May 22

by Hingdranata Nikolay

Mood swing? Tergantung pada mood untuk melakukan sesuatu? Moody?
True for some people. Berlaku untuk beberapa orang, tapi tidak semua. Tidak untuk orang-orang yang percaya bahwa pikiran dan perilaku dikendalikan oleh diri sendiri.

Apakah kita masing-masing yang mengendalikan pikiran dan perilaku kita? Atau apakah kita adalah makluk ‘habit’ yang menyerahkan semuanya pada ‘kebiasaan’ saja, termasuk membiarkan mood datang dan pergi seenaknya?

Seninya bermain dengan sahabat baik kita, alam bawah sadar, adalah saat kita tidak dengan sengaja mengisi pikiran kita dengan suatu hal, maka ia ‘membantu’ kita dengan memberikan kita sesuatu untuk kita pikirkan. Kadang sesuai yang kita mau, kadang sebenarnya tidak ingin kita pikirkan. Bawah sadar tidak pernah berhenti bekerja, dan ia siap menggantikan alam sadar, saat alam sadar kita ‘take a break’, entah saat kita tidur atau saat kita tidak ingin memikirkan sesuatu. Saat ia memberikan sesuatu yang tidak relevan terhadap konteks dimana kita berada saat itu, di situlah kita berkata ‘Saya sedang tidak mood!’. Karena yang saat itu memenuhi pikiran kita, dan yang memicu respon perasaan atau perilaku kita, sama sekali tidak mendukung apa yang kita mungkin seharusnya lakukan saat itu.

Bagi yang memang mengklaim dan yakin bahwa kita masing-masing yang mengendalikan pikiran dan perilaku kita, sebetulnya juga mengklaim bahwa kita yang memunculkan atau menghilangkan mood. Artinya secara sadar, mengisikan ke pikiran, hal-hal yang relevan dengan apa yang ingin kita lakukan, dan mendukung imajinasi, perasaan, dan perilaku di konteks tersebut.

Anda bangun pagi-pagi, dengan sengaja memikirkan betapa nikmatnya pekerjaan Anda, betapa menyenangkannnya mempunyai pekerjaan, rekan kerja yang menyenangkan, klien yang membawa rejeki, dan sejenisnya, Anda pun telah dengan sengaja memancing mood untuk bekerja. Anda punya waktu senggang, memikirkan betapa nanti malam ingin bercengkerama dengan keluarga, pasangan, anak-anak, Anda bayangkan betapa indahnya suasananya, lalu timbul rencana-rencana kecil untuk melaksanakannya, maka Anda telah ciptakan mood untuk konteks itu. Tebak apa yang terjadi saat Anda pulang? Anda dalam mood terbaik untuk itu!

Anda bekerja dengan bersungut, serius, dan setiap kali keluarga, pasangan, atau anak2 Anda menelepon Anda kesal dan menganggap mereka mengganggu, lalu membayangkan betapa mereka tidak mengerti Anda, lalu muncul suara2 betapa mereka hanya mengganggu, lalu ada ekstra imajinasi betapa saat Anda pulang Anda akan benar2 keletihan dan mereka sudah siap untuk mengganggu Anda, tebak apa yang terjadi pada mood Anda saat Anda pulang? Di situlah Anda berkata, ‘Saya sedang tidak mood!’.

Bagaimana dengan selera makan? Sedang tidak mood untuk makan? Mungkin saja ada gejolak bio kimia tertentu yang terjadi dalam tubuh Anda. Tapi saya tidak tertarik itu, saya lebih excited untuk tahu apa yang terjadi di kepala Anda. Strategi Anda untuk menghilangkan mood makan Anda tersebut bisa bermanfaat sekali untuk beberapa orang yang ingin mengurangi selera makan mereka! Perhatikan saja urutan atau sekuens atau pola perilaku Anda sehingga Anda berakhir dengan ‘tidak mood’. Yang pasti bukan membayangkan betapa nikmatnya setiap makanan, betapa harumnya makanan tersebut, betapa rasanya membuat Anda terbang, dan sejenisnya. Karena yang terakhir ini akan membuat Anda mood. Persis seperti seorang pekerja menjelang pukul 12 siang. Saat ia menanti-nanti bel makan siang dengan berbagai bayangan makanan yang lezat, perutnya berbunyi, air liurnya mengalir. Ia dalam mood yang luar biasa! Tapi kalau ia tahu hanya akan menemukan makanan yang tidak sesuai seleranya, maka bayangannya pun akan berbeda. Pikirannya pun terisi berbagai hal yang menolak makanan tersebut. Perutnya tidak bereaksi dengan semangat, dan mulutnya pun kering. Dengan berat ia berangkat makan, dan saat ada temannya bertanya mengenai kondisinya, ia menjawab langsung, ‘Saya lagi tidak mood!’.

Ini sama persis dengan apa yang pernah tuliskan mengenai ‘Bahagia tanpa alasan’. Kebahagiaan pikiran dan tubuh kita, tidak perlu tergantung dari apakah ada alasan untuk bahagia atau tidak. Tapi lebih ke bagaimana kita memproses kebahagiaan di dalam otak kita. Mood pun sama persis. Kita bisa memancing mood dengan berbagai imajinasi dan hal-hal relevan yang kita isikan ke kepala kita.

Ingin mood makan, maka isikan berbagai imajinasi, gambar2, kata-kata tentang betapa lezatnya makanan. Ingin mood bekerja, maka isikan pikiran kira dengan berbagai imajinasi, hal-hal, kata-kata, mengenai betapa nikmatnya pekerjaan. Ingin mood bercinta? Anda sudah tahu apa yang biasa Anda isikan ke pikiran saat ingin bercinta, bukan?

Jadi, PILIHAN-nya adalah membiarkan ‘mood swing’ dan mood Anda yang menentukan, atau Anda yang ’swing the mood’ dan Anda yang mengkreasikan mood tersebut!

Dan ingat, ini bukan soal kesempurnaan untuk selalu pada mood terbaik. Ini soal berada pada mood terbaik ‘lebih sering’.
Semoga bermanfaat.

Have a positive day!

VN:F [1.1.6_502]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)

Leave a Reply