Sadarkah Anda bila sebagian orang bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya? Contohnya, orang menggemari rokok, latah, kecanduan game, pemarah, pemalu dsb. Dan tahukah Anda, dibalik semua itu ada hal baik di dalamnya menurut pelaku tersebut? Tentunya, jika hal ini dihilangkan dalam diri orang tersebut, kemungkinan dia juga kehilangan hal positif dalam dirinya. Menariknya, negatif menurut Anda belum tentu negatif menurut orang tersebut! Yang penting untuk diingat adalah, manusia selalu hidup dan membentuk dunianya sendiri, oleh karenanya setiap manusia itu unik, dan salah besar bila memaksakan apa yang ada dipikiran kita untuk menjadi pemikiran orang lain!
Underlying Every Behaviour Is a Positive Intention, ini merupakan salah satu presuppositions dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang berartikan Selalu Ada Maksud Baik Dibalik Sebuah Perilaku. Dan inilah yang menyebabkan beberapa dari manusia bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya!
Dari beberapa teman terapis saya, ada yang memiliki anggapan yaitu “SAYA DAPAT MENYEMBUHKAN SETIAP PERMASALAHAN KLIEN YANG DATANG KE SAYA”, Bagus juga sih mempunyai anggapan seperti ini, TAPI persepsi seperti ini ternyata SALAH BESAR !!! (Menurut Saya). Dan kira-kira inilah yang menyebabkan beberapa sesi hipnoterapi terhadap perubahan sebuah perilaku manusia tidak berhasil.
by Tjia Irawan
Ide yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.
NLP BUSINESS SERIES
NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS
Neuro Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis. NLL sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.
Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment, Behaviour, Capability, Value & Belief, Identity dan Spiritual sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS. Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :
1. Kapan dan Dimana
2. Apa
3. Bagaimana
4. Mengapa
5. Siapa
6. Untuk Tujuan Apa
MENGAPA
Steve Paul Jobs (lahir 24 Februari 1955 dan meninggal 5 Oktober 2011) diakui sebagai inovator yang telah banyak menginspirasi orang-orang muda lain di dunia. Ketika belajar di sekolah menengah di Cupertino, Steve memanfaatkan waktu luang untuk menghadiri perkuliahan di The Hewlett-Packard Company di Palo Alto. Saking sering hadir di sana, dia menjadi terkenal, hal ini menyebabkan dia direkrut sebagai summer student. Di sanalah, pada usia baru 13 tahun, Jobs bertemu Stephen Wozniak sesama karyawan paruh waktu di musim panas. Keduanya segera menjadi konco pret dan tidak lama kemudian Jobs mulai membantu Wozniak menjual penemuannya yang ilegal—karena dapat dipasang pada telepon untuk digunakan menelepon jarak jauh tanpa harus membayar. Di samping itu Jobs juga memanfaatkan waktu luangnya untuk memperbaiki dan menjual sistem stereo.
Setamat sekolah menengah tahun 1972, Jobs kuliah di Reed College, Portland, Oregon, tapi dia segera menyadari tidak berminat mencapai gelar sarjana. Hanya bertahan satu semeter, Jobs berhenti. Walaupun demikian, dia bertahan selama setahun dengan hanya mengikuti mata kuliah filosofi, fisika, dan sastra. Dua tahun kemudian Jobs kembali ke California dan bergabung dengan klub pehobi komputernya Wozniak (The Homebrew Computer Club). Selain itu, Jobs mulai bekerja sebagai teknisi di Atari, perusahaan yang waktu itu memproduksi video games.
Bekerja di Atari memungkinkan Jobs menabung cukup uang sehingga dia dapat jalan-jalan ke India bersama seorang teman dari masa kuliah di Reed College, Daniel Kottke—kemudian menjadi karyawan pertama Apple. Sekembalinya ke California, Jobs mendapat tawaran dari Atari untuk membuat atau lebih tepatnya menciptakan semacam papan sirkuit yang akan diinstal pada mesin permainan “The Game Breakout”. Karena kurang paham tentang papan sirkuit, Jobs mengajak Wozniak bekerja sama. Singkat cerita, pengalaman bekerja sama di Atari ini berlanjut sebagai bibit yang menumbuhkan pohon “Appel”, sebuah perusahaan yang paling sukses dan revolusioner di abab ke-20.
Apa itu pikiran?
Apa itu Belief?
Apakah memungkinkan bagi saya untuk berpikir dan tidak mempercayainya?
Tentunya Anda dapat berpikir tentang sesuatu dan merepresentasikan sesuatu di dalam representasi internal Anda tanpa mempercayainya. Berpikir adalah satu hal; mempercayai (believing) juga adalah hal yang lain. Bila demikian, maka apa yang membedakannya? Kita dapat berpikir tentang sesuatu tanpa mempercayainya, bukankah itu adalah sesuatu yang dashyat bahwa kita dapat berpikir namun tidak mempercayainya.
Mengapa karyawan, pengusaha, pegawai lainnya belum bisa menjalankan tugas, tanggung jawab dengan optimal dan profesional?
Pakar HR mengatakan, karena belum kompeten
……………………………
Kompeten/Kompetensi Itulah kata yang sering kita dengar…..
Lalu…….
Apa itu kompetensi…………
Apa Manfaatnya……………
Bagaimana cara meningkatkan kompetensi……
Hehehe…akhirnya saya kembali menulis lagi. Begitu banyak yang tanya ke saya. Kok nggak menulis lagi sih? Sibuk? Sebenarnya sih bukan sibuk atau pun sudah lupa nulis. Terus terang bukan terang terus ya…ha…ha…ha… Sebenarnya saya sedang melatih diri supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jadi biar tulisannya menjadi bermakna dan mempunyai jiwa. Malu juga rasanya jika menulis tanpa melakukannya terlebih dahulu. No Action Teori Doang…..hehe…he…he..Bila menulis pengalaman diri sendiri jauh lebih enak dan plong. Apalagi setelah orang lain membaca dan mendapatkan makna.
Bagi saya menulis itu adalah sebuah tantangan. Apalagi menghasilkan sebuah tulisan yang bermutu bagi orang lain. Tantangan itu sangat dibutuhkan dan diperlukan dalam kehidupan kita. Dulu waktu saya kecil. Ketika masih nakal-nakalnya. Rasanya malu untuk menolak. Apabila ada tantangan berkelahi. Bahkan kami sering berkelahi secara sembunyi-sembunyi. Menghindar dari kedua orang tua. Bila perlu kami berkelahi di lapangan bola. Cukup membawa beberapa orang teman. Yang sering menjadi supporter dadakan. Mereka dengan semangat berteriak menyemangati kami. Pukul sana, pukul sini. Tak jarang sambil adu tendangan, adu pukulan dan adu ilmu. Mulai dari ilmu pencak silat, ilmu kungfu ala Bruce Lee. Sampai ilmu “ngibrit”. Bila lawan yang dihadapi tidak sepadan.
Tantangan Dalam Berbisnis
Ternyata ilmu tantangan ini adalah ilmu kehidupan. Hampir sama dengan ketika kita memulai sebuah bisnis ada unsur tantangan di awalnya. Bila kita berhasil mengatasi setiap tantangan maka bisnis kita dapat dikatakan sukses.
Salah satu kunci dari seorang praktisi NLP adalah kemampuannya dalam menggunakan Asosiasi dan Disosiasi. Apa itu? Asosiasi bisa kita ibaratkan sedang bermain game dan melihat dari mata jagoannya (orang pertama), sementara dengan Disosiasi kita dapat melihat seluruh tubuh tokoh jagoannya (orang ketiga).
Pertanyaannya apakah kita bisa seperti permainan itu? Yes! Kita bisa!
Inilah salah satu kemampuan manusia yang tidak diajarkan disekolah. Para peracik NLP pun memperoleh pemahaman atas kemampuan manusia ini berdasarkan hasil pengamatan terhadap manusia itu sendiri. Menarik bukan?
Saat kita ter-Asosiasi, kita sepenuhnya terlibat dalam pengalaman tersebut. Karenanya emosi kita pun menjadi lebih terlibat dan lebih besar.
Saat saya belajar Ego state therapy dengan Gordon Emmerson mengambil sertifikasi dan Diploma dengan beliau, saya banyak mendapat pelajaran berharga. Saya belajar di Gestalt Center, Melbourne, Australia. Ditempat ini, ilmu-ilmu dari Fritz Perl di jalankan dan dilatih disini. Ruangan yang cukup menarik untuk belajar dengan metode pembelajaran yang menurut saya tidak umum di Indonesia. Kelas disediakan kursi-kursi dan juga disediakan bantal-bantal besar dan ktia diperbolehkan untuk mengganti kursi dengan bantal-bantal besar. Wuihhh, makin nyaman belajar disana.
Melbourne bisa dikatakan tempat dengan udara yang cukup dingin dan cukup untuk saya merasa sangat kedinginan, karena Indonesia khususnya Jakarta adalah tempat yang cukup nyaman udaranya buat saya. Suhu di Melbourne kadang kurang bersahabat untuk saya. Apalagi saya kesana sebanyak 4 kali dalam rangka mengambil gelar Diploma Ego State Therapy. Gelar ini adalah gelar tertinggi di bidang Ego State Therapy.
Awalnya saya agak ragu mengambil Ego State Therapy, karena saat saya di Jakarta saya mengira Part Therapy itu ya Ego State Therapy. Apalagi saat saya berpikir apakah saya mau mengambil Gordon Emmerson atau salah satu trainer hypnotherapy yang terkenal yaitu Roy Hunter. Akhirnya sebelum saya berangkat, saya memutuskan untuk membeli buku beliau dan mempelajari dengan seksama. Saya benar-benar amaze bahwa mereka menyebut-nyebut tentang Ego Part Therapy. Apalagi kelas mereka cukup 2 hari saja belajar dan terus bisa mengambil instruktur dengan belajar 2 hari lagi. Saya benar-benar terkejut karena di Ego Part Therapy-nya Roy Hunter itu saya menemukan hal yang sama dengan Part Therapy yang saya pelajari selama ini. Bahkan beberapa kasusnya, Ego Part Therapy kadang tidak mau berbicara dan harus masuk ke dalam somnambulism yang sangat dalam. Apalagi mereka menganjurkan memakai teknik ini untuk pertemuan kedua dan seterusnya. Saya jadi berpikir banyak, apa sih Ego Part Therapy dengan Ego State Therapy? Akhirnya saya putuskan untuk belajar dengan Gordon Emmerson yang belajar langsung dengan John dan Helen Waktins yang terkenal sebagai bapak dan ibu dari Ego State Therapy, apalagi kelas mereka adalah 8 hari totalnya dibagi 4 tahap dalam tempo hampir 1 tahun.
by Tatang Akasa
Pada saat tulisan ini dibuat, saya baru saja menyelesaikan training Design Human Engineering (DHE) yang diberikan langsung oleh penciptanya, yaitu Dr. Richard Bandler. Kebetulan saya mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk berbincang empat mata langsung dengan beliau.
Background saya di bidang Neuro-Linguistic Programming (NLP) membawa saya untuk menggali lebih jauh mengenai kaitan antara NLP dengan DHE. Hal ini sangat menggelitik saya karena dalam benak saya sebelumnya adalah bahwa DHE ini adalah the next NLP atau generasi berikutnya dari NLP. Sehubungan dengan ini, pertanyaan saya yang pertama kepada Dr. Richard Bandler adalah “Apakah DHE ini adalah the next NLP?” Dan, Dr. Richard Bandler mengatakan bahwa “DHE is not the next NLP. Actually, it is the opposite of NLP”. Dari hasil jawaban ini membuat saya makin penasaran ingin mengetahui jawaban tentang DHE lebih lanjut dan dengan sabar serta antusias Dr. Richard Bandler menjelaskan mengenai DHE ini. Dan penjelasan ini berlanjut sampai di kelas.
Ternyata apa yang dijelaskan oleh Dr. Richard Bandler adalah benar bahwa DHE adalah berkebalikan dengan NLP. Menurut beliau, NLP lebih menekankan pada strategy elicitation (mencari tahu strategi sukses seseorang) dan meng-install strategy tersebut dalam diri sendiri atau orang lain. Sedangkan DHE lebih fokus pada cara menggunakan otak kearah yang paling maksimal. Namun demikian, DHE sangat kental dengan nuansa NLP karena DHE tetap menggunakan NLP sebagai underlying atau platform-nya.
Pada bagian pertama, saya telah menyajikan sebuah cerita dari dunia pewayangan dalam ‘lakon’ Bambang Ekalaya, sebuah episode yang memahamkan saya bahwa sejatinya fenomena-fenomena, konsep-konsep bahkan sampai teknik dalam NLP yang di-‘kreasikan kembali’ oleh duo RB-JG, ternyata dapat saya temukan dalam beberapa cerita yang telah saya kenal sejak sebelum tahun 70-an, di mana duo RB-JG tersebut mulai memformulasikan NLP.
Jika pada bagian 1 kemarin saya mengambil contoh dunia pewayangan, maka pada bagian ke 2 ini saya ingin menyajikan sebuah cerita lain, yang saya ambil dari sebuah karya sastra “tradisional” yang pernah mewarnai dunia sastra Indonesia di era akhir tahun 60-an, yakni sebuah cerita berlatar belakang sejarah dengan judul “Nagasasra Sabuk Inten”, karya Almarhum SH Mintarja.
Cerita itu berkisah tentang petualangan Rangga Tohjaya, seorang Perwira Prajurit Demak yang mengundurkan diri karena muak dengan kondisi kerajaan yang dipenuhi dengan para petinggi yang korup dan mementingkan diri sendiri. Dia memilih untuk mengabdikan dirinya dengan cara lain, yakni menjadi “pahlawan jalanan” yang menumpas kejahatan-kejahatan yang ‘lebih nyata’; perampokan, pencurian, penculikan sampai pertikaian perebutan daerah kekuasaan di tingkat tanah perdikan.