by Hingdranata Nikolay
Director INSPIRASI INDONESIA / NLP INDONESIA
“Imajinasi dan Perilaku di dunia realita menggunakan jaringan neuron yang
sama!”
Ada satu hal menarik mengenai bagaimana PIKIRAN kita bekerja. Di NLP dikenal
istilah MIRROR, yakni bagaimana seseorang menyesuaikan pikiran dan
fisiologinya dengan orang lain untuk membangun sebuah hubungan yang lebih
dalam. Dalam disiplin Neuroscience dikenal istilah ‘mirror neuron’ yang
maksudnya kurang lebih sama, yakni jaringan neuron di otak kita yang
beroperasi berdasarkan apa yang kita PIKIRKAN atau INDERAKAN dari dunia
luar. Saat kita ‘melihat’ seseorang melakukan sesuatu, misalnya ‘membaca’,
pikiran kita tidak hanya secara pasif melihat aktifitas tersebut. Pada saat
yang bersamaan tersebut neuron-neuron kita yang bertanggung jawab untuk
proses ‘membaca’ terpicu dan tertembakkan, walaupun kita tidak sedang
‘membaca’. Sementara kita hanya ‘melihat’ seorang membaca, neuron yang juga
aktif di otak kita adalah ‘membaca’. Bagian Linguistic dalam NLP pun
mendeskripsikan hal yang sama, bahwa ‘bahasa’ yang kita UCAPKAN pun tidak
saja memberikan asosiasi sesuai pemahaman atau makna kita terhadap kata
tersebut, juga membangkitkan neuron yang berhubungan dengan kata-kata
tersebut.
Karena itu disebut sebagai ‘mirror neuron’. Sama halnya dengan saat kita
memikirkan sedang ‘berenang’. Representasi proses ‘berenang’ di pikiran akan
secara otomatis memicu jaringan neuron yang bertanggung jawab atas aktifitas
fisik ‘berenang’ untuk tertembakan. Sama halnya dengan saat kita mengatakan
“Gampang!” atau lawannya, “Sulit!”. Kedua kata ini akan membangkitkan neuron
yang berbeda. Karena itu pula kita mudah berempati dan mudah terpengaruh
oleh orang yang kita amati, dengarkan, dan terlibat dalam interaksi dengan
kita, entah yang dengan ‘sadar’ kita lakukan, maupun ‘tidak sadar’.
‘How’-nya sangat sederhana. Dorsolateral di prefrontal cortex dan anterior
cingulate di otak kita yang bertanggung jawab atas aktifitas penyamaan
antara PIKIRAN dan PERILAKU ini. Karena itu para pakar Fisika Kuantum dan
Neuroscientist mengatakan bahwa otak kita tidak bisa membedakan yang mana
yang realita, yang mana yang hanya imajinasi. Keduanya diproses sama!
Imajinasi dan perilaku di dunia realita untuk sebuah konteks tertentu,
menggunakan jaringan neuron yang sama!. Saat kita PIKIRKAN atau
IMAJINASIKAN sesuatu, otak kita ‘membeli’-nya seolah-olah kita sedang
melakukannya. Dan saat kita sudah IMAJINASIKAN sesuatu, seolah-olah kita
benar-benar telah LAKUKAN. Kalau ada yang bilang ‘fake it until you make
it’, atau ‘pura-pura saja bisa, sampai benar-benar bisa’, jangan pernah
remehkan ungkapan itu! Justru itu bisa jadi jalur super cepat menuju yang
kita inginkan. Kenapa para ahli pengembangan diri berteriak-teriak agar
Anda mempunyai IMAJINASI yantg positif mengenai diri Anda, MEMBAYANGKAN
kesuksesan, dll., sekarang Anda tahu penjelasan sederhana Neurological-nya!
Apapun yang kita OBSERVASI, BAYANGKAN, IMAJINASIKAN, DENGARKAN, HIRUP
BAUNYA, RASAKAN SENTUHANNYA, KATAKAN, PIKIRKAN, menembakkan jaringan neuron
tertentu sehubungan dengan itu!
Inilah yang menyebabkan kadang-kadang kita telah MEMIKIRKAN untuk MELAKUKAN
sesuatu, tapi belum LAKUKAN, setelah melewati beberapa aktifitas lainnya,
kita bisa tertipu oleh PIKIRAN dan IMAJINASI tadi, seolah kita benar-benar
sudah LAKUKAN. Menarik untuk menyaksikan dua orang berargumentasi, yang satu
dengan yakin mengatakan “Kamu tadi LAKUKAN itu”, sementara yang satu yakin
“Tidak! Saya tidak LAKUKAN itu!”. Keduanya begitu ‘yakin’ dengan PIKIRAN
sendiri-sendiri. Terlepas dari siapa yang benar, si A antara benar-benar
melihat si B melakukannya, atau pernah meng-IMAJINASI-kan si B melakukannya,
dan si B antara pernah MELAKUKAN-nya atau pernah meng-IMAJINASI-kan tidak
melakukannya. Anda pasti pernah mengalami interaksi di mana Anda dengan
yakin 110% berkata kepada seseorang “Saya sudah pernah bilang itu ke kamu!”,
sementara Anda heran dengan respon partner komunikasi Anda yang yakin 110%
Anda tidak pernah katakan itu. Siapa yang hanya ber-IMAJINASI, siapa yang
mengungkapkan REALITA? Kecuali mungkin ada saksi, atau ada sebuah kamera
yang merekam hal ini, keduanya masih dalam posisi 110% yakin! Itulah
kehebatan PIKIRAN! Yang REALITA bisa hanya dianggap IMAJINASI, sementara
yang IMAJINASI bisa dianggap REALITA!
Yang menarik adalah, karena neuron yang dipergunakan antara IMAJINASI dan
REALITA adalah sama, kenapa kita tidak meng-IMAJINASI-kan hal-hal yang bagus
dan bermanfaat saja? Karena asosiasi dan PERILAKU fisiologis kita akan
bercermin pada IMAJINASI atau PIKIRAN kita! Kenapa kita tidak secara lebih
sering BERPIKIR PD? BERIMAJINASI berhasil? MEMBAYANGKAN yang terbaik?
MEMBICARAKAN hal-hal seputar kebahagiaan?
Have a positive day!
Leave a Reply