The Summary of Teleconference with Michael Hall on 8-9pm HK Time
Asia Pacific Alliance of Coaches (APAC) Monthly Talk yang menghadirkan L.Michael Hall, PhD yang mengetengahkan sebuah dialog interaktif mengenai Meta-Coaching , acara tele conference yang selalu diselenggarakan oleh APAC denganmengundang para international speaker ternama ini berjalan sangat meriah. Diawali dengan diskusi para coach yang di pimpin oleh Dr. Woraphat, diskusi mengenai apa itu meta coaching ? beberapa pendapat di sampaikan oleh para coach yang dari berbagai Negara yaitu Indonesia, Bangkok, Australia, France, German,Singapore dll. Meta Coaching adalah sebuah model coaching yang memampukan klien untuk terus tumbuh dan berevolusi, meta coaching merupakan karya Michael Hall yang bernuasa NLP (Neuro Linguistic Programming) yang membedakan dari coaching pada umum yaitu dengan digunakan nya pola linguitik NLP seperti Meta Model and Milton Model yang mampu memberikan presisi linguistic sehingga dapat meningkatkan efektifitas coaching dalam level yang tinggi dan meberikan coaching best practice dan juga World Class, begitu lah tanggapan dari sesi awal yang juga di iringi suara ding….ding….ding…zzzz..zzz…zzz, nada para penelpon yang masuk yang untuk ikut tele conference.
Seorang Coach dari Australia bertanya, apakah meta coaching lebih kepada life coaching disbanding Executive Coaching, pertanyaan yang sangat untuk dan menjadi pertanyaan saya pribadi. Pertanyaan yang membuat beberapa dari coach sadar bahwa sudah 20 menit berlalu dan Michael Hall belum terdengar suaranya, oops Meta Problem dimana pembicara yang telah di tunggu tunggu oleh coach dari berbagai Negara belum muncul juga , saya pun mengusulkan Meta Solution, diskusi mengenai:
by Jonwin Lee
Di suatu hari yang indah, “ Aku “ berada di sebuah mal didaerah kawasan Senayan dalam rangka mengadakan meeting makan siang dengan seorang pimpinan perusahaan untuk membicarakan proyek terbaru yang amat penting bagi perusahaan. Maklum baru belajar mengerjakan hal hal penting dalam hidup dan berusaha menjadi orang penting.
Pas udah mau selesai, kebetulan aku ngeliat cewek cakep dan seksi buanget, ya Tuhan indahnya ciptaanmu yang satu ini.
Ga tau gimana “ Aku terpesona amat sangat “ jadi “ aku “ ngikutin aja kemana cewek itu berjalan di Mal, dengan harapan aji mumpung bisa kenalan…. barangkali.
Saking asiknya “Aku” ngikutin jadi lupa ama waktu.
by Irene Corry
Halo para pembaca sekalian, apa kabar semuanya? Rasanya sudah agak lama saya tidak menyapa anda sekalian lewat tulisan saya.
Baru-baru ini saya melakukan perjalanan menimba ilmu nun jauh di negeri seberang, yaitu tempat lahirnya NLP, Santa Cruz. Dan ini adalah perjalanan saya untuk yang ketiga kalinya ke Santa Cruz. Entah kenapa selalu ada rasa kerinduan, merasakan keaslian dan sensasi yang berbeda setiap kali kesana. Apalagi ruangan training yang kemarin kami tempati adalah ruangan dimana pertama kali dipakai oleh Gregory Bateson. Sebuah journey yang panjang akhirnya selesai juga dengan membawa kegembiraan dan puji syukur dengan mendapatkan sertifikasi Master Trainer yang untuk pertama kalinya diadakan oleh Roberts Dilts, Judith Delozier dan Deborah Bacon. Saya juga mendapat kepercayaan dari Dilts dan Delozier untuk beraffiliasi dengan mereka, bagaimana tidak, affiliasi ini adalah untuk yang pertama kalinya diberikan di Indonesia. Yang artinya, semua peserta NLP Practitioner dan Master Practitioner dari tempat saya akan mendapat sertifikasi dari NLP University yang langsung ditandatangani oleh Robert Dilts dan Judith Delozier.
Nah kembali ke pokok bahasan, apa sih “generasi baru” NLP itu?
Apa si yang dimaksud dengan Generasi Baru NLP? Koq pakai istilah generasi baru ya? Kenapa bukan perluasan/pengkayaan dari sebelumnya yang sudah ada?
Yang pasti mereka akan saling buka-bukaan; seperti yang terjadi pada hari Selasa, 25 Agustus 2010 yang lalu. Berlokasi di Gado-Gado Cemara, Menteng, berkumpulah para NLPers untuk berbuka puasa bersama para ICONers (Indonesia Community of Neuro-Semantics).
Acara non formal yang seru dan asyik ini terselenggara berkat prakarsa Ibu Mariani Ng selaku kepala suku Neuro-Semantics di Indonesia. Saya sendiri hadir mewakili NLP Into Action yang diundang untuk copy darat dengan para contributor www.nlpintoaction.com yang walau sudah sangat akrab di dunia maya tapi belum pernah bertemu di dunia nyata.
Selain dihadiri para alumni Neuro Semantic, juga turut hadir para NLP Trainers dari berbagai aliran.
By : Issa Kumalasari and Jean-Baptiste Chauvin
The inaugural leader of the Republic of Indonesia, President Soekarno, is undoubtedly one of the greatest examples of charisma the world has ever known. For twenty years as the archipelago’s revolutionary leader and twenty years as the President of Indonesia, Soekarno used the power of language and his charismatic appeal for political gain and national advancement.
Soekarno was undoubtedly a great orator. Even before he assumed the presidency of the Indonesian Republic, he was capable of bewitching whole gatherings with his speeches. His language was not too pure and often outright crude, but his use of the language, his intonation and the gestures he made at the right time were flawless. His appearance was impressive. In front of the common people who were captivated by his charm, exuberance and delivery, Soekarno was in his element.
Whether one heard his speeches and stories once or multiple times, one could not help being overawed and overwhelmed by his thundering voice and absolute conviction. After all, he was charming, calm and fatherly. If he wished, he could be very disarming and pleasing. He was constantly aware that he had that kind of influence on his listeners who believed Soekarno was indeed their Savior. In his autobiography, Soekarno was quoted as saying: “I learned to grab my audience’s attention at the very beginning. I not only grabbed it, I held it. They listened spellbound. A shiver went through me when I first discerned I embodied the kind of power that could move masses. I made my points simply. My hearers found them easy to grasp because I relied on descriptive terms rather than facts and figures. I appealed to the emotions … They looked up at me as I spoke. They stared at me adoringly, eyes open wide, faces turned up, drinking it all in trustingly, expectantly. It seemed apparent I was becoming a great public speaker. It was in my blood” (Soekarno, 1965, p. 179).
by : Antonius Arif. CH, CHt, CI, LMNLP, MTLT
Director School of Mind Reprogramming
Ketika saya mengambil Certified Instructor Hypnosis National Guild of Hypnotist,inc (NGH), saya diberikan hadiah sebuah buku tentang kisah hidupnya Milton Erickson. Asal mula kenapa dia menggunakan utilization serta dia belajar hypnosis dengan siapa serta ketertarikan dia dengan Automatic writing. Ini sangat menarik saya.
Milton Erickson lahir dari keluarga yang sangat sederhana dan cenderung miskin. Karena kondisi keluarganya yang miskin, dia sering memperhatikan dan melihat bahwa bapaknya dalam bertani sering menggunakan benda disekitar untuk bertani dan beternak tanpa harus membeli benda yang khusus untuk itu. Dan menariknya lagi, ibunya juga bila sedang mengupas buah atau sayuranpun kadang dia menggunakan bekas botol alkohol dibanding pisau. Disinilah menurut buku tentang hidupnya Milton Erickson kenapa dia menggunakan utilisation sangat luar biasa.
Juga saat dia muda ketika terkena polio, dokter mengdiagnosa dia bahwa dia tidak akan bisa melihat matahari besok pagi karena dia akan meninggal, tetapi yang dilakukan dia adalah dia mengatur tempat tidurnya sedemikian rupa dan dia taruh kaca untuk menghadap kepada dia dan kaca itu menghadap matahari agar dia bisa melihat matahari. Dan dia mau melawan takdir kata dia. saat matahari terbit, dia merasa sangat senang karena telah melewati matahari terbit dan lalu di tidak sadarkan diri selama 3 hari. Disinilah awal mula mengenai kekuatan pikiran dapat mengalahkan penyakit.