saya senyum-senyum saja. Hehehe…
“Bagus,” ujar beliau. Dan para trainee pun menurunkan tangan mereka.
“Nah, kalau semua orang ingin jadi pemimpin, lalu siapa dong yang jadi pengikutnya?” Tanya beliau lagi sambil tersenyum.
by Erwin Wong
Ketika Michael Jordan ditanya apa yang membuatnya menjadi terbaik dari pemain basket NBA lainnya. Michael berkata “Banyak orang yang memiliki bakat dari Tuhan, dan saya adalah salah satunya. Tapi apa yang memisahkan saya selama ini adalah anda tidak akan pernah menemukan seseorang yang lebih kompetitif dari saya. Saya tidak akan bermalas-malasan sedikitpun dalam hal apapun.”
Salah satu titik balik dari kehidupan Michael Jordan terjadi ketika dirinya berada pada kelas SMP (Tenth grade). Apa yang tidak diketahui banyak orang mengenai Michael Jordan sebagai pemain basket yang luar biasa adalah ia dikeluarkan dari Laney High School Bucaneers. Ia pulang kerumah menangis sedih sampai sore.
Apa yang biasanya terjadi pada orang lain, pada umumnya adalah menyerah dan biasanya bergabung dengan orang-orang yang salah.
Michael mengubah rasa sakit hatinya menjadi keinginan yang membara. Ia menetapkan standar yang lebih tinggi dan gol yang lebih tinggi untuk dirinya. Ia menetapkan untuk menjadi orang yang bukan hanya pemain tim yang terbaik akan tetapi juga menjadi pemain terbaik di lapangan.
by Iwan Ketan
Seberapa sering anda datang ke seminar motivasi?
Dan seberapa sering kemudian anda menjadi lemas kembali setelah kembali dari seminar tersebut?
Pernahkah anda menyadari,
Seminar motivasi bertujuan agar anda bisa mengakses ruangan ekselensi anda pribadi. Sehingga di dalam ruangan itu, anda bisa begitu semangat. Anda begitu cemerlang.
Sayangnya kebanyakan seminar motivasi “lupa” memberikan anda kunci ruangan ekselensi pribadi anda. Sehingga ketika anda membutuhkan motivasi atau untuk kembali mengakses ruangan ekselensi, anda tidak tahu bagaimana memasuki ruangan itu kembali.
Namun kini salah satu bentuk Rahasia Motivasi telah terungkap dalam tulisan ini. Dan anda akan mengetahuinya dan langsung bisa mempraktikkan agar anda selalu semangat. Yah sangat semangat. Sehingga anda bisa memunculkan rasa semangat itu kembali sepertihalnya anda sangat termotivasi ketika berada dalam acara motivasi yang pernah anda kunjungi.