Salah satu dari sumber daya manusia adalah kemampuan untuk mengecap. Dalam NLP dikenal dengan istilah gustatory. Sensasi gustatory ini berhubungan sangat erat dengan kinestetik dan olfactory. Banyak rasa dan sensasi gustatory merupakan hasil perpaduan dari bau dan perasaan atas makanan, berikut rasa dari makanan itu sendiri.
Sepanjang proses mengunyah dan menelan, bau-bauan dari sisi mulut bersentuhan dengan sensor penerima olfactory, mendatangkan banyak sensasi rasa yang biasanya dihubungkan orang dengan rasa makanan, tapi sesungguhnya hampir sepenuhnya bergantung pada indera pembau.
Bila hidung ditutup ketika makanan sedang ditelan, aliran udara bebas menuju sensor penerima olfactory menjadi tertahan, sebagai hasilnya adalah penurunan atau penghilangan persepsi rasa makanan. Seseorang yang sedang flu dan matanya ditutup, misalnya akan kesulitan dalam membedakan antara jeruk mandarin dengan jeruk sunkist.
Hubungan antara rasa dan aroma sangat dekat, faktanya pengagas awal NLP Bandler dan Grinder mengkombinasi sistem gustatory dan olfactory menjadi satu sistem perwakilan sumber daya manusia dalam “four-tuple.”
Rasa adalah sebuah saluran input yang istimewa, dilengkapi dengan karakteristik submodalitasnya sendiri. Submodlitas gustatory mencakup manis, asam, pahit dan asin. Ada juga yang disebut dengan “predikat gustatory” yaitu kata-kata yang mengacu secara spesifik pada rasa dan kwalitas rasanya. Meskipun demikian, dalam bahasa Inggris kecuali ketika digunakan untuk membuat penjelasan tentang makanan secara spesifik acuan pada “predikat gustatory” adalah dasarnya bersifat metafora, lebih mengindikasikan respon emosional daripada proses kognisi. Contohnya ungkapan seperti : “Dunia ini sungguh pahit di mulutku” memanfaatkan rasa secara lebih puitis atau perlambangan daripada makna sebenarnya. Contoh lainnya dari pribahasa berbasis gustatory : Manisnya kesuksesan, Kekalahan yang pahit, Mukanya sungguh masam.
Leave a Reply