Mar 17

by Ronny F Ronodirdjo

Saat remaja dulu saya pernah membaca buku Mati Ketawa ‘ala Rusia, sebuah buku humor yang sukses meledak di pasar. Buku yang berisikan humor ini konon ditulis rakyat Rusia di jaman komunisme yang penuh tekanan. Rakyat yang tidak berdaya akhirnya hanya berani menciptakan guyonan-guyonan konyol untuk menertawakan nasib sendiri.

Salah satu kisah yang sangat melekat adalah kurang lebihnya sebagai berikut: Seorang wartawan ditangkap Polisi Rahasia karena menuliskan headline di koran berjudul “50% Politisi Rusia adalah penipu.” Lantas ia diminta merevisi judul itu, dan diancam jika tidak mau akan dipenjara seumur hidup. Singkat cerita, keesokan harinya ia mengganti headline korannya sebagai berikut “50% Politisi Rusia adalah bukan penipu.” Hahahaha, luar biasa! Kecerdasan linguistik yang amat menggelitik.

Well, saya sekarang sedang bersemangat sekali mengajak kawan-kawan untuk lebih mawas pada semua janji politik dan manuver-manuver yang sedang marak luar biasa di Indonesia. Sepertinya, akhir-akhir ini di seluruh dunia memang nampaknya kemampuan dan kesuksesan seorang politisi untuk terpilih akan sangat dipengaruhi oleh kepiawaiannya berkomunikasi menggunakan linguistic quotient-nya. Kemenangan Barrack Obama adalah salah satu tonggak kuat dalam catatan sejarah komunikasi politik. Terlepas komunikasi yang dipakai itu etis ataupun tidak. Dalam teori konspirasi, tidak ada yang namanya kebetulan, semua yang ada harus dicari keterhubungannya.

Nah, untuk memulai marilah kita lihat screenshot yang saya ambil dari detik.com beberapa hari ini, silahkan lihat di bagian warna merah mengenai polling SMS itu. Judul polling :

“Siapa yang paling pantas diajak Megawati sebagai Cawapres?” Sri Sultan HB X atau Hidayat Nurwahid.

polling

Mari kita kaji fenomena ini secara linguistic dengan menggunakan NLP. Disiplin NLP menjanjikan pembelajarnya akan lebih cerdas secara linguistik.

Nah, sambil Anda mengingat kisah “50% politisi Rusia adalah penipu”, mari kita lihat kalimat “Siapa yang paling pantas diajak Megawati sebagai Cawapres”. Kalimat ini menyimpan beberapa asumsi (sesuatu yang yang tidak perlu dikatakan secara terang-terangan

kepada pembacanya), yakni :

1. Berarti salah satu pilihan adalah “tidak pantas”.

2. Yang “mengajak”, sudah lebih pantas dari yang “diajak”

3. Yang “mengajak” sudah pantas pada posisi RI 1

4. Megawati punya kapasitas / perlu dipertimbangkan sebagai “pengajak”

Nah, dalam bahasan NLP, kehadiran asumsi ini sering disebut sebagai presuposition, atau bahkan sering dikatakan sebagai stealth pattern. Hal ini disebabkan, ia hadir tapi tidak kentara keberadaannya. Saking tidak kentaranya, ia menyusup demikian saja ke bawah sadar komunikan, terutama jika ia tidak kritis. Dan umumnya masyarakat kita tidak kritis secara linguistik.

Nah, jadi polling di atas, memiliki peluang besar untuk “menanamkan” ke bawah sadar pembacanya minimal 4 asumsi di atas. Saya tidak tahu, apakah polling ini memang sengaja didisain oleh pihak tertentu untuk “menanamkan” ke 4 hal tersebut atau hal ini terjadi secara tidak disengaja. Yang jelas hasilnya toh sama saja, mau sengaja ataupun tidak, ke 4 hal tersebut akan masuk ke bawah sadar dengan diam-diam seperti siluman.ini memiliki efek hypnotic secara conversational.

Nah mari kita bandingkan bagaimana halnya jika dituliskan seperti ini : “Siapa yang paling cocok berpasangan dengan Megawati?” Dalam hal ini, apa saja asumsinya ? :

1. Megawati perlu pasangan

2. Pasangan bisa saja RI 1 atau RI 2

3. Ada yang cocok dan yang tidak untuk menjadi pasangan Megawati.

Nah, efek siluman yang masuk ke benak pembaca sih biasa-biasa saja, sebaimana disebut di 3 point di atas. Tidak ada suatu hal baru yang ditanamkan / tertanam.

Kiranya mudah disadari bahwa contoh yang diambil dari polling itu bukanlah membicarakan mengenai Partai tertentu, atau secara pribadi membahas Mbak Mega, Sri Sultan maupun Pak Hidayat. Tulisan ini adalah edukasi politik dari sisi linguistik NLP. Tentunya ini bisa menggunakan peristiwa apapun yang paling uptodate atau tengah berkesan di mata publik.

Latihan menyadari suatu gejala makna yang diam-diam menyeruak masuk ke rongga pikiran kita tanpa disadari. Well, satu latihan di atas saja mungkin sudah cukup mengagetkan buat kita.. Nah, ada berapa banyak gejala dan pengalaman yang Anda miliki setiap hari secara linguistik yang bisa mempengaruhi bahkan membahayakan kehidupan diri Anda?

Contoh bagaimana linguistik mempengaruhi hidup seseorang, di salah satu orang di internet, tertulis “Hidup terlalu pendek untuk dicemaskan, memiliki tatoo dong”. Pendapat saya ini tidak untuk mengadili si penulis, namun untuk membahas efek dari semboyan hidupnya ini lho…

Kalimat ini di NLP disebut memiliki bentuk Causal Effect, di mana kalimat memiliki kekuatan if-then yang menggiring logika pembaca unuk menyetujui kesimpulannya. Secara sugestif, kalimat di atas akan berpengaruh bagi orang yang setuju bahwa hidup ini pendek, maka ia merasa menjadi perlu memiliki tatoo. Tentunya pendapat setiap orang berbeda-beda mengenai tatoo, namun saya lebih suka kalimat ini : “Hidup ini terlalu pendek untuk disesalkan, pastikan tidak memiliki tatoo”.

Contoh berikutnya, saya menemui di salah satu web motto hidup seseorang “Kita hanya dapat mendengar jika kita dalam kesunyian”. Quotes ini aslinya dalam bahasa Inggris, dengan mengedepankan permainan huruf “SILENT” dan “LISTEN”. Well, mudah dipahami bahwa penulisnya memiliki limiting belief terhadap proses komunikasi. Keyakinannya ini berimbas, suatu rasa tidak mampu untuk mendengarkan apabila kondisi tidak sunyi.

Waaah, bukahkah tidak setiap saat kita bisa mendapatkan kesunyian pada saat kita seharusnya bisa mendengarkan? Bukankah jauh lebih asyik kalau kita mengembangkan kemampuan mendengarkan sekalipun kondisi tidak sunyi? Aduh, mungkin ini pula yang menyebabkan kandasnya perkawinan si penulis itu, sebuah kutipan itu menunjukkan indikator “communication breakdown”. Bukankah jauh lebih memberdayakan jika kita percaya, bahwa tidak hanya dalam kesunyian saja kita bisa mendengarkan? Sebab kehidupan riil tidak selalu memberikan kesunyian untuk kita setiap kita inginkan bukan?

Well, Mari kita lakukan percobaan… Bagaimana jika website Anda mengeluarkan suatu polling baru berjudul: “Siapa yang paling pantas mendampingi Anda sebagai pasangan hidup?” Nah, bagaimana feeling Anda sekarang… Tentunya lebih mudah dipahami khan…

Kecerdasan Linguistik

Saat saya mempelajari pertama kali mengenai Linguistik di Licensed Practitioner of NLP, saya langsung menyadari bahwa siapa yang menguasai linguistik dan dapat melakukan utilisasi dengan baik, dialah yang paling persuasif. Asumsi / presuposisi hanya satu dari buanyaaak sekali model bahasa yang dapat dipakai dalam melakukan sugesti.

Bahkan kenyataannya, belajar NLP akan menyelamatkan kita dari persoalan, karena kita tidak mudah lagi dibujuk / terbujuk orang lain yang mungkin niatnya kurang tulus. Melalui pengenalan pola bahasa linguistiknya, kita dapat membaca apa yang tersirat secara lebih conscious.

Melalui belajar linguistik NLP, kita dapat merancang kalimat-kalimat untuk berbicara dengan anak kita dari arah yang lebih memberdayakan, bukan menggunakan ancaman-ancaman dan gertakan sebagaimana sering dilakukan orang tua jika kurang sabar dengan anaknya. Mari kita gunakan ilmu linguistik untuk lebih cerdas dalam mensikapi janji politik…

Mari kita bantu masyarakat memahami kekuatan linguistik, agar tidak hanya menjadi sasaran empuk para persuader, seducer dan “promiser”.

Jika masa depan negara ini hanya diletakkan pada permainan linguistik saja. Alangkah menyesalnya kita nanti…

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 7.2/10 (9 votes cast)
Seri NLP dalam Politik #01, 7.2 out of 10 based on 9 ratings

2 Responses to “Seri NLP dalam Politik #01”

  1. Taufiq Says:

    linguistic quotient

    Hm… saya mulai mengerti.. tks pak Rony atas artikel yang mudah dimengertinya.. banyak contoh real.. dan saya langsung mengingat-ingat kalimat-kalimat seperti itu.. intinya sudah mulai mawas diri..he..he.. SEMANGAT..!!

  2. Iwan Adjie Says:

    Wah artikel yang menarik dan tepat diketahui sebelum tanggal 9 April. Pak Ronny, bapak telah membuat saya mengubah partai pilihan saya ha ha ha

Leave a Reply