Jul 7

by Antonius Arif

Saat saya belajar Ego state therapy dengan Gordon Emmerson mengambil sertifikasi dan Diploma dengan beliau, saya banyak mendapat pelajaran berharga. Saya belajar di Gestalt Center, Melbourne, Australia. Ditempat ini, ilmu-ilmu dari Fritz Perl di jalankan dan dilatih disini. Ruangan yang cukup menarik untuk belajar dengan metode pembelajaran yang menurut saya tidak umum di Indonesia. Kelas disediakan kursi-kursi dan juga disediakan bantal-bantal besar dan ktia diperbolehkan untuk mengganti kursi dengan bantal-bantal besar. Wuihhh, makin nyaman belajar disana.

Melbourne bisa dikatakan tempat dengan udara yang cukup dingin dan cukup untuk saya merasa sangat kedinginan, karena Indonesia khususnya Jakarta adalah tempat yang cukup nyaman udaranya buat saya. Suhu di Melbourne kadang kurang bersahabat untuk saya. Apalagi saya kesana sebanyak 4 kali dalam rangka mengambil gelar Diploma Ego State Therapy. Gelar ini adalah gelar tertinggi di bidang Ego State Therapy.

Awalnya saya agak ragu mengambil Ego State Therapy, karena saat saya di Jakarta saya mengira Part Therapy itu ya Ego State Therapy. Apalagi saat saya berpikir apakah saya mau mengambil Gordon Emmerson atau salah satu trainer hypnotherapy yang terkenal yaitu Roy Hunter. Akhirnya sebelum saya berangkat, saya memutuskan untuk membeli buku beliau dan mempelajari dengan seksama. Saya benar-benar amaze bahwa mereka menyebut-nyebut tentang Ego Part Therapy. Apalagi kelas mereka cukup 2 hari saja belajar dan terus bisa mengambil instruktur dengan belajar 2 hari lagi. Saya benar-benar terkejut karena di Ego Part Therapy-nya Roy Hunter itu saya menemukan hal yang sama dengan Part Therapy yang saya pelajari selama ini. Bahkan beberapa kasusnya, Ego Part Therapy kadang tidak mau berbicara dan harus masuk ke dalam somnambulism yang sangat dalam. Apalagi mereka menganjurkan memakai teknik ini untuk pertemuan kedua dan seterusnya. Saya jadi berpikir banyak, apa sih Ego Part Therapy dengan Ego State Therapy? Akhirnya saya putuskan untuk belajar dengan Gordon Emmerson yang belajar langsung dengan John dan Helen Waktins yang terkenal sebagai bapak dan ibu dari Ego State Therapy, apalagi kelas mereka adalah 8 hari totalnya dibagi 4 tahap dalam tempo hampir 1 tahun.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (4 votes cast)
Jul 3

Halo Sobat NLPINA! Kali ini kami akan menurunkan “Field Report” dari kelas NeoNLP Practitioner!!! Sungguh suatu kehormatan bagi NLP Into Action diundang oleh tim NeoNLP untuk hadir sebagai tamu pada kelas perdana NeoNLP Practitioner yang berlangsung tanggal 18-19 Juni kemarin di Hotel Oasis Amir.

Sekitar pukul 9 pagi, Pak Willy Wong sebagai salah satu trainer NeoNLP membuka acara dengan menjelaskan secara singkat apa itu NeoNLP dan semangat yang mendasari NeoNLP. Setelah itu Pak Willy mengundang Pak Yan selaku Advisor NeoNLP untuk memberikan kata sambutan. Dalam kata sambutan tersebut, Pak Yan menceriterakan kembali sebuah cerita yang didapatnya dari Pak R.H Wiwoho mengenai apa itu NLP. Di dalam cerita tersebut ada hal yang menarik, bahwa makna hidup adalah perubahan.

Berdasarkan pengamatan Richard Bandler dan John Grinder terhadap Fritz Perls dan Virginia Satir (keduanya jago dalam bertanya), disimpulkan bahwa manusia itu ada rumusnya. Bila boleh disimpulkan, NLP adalah modeling. Fast Phobia Cure bukanlah NLP, melainkan produk dari NLP itu sendiri. Ilmu dasar dalam NLP dikenal dengan istilah keren-nya sebagai Meta Model. Pak Yan membuatnya membumi dengan menjelaskan filosofi dari Meta Model adalah bertanya. Sehingga Meta Model adalah ilmu bertanya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 6.4/10 (9 votes cast)
Jun 23

by Henry Yonathan

Artikel ini merupakan bagian dari buku elektronik gratis berjudul Buku Hitam Transformasi Diri.

Sekitar akhir tahun 50an atau 60an, John Thomas Grinder belajar filosofi dan psikologi di Universitas San Francisco. Kemudian Grinder direkrut pemerintah dan menjadi seorang Baret Hijau. Dari sinilah Grinder menyadari bahwa ia memiliki bakat untuk dapat dengan mudah mempelajari suatu bahasa, tepatnya bertindak seperti seorang native speaker. Selain itu, ia juga secara tidak sengaja melatih ketajaman pendengarannya untuk memantau langkah kaki orang dimalam hari. Grinder juga pernah bekerja untuk CIA. Sekitar pertengahan 60an, Grinder mulai kembali ke universitas, mempelajari bahasa.

Richard Wayne Bandler adalah seorang musisi. Robert Dilts menyebutkan Bandler seorang penabuh drum. Sedangkan Michael Hall menyebutkan bahwa Bandler seorang gitaris. Anugrah yang dimiliki oleh Bandler pada waktu itu adalah ia dapat mendengar musik dengan presisi, sehingga ia mampu meniru apa yang telah ia dengar.

Bandler bertemu dengan Grinder di Universitas Santa Cruz. Namun kemudian Bandler keluar dari Universitas Santa Cruz untuk pindah ke Standford, yang mana saat itu Bandler bekerja pada penerbit buku. Saat itu, ada diterbitkan sebuah buku berjudul Gestalt Therapy Verbatim yang diedit oleh John O’Stevens (sekarang Steve Andreas). Penerbit buku tersebut memiliki rekaman Fritz Perls yang diharapkan dapat diekstrak bagian-bagian pentingnya oleh Bandler. Dengan anugrah yang dimilikinya, Bandler bagaikan sebuah spons yang mampu menyerap berbagai hal yang dilakukan Perls; dan berakibat Bandler membentuk kelompok Gestalt.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
Jun 13

by Tatang Akasa

Pada saat tulisan ini dibuat, saya baru saja menyelesaikan training Design Human Engineering (DHE) yang diberikan langsung oleh penciptanya, yaitu Dr. Richard Bandler. Kebetulan saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk berbincang empat mata langsung dengan beliau.

Background saya di bidang Neuro-Linguistic Programming (NLP) membawa saya untuk menggali lebih jauh mengenai kaitan antara NLP dengan DHE. Hal ini sangat menggelitik saya karena dalam benak saya sebelumnya adalah bahwa DHE ini adalah the next NLP atau generasi berikutnya dari NLP. Sehubungan dengan ini, pertanyaan saya yang pertama kepada Dr. Richard Bandler adalah “Apakah DHE ini adalah the next NLP?” Dan, Dr. Richard Bandler mengatakan bahwa “DHE is not the next NLP. Actually, it is the opposite of NLP”. Dari hasil jawaban ini membuat saya makin penasaran ingin mengetahui jawaban tentang DHE lebih lanjut dan dengan sabar serta antusias Dr. Richard Bandler menjelaskan mengenai DHE ini. Dan penjelasan ini berlanjut sampai di kelas.

Ternyata apa yang dijelaskan oleh Dr. Richard Bandler adalah benar bahwa DHE adalah berkebalikan dengan NLP. Menurut beliau, NLP lebih menekankan pada strategy elicitation (mencari tahu strategi sukses seseorang) dan meng-install strategy tersebut dalam diri sendiri atau orang lain. Sedangkan DHE lebih fokus pada cara menggunakan otak kearah yang paling maksimal. Namun demikian, DHE sangat kental dengan nuansa NLP karena DHE tetap menggunakan NLP sebagai underlying atau platform-nya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 5.9/10 (12 votes cast)
Jun 4

by Wahyu Eko Prasetyanto

Pada bagian pertama, saya telah menyajikan sebuah cerita dari dunia pewayangan dalam ‘lakon’ Bambang Ekalaya, sebuah episode yang memahamkan saya bahwa sejatinya fenomena-fenomena, konsep-konsep bahkan sampai teknik dalam NLP yang di-‘kreasikan kembali’ oleh duo RB-JG, ternyata dapat saya temukan dalam beberapa cerita yang telah saya kenal sejak sebelum tahun 70-an, di mana duo RB-JG tersebut mulai memformulasikan NLP.

Jika pada bagian 1 kemarin saya mengambil contoh dunia pewayangan, maka pada bagian ke 2 ini saya ingin menyajikan sebuah cerita lain, yang saya ambil dari sebuah karya sastra “tradisional” yang pernah mewarnai dunia sastra Indonesia di era akhir tahun 60-an, yakni sebuah cerita berlatar belakang sejarah dengan judul “Nagasasra Sabuk Inten”, karya Almarhum SH Mintarja.

Cerita itu berkisah tentang petualangan Rangga Tohjaya, seorang Perwira Prajurit Demak yang mengundurkan diri karena muak dengan kondisi kerajaan yang dipenuhi dengan para petinggi yang korup dan mementingkan diri sendiri. Dia memilih untuk mengabdikan dirinya dengan cara lain, yakni menjadi “pahlawan jalanan” yang menumpas kejahatan-kejahatan yang ‘lebih nyata’; perampokan, pencurian, penculikan sampai pertikaian perebutan daerah kekuasaan di tingkat tanah perdikan.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
May 23

by Tjia Irawan

Satu hal yang paling menarik buat saya ketika mempelajari NLP adalah tentang Metafora. Begitu banyak kejadian nyata baik yang kita alami sendiri, maupun orang lain dapat menjadi sebuah Metafora. Sebuah kejadian sederhana dapat menjadi sebuat Metafora pembelajaran yang dalam bagi kehidupan. Cerita yang saya tuliskan berikut ini menjadi sebuah Metafora pembelajaran yang mengilhami saya dalam melakukan sebuah sesi Coaching.

Pernahkah Anda batuk? Hampir semua orang pernah mengalami yang namanya batuk. Bahkan batuk memiliki nama-nama turunan yang lain yaitu batuk kering, batuk berdahak, batuk rejan dan batuk-batuk lainnya. Bagaimana perasaan anda ketika Anda mengalami batuk? Saya percaya rasanya tidak enak dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi yang mengalaminya.

Apa yang Anda lakukan ketika Anda diserang oleh batuk? Apakah Anda mencari obat untuk menyembuhkan batuk Anda?

Bagi saya fenomena batuk itu menarik. Batuk sebenarnya adalah respon tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang masuk agar tidak mengganggu saluran pernafasan. Karena apabila ada benda asing yang masuk ke dalam saluran pernafasan maka secara refleks tubuh akan mengeluarkannya lewat batuk. Betapa bergunanya batuk bagi manusia sayangnya selama ini kita selalu mengidentikkan batuk dengan penyakit.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (5 votes cast)
May 7

by Henry Yonathan

Artikel ini diangkat dari sharing yang saya berikan di kantor saya untuk para sales force selama kurang lebih sekitar dua sampai tiga jam. Dalam waktu yang singkat tersebut, materi yang dibahas pun tidak terlalu banyak. Tentunya artikel ini tidak dapat menggantikan suasana kelas yang sebenarnya, dimana terdapat pembelajaran multi-sensorik yang lebih mempermudah pembelajaran.

Artikel ini akan dibagi menjadi tiga seri. Dimana pada seri pertama akan dibahas secara singkat apa itu NLP dan asumsi-asumsi yang menjadi fondasi dan roh NLP. Pada artikel kedua akan dibahas secara singkat pula apa itu Rapport dan penggunaannya. Dan artikel terakhir akan dibahas secara singkat seni linguistik dalam penjualan.

Lingkup Bahasan

Dalam artikel ini, saya akan membatasi lingkup pembahasan dengan mengasumsikan dua hal berikut ini :

  • Barang dan atau jasa yang Anda tawarkan kualitasnya sama dengan yang Anda janjikan atau promosikan.Saya kira, ini hal yang sangat mutlak Anda perlukan bila Anda ingin terjadi penjualan jangka panjang. Lain halnya bila Anda tidak ingin demikian, siapa yang tahu? Dalam artikel ini saya asumsikan Anda menginginkan terjadinya penjualan jangka panjang.
  • Perlunya EtikaPoin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Artikel ini tidak akan mengajarkan etika ataupun teknik-teknik NLP untuk membangun etika (ada segelintir praktisi NLP yang menyebutkan dapat membangun etika dengan seketika, sementara saya tidak menganut paham demikian). Namun demikian pada seri artikel saya selanjutnya Anda akan saya ajak memahami konsekuensi-konsekuensi dari tidak beretikanya menggunakan teknik-teknik dahsyat NLP.
  • Penerapan NLP aplikatif dalam kaca mata dan pengalaman saya.Menerapkan NLP dalam dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dapat berbeda dengan apa yang Anda baca dari buku ataupun pelatihan dikelas. Dan dalam artikel ini akan saya paparkan penerapan NLP dalam dunia nyata atau keseharian menurut kaca mata dan pengalaman saya pribadi.

Ini adalah bagian terakhir dari serial NLP Dalam Penjualan. Bila Anda tertinggal bagian-bagian sebelumnya, silahkan buka http://nlpintoaction.com agar Anda tidak bingung dengan beberapa istilah yang digunakan dalam artikel ini.

Pada bagian pertama serial NLP Dalam Penjualan, sudah dijelaskan secara singkat apa itu NLP dan peranan linguistik didalam NLP. Di bagian terakhir ini, akan dibahas secara singkat dua model linguistik dasar pada NLP yang akan diterapkan dalam bidang Sales-Marketing. Dua model linguistik tersebut adalah : Meta Model dan Milton Model. Dalam penerapannya, rapport sudah harus terbentuk terlebih dahulu guna mengurangi (bukan menghilangkan) resistensi/penolakan dari mitra komunikasi.

Meta Model (MeMo)

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 1.0/10 (1 vote cast)
May 2

by Wahyudi Akbar

“Persepsi manusia 99% seringkali salah” ini ungkapan yang saya dengar dari seorang guru Thich Nhat Hanh.

Bagi praktisi NLP pasti mengenal presuposisi “The map is not the territory”, presuposisi ini diurutan no.1 dari sekitar 20 presuposisi di NLP.

Dan saya pikir ungkapan itu cocok dengan “the map is not the territory” dan memang persepsi kita seringkali salah bukan hanya persepsi tentang orang lain, namun juga persepsi kita tentang diri kita sendiri.

Apakah pada saat berkomunikasi dengan orang lain Anda selalu berusaha membenarkan diri Anda karena Anda merasa Anda yang lebih tahu sehingga Anda menolak untuk memahami pendapat orang lain?

Apakah pada saat Anda berkomunikasi dengan keluarga, anak, istri maupun orang tua Anda, dan Anda masih berpikir bahwa merekalah yang harusnya mengerti Anda?

Apakah Anda sering beranggapan bahwa respon Anda lebih disebabkan karena tindakan atau pandangan orang lain?

Apakah Anda takut pada hal-hal yang tidak penting? Seperti takut berbicara di depan umum, ulat, jualan, ditolak, dsbnya?

Apabila Anda menjawab “YA” maka Anda belum benar-benar memahami tentang teori “The Map is the Territory”.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 9.0/10 (4 votes cast)
Apr 21

by Daniel Kurniawan

Tulisan ini terinspirasi ketika membawakan pelatihan inhouse training di RSMH Palembang. Walaupun durasi sangat pendek. Tetapi sambutannya sangat luar biasa. Tulisan ini sebagai sebuah anchor. Bila ada peserta yang membaca artikel ini. Sekaligus dapat menjadi pembelajaran bagi mereka yang mempunyai profesi berhadapan langsung dengan pelanggan. Baik sebagai front liner, customer service, salesman, marketing atau apapun istilahnya.

Salah satu hal yang paling penting dalam mengaplikasikan NLP dalam kehidupan sehari-hari khususnya di bidang pekerjaan dan bisnis adalah kemampuan kita menggunakan kata-kata dalam berkomunikasi. Baik saat sedang melayani pelanggan, menangani pelangan yang bermasalah, memberikan presentasi produk kepada pelanggan atau pun sedang melakukan “pdkt” kepada calon pelanggan.

Saya jadi ingat beberapa topik seminar yang sedang heboh beberapa tahun belakangan. Dengan embel –embel kata “TANPA MODAL” seminar tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para peserta. Sebenarnya ada juga sih modalnya. Yaitu kemampuan kita berkomunikasi sehingga menciptakan sebuah hubungan yang harmonis kepada calon nasabah, calon klien dan calon investor sehingga mereka mampu percaya dengan kita. Istilah modal “OMDO” (omong doang) he..he..he….

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
Apr 17

by dr. Akhmad Fadly Noor

Pahami BENAR Sebelum BERBAGI

Kesadaran merupakan salah satu topik yang paling sering menjadi perdebatan dalam dunia NLP dan Hypnosis. Para praktisi kedua disiplin ilmu tersebut acap kali mencoba memunculkan pandangan mereka akan Kesadaran. Nah, kali ini, saya mencoba mengajak para pembaca untuk melihatnya dari sudut pandang yang mungkin seharusnya menjadi dasar pijakan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dalam berargumen.

Pemahaman mengenai apa yang disebut sebagai kesadaran menjadi sangat penting. Karena disamping mengenai definisi dan deskripsi kesadaran, sangat diperlukan keseragaman metode sehingga didapatkan cara yang obyektif dalam menentukan tingkat kesadaran.

Apa yang disebut sebagai sadar sering kali diartikan sebagai suatu sikap dan tanggapan makhluk hidup, baik manusia maupun hewan, terhadap lingkungannya. Martin (1949) dan Bailey (1957) menggambarkan sadar ini sebagai awareness (pengenalan atau pengertian). Jasper (1948) mengaitkan sadar dengan kemampuan meraba rasakan keadaan pada suatu saat tertentu dan Ishii (1972) menyatakan bahwa seseorang dikatakan dalam keadaan ‘sadar’ bila ia dapat mengenal lingkungannya dan secara otomatis dapat memberikan tanggapan terhadap segala rangsangan yang dihadapinya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)