Suatu ketika seorang sahabat memperlihatkan sebuah buku kepada saya. “Pak, ini ada buku yang sangat luar biasa. Bagaimana menurut bapak tentang buku ini?” ujarnya berapi-api.
“Mohon maaf, saya belum dapat memberikan komentar. Sejujurnya saya belum pernah membaca buku ini.” kata saya.
Mendengar jawaban saya, sahabat tersebut tidak berkomentar banyak, tetapi saya menangkap bahasa tubuhnya mengatakan, “Kok bisa, ya? Buku best seller dan banyak dibicarakan orang-orang dari kalangan trainer sampai orang awam belum dia baca.”
Saya kemudian tersenyum kecut terhadap ketidakpedulian saya pada perkembangan dunia training di Indonesia. Akhirnya sahabat saya ini meminjamkan buku yang dimaksudkannya kepada saya.
Ternyata buku tersebut berisi rahasia untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Penulis buku itu meyakini bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk mendapatkan APAPUN yang diinginkannya seperti layaknya lampu Aladin.
Jika hal itu yang dikatakan buku tersebut, sebetulnya bukanlah merupakan rahasia baru. Itu adalah barang lama yang dikemas ulang dengan lebih menarik. Hanya kali ini disajikan secara multimedia, sehingga bagi yang malas membaca bukunya cukup menonton filmnya.
Isi dari filmnya pun tidak kalah menarik dengan menampilkan kesaksian dari berbagai tokoh; baik yang nyata ataupun tokoh imajiner. Persamaan dari kesaksian mereka adalah jika seorang manusia mampu melakukan visualisasi dan meyakini apa yang diinginkannya maka alam semesta pasti akan menyediakannya.
Malam itu saya tidak dapat tidur karena teringat kembali segala tipu daya dan kebohongan yang pernah saya lakukan kepada para mitra bisnis saya. Terutama pada saat memotivasi mereka agar memiliki omzet penjualan yang besar. Pada saat itu,bukan saja visualisasi yang saya ajarkan melainkan juga segala bentuk afirmasi. Misalnya, meminta mereka menggunting gambar impian dan menempelkan di tempat-tempat yang mudah terlihat. Jika perlu di langit-langit kamar tidur agar setiap mau beranjak dan bangun tidur selalu mengingat impian tersebut. Melakukan afirmasi setiap pagi dan sore di depan cermin dengan kalimat, “Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Jika Anda pikir bisa maka Anda pasti bisa!”
Sambil mengingat kembali keheranan saya ketika belajar NLP. Mengapa para founder yang saya kenal tidak mengajarkan konsep visualisasi dan afirmasi untuk meraih sukses seperti yang saya pelajari sebelumnya.
Jika ditanya, mereka rata-rata tersenyum simpul. Ada yang mengatakan, “We don’t use that for outcome.”, sedang yang lain mengatakan,”Wellformed Outcome is enough.”
Setelah menamatkan Master Practitioner, saya kembali melanjutkan bisnis saya melalui penggabungkan ilmu NLP dengan visualisasi dan afirmasi sehingga melahirkan ilmu baru yang saya namakan visualisasi dan afirmasi ala NLP.
Langkah-langkah itu lebih sistematis, logis dan menyemangati bagi yang mempraktekannya dibandingkan jika ilmu tadi berdiri sendiri-sendiri. Tetapi anehnya, kok malah bisnis saya jadi hancur dan rumah tangga menjadi retak (baca: Petuah yang Disalahgunakan 1). Apanya yang salah, nih? Semakin dicari jawabannya, bukannya mendekat malah semakin menjauh.
Saya sangat marah kepada SANG PENCIPTA AGUNG. Mengapa mempermainkan diri saya? Saya pikir sepertinya sudah banyak yang saya lakukan untuk kebaikan sesama, tetapi kenapa saya masih dibalas dengan duka nestapa serta derita tiada akhir?
Saya teringat kembali akan orang misterius yang menyadarkan saya tentang inti Outcome. Saya pikir inilah saatnya membalas dengan menguji pertanyaan ini kepadanya. Saya yakin dia pun pasti bakal kelimpungan. Tetapi ternyata jawabannya semakin membuat saya marah dan kesal. Dengan entengnya dia cuma bilang,”Selama kamu masih melakukan PEMBENARAN dalam hidup ini, outcome kamu tidak akan pernah tercapai.”
“Apanya yang PEMBENARAN?!!!”, maki saya dalam hati karena setiap ditanya, jawaban yang diberikan seputar itu-itu melulu. “Saya ini sedang ada masalah dan mencari jawaban serta solusi atas masalah yang sedang dihadapi!!! Bukan sedang bermain tebak-tebakan!”
Sampai akhirnya di satu titik, saya kembali tersadarkan akan KEBENARAN dari presupposition “The Map is Not The Territory.” Saya sekarang menjadi paham akan jawaban dari para founder NLP terhadap visualisasi dan afirmasi.
Saya sadar bahwa semua keyakinan saya mengenai afirmasi, visualisasi ataupun terori-teori sukses dan kekayaan itu semuanya adalah Map dan bukanlah Territory atau kebenaran yang sesungguhnya.
Apa yang menjadi kebenaran yang sesungguhnya?
Ada banyak orang di dunia mempunyai map yang sangat besar dan luas. Map mereka mengatakan : manusia adalah ciptaan special dari SANG PENCIPTA AGUNG.
Seandainya Map itu benar dan merupakan sebuah aksioma, timbul pertanyaan dalam diri; saya ini siapa? Sampai berpikir dapat memerintah SANG PENCIPTA AGUNG - THE GREAT BIG BOSS?
OH LORD, Ampuni aku yang telah mengelabui, membohongi dan melakukan tipu daya pada banyak ciptaanMU dengan mengatakan ada CARA lain “secara sains” untuk membuat ENGKAU mengabulkan SEMUA KEINGINAN kami yang kadang hanyalah untuk pemuasan hawa nafsu belaka. Amin.

July 13th, 2009 at 10:06 am
Terima kasih petuahnya Pak Stef.
Setiap orang tampaknya memang memiliki tahapan pembelajarannya masing2 ya Pak. Di level seperti Bapak, hakikat lah yang muncul. Sementara bagi orang lain, mungkin masih di levelnya sendiri2.
July 22nd, 2009 at 8:22 am
Salam Pak Teddy,
Terima Kasih pada Commentnya,
saya sendiri tidak mengerti pada level level pembelajaran , saya hanya mencoba utk berbagi pada teman teman mengenai bahaya yang saya alami sewaktu mencoba mencampur adukkan NLP dengan ilmu ilmu lain ,apalagi pada ilmu yang presuppotitionnya seakan akan mengatakan ” manusia mempunyai kuasa utk mendapatkan apapun yang dia inginkan hanya dengan Visualisasi , affirmasi, keyakinan dan bersyukur” ,dan mengabaikan pentingnya Ekologi didalam rancangannya Outcomenya.
salam sukses , semoga pengalaman saya yang sangat mungkin berbeda dengan pengalaman teman teman yang lain dapat membawa manfaat
March 11th, 2010 at 9:25 pm
Salam Sukses pak Stef
Sekedar sharing pak, mungkin nanti Pak Stef bisa bertanya kepada pak Syaiful betula atau tidak.
Di dalam Al Quran Allah berfirman : “…Berdoalah kepadaku, maka Pasti aku kabulkan…”
Kemudian dalam Surat Ibrahim ayat 7 Allah Berfirman: ” Bersyukurlah kepadaku, maka Niscaya aku akan menambah Nikmatku kepadamu….”
Disitu ada kata PASTI dan NISCAYA, dan yang berkata adalah yang Maha AGUNG dan MAHA MENEPATI JANJI dan MAHA SEGALANYA…
Jadi bisa dikatakan bahwa Doa dan Syukur adalah suatu ILMU PASTI!!! Bahkan Lebih Pasti dibanding dengan AXIOMA!!! Karena ini adalah Firman Tuhan.
kemudian jika masih banyak yang belum dikabulkan Doa-nya oleh Tuhan, bukan berarti Tuhan itu Bohong.. tetapi mungkin ada beberapa syarat dikabulkannya Doa tadi belum dipenuhi oleh manusia. Tinggal Manusianya saja yang Introspeksi diri dan Tahu Diri kenapa Doa-nya Belum / Tidak dikabulkan.
Kemudian NLP terlalu mendewakan Otak sebagai Tolak Ukur Kesuksesan, apalagi di Tulisan anda yang lain anda pernah bercerita bahwa Coach anda berkata didalam otak selain ada Pikiran juga ada Perasaan??? Tipuan apalagi ini???
Anda berkata sudah ingin Tobat Menipu dan Membohongi orang lain, tapi dengan mengatakan di Otak ada Perasaan, itu adalah SUATU KEBOHONGAN BESAR.
Dalam Al Quran, Allah berfirman: “…. Di dalam tubuh manusia terdapat segumpal Darah/daging, apabila daging itu baik, maka baiklah manusia itu.. dan apabila daging itu Rusak, maka rusaklah Manusia itu. dan Daging itu bernama Qolbu…”
Qolbu adalah bahasa Arab, dalam bahasa Inggris adalah “Heart” dan dalam bahasa Indonesia adalah Jantung(Hati).
Anda benar, bahwa Perasaanlah yang menghambat Kemajuan seseorang dan bukannya Pikiran. Dan Letak Perasaan itu bukan di Otak pak, Tapi letak Perasaan itu di JANTUNG!!!
Contoh sederhana saja, jika anda sedang marah, maka Perhatikan bagian tubuh anda yang mana yang paling Terasa dari Marah ini? Jawabannya Pasti JANTUNG dan bukan OTAK. Jantung anda pasti berdegup Kencang seakan ingin Meledak, dan otak anda santai2 saja.
atau contoh lain. Jika anda bertemu dengan seseorang yang kita cintai saat muda dulu, anda pasti akan merasakan Jantung anda Deg - Degan… Karena Gembira, Senang dan Grogi bertemu idaman hati anda, dan lagi2 bukan Otak anda.
Jadi Pak Stef, coba anda Rundingkan dengan Pak Syaiful Bachri tentang ini. Bertobatlah dengan sebenar - benarnya Tobat.. Jangan Kita sudah tobat dan merasa memberikan ILMU yang Benar, tapi Ternyata ILMU itu Malah Lebih Salah lagi…???
Saya juga mungkin salah dalam memberikan Comment ini, tapi ini sangat Penting untuk Disharingkan… Karena Tuhan Tidak Pernah Salah Berbicara dalam Kitab Sucinya… Yang salah mungkin Penafsirannya. Mari sama - sama kita Sharingkan. Salam Sukses buat Pak Stef.
Wallahualam…
March 11th, 2010 at 9:37 pm
Pak stef khan seorang dokter, coba Pak Stef periksa benar atau tidak Pernyataan ini.
Saya pernah membaca sebuah buku Bio-Fisika, disitu dikatakan bahwa: Medan Listrik Jantung 80X Lebih Kuat dibanding Otak. Dan Medan Magnet Jantung 5000X Lebih Kuat dibanding Otak.
Itulah yang menyebabkan apabila Otak(Pikiran) Berkata Sukses, Tapi Jantung(Perasaan) anda berkata Gagal. Maka Kegagalanlah yang Terjadi… Karena Medan Magnet untuk Menarik Kesuksesan Otak Jauh Lebih Kecil dari Medan Magnet Jantung untuk Menarik Kegagalan???
Saya Sangat Setuju dengan Pelatihan NLP Atitude anda yang mengatakan bahwa Perasaanlah yang Menentukan Sukses atau tidaknya seseorang…
Tapi saya Sangat Tidak Setuju apabila Perasaan Itu Letaknya Diotak!!! Ini adalah Pembohongan Publik!!!
Sangat Berbahaya!!!
Dari dulu juga kita tahu bahwa Otak adalah Tempat Berpikir dan Jantung(Hati) adalah tempatnya Perasaan…
Sadarlah wahai rekan - rekan Coach n Trainer NLP
June 18th, 2010 at 12:31 am
ingat rumusnya :
1-Kecerdasan intelektual
2-Emosional
3-Spiritual
Kalau di gabung pasti ketemu akar permasalahanya.
jangan logika melulu…spirtual perlu untuk kita masuk surga.
otak saja ada dua Kiri dan Kanan :
harus di seimbangkan….kalau engga seimbang ( jadi otak miring )
Kalau mau jalan harus lihat kiri dan kanan
kalau engga bisa ke tabrak.
hehehehehe.
wasalam
June 18th, 2010 at 12:34 am
Pak saya saranin ikut gaji dulu aja deh….
Entar udah hatam
boleh ngajar lagi.
Malukan udah bayar kursus NLP Mahal-mahal ternyata masih kalah sama pak ustad.