Hari ini adalah ulang tahun saya. Dua tahun yang lalu pada tanggal yg sama, saya bertanya pada diri sendiri “Pilih mana: pekerjaan sebagai seorang professional (karyawan) yg dibayar tinggi setiap bulannya ATAU menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yg harus menentukan sendiri berapa pendapatan setiap bulannya dan bisa saja tidak menentu?”
Pagi ini ketika saya teringat keputusan yg saya ambil dan tekadkan 2 tahun yg lalu, saya bersyukur! Sungguh luar biasa pencapaian yg saya raih hingga hari ini. Ketika itu, orang-orang mengatakan saya sinting, ga waras: “Sudah mau married koq memutuskan berhenti dari pekerjaan, istri mau dikasih makan apa, bagaimana kamu menjamin kehidupan keluarga nantinya?” Orang tua meragukan keputusan saya tersebut. Bahkan calon istri menjadi kuatir dengan pilihan saya tersebut.
Flash back sedikit, keputusan saat itu diambil karena PASSION pada profesi yg saya putuskan utk geluti. Mungkin terdengar lucu tetapi itulah, PASSION dan KOMITMEN yang kuat pada profesi tersebut membuat saya memantapkan pilihan menjadi seorang entrepreneur.
Artikel ini diangkat dari sharing yang saya berikan di kantor saya untuk para sales force selama kurang lebih sekitar dua sampai tiga jam. Dalam waktu yang singkat tersebut, materi yang dibahas pun tidak terlalu banyak. Tentunya artikel ini tidak dapat menggantikan suasana kelas yang sebenarnya, dimana terdapat pembelajaran multi-sensorik yang lebih mempermudah pembelajaran.
Artikel ini akan dibagi menjadi tiga seri. Dimana pada seri pertama akan dibahas secara singkat apa itu NLP dan asumsi-asumsi yang menjadi fondasi dan roh NLP. Pada artikel kedua akan dibahas secara singkat pula apa itu Rapport dan penggunaannya. Dan artikel terakhir akan dibahas secara singkat seni linguistik dalam penjualan.
Lingkup Bahasan
Dalam artikel ini, saya akan membatasi lingkup pembahasan dengan mengasumsikan dua hal berikut ini :
- Barang dan atau jasa yang Anda tawarkan kualitasnya sama dengan yang Anda janjikan atau promosikan.Saya kira, ini hal yang sangat mutlak Anda perlukan bila Anda ingin terjadi penjualan jangka panjang. Lain halnya bila Anda tidak ingin demikian, siapa yang tahu? Dalam artikel ini saya asumsikan Anda menginginkan terjadinya penjualan jangka panjang.
- Perlunya EtikaPoin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Artikel ini tidak akan mengajarkan etika ataupun teknik-teknik NLP untuk membangun etika (ada segelintir praktisi NLP yang menyebutkan dapat membangun etika dengan seketika, sementara saya tidak menganut paham demikian). Namun demikian pada seri artikel saya selanjutnya Anda akan saya ajak memahami konsekuensi-konsekuensi dari tidak beretikanya menggunakan teknik-teknik dahsyat NLP.
- Penerapan NLP aplikatif dalam kaca mata dan pengalaman saya.Menerapkan NLP dalam dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dapat berbeda dengan apa yang Anda baca dari buku ataupun pelatihan dikelas. Dan dalam artikel ini akan saya paparkan penerapan NLP dalam dunia nyata atau keseharian menurut kaca mata dan pengalaman saya pribadi.
Apa Itu Rapport?
Anda dapat membaca artikel saya berjudul Rapport Kurang dari 3 Detik. Artikel tersebut membahas secara singkat dan padat mengenai rapport dan salah kaprah yang acap kali diajarkan dikelas-kelas ataupun buku-buku berbasis NLP. Dan artikel kali ini saya akan sedikit mengulang dan melengkapi artikel tersebut diatas.
Rapport berasal dari bahasa Perancis yang dapat diartikan sebagai sebuah hubungan/relasi yang harmonis, nyaman, serasi atau afinitas (ketertarikan atau simpati yang ditandai oleh persamaan kepentingan). Banyak metode dan teknik NLP yang penggunaannya akan menjadi lancar bila sudah terbentuk rapport. Oleh sebab itu, dalam banyak literatur rapport merupakan salah satu dari empat pilar NLP.
Berbicara tentang NLP, salah satu hal yang menarik adalah menelusuri “kelahiran” dari NLP itu sendiri. Telah banyak diketahui bahwa NLP lahir dari sebuah rasa penasaran seorang mahasiswa (program Doktoral) bidang komputer, Richard Bandler, terhadap efektifitas salah satu teknik terapi psikologis yang dikenal dengan Gestalt Theraphy. Dalam perjalanannya menelusuri rasa kepenasarannya tersebut, sejarah telah mempertemukannya dengan seorang Associate Professor di Universitas tempat dia menyelesaikan program doktor-nya. Professor tersebut, John Grinder, adalah seorang ahli linguistik yang sama-sama tertarik terhadap pengaruh lingustik (bahasa) terahdap perilaku seseorang.
Perjalanan mereka berdua pun tidak berhenti pada mencermati efektifitas Gestalt Therapy di atas, tetapi juga teknik-teknik terapi lain, seperti family therapy maupun hypnotherapy. Fokus mereka bukan pada hasil dari teknik terapi tersebut, tetapi lebih pada “apa yang dilakukan” oleh para terapis tersebut, sehingga teknik terapi tersebut memiliki efektifitas yang mengagumkan.
Akhirnya, pencarian mereka berdua pun telah menemukan “roh” dari apa yang mereka cari selama ini, yakni apa yang kita kenal dengan ”modalitas-sub modalitas”, “struktur” dan “modeling”, dan hasil pencarian mereka tersebut mereka beri ‘label’ Neuro-Lingustic Programming yang disingkat NLP.
Fiuh..Penasaran apasih itu NLP maka gw ikut doong pelatihan en el pe..Setelah mendapat pelajaran apa itu NLP, ternyata NLP cuma sekumpulan huruf en el dan pe di gabung..garink..!!
Yess bgitu Training Prac NLP wuiiih emang gila nih powerfull banget. Kebayang Deh gmana gw gunain untuk coaching di pekerjaan harian. Tools ini dan tools itu..begitu selesai training ibarat baru turun dari gunung belajar kungfu di shaolin..kayaknya semua elmu perlu untuk di terapkan segera..mau pake jurus Hong In Bun Hoat (jurus sastra angin dan awan) di sertain Tenaga Dalam Hui Yang Sin Kang atau pun menggunakan Thi Ki I Beng (Jari Pembetot Sukma)..poko’e hajar Bleh
Alias mau pake swish pattern, dll pokoe siap deh..BENTAAAR..pikir piker ibarat mau nyetir mobil prakteknya di jalan komplek dulu biar gak nabrak dan tantangannya sedikit. Akhirnya prakteklah ke diri sendiri.
Read the rest of this entry »
NLP adalah sebuah buku manual pikiran manusia yang paling miracle. Banyak hal yang dibahas secara konsisten. NLP sangat menekankan pentingnya melakukan fleksibilitas dalam menanggapi setiap respon yang terjadi di lingkungan kita. Karena fleksibilitas nya itu, prinsip-prinsip dasar dalam NLP tidak dinamakan sebagai sebuah prinsip, melainkan dikatakan sebagai sebuah asumsi-asumsi NLP atau dikenal dengan istilah Presupposition.
Presuposisi ini adalah pandangan NLP terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan untuk memudahkan kita meraih Personal Freedom dan Miracle Life. Banyak pandangan yang berbeda mengenai presuposisi NLP. Ada yang menggunakan 10 presuposisi, ada yang 12 Presuposisi bahkan ada yang 14 presuposisi. Sekarang, kita membahas presuposisi ini dalam konteks yang dikembangkan oleh Tad James.
Presuposisi NLP yang menjadi favorit saya adalah, “Everything is evaluated in the term of context and ecology”. Setiap hal itu dievaluasi berdasarkan ekologis dan konteks nya. Dari presuposisi ini, setiap hal memiliki makna yang berbeda dalam berbagai konteks. Contoh sederhana nya adalah, kata “iye” di Makassar berarti ucapan setuju kepada orang yang lebih tua dan sangat sopan dilakukan. Saat ke Jakarta, maka kata ini menjadi tidak sopan dan terkesan menyindir. Read the rest of this entry »
by Tjia Irawan
Ide yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.
NLP BUSINESS SERIES
NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS
Neuro Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis. NLL sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.
Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment, Behaviour, Capability, Value & Belief, Identity dan Spiritual sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS. Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :
-
Kapan dan Dimana
-
Apa
-
Bagaimana
-
Mengapa
-
Siapa
- Untuk Tujuan Apa
APA
Hai Business Practitioner, apa kabar? Jangan beri saya jawaban luar biasa setiap ditanya apa kabar. Hampir disetiap forum apabila saya bertanya apa kabar? Hampir selalu jawabannya adalah luar biasa. Jawaban yang tidak keluar dari hati menurut saya, bahkan jawaban yang tanpa roh dan seolah-olah mekanik. Menjawab luar biasa bukan karena luar biasa tapi karena kebiasaan menjawab luar biasa semata. Well, saya sedang tidak hendak membahas hal ini, namun ingin melanjutkan artikel NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS yang selama ini sengaja saya tunda karena saya fokus pada area lain.
Pak Lurah punya hobi memelihara berbagai macam jenis burung. Di suatu pagi, burungnya hilang semua. Merasa ulah si maling sudah keterlaluan, Pak Lurah berencana untuk membawa masalah ini di pertemuan warga. Maka disebarkanlah undangan kepada para warga. Ada sekitar 200 orang warga yang hadir.
Setelah berbicara panjang lebar soal moral, akhirnya Pak Lurah masuk ke inti masalah sebenarnya mengapa mereka diundang. Lalu bertanyalah dia, “Siapa yg punya burung?” Seluruh laki-laki yang hadir segera berdiri.
Menyadari kesalahannya dalam cara bertanya. Lalu Pak Lurah buru-buru berkata, “Bukan itu maksud saya. Maksud saya adalah, siapa yg pernah lihat burung?” Seluruh warga wanita berdiri.
Berkunjung ke Psikologi UNM Makassar memberikan pelajaran berharga bagi saya. Apalagi saat bertemu dengan alumni-alumni Basic Hypnosis Class dan kembali berlatih bersama mereka melakukan proses therapy. Di Psikologi UNM saya juga bertemu dengan seorang mahasiswa yang bertanya mengenai satu kasus yang sedang ia alami. Pertanyaan ini berlanjut pada diskusi panjang tentang kemampuan diri kita. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol diri nya sepenuh nya.
Awalnya saya memiliki pemahaman yang seperti kebanyakan orang. Lingkungan itu sangat mengontrol diri kita, sehingga untuk memperbaikinya maka kita harus mengubah kondisi lingkungan yang sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Akibat dari pemahaman ini saya begitu banyak menyalahkan orang disekitar saya atas kegagalan saya, bahkan sebelum melakukan sesuatu saya sudah menyalahkan dan tidak yakin dengan outcome saya. Saya juga banyak menulis tulisan yang menghujat pemerintah yang saat itu saya yakini mengakibatkan saya menjadi seperti diri saya saat itu.
Perubahan drastic terjadi saat Tahun 2007 saya mengenal NLP dari seorang sahabat. Menjelajahi NLP kemudian mempertemukan saya dengan guru saya “Issa Kumalasari“. Dari mempelajari NLP ini maka saya mengetahui bahwa diri saya sendirilah yang mengontrol diri saya, dan bukan nya lingkungan. “Siapa yang memutuskan untuk marah, sedih, takut, jengkel, tidak melakukan sesuatu?”. Bukankah yang memutuskan hal tersebut adalah diri kita sendiri. Bahkan untuk tidur pun yang memutuskan adalah diri kita sendiri.
Seorang wanita usia 27 Tahun dengan kondisi punggung ditekuk datang ke kantor PT. Transformasi, setelah 3 hari sebelumnya janjian untuk berdiskusi tentang permasalahan yang ia hadapi.
Dengan wajah penuh ketakutan dan suara bergetar ia mengatakan bahwa ia minder saat berhadapan dengan orang lain termasuk dengan atasannya sendiri, hal ini menyebabkan ia belum bisa meningkatkan karir di perusahaan tersebut setelah lebih dari 5 tahun bekerja, sementara teman-temannya sudah jauh lebih maju.
“Mas Dudi, apa saya bisa ber Transformasi menjadi lebih baik sementara untuk membangun kepercayaan diri saja terseok seok”
by Tjia Irawan
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan Konseling dalam sebagai bagian dari pengembangan area Personal Growth dalam Wheel of Life pribadi . Bagi para NLP-ers tentunya nama Virginia Satir tidaklah asing lagi karena ia adalah seorang Family Therapist besar dijamannya yang dimodel oleh para founder NLP. Oleh sebab itu training ini menjadi menarik karena teknik-teknik yang diajarkan adalah teknik Konseling dari Virginia Satir.
Awalnya saya menyangka akan mencium aroma NLP yang kuat di dalamnya. Ternyata saya keliru aroma yang tercium memang berbeda karena ada aroma kesegaran lain yang menurut saya menyenangkan dan menyegarkan. Ada fenomena yang menarik yang saya dapat dari training ini, yaitu sekitar 99% dari peserta training adalah bukan mereka yang berprofesi sebagai terapis atau konselor. Profesi mereka rata-rata adalah sebagai seorang General Manager di dalam perusahaan. Pertanyaannya adalah apa motivasi mereka atau perusahaan mereka mengikuti training ini?
Perhatikan bagaimana sebuah mesin bekerja. Konon komponen-komponen mesin terbuat dari logam pilihan. Mereka dirancang untuk bekerja dalam putaran tinggi dan tahan terhadap gesekan. Bahkan mereka dirancang untuk bekerja dalam suhu yang ekstrim. Namun dapatkah anda bayangkan mesin yang komponen-komponenya terbuat dari logam pilihan tersebut anda hidupkan atau anda fungsikan tanpa anda menaruh minyak pelumas di dalamnya? Kira-kira apa yang akan terjadi dengan mesin tersebut? Benar, mesin tersebut akan rusak karena komponen-komponennya rontok satu persatu.