<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>NLP into Action</title>
	<atom:link href="http://nlpintoaction.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nlpintoaction.com</link>
	<description>Applying NLP in Daily Life</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 May 2012 02:56:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Tidak Semua Guru Itu Pahlawan</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/tidak-semua-guru-itu-pahlawan/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/tidak-semua-guru-itu-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 02:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erni Julia Kok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2105</guid>
		<description><![CDATA[by Erni Julia Kok Apakah Anda berkeberatan dengan judul di atas? Jika ya, ijinkan saya untuk menjelaskan maksud saya terlebih dahulu sementara Anda membaca terus. Sewaktu saya masuk sekolah dasar, ibu saya agak khawatir apakah saya yang masih berumur 7 tahun itu mampu mengurus diri sendiri, apalagi selama hidup saya tinggal di desa. Untuk amannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/erni-julia-kok/">Erni Julia Kok</a></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Apakah Anda berkeberatan dengan judul di atas? Jika ya, ijinkan saya untuk menjelaskan maksud saya terlebih dahulu sementara Anda membaca terus. Sewaktu saya masuk sekolah dasar, ibu saya agak khawatir apakah saya yang masih berumur 7 tahun itu mampu mengurus diri sendiri, apalagi selama hidup saya tinggal di desa. Untuk amannya ibu saya “menitipkan” saya pada guru saya—ow…saya lupa nama beliau, meskipun imajinya masih utuh dalam benak saya. Beliau seorang perempuan berumur 30 an pada waktu itu. Berkulit putih dan cantik. Bila diurut-urut antara keluarga saya dari pihak ayah masih ada hubungan keluarga jauh dengan keluarga suaminya. Sekolah kami itu bekas sekolah Mandarin yang telah ditutup Orde Baru, maka letaknya pun satu kompleks dengan kelenteng dan lapangan basket. Konon beberapa pemain basket Nasional berasal dari kecamatan kecil ini dan mereka berlatih di lapangan tersebut. Hari-hari itu setiap sore sekelompok pemuda bermain di sana setelah toko-toko mereka tutup.</span></p>
<p lang="en-US">
<p><span style="font-size: small;">Jawaban ya dari Bu Guru membuat ibu tenang dan beliau segera kembali ke Kota Pontianak. Namun ibu tidak pernah tahu bahwa hanya beberapa jam setelahnya, saya segera diabaikan beliau. Tentu saja. Bodoh sekali mengharapkan seorang </span><span style="font-size: small;"><em>single mother</em></span><span style="font-size: small;"> dengan dua orang putri yang sangat cantik, halus, terpelihara dengan baik untuk berbagi perhatian dengan seorang anak desa yang bau matahari dan keringat serta bertingkah laku liar. Dari rumahnya kami berjalan ke sekolah. Ibu Guru menggandeng kedua putrinya, satu dengan tangan kanan satunya lagi tangan kiri dan beliau memberi isyarat kepada saya dengan gerakan dagu untuk mengikutinya. Saya menyeringai kikuk dan berjalan di belakang mereka seperti anjing melipat ekor. Suatu perasaan asing menyelinap dalam dada saya. Perasaan tidak berada di tempat yang tepat, tidak bersama orang yang tepat dan tidak diterima. Perasaan-perasaan itu menyadarkan saya bahwa saya harus menjaga diri sendiri. Hari-hari berikutnya saya diam-diam berharap Ibu Guru menunjukkan di depan kelas bahwa kami saling mengenal, bahwa kami masih memiliki hubungan keluarga. Tetapi saya segera menyadari bahwa di kelas saya waktu itu ada keponakan almarhum suaminya. Tidak mendapatkan pengakuan beliau membuat saya selalu bertingkah laku aneh untuk menarik perhatiannya. Tentu saja yang saya dapatkan adalah sabetan rotan atau bentakan.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Dalam hal nilai pelajaran, saya bersaing ketat dengan seorang murid laki-laki…oh, saya lupa juga namanya, tapi saya ingin menyebutnya A Chung. Mungkin benar itu namanya. Hasil ulangan kenaikan kelas menunjukkan nilai Bahasa Indonesia kami sama-sama 10 dan matematika juga sama; 7. Untuk memutuskan siapa yang berhak jadi juara kelas Ibu Guru meminta kami berdua maju ke depan kelas. A Chung dan saya berbagi papan tulis dengan kapur tulis siap di tangan dan Ibu Guru membacakan soal matematika yang harus kami pecahkan.</span></p>
<p lang="en-US"><span id="more-2105"></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Soal pertama hingga soal ketiga terjawab dengan benar dan kecepatan yang sama. Mengerjakan soal nomor empat yang lebih sulit dibandingkan tiga soal sebelumnya, saya mulai gatal untuk mencari perhatian. Saya mengerjakan soal itu sambil menggoyangkan pantat saya. Ibu Guru langsung naik pitam dan dengan penuh kekuasaan beliau menghentikan adu pintar tersebut. Kami diperintahkan berdiri menghadap kelas dan dengan lantang Ibu Guru berkata: “Kalian berdua memang sama-sama pintar, tapi karena Erni anak yang nakal, maka A Chung berhak menjadi juara kelas, dan Erni juara dua!” Dalam benak saya saat ini saya menyaksikan Ibu Guru mengangkat tangan kanan A Chung. Dan saya melihat A Chung tersenyum puas sambil melemparkan lirikan mata mengejek ke arah saya. Sekaligus saya heran bagaimana saya melalui semua masa sulit seperti itu dan menjadi orang seperti yang Anda kenal hari ini.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Jika saya mengenang semua ini, saya melihat seorang anak perempuan ceking, cengengesan berjalan sendirian menembus padang ilalang kehidupan. Ibu Guru yang sangat saya harapkan tidak tertarik menjadi pahlawan yang menyelamatkan saya. Sedangkan saya sendiri ikut mengacaukan kemungkinan itu. Saya hanya tidak tahu bagaimana menjadi seorang anak yang menjatuhkan cinta orang lain. Sejak hari itu saya selalu memandang enteng kejuaraan apapun. Semua prestasi diri menjadi suatu hal yang tawar. Sederhananya saya tidak tahu bagaimana berbangga hati. Sebenarnya apa yang perlu dilakukan Ibu Guru sangat sederhana, cukup beri penjelasan bahwa <em>manner</em> itu penting. Bahwa karena saya lalai memperlihatkan <em>manner</em> yang tepat, saya diberi pelajaran, bukan dihukum. Bahwa saya tetap seorang anak yang cerdas. Akan lebih baik di masa depan saya menjadi anak yang cerdas dan santun.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Kelas empat saya beruntung diajak Ibu tinggal bersamanya dan kakak tiri saya di Kota Pontianak. Di kelas empat pula saya menemukan guru-guru lain yang sangat sulit di sebut pahlawan tanpa tanda jasa. Pak Turangan merupakan salah-satunya. Penampilan beliau lebih mirip tentara bukan pendidik. Sering mengalami <em>mood swing</em>. Bila sedang bersenang hati beliau suka <em>ngejoke</em> yang agak-agak saru. Sebaliknya bila sedang <em>ill feel</em> beliau tidak segan-segan memukuli murid laki-laki. Beberapa bulan setelah memulai sekolah di SD Yayasan Pendidikan Kristen ini saya jatuh sakit. Janganlah berpikir terlalu jauh, saya menderita gejala awal tipus, bukan karena dipukuli Pak Turangan. Justru ketika dua minggu absen di kelas, seorang adik kelas dipukuli beliau. Menurut cerita teman-teman, anak ini begitu ketakutannya hingga ia bersembunyi di bawah meja tulis. Tapi Pak Turangan tak ada puasnya menghajar dia, tendangan-tendangannya mengejar hingga kaki meja ikut patah. Tidak ada keluhan dari orangtua murid tersebut. Barangkali juga akan sama saja jika hal yang seperti itu menimpa saya. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Pada waktu saya merasa lumayan sehat, saya segera masuk sekolah lagi. Hari itu Kamis. Pelajaran pertama berlalu tanpa kesan—buktinya saya tidak ingat pelajaran apa itu. Yang berkesan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya justru pelajaran matematika setelah jam istirahat. Tebak siapa gurunya? Ya, Pak Turangan. Mungkin beliau menyadari keabsenan saya selama ini, maka begitu masuk ke kelas beliau langsung menyuruh saya maju mengerjakan soal pekerjaan rumah di atas papan tulis. Tentu saja saya gelagapan bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air. Selama dua minggu saya terbaring tak berdaya. Badan masih lemah karena diet yang berlebihan—tidak makan daging sedikit pun selama sakit, saya memaksakan diri untuk masuk tanpa mengecek dengan teman-teman apakah ada pekerjaan rumah atau tidak. Rupanya Pak Turangan hari itu sedang <em>bad mood</em>, untungnya beliau tidak melayangkan tangan atau kaki, melainkan hanya membentak dan mengusir saya dari kelas. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Saya masih bisa melihat dengan mata mental saya, pintu bercat hijau muda yang tertutup dan anak perempuan kurus berambut keriting, berwajah pucat berpakaian seragam kemeja putih dan rok hitam yang sering diolok-olok anak-anak sekolah lain “tahi cecak”. Saya duduk termenung di depan kelas, memikirkan nasib dan masa depan saya. Suara Pak Turangan dengan logat Menado kentalnya teringan-ingan. “Jangan pernah kau masuk kelas matematikaku lagi!” Dicabut hak mengikuti pelajaran matematika tentu saja berarti tidak naik kelas. Tidak peduli sebagus apapun nilai-nilai mata pelajaran yang lain, kalau matematika nol berarti matimatilah. Kalau tidak naik kelas, ibu pasti akan melarang saya bersekolah selamanya. Bukannya ibu jahat, tetapi gaji ibu hanya tiga ribu rupiah pastilah berat menyisihkan tujuh ratus lima puluh rupiah untuk uang sekolah saya. Ibu juga belum mampu melihat apa sih gunanya sekolah? Ketika memasukkan saya di sekolah desa uang sekolahnya hanya 150 rupiah. Itu pun karena saya mengancam akan bunuh diri jika tidak disekolahkan. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Jadi sekarang tamatlah aku. Tamat dalam arti yang sebenarnya. Kalau saya tidak bersekolah, sudah besar nanti mau jadi apa? </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Tetapi sesuatu yang bernama nasib sungguh tak misterius. Meskipun sekarang saya memahami nasib dapat dipengaruhi dengan berpikir positif atau mengirimkan pikiran positif ke Alam Semesta Agung dan Semestagung akan memantulkan kembali dengan energi positif berkali-kali lipat. Meskipun sekarang saya telah belajar dari guru saya Robert Dilts bahwa saya memiliki kecerdasan ketiga; kecerdasan <em>field</em> (medan) yang tercipta karena interaksi dengan sesama dan universal, saat itu saya hanya pasrah. Tahu-tahu Kamis itu menjadi hari terakhir Pak Turangan mengajar matematika. Dan khusus untuk kelas empat beliau digantikan oleh wali kelas kami, Pak Ali. Bisa Anda bayangkan betapa beruntungnya saya?</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Sekali lagi usaha saya untuk mendapatkan pendidikan kembali ke jalurnya. Walau pun setiap bulan tanggal 15 dimarahi kakak dan dicemberuti ibu karena menghamburkan-hamburkan 750 rupiah, saya naik kelas sambil menggondol juara kelas. Pada waktu hal itu diumumkan, maka seperti yang dapat Anda duga, saya merasa biasa-biasa saja seperti ketika menjadi <em>runner-up</em> di kelas satu, juara di kelas dua dan <em>runner-up</em> lagi di kelas tiga. Dari persepsi praktisi NLP hari ini sebenarnya saya sangat menyayangkan tidak memanfaatkan momentum-momentum tersebut. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Pada usia menjelang 10 tahun, saya menjadi semakin aneh dan liar terutama di luar rumah. Sebagai akibatnya teman-teman memberi saya <em>nick name</em> “ah-siao”. Jangan tersenyum dulu. Itu hanya terdengar indah tapi bila dicecap rasanya asam. Sebab artinya adalah “si gila”. Nah, saya memang agak gila sejak dulu. Sayangnya tidak ada yang menghargai <em>positive intention</em> dari <em>insanity</em> semacam ini. Eh-hem, bukankah Albert Einstein pun agak gila? Abraham Lincoln gila benaran bahkan?! Pak Ali, wali kelas saya pada saat mengumumkan saya sebagai juara kelas tidak lupa membuat saya semakin terkenal sebagai orang gila. Dengan gayanya yang santai penuh canda, Pak Ali berkata:”Biar pun Erni Julia ini gila, tapi dia pintar luar biasa. Ayo, yang pada waras, kamu seharusnya belajar sama Erni.” </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Saat ini sambil mengetik bagian ini saya melayang di atas <em>timeline </em>saya. Saya melihat seorang anak perempuan menjelang remaja yang canggung berusaha keras untuk tidak menunjukkan kegembiraannya. Ia bahkan menekuk wajahnya. Meleletkan lidah ke arah teman-temannya yang menyambut ucapan Pak Ali dengan teriakan mencemoh. Dari atas <em>timeline</em> saya mengirimkan energi <em>playfulness</em>. Nikmati momen itu, Erni. You’re blessed! Tuhan mencintaimu sejak dulu. Jika suatu waktu kau kehilangan semangat bergembira, kebebasan bereksperimen dan bercanda, kau bebas kembali ke masa lalu ini. Menggilalah dan so what gitu lho? Kamu spesial. Tak ada yang perlu disesali. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Terlanjur melayang di atas <em>timeline</em> saya singgah sejenak di suatu titik, hari pertama di kelas satu esempe. Entah pelajaran ke berapa dan itu tidak penting. Saya melihat Ibu Murni masuk kelas. Agak sulit melukiskan keadaan guru ini. Ia memiliki kelembutan seorang ibu, tapi kelembutan itu tercemar oleh berbagai problema kehidupan. Ia memiliki kecantikan seorang perempuan, tapi kecantikan itu terlilit benang-benang kusut berbagai kebutuhan materi. Ia tampak cerdas, tapi ia mengesampingkan kecerdasan itu sebab ia tahu toh tidak ada gunanya. Dari atas <em>timeline</em> saya dapat mengatakan <em>neurological levels</em> Bu Murni saling bertentangan. </span></p>
<p lang="en-US">
<p><span style="font-size: small;">Saya mengalihkan perhatian kepada </span><span style="font-size: small;"><em>younger self</em></span><span style="font-size: small;"> saya. Ia sangat bersemangat, sebab saat itu merupakan saat pertama kali dalam hidupnya belajar bahasa Inggris. Buku pelajarannya ia sampul dengan plastik berwarna hijau yang didaur ulang dari taplak meja bekas. Ia menatap Bu Murni penuh harapan bercampur galau. Ia tahu rata-rata teman sekelasnya sudah mengikuti les bahasa Inggris kecuali dirinya. </span></p>
<p lang="en-US">
<p><span style="font-size: small;">Saya melihat dari atas </span><span style="font-size: small;"><em>timeline</em></span><span style="font-size: small;"> Bu Murni meminta siswa-siswi membuka halaman tiga sambil berjuang mendamaikan konflik nilai pengabdiannya yang bertengkar dengan nilai uang, nilai kehidupan yang lebih baik, kenyamanan dan entah apa lagi. Suaranya terdengar malas-malasan sekaligus tidak bersahabat. Tidak ada senyum di wajahnya. Padahal kalau ia tersenyum pastilah akan mengendurkan ketegangan wajahnya, dan ia akan tampak cantik penuh keibuan, ah…ya, ia sedang hamil muda. Tapi Bu Murni yang terjebak dalam pertentangan nilai seperti itu menyuruh siswa-siswinya berdiri dan melafalkan satu kata dari daftar kosa kata tiga huruf. Semua berjalan lancar hingga…tiba </span><span style="font-size: small;"><em>younger self</em></span><span style="font-size: small;"> saya. Ia melihat tiga huruf itu c-o-w. Dalam hati ia mengeja: ce-o-we …ia belum tahu kalau w itu double “u” dan u dibunyikan seperti you. </span><span style="font-size: small;"><em>Ignorant </em></span><span style="font-size: small;">dan </span><span style="font-size: small;"><em>innocent </em></span><span style="font-size: small;">ia melafalkannya secara keliru. Dan itu meledakkan konflik internal Bu Murni. Nilai kenyamanan menonjok nilai pengabdian tepat di bawah dagunya. Nilai pengabdian terjengkang, “Ayo! Matilah kau nilai pengabdian! Kau kira aku sudi menderita demi uang tak seberapa ini, hah?! Lebih baik aku pulang dan tidur!” </span></p>
<p lang="en-US">
<p><span style="font-size: small;">Detik berikutnya nilai kenyamanan yang menang meloncat keluar dari mulut Bu Murni dan beliau berteriak</span><span style="font-size: small;"><strong>:”Goblok! Itu bacanya </strong></span><span style="font-size: small;"><em><strong>cow</strong></em></span><span style="font-size: small;"><strong> bukan </strong></span><span style="font-size: small;"><em><strong>kau</strong></em></span><span style="font-size: small;"><strong>!”</strong></span><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Sekarang saya ingin bercerita kepada Anda dari posisi persepsi diri waktu itu. Saya mengalami banyak kesulitan selama 12 tahun pertama perjalanan saya di atas bumi ini. Saya sering menabrak pintu-pintu yang tertutup, dan saya berkata kepada diri saya, “Menyingkirlah dari depan pintu-pintu yang tertutup itu. Kau tak berhak!” Sebenarnya saya mendengar suara ibu, suara kakak kadang-kadang, bukan suara saya sebenarnya. Jadi saya menjauh. Saya berpura-pura tidak apa-apa. Saya pura-pura tidak peduli. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Namun sekolah adalah tempat yang selalu membuat saya betah. Sebab saya dapat melakukan hal-hal yang saya tahu persis bagaimana melakukannya. Sejak insiden diusir dari kelas oleh Pak Turangan, saya semakin menikmati bersekolah. Saya menikmati toleransi guru-guru ketika saya gaduh. Saya menikmati bila teman-teman saya yang pemalas “mengemis” minta contekan. Saya menikmati iri hati teman-teman yang sama-sama pintar dan persaingan menjadi juara kelas. Tapi saya tidak siap Bu Murni merendahkan saya di depan teman-teman baru yang belum mengenal siapa saya. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Dengan rasa terpanggang di kedua pipi saya melirik teman-teman sekelas sambil bertanya dalam hati: “Bagaimana aku menghapus malu ini? Bagaimana aku bangkit kembali tanpa terpelintir? Bagaimana aku harus bersikap terhadap bu Murni?” Perasaan saya berkecamuk. Saya ingin menyikapi peristiwa ini seperti halnya saya menyikapi pintu-pintu yang tertutup itu, tapi ini menyangkut sekolah, sesuatu yang benar-benar penting bagi saya. Sesuatu…bukan, bukan sesuatu melainkan satu-satunya pintu yang akan membukakan banyak pintu-pintu kesempatan di masa yang akan datang! Saya tidak bisa kehilangan pintu ini!</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Rupanya Tuhan memang memberkati saya. Saya tidak perlu khawatir berlama-lama. Pada saat pelajaran Bahasa Inggris berikutnya yang masuk ke kelas bukan lagi Bu Murni, melainkan Pak Taufik. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Pak Taufik adalah tipe guru “yang penting tanda tangan hadir di kelas”. Perkara mengajar atau tidak itu urusan nomor sekian. Setiap kali masuk kelas, Pak Taufik akan menyuruh kami membaca sebuah cerita pendek lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk menguji apakah kami memahami apa yang kami baca. Dengan cara belajar seperti ini saya selalu A dan kemampuan <em>pronunciation</em> saya tersangkut di tingkat nol hingga 20 tahun lamanya. Bahkan 30 tahun setelahnya setiap kali akan menyebut kata “cow” saya harus mencari kesamaan nadanya dari lagu iklan produk susu…aku dan kau suka dancow…dan saya bunyikan “cow” dengan tepat. Berkat belajar dan mempraktekkan NLP akhirnya saya bisa membebaskan kemampuan saya yang terjebak di balik <em>defend mechanism</em>. Dan tentu saja saya saat ini mengenang Bu Murni tanpa rasa sakit hati. </span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Kalau Tuhan memberkati saya yang tidak sadar diberkati berkali-kali, tentunya Tuhan mau memberkati semua guru termasuk yang melakukan kesalahan-kesalahan. Sebenarnya tidak bisa disebut kesalahan sih. Setidaknya tidak ada seorang guru pun yang harus dipersalahkan jika murid-muridnya jadi pecundang. Setiap orang dengan caranya yang unik—sadar atau tidak—harus mempertanggungjawabkan buah-buah pikirannya, dan dengan demikian akibat dari padanya. Tuhan telah menanamkan citranya di dalam benak kita, dan dari sanalah pemikiran serta buah-buahnya mewujud</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/tidak-semua-guru-itu-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sadar Linguistik : Racun Tak Terlihat</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/sadar-linguistik-racun-tak-terlihat/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/sadar-linguistik-racun-tak-terlihat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 04:58:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Henry Yonathan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2101</guid>
		<description><![CDATA[by Henry Yonathan Salah satu kekuatan NLP (Neuro-Linguistic Programming) adalah linguistik. Sepengetahuan saya, semakin piawai seorang praktisi NLP, maka semakin piawai pula berlinguistik. Kemampuan seseorang mengelola linguistik di dalam dan di luar dirinya dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak terduga. Hal ini membuat saya teringat akan sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh Bapak Johanes Simatupang mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/henry-yonathan">Henry Yonathan</a></p>
<p>Salah satu kekuatan NLP (<em>Neuro-Linguistic Programming</em>) adalah linguistik. Sepengetahuan saya, semakin piawai seorang praktisi NLP, maka semakin piawai pula berlinguistik. Kemampuan seseorang mengelola linguistik di dalam dan di luar dirinya dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak terduga. Hal ini membuat saya teringat akan sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh Bapak Johanes Simatupang mengenai dirinya dan temannya yang merupakan orang Betawi.</p>
<p><em><strong>Flower &amp; Interest</strong></em></p>
<p>Kisah ini terjadi di negeri Paman Sam, dimana pada waktu itu mereka masih mahasiswa. Si Betawi ini telah menyiapkan dirinya dengan kursus bahasa Inggris di Indonesia selama 1 bulan, sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Sedangkan Pak Johaness sepertinya sudah lebih dahulu tiba di Amerika Serikat dan memiliki persiapan bahasa Inggris yang cukup mumpuni.</p>
<p>Suatu ketika mereka mengunjungi Bank untuk suatu keperluan. Nah, mungkin karena si Betawi ini masih kaget akan dunia yang baru dan agak sok, begitu melihat <em>teller</em> bule yang cantik, didatanginyalah <em>teller</em> tersebut. Percakapanpun dimulai oleh si Betawi, “<em>Good morning Miss. What’s the flower?</em>”. Mendengar kalimat tersebut, sang <em>teller</em> menjadi seperti agak bingung dan terdiam. Melihat hal tersebut dan tidak mendapatkan jawaban, si Betawi kembali melontarkan pertanyaan, “<em>What’s the flower?</em>”. Sekali lagi sang teller tampak kebingungan. Dalam keadaan yang masih bingung dan tetap bersikap ramah, sang <em>teller</em> menjawab dengan agak terbata-bata, “<em>I’m sorry Sir, we don’t have any flower here</em>”. Mendapat jawaban itu, si Betawi pun menjadi gusar. “<em>Flower&#8230; Flower!</em>”, demikian ujarnya seraya menegaskan maksudnya.</p>
<p><span id="more-2101"></span>Sementara itu, Pak Johaness memperhatikan perilaku temannya itu sedari awal. Rupanya ia paham apa yang sebenarnya dimaksud oleh temannya itu. Dengan segera ia pun memberitahu si Betawi dengan suara yang agak berbisik seraya menahan malu akan betapa gobloknya si Betawi, “<em>Interest&#8230; Interest!</em>”. Si Betawi yang saat itu masih terfokus dengan sang <em>teller</em> rupanya kurang mendengar dengan jelas, “Apa?!!?”. “<em>Interest!</em>”, lanjut Pak Johaness. “Ooohhh&#8230; beda yah?!”, kata si Betawi.</p>
<p><strong>Sadar Linguistik</strong></p>
<p>Saya tidak tahu apakah Anda dapat memahami lucunya kisah di atas. Namun, yang pasti, saya tidak akan mengajak Anda untuk memahami bedanya <em>Flower</em> dan <em>Interest</em> <img src='http://nlpintoaction.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Setidaknya di dalam kisah tersebut di atas, dapat menggambarkan beberapa hal penting. Salah satu hal penting yang akan menjadi topik adalah apakah saya paham terhadap kata-kata yang saya ucapkan.</p>
<p>Mungkin dalam benak Anda muncul pernyataan, “Saya paham kok, buktinya sampai saat ini saya mampu mencapai ini dan itu”. Benar, saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. Sebab, saya pribadi juga begitu. Namun demikian, saya menyadari bahwa ada kata-kata tertentu yang sebenarnya sarat akan arti. Akibat dari sarat akan arti ini, dapat membuat saya secara tidak sadar bingung akan apa sih yang sebenarnya saya maksudkan.</p>
<p><strong>Bisa</strong></p>
<p>Salah satu kata yang saya maksudkan adalah kata <strong>bisa</strong>. Kata ini dapat memiliki banyak arti, sebut saja : racun, dapat, mau, mampu, sanggup, iya, bersedia. Jadi, saat menggunakan kata <strong>bisa</strong>, sebenarnya apa sih yang saya maksudkan?</p>
<p>Suatu ketika saya bercakap-cakap dengan seseorang. Dari percakapan kami, ia menyadari apa yang selama ini terjadi dan dirinya pun berujar, “Iya sih, gua tau terlalu xxxxx. Tapi gua gak <strong>bisa</strong> ubah”.</p>
<p>Apa yang tersirat dalam kalimat tersebut adalah dia tidak berdaya dan menjadi korban. Seandainya dia mau lebih jujur kepada dirinya sendiri akan apa dibalik kata <strong>bisa</strong> tersebut, maka mungkin hidupnya akan menjadi lebih berdaya dari sebelumnya.</p>
<p>Nah, kata apakah yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh kata <strong>bisa</strong> dari kalimat diatas?</p>
<p>Apa perbedaan apa yang timbul dari perubahan kata tersebut?</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Kata <strong>bisa</strong> hanyalah satu dari beberapa kata yang sarat arti. Entah berapa kata-kata lagi yang sangat tersamar seperti kata <strong>bisa</strong> yang tidak saya sadari.  Sebagai penutup, saya mengajak Anda untuk menjawab :</p>
<p style="text-align: center;">Kesadaran apa yang muncul dari dalam diri saya setelah mempelajari artikel ini?</p>
<p>Selamat menyelami kesadaran berlinguistik dan sampai jumpa pada tulisan lainnya.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Sesuatu yang tidak disadari, tidak dapat diubah. Untuk melakukan perubahan, maka perlu diawali dengan menyadari. Bila tidak, maka saya tidak tahu apa yang perlu diubah.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/sadar-linguistik-racun-tak-terlihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Outcome Thinking</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/umum/outcome-thinking/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/umum/outcome-thinking/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 14:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erni Julia Kok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2098</guid>
		<description><![CDATA[by Erni Julia Kok Outcome Thinking merupakan satu dari empat filosofi Neuro Linguistic Programming (NLP). Dasar pemikiran utamanya ada dua. Pertama bila seseorang berada pada kondisi yang tidak diinginkannya (present/problem state), ia harus merespon dengan bertanya: kondisi seperti apa yang diinginkannya (desired state)? Mencari solusi untuk mengatasi setiap problem adalah seperti berpikir di luar kotak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/erni-julia-kok/">Erni Julia Kok</a></p>
<p><em>Outcome Thinking</em> merupakan satu dari empat filosofi  Neuro Linguistic Programming (NLP).  Dasar pemikiran utamanya ada dua.  Pertama bila seseorang berada pada kondisi  yang tidak diinginkannya (<em>present/problem  state</em>), ia harus merespon dengan bertanya: kondisi seperti apa yang  diinginkannya (<em>desired state</em>)?   Mencari solusi untuk mengatasi setiap problem adalah seperti berpikir  di luar  kotak, sebaliknya, semakin lama terpaku pada persoalan atau  hal-hal yang tidak  diinginkan dapat membuat persoalan menjadi semakin  berat dan sulit ditangani. Sebagai  contoh, bila seseorang sedang  menderita sakit kepala, ia dapat memilih untuk  terus-menerus merasakan  penderitaannya hingga rasa sakit itu menjadi hiperbola  atau meminum  obat penahan sakit, kemudian mengalihkan pikirannya pada hal-hal  yang  menyenangkan agar dapat “melupakan” gangguan sakit kepala tersebut.</p>
<p>Kedua;  melibatkan kecerdasan pikiran <em>alpha</em> sehingga kita dapat  menjiwainya. Bila kita telah dapat menjiwai apa yang kita   inginkan—meskipun belum terjadi, maka keinginan tersebut akan berbalik  menuntun  perilaku kita. Gol adalah apa yang kita rancang dengan  menggunakan kecerdasan  kognitif, analisis, dan logis, sedangkan <em>outcomes</em> adalah akibat atau hasil dari tercapainya suatu gol. Supaya peryataan  gol dapat  diterapkan maka perlu disusun dalam format yang terstruktur  yang disebut <em>well-formed</em> dan mengikuti modus operandi  pikiran alpha yang cerdas.</p>
<p>Cara menyenangkan yang sering saya  gunakan untuk mengilustrasikan <em>goal </em>dengan <em>outcome</em> adalah dehidrasi di siang  yang terik, segelas air yang memberi efek  kesegaran. Bayangkanlah bahwa Anda  sedang berkelana di padang pasir dan  suatu malam Anda tertidur pulas, dan tidak  tahu kalau seseorang telah  mencuri persediaan air minum Anda. Keesokan harinya  Anda melanjutkan  perjalanan. Karena teriknya matahari di padang pasir tak  terperikan,  Anda segera mengalami dehidrasi, luar biasa haus; kerongkongan Anda   kering, mulut Anda terasa tebal, lidah Anda terasa kaku dan bibir-bibir  Anda  mulai meretak. Anda berada dalam <em>problem state</em> dan jelas  Anda menginginkan—sangat menginginkan—air! Anda tahu bagaimana  rasanya  air segar membasahi bibir-bibir, mulut dan melewati kerongkongan Anda (<em>future pace</em>).  Gol atau tujuan Anda  sangat jelas: air! Anda beruntung, bertemu dengan  rombongan kafilah dan mereka  memberi Anda sekendi air. Gol Anda  tercapai. Setelah meminum secukupnya, Anda  merasa segar (<em>outcome</em>).</p>
<p><span id="more-2098"></span>Berdasarkan  arah pencapaiannya, goldapat  dibedakan menjadi dua; yang pertama adalah <em>Outcome  goal</em>: tempat tujuan yang mana Anda sedang bergerak mendekatinya [Anda  menginginkan air minum]. Dan yang kedua <em>process  goal</em>: yakni usaha Anda mencapai gol tersebut,  bagaimana Anda dapat tiba di tempat tujuan  [upaya mendapatkan air]; <em>outcome goal</em> Anda<em>.  Outcome goal</em> kita nyatakan dalam visi  misi, lalu dipecah menjadi gol yang dapat  kita proses. Bagian ini kita akan  memfokuskan pembahasan pada <em>process goal</em>.</p>
<p>Suatu <em>outcome</em> dapat disebut <em>well-formed</em> bilamana  memenuhi kriteria-kriteria: pernyataan positif dan spesifik; dirancang   atas inisitif sendiri dan dapat diusahakan sendiri; memiliki konteks  yang  jelas, kapan dan di mana—tanggal, lokasi yang jelas—akan dicapai  atau  terlaksananya.<br />
<strong> </strong><br />
<strong>Positif dan spesifik</strong><br />
Bayangkan situasi ini;  seseorang—bos atau pasangan,   misalnya—memberikan Anda daftar belanja, lalu meminta Anda pergi ke  toserba.  Setibanya di sana Anda baru sadar bila daftar tersebut  bukannya berisi  barang-barang yang hendak dibeli, melainkan yang tidak  dan jangan dibeli.  Reaksi Anda pasti beda dengan reaksi orang lainnya;  barangkali ada yang justru  membelikan barang-barang yang disuruh jangan  dibeli; misalnya pada daftar  tertulis: Jangan beli deterjen, tidak mau  beli shampo, dilarang beli keset kaki  dan seterusnya, tetapi justru  barang-barang itu yang Anda beli. Barangkali  reaksi orang lainnya;  bingung saja, tidak membeli apa-apa. Barangkali orang  lainnya lagi akan  berusaha menelepon si penyuruh, dan bila tidak dapat  mengontak, akan  meninggalkan pesan pendek.</p>
<p>Pikiran  cerdas kita—orang lain boleh menyebutnya pikiran bawah sadar  atau pikiran tidak  sadar—hanya dapat menerima pesan yang dinyatakan  dengan kalimat positif.  Bila tidak, pikiran cerdas akan merespon   seperti ilustrasi di atas; membuang kata-kata negatif (jangan, tidak  mau,  dilarang), bingung, atau berusaha mengirimkan pesan—bukan dengan  SMS, melainkan  mutung alias tidak termotivasi untuk merespon.</p>
<p>Pada  contoh saya ingin menjadi <em>trainer</em> dan  konsultan bisnis  tersohor, tentu saja harus didukung dengan gol-gol lain di  antaranya  yang terpenting tentu saja stamina. Fisik yang prima sangat amat   dibutuhkan agar sanggup berdiri berjam-jam sambil berbicara  terus-menerus.  Tujuan utama saya tidak akan tercapai jika saya  kehabisan nafas di  tengah-tengah suatu <em>training</em>. Selain  itu,  saya perlu memiliki pikiran yang jernih, kreatif dan cepat menemukan  solusi  terhadap situasi sulit yang mungkin saja terjadi. Saya memberi  kesempatan  kepada pikiran cerdas saya untuk menggolkannya dengan  mengirimkan pesan positif  : saya fit, stamina prima, pikiran jernih,  saya menjawab setiap pertanyaan  dengan sigap, memberikan solusi yang  tepat dan bergembira. Pikiran cerdas kita  menerima pernyataan apapun  yang terus-menerus diulang sebagai fakta dan  kebenaran. Juga beroperasi  berdasarkan hukum daya tarik(<em>law of attraction</em>)  terhadap  sinyal yang terus menerus kita kirimkan. Sebab itulah, kita akan  mendapatkan  apa yang sungguh-sungguh kita inginkan dan yang kita  impi-impikan.</p>
<p>Sebaliknya  bila diijinkan terus-menerus memikirkan yang tidak kita  inginkan; tidak mau  gemuk, tidak mau sakit, tidak mau lupa, maka sinyal  yang bolak-balik membakar  syaraf-syaraf otak kita adalah kata-kata  “gemuk”, “sakit”, “lupa”. Untuk  memperjelas hal ini sekarang bayangkan  seekor kuda putih. Bayangkan terus! Kuda  putih…kuda putih…kuda  putih…dan sekarang berhenti membayangkan kuda putih! Apa  yang terjadi?  Untuk tidak lagi membayangkan kuda putih, kita harus melewati  proses  membayangkannya terlebih dahulu.</p>
<p>Jelas  bukan bahwa gol dan <em>outcome</em> harus  dinyatakan dengan  pernyataan positif? Contoh lain; gol Anda adalah menjadi  seorang  presenter yang terkenal dengan honor puluhan juta Rupiah sekali naik   panggung. Namun saat ini Anda masih “demam panggung” alias grogi di  depan orang  banyak, maka salah-satu gol kecil Anda adalah mengatasi  perasaan grogi tersebut.  Sinyal apa yang akan Anda kirimkan kepada  pikiran bawah sadar Anda?<em><br />
“Aku tidak boleh grogi kalau sedang berada  di atas panggung.” </em>Pernyataan ini negatif, dengan kata lain tidak <em>well-formed</em>,  bukannya Anda menjadi tidak  grogi malah Anda harus memikirkan dan  mengalami, merasakan terebih dahulu  bagaimana Anda berdiri di atas  panggung dengan perasaan tersiksa, mulut terkunci  atau berbicara  terbata-bata dan lupa teks pidato yang telah dihafalkan  sebelumnya!<em><br />
“Aku harus dapat mengatasi penyakit demam  panggung ini.”</em><br />
Masih  tidak <em>well-formed</em> juga! Meskipun  kalimat di atas adalah  kalimat positif, tetapi Anda tidak dapat mencapai apa  yang tidak  menjadi keinginan Anda! Anda tidak dapat mencapai: ketenangan,  percaya  diri, nyaman dan yakin itu dengan “mengatasi demam panggung”. Karena   itu nyatakanlah dengan pernyataan yang dapat diterima oleh pikiran  cerdas Anda:  “Aku merasa nyaman, <em>enjoy</em> ketika  sedang berdiri  di atas panggung, di hadapan penonton. Aku percaya diri dan  tenang.  Kata-kata yang cerdas dan menghibur mengalir lancar.” Dan jika   terus-menerus membayangkan diri Anda berdiri di atas panggung dengan  sikap  demikian, lama-kelamaan pikiran cerdas Anda akan menerimanya  sebagai kenyataan;  memang seperti itulah pribadi Anda.  Di  saat Anda  benar-benar berdiri di atas panggung maka Anda akan beraksi persis   seperti yang selama ini Anda pikirkan berulang-ulang.</p>
<p>Salah-satu  alasan gol utama atau tujuan besar kita perlu diturunkan (<em>chunking down</em>)  menjadi gol-gol kecil adalah supaya kita dapat  mengirimkan pesan-pesan  spesifik kepada pikiran cerdas kita dan mendapatkan  evidence (bukti)  melalui penginderaan. Anda dapat melakukan percobaan kecil  dengan  mengirimkan pesan kepada pikiran cerdas sebelum tidur; pukul berapa Anda   ingin bangun keesokannya. Nyatakan secara positif dan spesifik, “aku  bangun  dari tempat tidur pukul lima pagi.” Jika Anda melakukan  eksperimen ini secara  betul, Anda tak pernah membutuhkan weker. Hal ini  telah saya praktekkan selama  bertahun-tahun, bila memerlukan bangun  pagi, saya dapat bangun pada jam  tertentu yang telah saya set sebelum  tidur, dan bila tidak memerlukan bangun  pagi, saya akan tidur hingga  kebutuhan tubuh untuk beristirahat terpenuhi.</p>
<p>Kesimpulannya;  untuk setiap gol yang Anda rancang; nyatakan secara  positif dan juga spesifik.  Seperti dikatakan Robert Dilts, kita tidak  bisa menyetop sebuah taksi dan tidak  memberikan alamat yang hendak  dituju dengan jelas serta spesifik. Supir taksi  akan selalu bertanya,  “Ke mana?” dan Anda tidak dapat menjawab, “Pergi dari  tempat yang tidak  aku inginkan ini.” Maka supir taksi itu akan terus mendesak  hingga  Anda memberikan tempat yang akan dituju secara jelas dan spesifik atau   ia menolak melayani Anda.</p>
<p><strong>inisiatif dan kendali</strong><br />
Gol harus dibuat atas inisiatif  pribadi dan sepenuhnya di  bawah kendali penggagasnya. Jaka Tingkir tidak dapat  mencegah Sultan  Trenggana mengusir dan memecatnya ketika ia melakukan  kesalahan, namun  ia dapat berupaya menjadikan dirinya layak dan pantas untuk  diterima  kembali. Lina tidak dapat berharap bosnya berinisiatif menaikkan   gajinya, namun ia dapat membuat prestasi yang mengesankan bosnya dan  membuat  sang bos merasa “berutang budi” padanya.</p>
<p>Salah-satu  faktor yang menunjang kesuksesan kita adalah  komunikasi dan relasi dengan orang  lain. Katakanlah bahwa Anda merasa <em>dicuekin </em>oleh  seseorang, padahal masukan, saran maupun kritik dari orang ini sangat   penting bagi Anda. Maka tidak ada pilihan, Anda harus mengatasi masalah  ini  segera. Bagaimana Anda menyatakan gol ini?<br />
“Aku  mau dia peduli pada apa yang aku lakukan.” Tentu Anda  tidak akan berhasil, sebab  tidak mungkin bagi Anda untuk   berharap—menghendaki—seseorang  mengubah perilakunya. Anda tidak punya  kendali atas orang lain. Tidak peduli  siapapun dia, adik, anak,  bawahan, pembantu dan bahkan orang yang hidupnya  sepenuhnya di bawah  kekuasaan Anda sekalipun, Anda tidak dapat mengendalikan  sikapnya  terhadap Anda. Anda dapat mengancam, menekan dan memaksa, tetapi   hasilnya tidak akan pernah seperti yang Anda harapkan.  Apa yang dapat  Anda lakukan adalah mencari  tahu mengapa orang ini tidak peduli kepada  Anda? Mengapa dia tidak memberikan  perhatian, tidak memberikan <em>feedback</em> lagi? Anda boleh saja memiliki kekuasaan tetapi Anda tetap tidak bisa   mengendalikan orang lain seperti halnya Anda tidak bisa menghentikan  hujan,  tetapi Anda dapat berinisiatif memakai jas hujan atau payung.  Anda tidak dapat  mengubah arah bertiupnya angin, tetapi Anda dapat  mengubah posisi layar Anda.</p>
<p>Setelah Anda memahami masalah di  balik sikapnya, Anda dapat  menyusun gol yang dapat Anda kelola dan kendalikan  secara efektif. “Aku  akan bersikap lebih ramah kepadanya. Menegur terlebih  dahulu bila  bertemu. Aku akan menjawab pertanyaannya dengan santun dan   profesional”. Jika itu yang dapat Anda lakukan, maka pernyataan gol Anda  akan  kurang lebih berbunyi: Memperbaiki hubungan dengan A mulai besok  pagi, dalam  waktu satu minggu hubungan kami meningkat ke level di mana  ia bersedia terbuka  terhadap saya dan memberikan masukannya yang sangat  penting bagi saya.<br />
<strong> </strong><br />
<strong>ruang dan waktu</strong><br />
Selain spesifik seperti diskusi kita  pada bagian sebelumnya, gol atau <em>outcome</em> hendaknya dibuat sesuai konteks. Contoh: gol Anda adalah nyaman di atas   panggung, konteksnya terjadi kapan, di mana, dan bagaimana sifat  acaranya?  Kejelasan konteks akan memudahkan kita untuk  mengukur  kemajuan yang dicapai.</p>
<p>Anda  pernah menonton balap mobil melalui siaran langsung?  Bayangkan di masa sebelum  televisi berkembang seperti sekarang ini,    penonton tidak tahu siapa yang akan memenangkan balapan tersebut, dan   terpaksa menunggu hingga mobil pertama memasuki garis <em>finish</em>. Namun dengan laporan pandangan mata yang <em>up to date </em>seperti  sekarang, kita sudah  bisa mengikuti penampilan tiap-tiap pembalap  sepanjang balapan itu berlangsung.  Demikian pula halnya perjalanan  transformasi dari keadaan sekarang menuju  keadaan yang diinginkan, kita  tidak akan tahu hasilnya kecuali kita mendapatkan  masukan-masukan yang  berguna dan segera. Menunggu hingga mencapai garis finis  akan sangat  merisaukan dan penuh ketidakpastian.</p>
<p>Perjalanan  dari <em>present state</em> menuju <em>desired state</em> tidak akan selamanya  lancar. Seperti telah kita identifikasikan sebelumnya, tidak jarang terjadi <em>set-back</em> (kemunduran), meleset dari  rencana atau perkiraan kita semula. Perjalanan saya dari <em>present state</em> sebagai pegawai kantoran (tahun 2005) menuju <em>desired state</em> (menjadi <em>trainer</em> dan konsultan mandiri tahun  2007) mengalami berbagai fase. Pertama  adalah fase persiapan, di antaranya saya  mengambil berbagai  sertifikasi, menyiapkan calon pengganti saya di perusahaan,  dan  menyiapkan keuangan. Karena beberapa <em>set-back</em>,  waktu yang  direncanakan sebelumnya, yakni 1 Januari 2007 terpaksa dimundurkan   hingga 1 Oktober 2008. Fase berikutnya, dari segi bisnis terjadi sedikit   deviasi, namun dari segi kapabilitas sebagai <em>trainer</em>, saya sangat puas karena mengalami peningkatan luar biasa,  hal tersebut dapat saya ketahui dari <em>feedback</em> yang diberikan oleh para peserta dan perusahaan pengguna jasa pelatihan saya.  Selain berupa evaluasi tertulis,  <em>feedback </em>dapat pula saya kalibrasi dari  sikap dan perilaku peserta selama mengikuti pelatihan. Namun yang tak kalah  pentingnya adalah <em>feedback </em>dari   pikiran cerdas kita, sejalan dengan peningkatan kapabilitas (dalam hal  ini  semakin mendekatkan saya pada gol utama), saya merasa semakin  nyaman melakukan  pekerjaan ini. Kesadaran akan hal ini sangat penting,  sebab memantapkan dan  menyemangati hati saya.</p>
<p>Kita  telah tahu bahwa tidak mungkin merancang suatu gol yang  berada di luar kendali  kita. Sebagai orang tua saya ingin anak saya  berprestasi, tetapi saya tidak  mungkin merancang gol: “Anak-anak  mendapat nilai A+ semester ini,” Yang dapat  saya lakukan adalah  merancang gol: “Membantu anak-anak belajar dua jam setiap  hari.”  Inisiatif datang dari diri saya dan saya dapat mengendalikan perilaku,   sikap dan suasana yang tepat untuk kegiatan belajar.</p>
<p>Kita tidak dapat mengendalikan  bagaimana orang-orang  bersikap, tetapi tentu saja kita dapat merancang gol:  memperbaiki  relasi dengan orang lain, misalnya rekan kerja, bawahan, atasan,   pasangan hidup, orang tua dan anak-anak. Bagaimana mengukur kemajuan  kita?  Pertama-tama tentu saja perubahan sikap dan perilaku pihak  lainnya. Dan ukuran  lain berupa perasaan nyaman yang kita rasakan  ketika berhubungan dengan pihak-pihak  lain itu.  <strong> </strong></p>
<p><strong>Sumber Daya dan Hambatan</strong><br />
Perjalanan dari <em>present state</em> menuju <em>desired  state</em> membutuhkan mental pemenang, berbagai sumber daya seperti materi,  tenaga,  waktu, bantuan, dan dukungan orang lain, juga keteladanan (<em>role model</em>).   Kabar baiknya  adalah bahwa semua sumber daya yang kita butuhkan untuk  mencapai sukses ini  telah tersedia bagi kita.  Kebanyakan hal  yang  kita persepsikan sebagai sumber daya tak lain tak bukan adalah produk  dari  kebijaksanaan kita memanfaatkannya.</p>
<p>Ketika sedang mengetik bagian ini dan  memikirkan analogi apa  yang tepat untuk menggambarkan kejelian menemukan dan  kebijaksanaan  menggunakan sumber daya untuk mendukung pencapaian gol-gol kita,  saya  teringat cerita berikut ini yang pernah saya baca di masa kanak-kanak  dulu.</p>
<p>Sepasang ayam sedang mengais-ais di  kebun sang petani, “Hei,  lihat apa yang aku temukan!” Seru ayam betina  tiba-tiba. Ayam jantan  mendekat untuk melihat apa yang telah diketemukan oleh  ayam betina itu,  dan ia berseru dengan nada meremehkan, “Ah, hanya sebutir  padi!”  Serunya, “dimakan saja!” Katanya lebih lanjut.<br />
Ayam betina tidak menyahut, ia punya  rencana lain. Hanya  sebutir padi, dimakan juga tidak mengenyangkan. Lebih baik  aku tanam  saja. Pikirnya. Dengan sepasang cakarnya ia menggemburkan sebidang   kecil tanah lalu menanamkan butir padi itu di situ. Beberapa hari  kemudian,  butir padi itu telah bertunas, dan makin hari semakin tinggi  dan besar. Tidak  lama kemudian, berbulirlah padi itu. Tentu saja ayam  betina itu sangat  bersuka-cita.</p>
<p>Menyaksikan betapa usaha ayam betina  telah membawa hasil,  ayam jantan juga ingin menanam biji-bijian apapun dapat ditemukannya.   Suatu hari ia menemukan sebutir mutiara ketika mengais di bawah jendela  rumah  petani. Ayam jantan yang tidak mengerti kalau benda tersebut  adalah mutiara dan  tidak dapat tumbuh jika ditanam, segera  menggemburkan sepetak kecil tanah untuk  menanam benda tersebut. Ketika  ia sedang giat-giatnya menggaruk tanah dengan  sepasang cakarnya itu  terdengarlah istri petani ribut-ribut mencari sebutir  mutiaranya yang  terjatuh dari untaian kalungnya yang terputus.</p>
<p>“Wah, gawat!” Seru ayam jantan “Harus  lekas-lekas aku  sembunyikan,” pikirnya, tetapi terlambat, istri petani telah melihat   mutiaranya yang hampir saja ditimbun ayam jantan dengan tanah.</p>
<p>“Hush!” Istri petani mencoba mengusir  ayam jantan dan  bermaksud mengambil mutiara itu. Ayam jantan yang panik mematok  mutiara  tersebut dan menelannya. Melihat hal itu istri petani menjadi marah. Ia   menangkap ayam jantan dan menyembelihnya untuk mengeluarkan mutiara  dari  temboloknya. Berakhirlah hidup ayam jantan gara-gara sebutir  mutiara. Benda  berharga bagi istri petani tetapi membawa petaka bagi  seekor ayam yang bodoh.</p>
<p>Waktu adalah sumber daya selanjutnya  yang maha penting. Dalam  konteks ini, kita tidak saja berbicara satuan waktu  yang akan kita  gunakan untuk mencapai gol, tetapi juga bagaimana mendapatkan  cukup  waktu untuk melakukan tindakan-tindakan yang mengarahkan kita kepada <em>desired state</em>.  Kita sering kali  mendengar orang mengeluh kekurangan waktu untuk  melakukan ini dan itu. Tidak  sedikit pula yang mengeluh betapa sulitnya  mengelola waktu. Benarkah manusia  dapat mengelola waktu? Bukankah kita  semua diberikan jatah yang sama; 24 jam  sehari? Kita ‘kan tidak  mungkin menambahkan satu menit apalagi satu jam, jadi  apa yang dapat  kita <em>manage</em>? Waktu itu <em>untouchable</em>!</p>
<p>Sesungguhnya kita tidak mungkin  mengelola atau memanajemen  waktu. Tetapi kita dapat memanajemen cara kita  menggunakannya,  antara  lain dengan  membuat prioritas-prioritas. Ingatlah bahwa setiap detik  waktu yang kita  habiskan untuk melakukan kegiatan tertentu tidak  tergantikan. Sama halnya  dengan investasi di dalam bisnis, kalau  keputusan investasi tepat, direncanakan  dan dilaksanakan dengan baik,  investasi akan kembali dalam bentuk <em>return of investment</em>. Demikian pula  halnya waktu. Waktu yang terbuang untuk bermain-main tidak mungkin kembali  kepada kita dalam bentuk manfaat.</p>
<p>Saya sering mendapat pertanyaan  bagaimana saya membagi waktu mengingat selain bekerja <em>full time</em>—Senin  sampai dengan Jumat—di perusahaan, saya juga  menulis novel, mengajar  dan melakukan konsultasi bisnis kepada beberapa klien  perusahaan.  Jawaban yang dapat saya berikan adalah saya merancang gol-gol, baik  gol  jangka pendek maupun jangka panjang, dan saya investasikan waktu yang  24  jam itu menurut prioritas masing-masing gol. Saya mengurangi  menonton acara  televisi, melakukan seleksi ketat DVD yang ditonton.  Saya hanya membaca buku  yang berhubungan dengan aktivitas saya, baik  sebagai eksekutif keuangan  perusahaan multinasional maupun sebagai <em>business  coach</em> dan konsultan. Ketika terjebak kemacetan lalu-lintas saya selalu mendengarkan  CD pengetahuan dan <em>audio-book</em>.</p>
<p>Bagaimana “memanfaatkan” orang lain  untuk mencapai tujuan kita? Dalam konteks <em>well-formed  outcome</em>,  kita dianjurkan agar tidak tergantung kepada orang lain. Namun,  dalam  proses pencapaian gol, tidak jarang kita membutuhkan bantuan orang lain,   terutama untuk memberikan masukan, dukungan moril dan bentuk bantuan  lainnya. Jika  mobil Anda mogok di tengah perjalanan, Anda memerlukan  orang-orang lain untuk  mendorongnya, tetapi Anda sendiri yang harus  memegang stir, menginjak pedal gas  dan melepaskan pedal kompling pada  saat yang tepat. Kecakapan mendelegasikan  tugas kepada orang-orang lain  membantu kita menghemat sumber daya waktu.</p>
<p>Siapa yang dapat Anda jadikan <em>role model</em> atau teladan di bidang yang  sedang Anda tekuni, atau bidang yang ingin dikuasai? <em>Role model</em> penting bagi kita jika kita dapat belajar hal-hal  positif yang ada  padanya. Modeling tidak berarti kita meniru dan menjadi  duplikat <em>role model</em>,  kita harus tetap  menjadi pribadi yang unik. Untuk menjadi pemenang  selain tidak perlu  mengalahkan orang lain, juga tidak berarti kita  harus menjadi orang lain.</p>
<p>Kualitas pribadi seperti apa yang  Anda miliki dan yakini?  Apakah kualitas tersebut merupakan sumber daya untuk  pencapaian gol?  Jika tinggi tubuh Anda hanya 1.5 meter, dan golAnda menjadi pemain  basket tingkat  dunia, mungkin tidak sesuai. Tinggi tubuh seperti itu  mungkin dapat menjadi  sumber daya yang tepat untuk main <em>bowling</em>?   Dalam hal kualitas pribadi dan mental pemenang, setiap orang adalah  unik, dan  keunikan tersebut adalah sumber daya besar bagi orang  bersangkutan kalau ia  pandai-pandai memanfaatkannya.</p>
<p>Gunakan setiap sumber daya yang ada  untuk melakukan <em>leverage</em>. <em>Leverage</em> adalah prinsip mencapai tingkat  hasil setinggi-tingginya dengan usaha  sekecil-kecilnya, dan dapat juga  mengurangi usaha dalam melakukan  hal-hal yang satu dan meningkatkan usaha untuk  melakukan hal-hal  lainnya. Contoh: Yang dikurangi menonton sinetron dan yang  diperbanyak  membaca buku; yang dikurangi berbelanja dan yang diperbanyak  menabung  dan sebagainya.</p>
<p>Sumber daya apa yang sudah Anda  miliki? Sumber daya apa yang  masih perlu diusahakan? Analisalah  pertanyaan-pertanyaan ini  sebaik-baiknya. Gol Anda memang harus luar biasa,  tetapi menganalisa  sumber daya dan hambatan dengan teliti akan menghindarkan  Anda  menetapkan target yang tidak realistis. Jika sumber daya yang Anda   perlukan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal di luar kendali Anda,  lakukan  analisa yang teliti segala kemungkinan yang berhubungan dengan  faktor-faktor  itu.</p>
<p><strong>ekologi dan congruence</strong><br />
Manusia adalah makhluk sosial. Karena  itu hampir tidak  mungkin manusia di dunia ini benar-benar sanggup hidup  sendirian. Kalau  pernyataan ini benar untuk Anda, Anda harus memikirkan  konsekuensi  dari pencapaian suatu gol dalam cakupan sistem di mana Anda hidup,   keluarga Anda, orang-orang yang Anda sayangi dan yang Anda pedulikan.  Banyak di  antara gol kita memerlukan pertimbangan orang lain. Gol  memiliki rumah merupakan  salah-satunya, apakah Anda dan anggota  keluarga lain sependapat dan  sekeinginan? Demikian juga gol mendapatkan  pekerjaan baru, pindah tempat tinggal dan berlibur.</p>
<p>Seorang  teman saya mendapatkan bea siswa belajar S2 di luar  negeri. Bea siswa ini  merupakan salah-satu cita-citanya sejak lama.  Pada saat ia merancang gol  tersebut, secara ekologi belum bermasalah.  Saat itu ia masih bujangan dan baru  lulus S1 serta belum mendapatkan  pekerjaan.   Tetapi ketika akhirnya bea siswa ini disetujui beberapa  selewat tiga  tahun, keadaan telah jauh berbeda.  Ia  telah menikah  meskipun belum memiliki anak.</p>
<p>Karirnya di sebuah perusahaan  farmasi, meskipun bukan <em>dream job</em>,   cukup menjanjikan masa depan yang baik.   Jika ia menerima bea siswa  dan meninggalkan pekerjaannya yang sekarang  belum tentu ia akan  mendapatkan pekerjaan yang setara meskipun ia lulus S2 dari  luar negeri  kelak.  Selain itu ia sedang  mencicil sebuah rumah dan mobil yang  tidak mungkin dibayar dengan uang saku  yang diberikan lembaga pemberi  bea siswa. Ia tidak mungkin mengajak istrinya  menyertainya ke luar  negeri. Selain tidak cukup biayanya, sang istri harus  berada di dekat  orang tuanya. Masalah klasik, bukan?</p>
<p>Ekologi  adalah faktor yang harus dipertimbangkan baik pada saat Anda sedang melakukan  perjalanan dari <em>present state</em> menuju <em>desired state</em> maupun ketika Anda telah  mencapai tujuan. Dalam contoh di atas teman  saya memang sukses mencapai  golnya—mendapatkan bea siswa, tetapi jika  ia menerimanya, akan terlalu besar  pengorbanannya. Kadang-kadang tidak  semua pencapaian membuat seseorang  berbahagia, seperti Baginda Midas  yang semula menginginkan apapun yang  disentuhnya menjadi emas, akhirnya  bersedih dan putus asa ketika sahabat dan  orang-orang yang dikasihinya  menjadi emas semua akibat sentuhannya.</p>
<p>Selain  faktor ekologi, gol-gol kecil harus <em>congruence</em> dengan gol atau tujuan utama. Jika kita kembali pada kisah Jaka Tingkir  yang  tujuan utamanya adalah singgasana Demak, maka mempelajari ilmu  silat dan ilmu  perang adalah <em>congruence</em>. Seandainya,  Jaka  Tingkir mendalami ilmu pewayangan supaya menjadi ahli seperti halnya Ki   Ageng Tingkir, sahabat dan saudara seperguruan ayahnya itu, maka  kegiatan  ataupun gol tersebut tidak <em>congruence</em> lagi.  Kalau  Anda ingin menjadi petenis  profesional, Anda harus berlatih dan  mengikuti pertandingan-pertandingan  tingkat amatir terlebih dahulu.  Anda harus membuat <em>goal</em> untuk memenangkan kejuaraan-kejuaraan tenis yang Anda ikuti.  Bukannya membuat <em>gol</em> untuk  memenangkan kejuaraan binaraga pada musim kejuaraan tenis!</p>
<p><strong>teruji dan terbukti</strong><br />
Di suatu tempat di semenanjung  Kowloon, Hong Kong, terdapat  sebuah batu di atas bukit. Dari kejauhan batu itu  tampak seperti  seorang wanita sedang duduk memandang ke arah laut lepas. Teman  saya,   asli Hong Kong bercerita bahwa  batu itu merupakan penjelmaan seorang  istri yang sedang menantikan suaminya  pulang dari menangkap ikan.</p>
<p>Selama bertahun-tahun perempuan itu  selalu duduk di tempat  yang sama menunggu suaminya pulang dari melaut dan  ketika perahu  suaminya merapat di dermaga, ia akan berlari-lari riang ke arah  laut  untuk menyambutnya. Hari demi hari berlalu hingga tak terhitung lagi   berapa lama ia berperilaku seperti itu hingga suatu hari, perahu sang  suami  tidak pernah lagi kembali ke pantai. Entah apa yang telah  menimpanya, sang  istri tidak tahu, tetapi ia  meyakinkan  dirinya,  bahwa suatu saat layar perahu sang suami pasti akan muncul dari garis   horizon, asal saja ia setia menanti.</p>
<p>Maka  perempuan itu tetap duduk di situ dengan mata tak  berkedip menatap ke arah laut  lepas,  terus bervisualisasi perahu   suaminya muncul sewaktu-waktu. Ia tidak merasakan haus atau lapar, tidak   memedulikan panas atau dingin, terik atau hujan, tanpa merasa lelah  ataupun  putus asa dan akhirnya tanpa terasa pula ia telah berlaku  demikian selama  bertahun-tahun hingga ia membatu!</p>
<p>Dua atau tiga tahun yang lalu,  seorang teman, sebut saja Mary  bercerita, bahwa ia sedang melakukan suatu  proyek visualisasi untuk  mendapatkan sebuah kondominium di daerah Orchard Road,  Singapore, dan  mobil sport berkapasitas mesin 3.000 cc. Disebut proyek karena  Mary  melakukannya dengan semacam <em>standar  operational</em>. Pertama-tama  ia menetapkan apa yang diinginkannya, dalam hal  ini kondo dan mobil  super mewah. Kedua; mendapatkan informasi  lengkap dan mendetil tentang  kedua aset  tersebut, yaitu spesifikasi dan harganya. Langkah ketiga;  mendapatkan beberapa  gambar atau foto berukuran besar dan dicetak  dengan solusi <em>pixel</em> tinggi sehingga terlihat jelas, indah juga  menarik. Langkah  keempat; foto-foto tersebut digantung di kamar tidur,  posisinya di atur agar  terlihat begitu Mary terbangun di pagi hari dan  sebelum ia tertidur. Foto-foto  lain ditempatkan di meja kerjanya untuk  memotivasi dirinya agar menjual lebih  banyak properti setiap  harinya—omong-omong, teman ini berprofesi sebagai agen  properti.</p>
<p>Mendengar cerita Mary, saya jadi  teringat legenda istri yang   membatu di  Kowloon itu.  Memang telah sering  terbukti pikiran  memiliki kekuatan luar biasa, namun tak pernah berhasil  “menciptakan”  materi secara langsung. Apa yang diperbuat Mary dan istri nelayan  yang  kini telah jadi batu itu barangkali berlebihan, Martha Beck, penulis  buku  dari Amerika Serikat yang baru-baru ini membagikan pengalamannya  membuat <em>vision board</em> —semacam yang dibuat  Mary—dalam sebuah artikel di www.oprah.com menulis bahwa setelah jadi, <em>vision board</em> tersebut sebaiknya  dilupakan. Sebab yang sering terjadi adalah orang  memperoleh apa yang pernah  diimpi-impikannya bukan sesuatu yang sedang  dipelototinya. Pendapatnya didukung  kisah sepasang suami-istri yang  baru pindah ke <em>mansion</em> baru mereka. Ketika sedang menyusun  buku-buku ke atas rak  di ruang baca yang luas dan nyaman, selembar  kertas guntingan dari suatu  majalah terjatuh di atas karpet. Sang istri  memungutnya dan betapa takjubnya  dia ketika melihat gambar tersebut  ternyata adalah rumah impiannya 10 tahun  yang lalu, kini rumah impian  itu telah menjadi kenyataan—rumah baru mereka saat  ini persis seperti  yang ada pada gambar majalah itu.</p>
<p>Visualisasi tidak sama dengan <em>future pace,</em> bagian dari teknik <em>outcome thinking approach </em>ini.  Harus  diakui, visualisasi seperti yang dilakukan Mary cukup membantu  dalam hal  membangun keinginan-keinginan yang  selanjutnya memotivasi  dirinya untuk mendapatkan keinginan tersebut. <em>Future pace</em> melibatkan sistem representasi  persepsi terhadap realitas, yakni indera  kita untuk melihat, mendengar dan  merasakan bagaimana seseorang  merespon perubahan yang tercipta ketika golnya  tercapai pada suatu  waktu di masa depan.</p>
<p>Alasan mengapa <em>future pace</em> efektif adalah disebabkan; teknik ini bekerja dengan  mengaktifkan pengalaman-pengalaman yang terkumpul dalam <em>deep structure</em> pikiran, sistem penginderaan, kemampuan otak  mendistorsi (kemampuan  visualisasi didukung oleh kemampuan otak melakukan  distorsi). dan  memindahkannya ke level perilaku dari neurological. Agar menjadi  jelas,  mari kita gunakan rekaman salah-satu sesi coaching saya dengan klien;   sebut saja Johny.</p>
<p>Pada sesi pertemuan pertama, Johny  menceritakan bahwa ia  pernah menginginkan mobil mewah dan ia telah melakukan  visualisasi  (hampir sama dengan yang dilakukan Mary). Awalnya ia sangat   bersemangat, namun seiring berlalunya waktu ia akhirnya menyerah dan  melupakan  keinginan tersebut. Setelah membahas hal itu panjang lebar,  kami menyimpulkan  bahwa: Johny merancang golnya—membeli mobil  mewah—sambil mengoperasikan <em>conscious mind</em> (pikiran sadarnya atau  logikanya). Ketika ia melakukan visualisasi ia mengoperasikan pikiran <em>subconsciousness</em> (pikiran bawah sadar  yang saya lebih suka menyebutnya pikiran cerdas atau pikiran <em>alpha</em>).  Johny lupa—seperti halnya  kebanyakan orang—, bahwa antara merancang  gol dan memvisualisasikan ‘ diri keren  mengendarai mobil tercepat di  dunia’ itu terdapat pertanyaan yang harus  dijawab: <em>Apa yang harus saya lakukan  untuk mendapatkan mobil tersebut?</em> Perlu pula diingat bahwa visualisasi sebenarnya merupakan salah satu   teknik untuk meningkatkan kecerdasan perilaku, bukan sekedar mengirimkan  sinyal  ke universal.</p>
<p>Sebagai seorang manajer pemasaran di  suatu perusahaan besar,  sebenarnya Johny akan mendapatkan mobil idamannya jika diri  dan timnya  mencapai target. Karena Johny berhenti melakukan visualisasi, maka  saya  menduga ia tidak mencapai target penjualan tahun lalu,  dan ternyata  dugaan saya benar. Apa yang  semestinya dilakukan Johny? Saya  menganjurkan agar; pertama, mengadopsi target  penjualan perusahaan  menjadi target atau gol pribadi. Setelah itu saya meminta  Johny  melakukan <em>future pace</em>, yakni  mengarahkannya untuk <strong>melihat</strong>, <strong>mendengar</strong>, <strong>merasakan</strong>—sekarang—telah mencapai target penjualannya. Kutipan  percakapan dalam sesi coaching tersebut, intinya bertujuan menggali <em>outcomes</em> atau efek apa yang akan terjadi  pada Johny bilamana ia telah mencapai golnya.</p>
<p>Setelah terlebih dahulu membiarkan  Johny duduk dengan rileks,  saya bertanya kepadanya,”Saat ini kita berada di masa  depan, persisnya  tanggal…(menyebutkan tanggal yang telah dituliskan Johny  sebelumnya),  dan anda telah berhasil memimpin tim mencapai target penjualan…,  apa  yang anda lihat, dengar dan rasakan?”<br />
“Saya melihat diri saya melangkah  keluar dari ruangan bos,  barusan beliau memberitahukan bahwa kami berhasil  melampaui target  tahun ini…”<br />
“Bagus! Apa yang anda rasakan?” Tanya  saya setelah Johny terdiam agak lama. Senyum tersungging di wajahnya.<br />
“Saya merasa bangga.” Jawabnya  mantap. Walaupun mata saya  yang terlatih untuk menangkap sinyal-sinyal penting  yang mendukung  jawabannya, saya ingin Johny sendiri merasakan—hingga  terasuki—bahwa  kebanggaan yang dirasakannya merupakan hasil kolaborasi antara  pikiran  sadar dan pikiran cerdasnya.</p>
<p>“Baiklah, saya ingin anda tarik nafas  dalam-dalam dan masuk ke dalam <em>inner zone </em>anda, tadi anda mengatakan saya bangga, dan saya ingin anda menangkap  sinyal yang dikirimkan <em>subconsciousness</em> kepada sistem representasi atau indera anda…(hening agak lama), dan di  bagian  mana dari tubuh anda yang memberitahukan kepada anda bahwa anda  merasa bangga?”</p>
<p>Nafas Johny menjadi semakin teratur,  perlahan ia meletakkan  telapak tangannya di atas dada kiri. Namun mengingat  pencapaian target  penjualan tersebut tidak sepenuhnya dalam kendali Johny seorang,  saya  memintanya mendaftar semua hal yang dapat dijadikan sumber daya dan  semua  hal yang harus diantisipasi akan menghambatnya. Secara terpisah  saya juga  membantunya merancang gol “kecil” lain, yakni menjadi  pemimpin tim yang  efektif. Dengan proses yang sama saya memandunya  melihat, mendengar dan  merasakan <em>outcome</em> sebagai pemimpin  yang efektif dan berdaya membawa timnya ke puncak sukses.</p>
<p>Anda pun dapat melakukan hal yang  sama, tuliskan gol utama Anda, <em>chunking  down</em> menjadi gol-gol yang dapat ditangani. Lakukan <em>future pace</em>; apa yang Anda lihat, dengar dan rasakan sebagai efek  dari <em>outcomes</em>? Ijinkan diri Anda  untuk merasakan koneksi pikiran <em>conscious </em>dan <em>subconscious</em>, ketika keduanya  terhubung dalam keadaan <em>congruent </em>atau   harmonis, Anda dapat merasakan sensasi tertentu pada bagian tertentu  dari pada  tubuh Anda. Sinyal-sinyal yang kita dapatkan dari proses <em>future pace</em> sangat penting, karena ia bekerja pada level pikiran <em>alpha</em> dan memandu kita hingga gol dan <em>outcome</em> tercapai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/umum/outcome-thinking/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>26-27 MEI : NEONLP MASTER PRACTITIONER</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/agenda/26-27-mei-neonlp-master-practitioner/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/agenda/26-27-mei-neonlp-master-practitioner/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 11:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Henry Yonathan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2076</guid>
		<description><![CDATA[Kembangkan Potensi Anda Untuk Menjadi Seorang Master NLP Yang Handal Dengan Dukungan Dari Neo NLP Society NNLP Master Practitioner Waktu Sabtu-Minggu 26-27 Mei 2012 Pk. 08.30 – 22.00 WIB Di Hotel Oasis Amir Jl. Senen Raya, Jakarta-Pusat *** Master Trainer Totok PDy ***** Guest Trainer Yan Nurindra Krishnamurti Persyaratan Peserta Pemegang Sertifikat NNLP Practitioner Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 		TD P { margin-bottom: 0in } --></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kembangkan Potensi Anda Untuk Menjadi Seorang Master NLP Yang Handal Dengan Dukungan Dari Neo NLP Society</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> NNLP Master Practitioner</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Waktu</strong></p>
<p style="text-align: center;">Sabtu-Minggu<br />
26-27 Mei 2012</p>
<p style="text-align: center;">Pk. 08.30 – 22.00 WIB</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Di</strong></p>
<p style="text-align: center;">Hotel Oasis Amir<br />
Jl. Senen Raya, Jakarta-Pusat</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Master Trainer</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img src="http://neonlpmaster.com/wp-content/uploads/2011/12/totok.jpg" border="0" alt="" width="120" height="156" align="BOTTOM" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Totok PDy</strong></p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Guest Trainer</strong></p>
<table style="text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="2" width="382">
<colgroup>
<col width="185"></col>
<col width="189"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="185"><img src="http://neonlpmaster.com/wp-content/uploads/2011/12/yan.jpg" border="0" alt="" width="120" height="155" align="BOTTOM" /></td>
<td width="189">
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://neonlpmaster.com/wp-content/uploads/2011/12/km.jpg" border="0" alt="" width="120" height="155" align="BOTTOM" /></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="185"><strong>Yan Nurindra</strong></td>
<td width="189"><strong> Krishnamurti</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><strong>Persyaratan Peserta </strong></p>
<p style="text-align: center;">Pemegang Sertifikat NNLP Practitioner</p>
<p style="text-align: center;">Atau</p>
<p style="text-align: center;">Pemegang Sertifikat NLP Practitioner / NLP Master Practitioner dari organisasi :<br />
<strong>NLP Society, NLP Academy, Neuro Semantics<br />
NLP University, AB NLP, NF NLP</strong></p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Biaya</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Rp. 3.000.000,-</strong><br />
Berlaku Early Bird Discount (Khusus Bagi NNLP Practitioner)<br />
Sebesar 10 % untuk registrasi sebelum tanggal 15 Februari 2012</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Fasilitas</strong></p>
<p style="text-align: center;">Student Kit, Instructor Kit<br />
Sertifikat “NNLP Master Practitioner”<br />
Lunch, Dinner, Coffee Break</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Rundown</strong></p>
<table style="text-align: center;" cellspacing="0" cellpadding="2" width="314">
<colgroup>
<col width="92"></col>
<col width="7"></col>
<col width="203"></col>
</colgroup>
<tbody>
<tr>
<td width="92"><strong><span style="color: #800000;">26 Mei 2012</span></strong></td>
<td width="7"></td>
<td width="203"><span style="color: #800000;">Hari 1</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="92"></td>
<td width="7"></td>
<td width="203"></td>
</tr>
<tr>
<td width="92">09.30 – 12.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Matrikulasi NLP Classic-Code</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">12.00 – 13.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Lunch</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">13.00 – 15.30</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Mastery – NLP Classic Code</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">15.30 – 16.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Coffee Break</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">16.00 – 18.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Mastery – NLP Classic Code</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">18.00 – 19.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Dinner</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">19.00 – 21.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Comprehensive Test</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">21.00 – 22.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Resume</td>
</tr>
<tr>
<td width="92"></td>
<td width="7"></td>
<td width="203"></td>
</tr>
<tr>
<td width="92"><strong><span style="color: #800000;">27 Mei 2012</span></strong></td>
<td width="7"></td>
<td width="203"><span style="color: #800000;"> Hari 2</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="92"></td>
<td width="7"></td>
<td width="203"></td>
</tr>
<tr>
<td width="92">09.00 – 12.00</td>
<td width="7"></td>
<td width="203">Next Generation NLP</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">12.00 – 13.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Lunch</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">13.00 – 15.30</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Next Generation NLP</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">15.30 – 16.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Coffee Break</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">16.00 – 18.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Next Generation NLP</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">18.00 – 19.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Dinner</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">19.00 – 20.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Inauguration</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">20.00 – 21.30</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Tips &amp; Tricks</td>
</tr>
<tr>
<td width="92">21.30 – 20.00</td>
<td width="7">:</td>
<td width="203">Empowerment</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/agenda/26-27-mei-neonlp-master-practitioner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Positif&#8230;Negatif&#8230;??? Positif&#8230;Negatif&#8230;???</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/positif-negatif-positif-negatif/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/positif-negatif-positif-negatif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:28:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Idrus P. Putra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2042</guid>
		<description><![CDATA[by Idrus Perkasa Putra Sadarkah Anda bila sebagian orang bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya? Contohnya, orang menggemari rokok, latah, kecanduan game, pemarah, pemalu dsb. Dan tahukah Anda, dibalik semua itu ada hal baik di dalamnya menurut pelaku tersebut? Tentunya, jika hal ini dihilangkan dalam diri orang tersebut, kemungkinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/idrus-perkasa-putra-s-kep/">Idrus Perkasa Putra</a></p>
<p style="text-align: justify;">Sadarkah Anda bila sebagian orang bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya? Contohnya, orang menggemari rokok, latah, kecanduan game, pemarah, pemalu dsb. Dan tahukah Anda, dibalik semua itu ada hal baik di dalamnya menurut pelaku tersebut? Tentunya, jika hal ini dihilangkan dalam diri orang tersebut, kemungkinan dia juga kehilangan hal positif dalam dirinya. Menariknya, negatif menurut Anda belum tentu negatif menurut orang tersebut! Yang penting untuk diingat adalah, <strong>manusia selalu hidup dan membentuk dunianya sendiri, oleh karenanya setiap manusia itu unik, dan salah besar bila memaksakan apa yang ada dipikiran kita untuk menjadi pemikiran orang lain!</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Underlying Every Behaviour Is a Positive Intention,</em> ini merupakan salah satu <em>presuppositions</em> dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang berartikan <strong>Selalu Ada Maksud Baik Dibalik Sebuah Perilaku</strong>. Dan inilah yang menyebabkan beberapa dari manusia bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya!</p>
<p style="text-align: justify;">Dari beberapa teman terapis saya, ada yang memiliki anggapan yaitu “SAYA DAPAT MENYEMBUHKAN SETIAP PERMASALAHAN KLIEN YANG DATANG KE SAYA”, Bagus juga sih mempunyai anggapan seperti ini, TAPI persepsi seperti ini ternyata SALAH BESAR !!! (Menurut Saya). Dan kira-kira inilah yang menyebabkan beberapa sesi hipnoterapi terhadap perubahan sebuah perilaku manusia tidak berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-2042"></span>Latah, adalah sebuah perilaku yang mungkin terlihat lucu dan menyenangkan. Dimana pelaku/orang latah bila dikagetkan dalam sebuah situasi dan kondisi tertentu maka orang tersebut dapat melakukan sebuah tindakan yang “<em>aneh</em>” seperti : melakukan gerakan, mengulang pernyataan, mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dan bertindak konyol. Dari beberapa pengalaman saya terhadap terapi latah dan beberapa perilaku menyimpang serta negatif yang lainnya inilah saya mencoba untuk berbagi dalam kesempatan kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sebut saja Yono (<em>bukan nama sebenarnya</em>), Yono mempunyai kebiasaan latah selama 5 tahun. Dan pada suatu hari, Yono membuat janji dengan saya untuk menjalani proses hipnoterapi terhadap kebiasaan latahnya. Singkat cerita, setelah melakukan <em>intake interview</em> dengan pendekatan <strong>NLP</strong> dalam <em>building rapport</em> dsb. Saya menemukan hal menarik dari latahnya Yono tersebut. Di satu sisi, Yono ingin terbebas dari latahnya dan di lain sisi dalam diri Yono, dia ingin mempertahankan latah ini. Karena dari latah inilah yang membuat Yono menjadi nyaman, percaya diri dan mudah untuk membina hubungan dalam sebuah perkenalan, baik dengan pria maupun wanita. Dan karena latah inilah yang membuat banyak orang menjadi dekat dengan Yono. Nah, sekarang silahkan Anda bayangkan dan rasakan dengan jelas, Ketika latah ini dihilangkan kira-kira hal apa sih yang akan terjadi dalam diri Yono ??? Sebagian dari Anda mungkin menjawab “<em>Ada hal positif yang akan hilang bila perilaku ini dihilangkan</em>”.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana persisnya untuk merubah perilaku seseorang menjadi lebih baik? Jika ada pertanyaan seperti ini, maka ijinkan saya untuk bertanya sebelum menjawab : “Baik untuk siapa? Dan apakah pasti menjadi lebih baik bila dirubah?”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Paman saya pernah berkata, “<strong><span style="color: #993300;">Jika ingin membantu untuk dapat melanjutkan hidup seorang pengemis bukan dengan cara MEMBERIKAN UANG, namun berikanlah KETERAMPILAN !!</span></strong>”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi, mari dipertimbangkan sebelum merubah perilaku seseorang, kira-kira sudah Ekologis-kah untuk dia? Orang-orang disekitar dia? Ataukah hanya ekologis menurut Anda???</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/positif-negatif-positif-negatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NLL Dalam Pengambilan Keputusan Strategis &#8211; Bagian 4</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/nll-dalam-pengambilan-keputusan-strategis-bagian-4/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/nll-dalam-pengambilan-keputusan-strategis-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 11:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Coach Tjia Irawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2058</guid>
		<description><![CDATA[by Tjia Irawan Ide  yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan  Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/tjia-irawan/">Tjia Irawan</a></p>
<p>Ide  yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari  pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan  Praktisi Pengembangan  Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak  hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang  dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi  seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana  setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN  PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini  semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para  Pelaku Bisnis.</p>
<p><em><strong>NLP BUSINESS SERIES</strong></em></p>
<p><strong>NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS</strong></p>
<p>Neuro  Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja  adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat  diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis.  NLL  sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat  diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir  strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan  persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam  pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis  tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas  sehari-hari.</p>
<p>Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment,  Behaviour, Capability, Value &amp; Belief, Identity dan Spiritual  sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan  artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai  kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS  sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS.  Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan  membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :</p>
<p>1.       Kapan dan Dimana</p>
<p>2.       Apa</p>
<p>3.       Bagaimana</p>
<p>4.       Mengapa</p>
<p>5.       Siapa</p>
<p>6.       Untuk Tujuan Apa</p>
<p><strong>MENGAPA</strong></p>
<p><span id="more-2058"></span>Business  Practitioner, akhirnya kita masuk dalam pembahasan yang paling menarik  buat saya, yaitu pertanyaan MENGAPA. Apa yang membuatnya menarik?  Business Practitioner pertanyaan MENGAPA akan menghasilkan jawaban  berupa alasan-alasan atau dapat juga disebut motif-motif.</p>
<p>Pernahkah anda menyadari MENGAPA  anda mengambil sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS?</p>
<p>Apakah anda memiliki alasan-alasan tertentu sehingga anda mengambil sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS?</p>
<p>Dalam  tahapan eksekusi tentunya anda akan menemukan hal yang menarik lagi.  Bukan tidak mungkin anda akan berhadapan dengan 2 atau lebih MENGAPA.  Yang saya maksud adalah pertentangan antara alasan MENGAPA sebuah  KEPUTUSAN STRATEGIS anda buat dan anda keluarkan dengan MENGAPA saya  atau kami harus melakukan KEPUTUSAN STRATREGIS itu menurut pendapat tim  anda.</p>
<p>Tentunya Tim anda bukanlah robot yang akan melaksanakan mentah-mentah  apa yang anda perintahkan. Mereka ada sebagai tim anda dengan sebuah  motif atau alasan. Sebagai Business Practitioner tentunya hal ini  merupakan sebuah tantangan yang menarik. Anda perlu menjual “MENGAPA”  anda kepada mereka, sehingga “MENGAPA” anda diterima dan selaras dengan  “MENGAPA” yang mereka miliki.</p>
<p>Dan untuk mampu menjual “MENGAPA” anda kepada mereka tentunya anda  perlu memiliki “MENGAPA” yang berkualitas, “MENGAPA” yang jelas dan utuh  sehingga tim anda tertarik untuk menerimanya dan itu menjadi  “MENGAPA”-nya mereka.</p>
<p>Saya sering menemukan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS tidak didukung oleh  anggota organisasi karena Business Practitioner-nya tidak mampu  mengartikulasikan “MENGAPA”-nya kepada anggota organisasinya. Ketika  sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS tidak didukung maka Business Practitioner  tidak dapat melanjutkan ke dalam tataran BAGAIMANA, APA, KAPAN dan  DIMANA yang artinya KEPUTUSAN STRATEGIS TERSEBUT hanyalah sebuah  keputusan yang tidak pernah dieksekusi atau tidak utuh dieksekusi. Bila  hal itu terjadi kira-kira apa dampaknya bagi Organisasi/Perusahaan anda?</p>
<p>Business Practitioner selamat membangun kata MENGAPA yang kuat yang  “marketable” dan diterima oleh seluruh komponen Organisasi anda sehingga  membuat KEPUTUSAN STRATEGIS anda mampu mendukung pencapaian VISI dan  MISI PERUSAHAAN. Sukses selalu untuk anda</p>
<p>Salam <em>Good to Great,</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/nll-dalam-pengambilan-keputusan-strategis-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NLP Tidak Merubah Hidup, Andalah Pelakunya</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/artikel-terjemahan/nlp-tidak-merubah-hidup-andalah-pelakunya/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/artikel-terjemahan/nlp-tidak-merubah-hidup-andalah-pelakunya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Henry Yonathan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Terjemahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2055</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Owen Fitzpatrick Penterjemah : Tim NLP Into Action Sumber http://owenfitzpatrick.com/blog/nlp-doesn%E2%80%99t-change-your-life-you-do/ Salah satu hal yang saya sukai pada sebuah wawancara dengan Richard Bandler beberapa tahun lalu adalah ketika Bandler ditanya akan menuju kemanakah NLP? Dia segera menjawab bahwa NLP tidak akan kemana-mana, sebab NLP bukanlah sesuatu yang hidup. Tentu saja, kita semua berbicara &#8216;tentang&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Oleh : <strong>Owen Fitzpatrick</strong></p>
<p>Penterjemah : <strong>Tim NLP Into Action</strong></p>
<p>Sumber <a href="http://owenfitzpatrick.com/blog/nlp-doesn%E2%80%99t-change-your-life-you-do/">http://owenfitzpatrick.com/blog/nlp-doesn%E2%80%99t-change-your-life-you-do/</a></p>
<p>Salah satu hal yang saya sukai pada sebuah wawancara dengan Richard Bandler beberapa tahun lalu adalah ketika Bandler ditanya akan menuju kemanakah NLP? Dia segera menjawab bahwa NLP tidak akan kemana-mana, sebab NLP bukanlah sesuatu yang hidup. Tentu saja, kita semua berbicara &#8216;tentang&#8217; NLP dan terkadang bahasa kita menyebutnya sebagai seolah-olah &#8216;itu&#8217; (sesuatu yang hidup). Namun kuncinya adalah jangan mengasumsikan bahwa NLP mampu mengubah kehidupan kita. Karena &#8216;itu&#8217; (NLP) tidak dapat melakukannya. Hanya kitalah yang mampu.</p>
<p>Baru-baru ini Irish Institute of NLP merayakan ulang tahunnya yang kesembilan. Selama hampir sepuluh tahun, mitra saya dalam pelatihan, Brian Colbert, dan saya telah mengajar ribuan orang dari berbagai belahan dunia untuk menggunakan keterampilan dan sikap ber-NLP untuk mengubah hidup mereka.</p>
<p>Salah satu hal yang saya yakini yang dapat membuat kami menonjol dan memberikan pelatihan berkualitas tinggi adalah fokus yang kami miliki dalam membuat konsep-konsep menjadi sederhana. Sepanjang yang saya perhatikan, hal ini terbilang langka di bidang Neuro-Linguistic Programming. Yang seringkali terjadi adalah semakin suatu ide terdengar rumit maka seharusnya semakin bernilai mahal.</p>
<p><span id="more-2055"></span></p>
<p>Saya telah membaca cukup banyak buku-buku NLP dan sungguh sedih melihat sebagian besar dari buku-buku tersebut hanya mengulangi pesan yang sama, dengan contoh yang sama atau menyajikan ide-ide yang sedemikian rupa sehingga hampir mustahil untuk memahaminya. Bagi saya, kesederhanaan NLP cara kerjanya seperti berikut ini :</p>
<p>NLP adalah seperangkat sikap dan keterampilan yang perlu diterapkan terhadap cara Anda berpikir dan berkomunikasi, sehingga memungkinkan Anda untuk meningkatkan kehidupan Anda ketika Anda menggunakannya. Anda sendirilah yang perlu menggunakan keterampilan dan memiliki sikap agar membuat perubahan yang sesuai dalam hidup Anda. Jika Anda menemui seorang NLP Coach, mereka akan menggunakan keterampilan dan sikap untuk membantu Anda melakukan perubahan.</p>
<p>Masalahnya muncul ketika kita menjadi terobsesi dengan &#8216;ide&#8217; dari NLP dan kita lupa untuk benar-benar mempraktekkannya. Saya akui bahwa saya sesekali pernah tergelincir dari melakukan latihan praktek, namun saya selalu mengingatkan diri saya untuk kembali ke jalur yang benar. Sayangnya, ada banyak orang yang &#8216;berbicara&#8217; dalam terminologi NLP atau berbicara tentang hal itu, tetapi gagal untuk benar-benar mempraktekkan keterampilan tersebut.</p>
<p>Jadi, apa yang saya maksudkan dengan menerapkan ketrampilan? Umpamanya Anda ingin membangun <em>rapport</em> dengan seseorang, Anda melakukan pacing pada sistem representasi yang mereka gunakan, <em>mirroring</em> bahasa tubuh mereka dan bertanya pada diri sendiri bagaimana saya dapat membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan? Seandainya ternyata Anda menyadari bahwa Anda berpikir dengan cara yang tidak produktif, gunakanlah Meta Model, lalu ujilah <em>limiting belief</em> Anda dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan pada diri Anda sendiri. Jika Anda akan membuat presentasi penjualan, persiapkan lah diri dengan dengan berlatih menggunakan <em>anchor</em>, menciptakan <em>state</em> yang berdaya dan menggunakan Milton Model.</p>
<p>Ini hanya beberapa contoh sederhana yang seharusnya sudah cukup jelas, tetapi nyatanya tidak demikian. Jadi, bagaimana Anda menggunakan keterampilan NLP untuk mengubah hidup Anda sendiri?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/artikel-terjemahan/nlp-tidak-merubah-hidup-andalah-pelakunya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Steve Jobs dalam Sudut Pandang NLP</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/steve-jobs-dalam-sudut-pandang-nlp/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/steve-jobs-dalam-sudut-pandang-nlp/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 11:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erni Julia Kok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2024</guid>
		<description><![CDATA[by Erni Julia Kok Steve Paul Jobs (lahir 24 Februari 1955 dan meninggal 5 Oktober 2011) diakui sebagai inovator yang telah banyak menginspirasi orang-orang muda lain di dunia. Ketika belajar di sekolah menengah di Cupertino, Steve memanfaatkan waktu luang untuk menghadiri perkuliahan di The Hewlett-Packard Company di Palo Alto. Saking sering hadir di sana, dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/erni-julia-kok/">Erni Julia Kok</a></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Steve Paul Jobs (lahir 24 Februari 1955 dan meninggal 5 Oktober 2011) diakui sebagai inovator yang telah banyak menginspirasi orang-orang muda lain di dunia. </span><span style="font-size: small;">Ketika belajar di sekolah menengah di Cupertino, Steve memanfaatkan waktu luang untuk menghadiri perkuliahan di The Hewlett-Packard Company di Palo Alto. Saking sering hadir di sana, dia menjadi terkenal, hal ini menyebabkan dia direkrut sebagai </span><span style="font-size: small;"><em>summer student</em></span><span style="font-size: small;">. Di sanalah, pada usia baru 13 tahun, Jobs bertemu Stephen Wozniak sesama karyawan paruh waktu di musim panas. Keduanya segera menjadi konco pret dan tidak lama kemudian Jobs mulai membantu Wozniak menjual penemuannya yang ilegal—karena dapat dipasang pada telepon untuk digunakan menelepon jarak jauh tanpa harus membayar. Di samping itu Jobs juga memanfaatkan waktu luangnya untuk memperbaiki dan menjual sistem stereo.</span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Setamat sekolah menengah tahun 1972, Jobs kuliah di Reed College, Portland, Oregon, tapi dia segera menyadari tidak berminat mencapai gelar sarjana. Hanya bertahan satu semeter, Jobs berhenti. Walaupun demikian, dia bertahan selama setahun dengan hanya mengikuti mata kuliah filosofi, fisika, dan sastra. Dua tahun kemudian Jobs kembali ke California dan bergabung dengan klub pehobi komputernya Wozniak (The Homebrew Computer Club). Selain itu, Jobs mulai bekerja sebagai teknisi di Atari, perusahaan yang waktu itu memproduksi video games.</span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Bekerja di Atari memungkinkan Jobs menabung cukup uang sehingga dia dapat jalan-jalan ke India bersama seorang teman dari masa kuliah di Reed College, Daniel Kottke—kemudian menjadi karyawan pertama Apple. Sekembalinya ke California, Jobs mendapat tawaran dari Atari untuk membuat atau lebih tepatnya menciptakan semacam papan sirkuit yang akan diinstal pada mesin permainan “The Game Breakout”. Karena kurang paham tentang papan sirkuit, Jobs mengajak Wozniak bekerja sama. Singkat cerita, pengalaman bekerja sama di Atari ini berlanjut sebagai bibit yang menumbuhkan pohon “Appel”, sebuah perusahaan yang paling sukses dan revolusioner di abab ke-20. </span></p>
<p lang="en-US"><span id="more-2024"></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong>Pelajaran Yang Dapat Dipetk Dari Perjalanan Hidup Steve Jobs</strong></span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Bila kita memanfaatkan sudut pandang </span><span style="font-size: small;"><strong>NeuroLogical Levels</strong></span><span style="font-size: small;">, saya menemukan ternyata lebih mudah belajar dari pengalaman hidup dan filosofi seseorang. Mari kita mulai dari level </span><span style="font-size: small;"><em>environment</em></span><span style="font-size: small;"> (lingkungan):</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><em><strong>Environment</strong></em></span><span style="font-size: small;"><strong> (Lingkungan) </strong></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Referensi lingkungan adalah kesempatan atau hambatan. Kesempatan bagi seorang bisa menjadi hambatan atau ancaman bagi orang lainnya. Ketika Jobs memutuskan untuk berbisnis, dia tidak meributkan apa yang tidak dipunyai, tapi fokus pada apa yang ingin diperbuat. Jobs tidak memiliki keterampilan merancang papan sirkuit, namun dia memiliki kejelian mata yang tidak dimiliki Wozniak yang ahli merancang komputer. Maka melihat komputer ciptaan Wozniak yang pertama, Jobs segera memikirkan rencana marketingnya.</span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Tidak memiliki modal bukan masalah pula, Jobs menjual mobil VW-nya dan Wozniak menjual kalkulator yang dapat diprogram ciptaannya. Setelah terkumpul modal US$ 1,300 dan menggunakan kamar tidur dan garasi Jobs, keduanya membangun komputer personal Apple I. Hanya dalam waktu seminggu Apple Company berdiri dan mereka berhasil menjual 50 unit Apple I. Semua hambatan di lingkungan teratasi dan sukses demi sukses menyusul sebagai “upah” atas usaha mereka. Dan saat itu Jobs baru berusia 21 tahun.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong><em>Behavior</em> (Perilaku):</strong></span></p>
<p lang="en-US">“<span style="font-size: small;">The only way to do grea</span><span style="font-size: small;">t work is to love what you do</span><span style="font-size: small;">. </span><span style="font-size: small;">If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle.”</span><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Jobs memilih melakukan apa yang dicintainya. Hal yang sama dilakukannya adalah meninggalkan apa yang tidak diminatinya seperti DO (</span><span style="font-size: small;"><em>drop out</em></span><span style="font-size: small;">) dari kuliah. Menurut pengakuannya, putus kuliah sempat menakutkan baginya, tapi dia tidak ingin membuang-buang waktu melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Setelah meninggalkan bidang studi utama, Jobs mengikuti kursus kaligrafi di mana dia belajar tipografi Serif dan San Serif. Pada saat mempelajarinya, Jobs belum tahu akan dimanfaatkan di mana keterampilan tersebut, namun seperti yang dikatakannya: “…suatu ketika titik-titik dapat dihubungkan…” dan benar saja, 10 tahun setelah mempelajari kaligrafi, di saat merancang The Mac, Jobs mampu menggabungkan font tersebut ke dalamnya dan menghasilkan tipografi komputer yang sangat bagus. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Orang besar sering membuktikan kebesarannya pada saat sedang terjatuh di lembah kegagalan. Hal itu dialami juga oleh Jobs, dan dia membuktikan bahwa dia dapat bangkit kembali. Pada usia 30 tahun, Jobs didepak keluar dari perusahaan yang didirikannya sendiri oleh BoD di bawah pimpinan John Scully, mantan CEO Pepsi Cola. Sebagai manusia, Jobs sempat merasa terpuruk, malu di hadapan publik atas kegagalannya. Namun pelan-pelan, Jobs bangkit, dia boleh saja kehilangan perusahaannya, pekerjaannya, tapi dia masih memiliki sesuatu yang sangat berharga, semangat. Dengan itu dia memutuskan untuk memulai dari awal. Dia menciptakan NeXT dan Pixar yang sekaligus membuka jalan pulang baginya ketika NeXT akhirnya diakuisisi Apple Company. Atas pengalaman tersebut Jobs dikutip mengatakan: </span><span style="font-size: small;"><em>“I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was The best thing that could have ever happened to me,”</em></span><span style="font-size: small;"> Bagaimana bisa menjadi hal terbaik ketika dia dipecat? Jobs menjelaskan: </span><span style="font-size: small;"><em>“It freed me to enter one of The most creative periods of my life.”</em></span><span style="font-size: small;"> </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Jelas sekali, Jobs menjadi besar bukan karena nasib baik semata atau anak geng yang beruntung, tapi dia selalu terbuka untuk belajar dari pengalaman. </span><span style="font-size: small;"><em>“It was awful tasting medicine, but I guess The patient needed it,”</em></span><span style="font-size: small;"> kata Jobs. </span><span style="font-size: small;"><em>“Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith.”</em></span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong><em>Capability</em> (Kemampuan):</strong></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Kisah sukses Jobs adalah kisah sukses Silicon Valley yang menggiurkan, tapi kisah yang tidak diceritakan—kisah kegagalan—lebih banyak lagi. Sejak usia dini, Jobs belajar membuat sesuatu, melatih tangannya untuk menciptakan sesuatu. Ketika remaja lain lebih suka dugem alias <em>hang out</em> and <em>do nothing</em>, Jobs menghabiskan waktu luangnya dengan mengikuti perkuliahan di The Hewlett Packard hingga dia direkruit sebagai tenaga kerja paruh waktu. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Banyak orang ingin memulai bisnis dan sebab itu mencari-cari dan bertanya-tanya apa yang seharusnya dilakukan, Jobs melatih dirinya menciptakan peluang, terutama menciptakan pasar bagi suatu produk. Begitu mengetahui Wozniak baru saja menciptakan sebuah komputer, Jobs langsung memikirkan cara memasarkannya. Jobs bermimpi dan merasa wajib untuk mewujudkan impiannya. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui cara Jobs untuk terus-menerus “memeras” ide dari kepala-kepala stafnya, ya dia mengharuskan timnya berargumentasi atau dipecat. Setiap ide harus dites dengan argumen dan argumen hingga semua orang setuju bahwa ide tersebut dapat dilaksanakan. Cara argumentasi ini terbukti sangat efektif dan hemat biaya. Bayangkan, salah-satu pesaingnya, IBM harus membelanjakan 100 kali lipat untuk R&amp;D. Bagi Jobs, keberhasilan inovasi tidak ada hubungannya dengan ketersediaan dana atau jumlah yang diinvestasikan. “Tidak ada hubungannya dengan uang sama-sekali. Inovasi berhubungan dengan orang-orang yang ada di perusahaan anda, bagaimana anda memimpin mereka menentukan apa yang akan anda peroleh.” kata Jobs menegaskan. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Jobs adalah seorang jenius di bidang pemasaran yang mampu berpikir kreatif dan dengan demikian melihat peluang dari segala sudut. Sebagai contoh, pada tahun 2003, iTunes untuk Windows diluncurkan, Jobs mengandeng </span><span style="font-size: small;">Pepsi </span><span style="font-size: small;">dan</span><span style="font-size: small;"> AOL </span><span style="font-size: small;">untuk melancarkan kampanye besar-besaran</span><span style="font-size: small;">. </span><span style="font-size: small;">Dalam satu </span><span style="font-size: small;"><em>event</em></span><span style="font-size: small;"> di</span><span style="font-size: small;"> San Francisco, Jobs </span><span style="font-size: small;">menghadirkan sederetan selebriti</span><span style="font-size: small;"> </span><span style="font-size: small;">yang berpenampilan modern</span><span style="font-size: small;">, </span><span style="font-size: small;">keren</span><span style="font-size: small;"> untuk mengendors produk tersebut. </span><span style="font-size: small;">Dari </span><span style="font-size: small;">U2’s Bono </span><span style="font-size: small;">sampai</span><span style="font-size: small;"> Dr. Dre </span><span style="font-size: small;">sampai </span><span style="font-size: small;">Mick Jagger, Jobs</span><span style="font-size: small;"> memahami bagaimana membuat iTunes menarik bagi kaum muda. Malam kampanye itu ditutup</span><span style="font-size: small;"> Sarah McLachlan </span><span style="font-size: small;">membawakan dua lagu hitnya yang bisa diunduh secara ekslusif oleh pengguna iTunes. Kampanye ini memperlihatkan visi Jobs bahwa komputer adalah sesuatu yang sangat menarik dan kreatif serta kemampuannya merangkul masa.</span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Bagaimana Jobs dapat terus berinovasi? Ternyata pada saat dia berusia 17 tahun, dia pernah membaca suatu kalimat bijaksana yang mengatakan: “Jika anda menghadapi setiap hari baru seakan-akan itu merupakan hari terakhir anda di dunia, pastinya akan terjadi demikian suatu hari.” Sejak itu, Jobs setiap pagi berdiri di depan cermin dan bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya pada hari terakhirnya di dunia ini? Jawabannya seringkali tidak, dan begitu banyak jawaban “tidak” maka Jobs tahu dia harus melakukan suatu perubahan, melakukan suatu hal baru.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong><em>Values and beliefs:</em></strong></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Nilai-nilai dan keyakinan adalah bahan bakar di balik semangat, dan secara spesifik apa yang dapat kita pelajari dari seorang Steve Jobs?</span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Tidak ada yang sepele, meskipun itu masih berupa titik-titik, dan Jobs mengajak kita untuk percaya bahwa suatu saat, titik-titik akan tersambung menjadi garis-garis. Setiap orang harus meyakini sesuatu dalam hidup ini—keberanian, naluri anda, nasib, kehidupan, karma, apa saja. Pendekatan ini tak pernah mengecewakan, dan membuat perbedaan dalam hidupku, kata Jobs. Dia juga percaya bahwa segala sesuatu karena suatu tujuan, dan bahkan ketika kita sulit melihat tujuannya pada saat ini, kita hanya perlu menenangkan diri sejenak dan berkeyakinan teguh bahwa segalanya pasti ada jalan keluarnya. Job juga sangat yakin bahwa memercayai keputusan yang telah diambilnya sangat penting, meskipun sulit namun akan memberikan hasil yang luar biasa. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Kebersediaan Jobs untuk mengambil jalan yang jarang dilalui orang lain membawanya tiba lebih dahulu dibandingkan para pesaingnya. </span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Dogma terkadang dapat mengunci kreativitas, karena itu Jobs membagikan nilai-nilai dan keyakinannya tentang hal ini. “Jangan terjebak oleh dogma, maksud saya ialah hidup berpatokan pada pemikiran orang lain. “ Selanjutnya dia mengatakan: “Don&#8217;t let </span><span style="font-size: small;"><em>the noise of others&#8217; opinions drown out your own inner voice. Instead, everyone should have the courage to follow their heart and intuition; they somehow already know what you truly want to become.”</em></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Jobs menyadari betapa pentingnya waktu ketika dia didiagnosa mengidap kanker pankreas pada tahun 2004 yang lalu. Dokternya memvonis umurnya tinggal tiga atau empat bulan lagi. Untunglah, setelah diperiksa dengan biopsy hari itu, kankernya ternyata jenis yang tidak umum dan dapat disembuhkan melalui tindakan operasi.</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong><em>Identity</em> (Identitas):</strong></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Jobs dikenal sebagai perfeksionis yang selalu mengutamakan kesempurnaan. Selain pengusaha yang sukses, Jobs merupakan “</span><span style="font-size: small;"><em>family man</em></span><span style="font-size: small;">”. Siapakah dirinya menurut seorang Jobs? Banyak </span><span style="font-size: small;"><em>legacy</em></span><span style="font-size: small;"> yang dapat kita jadikan sumber inspirasi dan teladan. Saya teringat ketika membaca buku yang ditulis John Scully 20 tahun lebih yang lalu, saat pertama saya mengenal identitas Steve Jobs. Saya sangat menyenangi buku tersebut, tapi tetap mengagumi sosok inovator Steve Jobs (walaupun waktu itu belum tahu dia akan “come back” ke Apple Company).</span></p>
<p lang="en-US">
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"><strong><em>Spiritual</em> atau Tujuan</strong></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;">Mungkin pidatonya di depan wisudawan Stanford University musim panas 2005 yang lalu pantas kita baca dan renungkan sambil membaca doa mengiringi perjalanannya ke dunia spirit. </span><span style="font-size: small;"><em>“Remembering that I&#8217;ll be dead soon is the most important tool I&#8217;ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything – all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important.”</em></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Memanfaatkan waktu untuk kehidupan personal dan profesional telah dibuktikan oleh Steve Jobs dengan menghasilkan berbagai inovasi baru dan membawa Apple Company di puncak kesuksesan tujuh tahun terakhir ini. Semestinya dia juga telah mewujudkan berbagai mimpi menjadi kenyataan. Sejak dihadapkan pada maut, Jobs telah mendapatkan aspirasi baru tentang apa yang dapat dicapainya dalam hidup ini. </span><span style="font-size: small;"><em>“Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.” </em></span></p>
<p lang="en-US"><span style="font-size: small;"> Selamat jalan, Steve Jobs. Dunia akan kehilangan seorang jenius seperti Anda. Namun dunia pun akan terus bermimpi dan berinovasi karena kau telah memberi inspirasi.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/steve-jobs-dalam-sudut-pandang-nlp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Pengertian NLP</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/umum/mencari-pengertian-nlp/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/umum/mencari-pengertian-nlp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 11:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>johnyrusly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2006</guid>
		<description><![CDATA[by Johny Rusly Seorang profesor sedang membawakan pelajaran tentang bagaimana kata-kata dapat memberi pengaruh kepada seseorang. Mahasiswa yang duduk di pojok kanan ujung belakang, mengacungkan tangan, berdiri, lalu menyatakan ketidak-setujuan terhadap pernyataan profesor. Profesor dengan santai menjawab, “terima kasih atas tanggapannya, silahkan duduk kembali ANAK HARAM JADAH!” Tidak hanya mahasiswa tersebut, seluruh kelas geger mendengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/johny-rusly/">Johny Rusly</a></p>
<p><!-- p { margin-bottom: 0.08in; } -->Seorang profesor sedang membawakan pelajaran tentang bagaimana kata-kata dapat memberi pengaruh kepada seseorang.</p>
<p>Mahasiswa yang duduk di pojok kanan ujung belakang, mengacungkan tangan, berdiri, lalu menyatakan ketidak-setujuan terhadap pernyataan profesor.</p>
<p>Profesor dengan santai menjawab, “terima kasih atas tanggapannya, silahkan duduk kembali ANAK HARAM JADAH!”</p>
<p>Tidak hanya mahasiswa tersebut, seluruh kelas geger mendengar ucapan profesor. Gumanan suara, bagaikan dengungan lebah, memenuhi seisi ruangan.</p>
<p>Mahasiswa itu, dengan badan gemetar dan muka merah padam, duduk kembali.</p>
<p>Pas ketika badan mahasiswa tersebut menyentuh kursi, sang profesor berkata dengan suara yang lembut, “Maafkan saya, tadi saya salah memilih kata. MAUKAH ANDA MEMAAFKAN SAYA?”</p>
<p><span id="more-2006"></span>Mendengar permintaan maaf profesor, wajah sang mahasiwa berubah. Ia kembali cerah. Sambil tersenyum ia menganggukan kepalanya.</p>
<p>Kemudian, sambil menghadap kepada seluruh mahasiswa di aula besar, profesor berkata, “hadirin sekalian, Anda baru saja melihat sebuah contoh nyata, bagaimana kata-kata dapat membuat perbedaan nyata dalam kondisi seseorang.”</p>
<p>“Yang saya lakukan hanya mengucapkan kata-kata. Pertama, saya mengucapkan kata ‘anak haram jadah’. Kedua, saya mengucapkan kata ‘maaf’. Seperti yang dapat Anda amati tadi, hanya dengan kata-kata, saya menciptakan dampak yang berbeda.”</p>
<p>*****************</p>
<p><strong>Apa itu NLP</strong></p>
<p>NLP adalah singkatan dari kata <em>Neuro-Linguistic Programming</em>.</p>
<p>Mungkin Anda memperhatikan bahwa ada sebuah <em>dash</em> diantara kata <em>Neuro</em> dan <em>Linguistic</em>. Sebentar lagi Anda akan mengerti gunanya “ &#8211; “ tersebut.</p>
<p>Setelah mengikuti kelas Lisenced NLP Master Practitioner, saya belum sepenuhnya mengerti apa itu NLP. Saya tahu bahwa NLP itu singkatan dari kata <em>Neuro-Linguistic Programming</em>, tetapi saya tidak mengerti apa itu <em>Neuro-Linguistic Programming</em>.</p>
<p>Saya tahu, tetapi belum mengerti apa itu NLP. Saya berusaha mencari pengertian, dan saya terbentur tembok. Definisi-definisi dari para pakar berbeda dan membingungkan saya. Memang, butuh waktu untuk mencerna pelajaran hebat seperti NLP.</p>
<p>Akhirnya, saya menemukan jawabannya, dari seseorang yang menamakan dirinya tukang Tipu dan tukang Bohong, aneh ya?</p>
<p>Anda mungkin merasa penasaran dan bertanya-tanya, mengapa saya belajar dari seorang tukang tipu dan tukang bohong. Hahaha, kita baru belajar tentang kata-kata. KangPuHOng itu hanya sebuah istilah, hanya sebuah kata. Tahukah Anda bahwa kata tukang tipu dan tukang bohong itu dapat berkonotasi positif dengan arti yang positif? Jika Anda tertarik, saya akan menceritakan kepada Anda di lain kesempatan.</p>
<p>Sekarang, mari kita kembali ke topik pengertian NLP yang ternyata sederhana itu.</p>
<p>*****************</p>
<p><strong>Definisi NLP</strong></p>
<p>NLP adalah singkatan dari kata-kata <em>Neuro-Linguistic Programming</em>.</p>
<p><em>Neuro</em> = Syaraf / jiwa</p>
<p><em>Linguistic</em> = bahasa, kata-kata</p>
<p><em>Programming</em> = menata, menyusun.</p>
<p>“Secara harafiah, NLP dapat diterjemahkan sebagai pelakuan pemograman neuro (syaraf) menggunakan keahlian berbahasa (lingusitik).”</p>
<p>[Teddi Prasetya Yuliawan, The Art of Enjoying Life, Gramedia Pustaka Utama]</p>
<p><strong>Fungsi <em>Dash</em> “-“</strong></p>
<p>Anda tentu mencermati, bahwa ada sebuah <em>dash</em> diantara kata <em>Neuro</em> dan <em>Linguistic</em>.</p>
<p>Tanpa <em>dash</em>, <em>Neuro</em> dan <em>Linguistic</em> adalah kata-kata yang terpisah, yaitu syaraf dan bahasa / kata-kata.</p>
<p>Dengan <em>dash</em>, dua kata menjadi tersambung satu sama lain. <em>Neuro-Linguistic</em> adalah satu kata, yaitu ‘Bahasa Jiwa’ atau ‘Kata-kata jiwa’.</p>
<p>Seperti yang telah Anda lihat dari contoh diatas, tidak semua kata-kata memiliki reaksi yang sama. Beberapa kata memiliki reaksi yang biasa-biasa, tetapi ada kata yang memancarkan efek bombastis.</p>
<p>Jika profesor menyebut anak muda tersebut dengan sebutan ‘anak manis’ dan bukan ‘anak haram jadah’, dampak yang ditimbulkan pasti berbeda.</p>
<p>Cerita tentang profesor diatas menunjukan bahwa suasana hati atau susunan syaraf seseorang dapat diprogram, hanya dengan kata-kata. Bukan dengan kata sembarang kata, melainkan dengan kata-kata yang dimengerti oleh jiwa.</p>
<p>Karena tujuan NLP adalah memberikan manfaat bagi jiwa, maka <em>Neuro-Linguistic Programming</em>, dari sudut pandang yang lain, dapat juga berarti;</p>
<p><strong>Ilmu menyusun kata-kata yang bermanfaat (kepada jiwa).</strong></p>
<p>Apa itu kata-kata yang bermanfaat? Bagaimana kata-kata dapat merubah kehidupan seseorang? Kita akan melihatnya, tidak sekarang, tetapi nanti pada artikel berikutnya.</p>
<p><span style="font-size: x-small;"><em>See you at the top!</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/umum/mencari-pengertian-nlp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Old Belief Change Pattern Tidak Berhasil?</title>
		<link>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/kenapa-old-belief-change-pattern-tidak-berhasil/</link>
		<comments>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/kenapa-old-belief-change-pattern-tidak-berhasil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 01:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coachwahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aplikasi NLP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nlpintoaction.com/?p=2001</guid>
		<description><![CDATA[by Wahyudi Akbar Apa itu pikiran? Apa itu Belief? Apakah memungkinkan bagi saya untuk berpikir dan tidak mempercayainya? Tentunya Anda dapat berpikir tentang sesuatu dan merepresentasikan sesuatu di dalam representasi internal Anda tanpa mempercayainya. Berpikir adalah satu hal; mempercayai (believing) juga adalah hal yang lain. Bila demikian, maka apa yang membedakannya? Kita dapat berpikir tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>by <a href="http://nlpintoaction.com/direktori-praktisi/wahyudi-akbar">Wahyudi Akbar</a></p>
<p><span style="font-size: small;">Apa itu pikiran?</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Apa itu Belief?</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Apakah memungkinkan bagi saya untuk berpikir dan tidak mempercayainya?</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Tentunya Anda dapat berpikir tentang sesuatu dan merepresentasikan sesuatu di dalam representasi internal Anda tanpa mempercayainya. Berpikir adalah satu hal; mempercayai (<em>believing</em>) juga adalah hal yang lain. Bila demikian, maka apa yang membedakannya? Kita dapat berpikir tentang sesuatu tanpa mempercayainya, bukankah itu adalah sesuatu yang dashyat bahwa kita dapat berpikir namun tidak mempercayainya.</span></p>
<p><span style="font-size: small;"><span id="more-2001"></span>Kita dapat belajar dan mengetahui berbagai hal (misalnya: berbagai pengetahuan tentang berbagai detail dan data-data yang ada) tanpa langsung atau perlu untuk mempercayainya. Di dalam psikologi atau <em>pattern-pattern</em> di NLP saya dapat membaca atau mempelajarinya namun tidak serta-merta langsung mempercayai ide-ide tersebut. Apa artinya ini? Representasi itu sendiri tidak membentuk <em>belief</em>.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Dan apa artinya semua ini?</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Tentunya hal ini membuat saya bertanya-tanya akan <em>Belief Change Pattern</em> klasik yang menggunakan intervensi s<em>ubmodality</em>. Coba Anda representasikan sesuatu yang tidak Anda percayai. Apakah Anda mampu memunculkan ciri-ciri dari s<em>ubmodalities</em>? Apakah Anda dapat membuatnya lebih dekat, terang, bergerak, hidup, dan sebagainya? Kalaupun Anda mampu apakah Anda mempercayainya? Saya tidak.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Sebagai contoh, coba representasikan Hitler yang kejam, dan cek <em>Submodalities</em>-nya. Kemudian sekarang representasikan Mother Theresa, cek <em>submodalities</em>-nya. Kemudian sekarang pindahkan <em>Submodalities</em> Hitler ke dalam s<em>ubmodalities</em> Mother Theresa. Coba Anda lakukan walau mungkin susah. Apakah Anda meyakini bahwa Hitler dapat merepresentasikan seseorang seperti Mother Theresa? Tentu tidak. Apakah itu dapat merubah <em>belief</em> Anda tentang Hitler? Tentu tidak.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Artinya apa? Bahwa terjadi perbedaan antara sebuah <em>belief</em> dengan sebuah pemikiran yang berupa sebuah pengetahuan yang sudah pasti. Kita tidak dapat menggunakan sebuah pengetahuan yang sudah pasti seperti “matahari pasti terbit besok pagi” sebagai sebuah <em>belief</em>, karena Anda tidak perlu mempercayainya lagi melainkan itu adalah sebuah pengetahuan. Karena sebuah pengetahuan adalah suatu pemikiran yang sudah diterima oleh umum. Inilah yang menjelaskan kenapa <em>Submodalities</em> <em>belief change</em> tidak selalu berhasil.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Namun pertanyaan yang dapat dipergunakan adalah pada saat Anda memikirkan/membayangkan Hithler, Mother Theresa, Matahari pasti terbit besok pagi, apa yang Anda yakini? Keyakinan apa yang melandasi pemikiran tersebut? Dan pada saat hal ini dilakukan ini berarti bahwa kita harus GO META untuk melakukan <em>submodalities change</em> yang dimana berarti bahwa <em>submodalities</em> bukanlah <em>sub</em> melainkan <em>meta-modalities</em>.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Di Neuro-Semantics kita dapat melakukan <em>belief change</em> secara percakapan. Andaikan Anda mempunyai sebuah limiting belief yang menghambat anda :</span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Saya tidak mampu ……”</span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Saya tidak yakin bahwa saya….”</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Pada saat Anda menemui statement tersebut pertanyaannya adalah keyakinan apa yang melandasi keyakinan tersebut dan keyakinan apa yang melandasi keyakinan di level 2 dan seterusnya. Dari situ kita dapat membantu diri sendiri maupun orang lain dengan pertanyaan :</span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Apakah saya atau Anda meyakini hal itu?” </span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Berdasarkan apa Anda meyakini itu?”</span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Apakah keyakinan itu memberdayakan Anda?”</span></p>
<p>“<span style="font-size: small;">Apakah Anda ingin mempergunakan keyakinan itu sampai 5 tahun ke depan lagi?”</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Disinilah kita mulai mengajak diri sendiri atau orang lain untuk mulai meragukan keyakinan tersebut dan <em>start</em> mengatakan TIDAK pada keyakinan tersebut. Kemudian setelah mengatakan TIDAK, pada hal apa Anda ingin mengatakan YA? Dan lanjut dengan keyakinan apa yang dapat mendukung keyakinan tersebut?</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Di Accessing Personal Genius dipelajari 10 minutes Belief Change Pattern, seperti paragaf diatas, pattern ini untuk membuat anda mampu mengatakan TIDAK pada belief yang tidak memberdayakan anda dan kemudian mampu mengatakan YA pada belief yang akan memberdayakan anda.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Untuk merubah suatu <em>belief</em> perlu dibawa turun menjadi pemikiran dan kemudian dari pemikiran menjadi pemikiran yang baru dan baru dibawa kembali ke <em>belief</em>.</span></p>
<p><span style="font-size: small;">Untuk mendapatkan referensi yang lebih detail silakan membaca buku Submodalities Go Meta karangan L. Michael Hall, PhD dan Bobby G Bodenhamer.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/kenapa-old-belief-change-pattern-tidak-berhasil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

