by Tjia Irawan
Satu hal yang paling menarik buat saya ketika mempelajari NLP adalah tentang Metafora. Begitu banyak kejadian nyata baik yang kita alami sendiri, maupun orang lain dapat menjadi sebuah Metafora. Sebuah kejadian sederhana dapat menjadi sebuat Metafora pembelajaran yang dalam bagi kehidupan. Cerita yang saya tuliskan berikut ini menjadi sebuah Metafora pembelajaran yang mengilhami saya dalam melakukan sebuah sesi Coaching.
Pernahkah Anda batuk? Hampir semua orang pernah mengalami yang namanya batuk. Bahkan batuk memiliki nama-nama turunan yang lain yaitu batuk kering, batuk berdahak, batuk rejan dan batuk-batuk lainnya. Bagaimana perasaan anda ketika Anda mengalami batuk? Saya percaya rasanya tidak enak dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi yang mengalaminya.
Apa yang Anda lakukan ketika Anda diserang oleh batuk? Apakah Anda mencari obat untuk menyembuhkan batuk Anda?
Bagi saya fenomena batuk itu menarik. Batuk sebenarnya adalah respon tubuh untuk mengeluarkan benda asing yang masuk agar tidak mengganggu saluran pernafasan. Karena apabila ada benda asing yang masuk ke dalam saluran pernafasan maka secara refleks tubuh akan mengeluarkannya lewat batuk. Betapa bergunanya batuk bagi manusia sayangnya selama ini kita selalu mengidentikkan batuk dengan penyakit.
Artikel ini diangkat dari sharing yang saya berikan di kantor saya untuk para sales force selama kurang lebih sekitar dua sampai tiga jam. Dalam waktu yang singkat tersebut, materi yang dibahas pun tidak terlalu banyak. Tentunya artikel ini tidak dapat menggantikan suasana kelas yang sebenarnya, dimana terdapat pembelajaran multi-sensorik yang lebih mempermudah pembelajaran.
Artikel ini akan dibagi menjadi tiga seri. Dimana pada seri pertama akan dibahas secara singkat apa itu NLP dan asumsi-asumsi yang menjadi fondasi dan roh NLP. Pada artikel kedua akan dibahas secara singkat pula apa itu Rapport dan penggunaannya. Dan artikel terakhir akan dibahas secara singkat seni linguistik dalam penjualan.
Lingkup Bahasan
Dalam artikel ini, saya akan membatasi lingkup pembahasan dengan mengasumsikan dua hal berikut ini :
- Barang dan atau jasa yang Anda tawarkan kualitasnya sama dengan yang Anda janjikan atau promosikan.Saya kira, ini hal yang sangat mutlak Anda perlukan bila Anda ingin terjadi penjualan jangka panjang. Lain halnya bila Anda tidak ingin demikian, siapa yang tahu? Dalam artikel ini saya asumsikan Anda menginginkan terjadinya penjualan jangka panjang.
- Perlunya EtikaPoin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Artikel ini tidak akan mengajarkan etika ataupun teknik-teknik NLP untuk membangun etika (ada segelintir praktisi NLP yang menyebutkan dapat membangun etika dengan seketika, sementara saya tidak menganut paham demikian). Namun demikian pada seri artikel saya selanjutnya Anda akan saya ajak memahami konsekuensi-konsekuensi dari tidak beretikanya menggunakan teknik-teknik dahsyat NLP.
- Penerapan NLP aplikatif dalam kaca mata dan pengalaman saya.Menerapkan NLP dalam dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dapat berbeda dengan apa yang Anda baca dari buku ataupun pelatihan dikelas. Dan dalam artikel ini akan saya paparkan penerapan NLP dalam dunia nyata atau keseharian menurut kaca mata dan pengalaman saya pribadi.
Ini adalah bagian terakhir dari serial NLP Dalam Penjualan. Bila Anda tertinggal bagian-bagian sebelumnya, silahkan buka http://nlpintoaction.com agar Anda tidak bingung dengan beberapa istilah yang digunakan dalam artikel ini.
Pada bagian pertama serial NLP Dalam Penjualan, sudah dijelaskan secara singkat apa itu NLP dan peranan linguistik didalam NLP. Di bagian terakhir ini, akan dibahas secara singkat dua model linguistik dasar pada NLP yang akan diterapkan dalam bidang Sales-Marketing. Dua model linguistik tersebut adalah : Meta Model dan Milton Model. Dalam penerapannya, rapport sudah harus terbentuk terlebih dahulu guna mengurangi (bukan menghilangkan) resistensi/penolakan dari mitra komunikasi.
Meta Model (MeMo)
“Persepsi manusia 99% seringkali salah” ini ungkapan yang saya dengar dari seorang guru Thich Nhat Hanh.
Bagi praktisi NLP pasti mengenal presuposisi “The map is not the territory”, presuposisi ini diurutan no.1 dari sekitar 20 presuposisi di NLP.
Dan saya pikir ungkapan itu cocok dengan “the map is not the territory” dan memang persepsi kita seringkali salah bukan hanya persepsi tentang orang lain, namun juga persepsi kita tentang diri kita sendiri.
Apakah pada saat berkomunikasi dengan orang lain Anda selalu berusaha membenarkan diri Anda karena Anda merasa Anda yang lebih tahu sehingga Anda menolak untuk memahami pendapat orang lain?
Apakah pada saat Anda berkomunikasi dengan keluarga, anak, istri maupun orang tua Anda, dan Anda masih berpikir bahwa merekalah yang harusnya mengerti Anda?
Apakah Anda sering beranggapan bahwa respon Anda lebih disebabkan karena tindakan atau pandangan orang lain?
Apakah Anda takut pada hal-hal yang tidak penting? Seperti takut berbicara di depan umum, ulat, jualan, ditolak, dsbnya?
Apabila Anda menjawab “YA” maka Anda belum benar-benar memahami tentang teori “The Map is the Territory”.
Tulisan ini terinspirasi ketika membawakan pelatihan inhouse training di RSMH Palembang. Walaupun durasi sangat pendek. Tetapi sambutannya sangat luar biasa. Tulisan ini sebagai sebuah anchor. Bila ada peserta yang membaca artikel ini. Sekaligus dapat menjadi pembelajaran bagi mereka yang mempunyai profesi berhadapan langsung dengan pelanggan. Baik sebagai front liner, customer service, salesman, marketing atau apapun istilahnya.
Salah satu hal yang paling penting dalam mengaplikasikan NLP dalam kehidupan sehari-hari khususnya di bidang pekerjaan dan bisnis adalah kemampuan kita menggunakan kata-kata dalam berkomunikasi. Baik saat sedang melayani pelanggan, menangani pelangan yang bermasalah, memberikan presentasi produk kepada pelanggan atau pun sedang melakukan “pdkt” kepada calon pelanggan.
Saya jadi ingat beberapa topik seminar yang sedang heboh beberapa tahun belakangan. Dengan embel –embel kata “TANPA MODAL” seminar tersebut menjadi daya tarik yang luar biasa bagi para peserta. Sebenarnya ada juga sih modalnya. Yaitu kemampuan kita berkomunikasi sehingga menciptakan sebuah hubungan yang harmonis kepada calon nasabah, calon klien dan calon investor sehingga mereka mampu percaya dengan kita. Istilah modal “OMDO” (omong doang) he..he..he….
by Irene Corry
Para pembaca yang berbahagia.
Kali ini saya akan menulis artikel bagaimana mengaplikasikan NLP dalam dunia Pekerjaan. Artikel ini akan dalam bentuk beberapa seri yang semuanya aplikatif berdasarkan pengalaman saya di organisasi lebih dari 15 tahun. Saya sendiri terbuka jika ada pembaca ingin memberikan pikiran, ide, saran dan membagikan pengalamannya untuk melengkapi dan menambah wawasan baru. Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan dan membantu meningkatkan produktifitas dalam pekerjaan anda.
“Alirkan ENERGI Anda kearah yang memberDAYAkan”
Pernahkah Anda merasakan satu hari dimana Anda sangat semangat, termotivasi dan produktif? Apapun yang Anda kerjakan hari itu beres dan lancar semua. Atau sebaliknya Anda pernah merasakan satu hari dimana Anda merasa loyo dan malas? Apapun yang Anda kerjakan hari itu tidak ada yang beres dan Anda merasa stuck tidak tahu harus melakukan apa? Saya yakin ada saja di lingkungan kantor kita ada yang mengalami kedua hal tersebut. Lalu apa perbedaan yang membedakan kedua hal tersebut? Padahal yang dikerjakan sama dari hari ke hari, jumlah dan jenis pekerjaan sama, orang yang menjalankan juga tetap sama. Orang yang sama dengan pekerjaan yang sama, tapi bisa memberikan hasil yang berbeda-beda.
by Tjia Irawan
Apa yang menarik dari sebuah Taxi? Buat saya Taxi memberikan pembelajaran yang menarik. Seseorang hanya dapat menghentikan dan kemudian menumpang Taxi yang lampu petunjuk yang terletak pada bagian atas Taxi menyala. Lampu petunjuk tersebut menunjukan bahwa Taxi tersebut kosong dan Anda dapat menghentikannya kemudian menumpang menuju tempat tujuan Anda.
Mengamati Taxi sama seperti mengamati sebuah kesempatan. Taxi mungkin berlalu-lalang di depan anda namun kalau lampu petunjuk Taxi tidak menyala maka Taxi tersebut bukan buat Anda, demikian pula dengan kesempatan. Ada kalanya sebuah kesempatan seolah-olah bukan milik Anda karena orang lain sudah terlebih dahulu meraihnya.
Untuk menghentikan Taxi, Anda perlu tahu di jalan mana banyak Taxi yang lalu-lalang. Anda tidak mungkin menanti Taxi di jalan sempit yang mobil tidak dapat memasukinya. Anda juga tidak dapat menantikannya di jalan buntu. Anda perlu berjalan menuju jalan raya di mana banyak Taxi berlalu-lalang. Demikian pula kesempatan, Anda perlu pergi dan menuju tempat di mana kesempatan itu ada. Anda tidak mungkin mendapatkan kesempatan hanya dengan menanti dengan bermalas-malasan di dalam rumah karena kesempatan tidak berada disana. Anda tidak mungkin mendapatkan kesempatan hanya dengan mengerjakan tugas Anda sebatas yang ditanggungjawabkan kepada Anda karena kesempatan tidak ada disana. Kesempatan ada di jalur dimana setiap prestasi Anda dilihat karena itu pastikan diri Anda berada pada jalur tersebut.
by Tatang Akasa
Setiap hari setiap orang pasti menghadapi masalah. Bahkan satu masalah belum selesai, masalah yang lain sudah muncul, yang kalau muncul tidak jarang membuat orang kesulitan dan membuat orang menjadi stress. Sebenarnya apa sih masalah itu? Saya akan menjelaskannya dengan rangkaian cerita yang dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) disebut dengan nama nested loops.
Seorang ibu paruh baya memiliki dua orang anak, yang satu berjualan payung dan yang satu lagi berjualan es krim. Setiap hari ibu ini kelihatan murung dan bersedih hati. Pada waktu hari terik ia bersedih mengingat anaknya yang berjualan payung tidak laku barang dagangannya. Dan pada saat hari hujan, ia juga bersedih mengingat anaknya yang berjualan es krim tidak laku barang dagangannya. Demikian setiap hari ia selalu bersedih mengingat kedua anaknya tersebut.
Di tempat yang lain, ada seorang bapak dengan lima orang anak yang baru saja melalui hari yang sangat berat. Ia baru saja di PHK karena kantor tempatnya bekerja harus tutup karena keadaan perekonomian yang memburuk akibat dari imbas krisis ekonomi global. Ia sangat stress memikirkan nasib lima anaknya yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyambung hidup sementara hutang sudah gali lubang tutup lubang. Dalam perjalanan pulang ke rumah, ia menaiki sebuah angkot yang kosong dan ia termenung meratapi nasibnya yang sangat buruk tersebut. Tidak lama kemudian naiklah seorang bapak dengan dua anaknya yang masih kecil ke dalam angkot tersebut. Mula-mula mereka duduk dengan tenang namun tidak lama berselang kedua anak kecil tersebut membuat kegaduhan. Mulai dari bercanda, berteriak dan bermain sesuka mereka. Hal ini sangat mengganggu bapak yang baru saja kena PHK tadi dan membuatnya naik pitam dan berkata kepada bapak dari kedua anak itu untuk mendiamkan kedua anaknya yang sangat berisik.
Sabtu dan Minggu kemarin (26-27 Feb 2011), saya mengalami pembelajaran NLP di padepokan Subang, tempat dimana tetua – tetua NLP di Indonesia bersemedi, Pak Saiful Bachri (Kang Puhong) dan dr. Stephanus Tamzil (Bos Ngapusi).
Melalui tulisan ini saya ingin berbagai akan apa yang saya pelajari disana. Dalam pembelajaran disana, saya mendapatkan pemahaman bahwa untuk menjadi ahli dalam sebuah bidang ilmu, saya perlu benar-benar memahami apa yang saya pelajari, bukan hanya sekedar tahu; memahami ilmu tersebut sampai seakan-akan menyatu dalam seluruh tubuh saya, bukan hanya sekedar di kepala atau diawang-awang.
Pada saat saya benar-benar sudah memahami apa yang saya pelajari maka saya akan mampu untuk menjelaskannya, ataupun berinovasi dengan pelajaran tersebut jadi tidak terpaku hanya pada apa yang diajarkan.
Dunia sekarang sudah edan. Bila dulu orang-orang menipu dengan wajah ganteng. Sampai terkenal dengan slogan “Wajah Menipu, Dompet Menangis”. Sekarang rame-rame menggunakan kata-kata. Disebarkan melalui sms dan email. Cukup banyak korban yang kena tipu seperti ini. Bukan hanya puluhan juta bahkan sampai ratusan juta.
Baru-baru ini saya mendapatkan beberapa sms yang bernada penipuan. Coba kita lihat beberapa contoh sms penipu dibawah ini:
“Maaf saya Hj. Indah mengenai rumah anda saya berminat den merasa cocok. Untuk masalah nego harga tolong hubungi suami saya, DR.WAHYU no hp. 08xxxxxx, karena saya ada acara. Tks.” (SMS pertama)
“Maaf saya Bu Nur, tanah yang di tanjung api-api saya sudah lihat dan sudah cocok, untuk masalah harga tolong hubungi suami saya aja, pak H.SULAIMAN di no hp. 08xxxxxx, karena kebetulan saya ada acara.Tks.” (SMS kedua)
“Maaf saya Sri Ningsih, mengenai rumahnya yang mau dijual kemarin, kebetulan saya berminat. Tolong hubungi suami saya untuk untuk nego harga di no telpon ini:08xxxxxxx. A/n:H. Maulana. Tks.” (SMS ketiga)
Mengenal Pola Bahasa SMS Penipu
by Tjia Irawan
Ide yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.
NLP BUSINESS SERIES
NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS
Neuro Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis. NLL sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.
Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment, Behaviour, Capability, Value & Belief, Identity dan Spiritual sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS. Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :
1. Kapan dan Dimana
2. Apa
3. Bagaimana
4. Mengapa
5. Siapa
6. Untuk Tujuan Apa
BAGAIMANA
Business Practitioner, jawablah pertanyaan ini dengan tepat, BAGAIMANA anda tahu bahwa KEPUTUSAN STRATEGIS yang anda putuskan sudah tepat? Apakah anda mampu menjawabnya dengan yakin dan pasti? Kalau anda mampu menjawabnya dengan yakin dan pasti itu semua karena anda tahu BAGAIMANA PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS tersebut diambil.