Mar 17

by dr. Stefanus Isaac Tamzil

Suatu sore di sela-sela kunjungan ke Jakarta, ketika baru saja menikmati layanan sempurna dari terapis yang cantik dan seksi di sebuah pusat kebugaran, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Rupanya kawan-kawan alumni dan coach Cahaya Hati sedang ngumpul dan mengundang untuk bergabung bersama sambil kongkow-kongkow.

Setibanya di sana; kawan-kawan sudah bercerita tentang sebuah web sebagai sarana menulis bagi para alumni BP. Rencana launchingnya bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Masih belum sadar benar dengan pembicaraan teman-teman, Coach Cahaya Hati langsung nyelutuk, “Hayo, nyumbang tulisannya, dong.”

Sejujurnya waktu itu saya belum ada ide sama sekali untuk menulis tentang apa. Motivasi awal saya belajar NLP sampai hari ini juga sudah jauh melenceng. Ketika banyak kawan tertarik dengan metode dan teknik, saya masa bodoh dan kayaknya kok jadi semakin tidak bernafsu.

Di awal 2000-an saya begitu tergila-gila dengan ilmu NLP ini. Konon ilmu ini bisa menjadikan praktisinya seperti “Tuhan”. Sebagai seorang lulusan sekolah kedokteran, saya sangat tahu bahwa penyembuhan alergi membutuhkan waktu dan tenaga yang lama namun dengan metode dan teknik NLP kadang hanya butuh waktu 3-60 menit. Dan masih banyak lagi “keajaiban-keajaiban” yang dapat dilakukan metode dan teknik NLP ini.

Kemudian saya pasang target harus mencapai Master Practitioner NLP langsung dari para founder dan Master Hypnosis dan Hypnotherapis dari ahlinya. Harapan saya waktu itu cuma satu. Mau cari uang sebanyak-banyaknya; siapa tahu juga dapat bersenang-senang dengan wanita cantik di mana-mana.

Hanya saja masalahnya mulai bermunculan ketika saya sudah mendapat sertifikasi Master Practitioner NLP dari NLP Comprehensive di Colorado, USA. Bisnis yang saya kembangkan bukannya maju, kok malah mundur teratur.

Semua metode dan teknik seolah lumpuh untuk menyelamatkan bisnis dan keluarga saya. Hubungan keluarga bukannya semakin intim, malah sebaliknya yang terjadi. Padahal kami berdua sudah Certified Practitioner NLP. Kemampuan ilmu NLP untuk mengerti orang lain, bukannya dipakai untuk membuat keluarga lebih harmonis, melainkan dipakai untuk saling memanipulasi antar anggota keluarga yang sudah mempelajari NLP, sehingga anak yang menjadi korban.

Sampai suatu ketika ada seseorang yang datang ke saya dan berkata,”Heran, ya. Sudah belajar NLP sampai tingkat Master Practitioner dari para founder di Amerika, kok dalam kesehariannya tidak menunjukan sikap NLP yang benar.”

Saya bingung. Lalu saya mempertanyakan apa maksud dari kalimat tersebut, “Maksud Anda?”

Orang ini malah balik bertanya, “Apa sih, inti NLP?”

Saya jawab, “Memodel.”

“Memodel siapa dan untuk apa?”, tanyanya lagi.

“Memodel orang yang excellent agar menjadi excellent.”

“Untuk menjadi excellent, apa hal pertama yang harus dimiliki seseorang itu?”

“Maksudnya?” Tanya saya semakin bingung dan mulai jengkel.

Orang ini malah bertanya lagi, “Semua metode dan teknik NLP diawali dengan apa?”

Clear Outcome!” suara saya mulai meninggi.

Clear Outcome? Apaan tuh?”dengan kalem orang ini bertanya dengan nada sinis.

Clear Outcome, ya Clear Outcome! Outcome yang jelas!” Jawab saya dengan wajah memerah dan nafas tersegal-segal karena hati ini sudah mulai tidak karuan.

“Loh? Iya, betul…. Intinya Outcome apa, sih?” Saya seolah dicecar terus oleh manusia ini.

Pada titik itulah akhirnya saya sadar. Dan pada saat yang sama saya menjadi ragu-ragu; apakah betul ilmu NLP ini sesuai dengan keinginan saya untuk memajukan bisnis. Dimana ketika itu saya sudah mulai menjual metode dan teknik NLP yang saya pelajari.

Ternyata semuanya itu pada akhirnya adalah kebohongan belaka, bahkan berakibat keretakan rumah tangga dan ambruknya bisnis saya. Tersadarlah saya akan inti outcome saya yang sesungguhnya.

Demikianlah sekilas cerita tentang bagaimana kebohongan dan tipu daya penerapkan NLP di dalam kehidupan dan bisnis saya. Nanti saya lanjutkan lagi dengan kebohongan dan tipu daya yang berikutnya.

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 8.4/10 (15 votes cast)
Petuah yang Disalahgunakan, 8.4 out of 10 based on 15 ratings

3 Responses to “Petuah yang Disalahgunakan”

  1. Hani Says:

    Ada ke kuatiran dan keingin tahu an akan kelanjutan catatan ini… Kuatir, klo terus membaca jd menyalah gunakan juga(mungkin) di sisi lain ke ingin tahu an kelanjutan catatan ini..what’s all notes about gitu… :)

  2. Herry S Says:

    Interesting…jadi pengen melihat pengembangan dan keterkaitannya dengan “ergonomis”

  3. Abee Says:

    “Sleight of mouth” yg mencerahkan Pak…:)

Leave a Reply