May 5

by Jon Win Lee

Saya terkadang bingung dengan apa sebenarnya beda antara kedua istilah di atas. Ketika saya mengikuti kelas kelas pelatihan – yang konon yang sangat luar biasa – hingga tingkat master; saya menemukan mungkin diri saya adalah orang yang paling goblok diantara para peserta yang paling goblok di dunia. Mengapa?

Karena saya tidak mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu yang saya miliki ke dalam kehidupan setelah membayar mahal-mahal untuk program-program yang ada. Saya memang bodoh tidak seperti orang lain, tapi paling tidak saya masih mampu menghibur diri dengan adanya sertifikat. Kalo ilmunya tidak terpakai, saya masih punya sertifikat. Asyik kan?

Di Indonesia, saya terambisi mengikuti orang-orang untuk menghadiri sejumlah pelatihan dalam rangka mengumpulkan KERTAS SERTIFIKAT yang menurut saya yang dapat mengembalikan dan mengambil keuntungan dengan berjualan kertas sertifikat tersebut.

Sebuah fenomena yang sangat menarik untuk diteliti. Dimana setelah saya teliti, ternyata rata-rata dari “pemburu sertifikat“ yang gemar mengkoleksi sertifikat-sertifikat tersebut untuk digunakan sebagai “pembungkus kacang”. Termasuk saya juga.

Ada yang mengatakan, “Loh, kok pembungkus kacang? Bukankah lebih baik dipakai jadi pembungkus combro aja? Combro itu makanan asli Indonesia… Dan rasanya pedas”.

Ada cara lebih nikmat menikmati combro jika combro dagangannya tidak laku. Bawalah combro tersebut ke padang gurun sahara tepat jam 12 siang. Makanlah combro tersebut dengan cabe rawit sambil duduk beralaskan tikar berupa selembar seng dan membayangkan tukang combro lain yang sukses dengan jualannya. Selamat menikmati sensasi dari seluruh modalitas anda!

Zaman sekarang ini, dimana perubahan dan informasi baru menyebar dalam waktu yang sangat cepat sehingga dibutuhkan penampilan yang berbeda dari orang lain. Saya menemukan diri saya yang bodoh ini menjual pembungkus kacang yang sudah ramai dan jika sedang tidak laku masih dapat dijadikan pembungkus combro yang pedas. Dan lebih bodohnya lagi adalah dikala saya memaksakan diri untuk menjual bungkus combro itu sebagai pembungkus sup buntut ataupun pembungkus soto betawi.

Hahaha… sebuah perbuatan konyol yang baru disadari adalah belum mampunya saya untuk membuat wadah yang pas dengan ilmu saya pada saat itu untuk dijadikan pembungkus sup maupun soto. Dikala saya belum menemukan ilmu membuat wadah, yah… paling tidak adalah mangkuk ataupun kantongan plastick untuk menampung itu semuanya.

Ada 4 macam kategori ilmu yang beredar di masyarakat saat ini, yakni ilmu yang :
1.Benar benar benar benar.
2.Benar benar benar tidak benar.
3.Tidak benar benar benar benar.
4.Tidak benar benar benar tidak benar.

Hal ini lah yang membuat saya menjadi orang yang mempunyai pandangan abu-abu. Sehingga jelas atas kebodohan saya tentang Ilmu yang saya anggap paling penting adalah dengan mempunyai Sertifikat yang dapat dijual untuk mengembalikan semua modal yang dikeluarkan untuk mendapatkannya. Dalam arti yang tidak kalah pentingnya bahwa Sertifikat akan ilmu tersebut yang ditercantum dalam Sertifikat tersebut.

Penemuan lainnya adalah saat ini kebutuhan di Indonesia bukanlah pembungkus kacang yang laris manis ataupun yang dapat dijadikan pembungkus combro untuk menakut-nakutin serangga di sekitar rumah. Melainkan Indonesia membutuhkan Ilmu. Ilmu tentang bagaimana sebuah wadah untuk menampung dan menciptakan mangkuk yang sesuai dengan kebutuhan dalam pengembangan kehidupan masing-masing.

Dengan kebodohan ini, tak layak saya meminta maaf kepada orang lain. Lebih tepatnya adalah bagaimana meminta maaf kepada diri sendiri dan bertobat. Kutunggu hingga kapan saat perubahan cara berpikir bungkus kacang dimulai?

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 8.0/10 (10 votes cast)
Sertifikat Lisensi, 8.0 out of 10 based on 10 ratings

5 Responses to “Sertifikat Lisensi”

  1. Daniel Says:

    wahai pengumpul kertas, bila kertas mu sudah banyak bolehlah didaur ualng biar dicetak ulang lagi menjadi sertifikat kembali…

  2. Tjia Irawan Says:

    Benar benar benar benar MENURUT SIAPA ? Sudah terlaku banyak penjual kecap. Ah ujung-ujungnya adalah pemaksaan MAP nya mereka yg berpikir dan merasa benar benar benar benar. Aku hanya mau kembali pada Mu ya TUHAN sumber dari segala sumber KEBENARAN

  3. Arton Says:

    mohon ma’af …

    Ini adalah artikel yang enggak banget. Maksudnya artikel yang enggak ada manfaatnya.

  4. Hari Says:

    Hehehe…. masih ada yang orang (terkenal)MENGHUJAT SANG PENCIPTA? Kasihan Tuhan direndahkan CIPTAANNYA bahkan oleh ia yang telah diciptakan-Nya… terimalah keadaanmu sesuai kata-katamu.
    Salam BODOH…
    Hari

  5. Sulis Says:

    Salam kenal. Saya sangat menghargai tulisan Anda, teruslah menulis.

Leave a Reply