“Apakah memang ada perbedaan antara subconscious mind dan unconscious mind. Bedanya di mana? Dan bagaimana tahu perbedaanya? Mohon pencerahan!”
Pertanyaan di atas diajukan oleh seorang penanya di dunia maya ke saya. Pertanyaan ini membuat saya agak kaget karena dalam dunia NLP modern, hal ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Apalagi sejak adanya kebutuhan para founder NLP untuk melakukan pengkaderan trainer dan peneliti NLP generasi baru di awal tahun 2000-an. Dimana Robert Dilts memulai dengan Millenium Project, dan sepanjang yang saya tahu John Grinder dengan New Code-nya, Richard Bandler dengan Neuro Hypnotic Repatterning-nya, Connirae Andreas dengan Core Transformation dan banyak lagi. Saya pikir mereka sudah mulai mengajarkan kepada kader-kader utamanya dalam kelas khusus tentang perbedaan di antara keduanya.
Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya masih belum membedakan keduanya di dalam training yang saya selenggarakan.
Pada saat itu saya baru saja selesai mengajar di sebuah kelas dan para peserta pun baru selesai memberikan kesaksian atas hasil yang mereka dapatkan dari kelas tersebut. Dalam keadaan yang puas dan berbangga diri, tiba-tiba Coach mendatangi dan mengatakan, “Saya kecewa, kamu masih belum bertobat, tipu daya kamu dalam pengajaran masih terlalu jahat.”
Saya bingung. “Loh, semua yang saya ajarkan sesuai dengan teori dari NLP. Salah di bagian mananya?”, ujar saya membela diri.
“Kamu ngajarin mereka doktrin yang kamu dapatkan di Amerika bahkan tanpa menyesuaikan dengan budaya Indonesia.”
“Tapi ‘kan berhasil dan mereka semua happy.” jawab saya dalam keadaan antara marah dan bingung.
“Kalau kamu tidak tahu kenapa sebuah metode dan teknik itu berhasil pada seseorang. Dan apa yang kemudian mengubah kehidupan seseorang; kamu tidak akan tahu dampak dari terapi dan pengajaran yang kamu berikan hari ini bagi kehidupan orang tersebut selanjutnya.”
“Maksudnya?” Mata saya memicing tajam menatapnya tetapi di saat yang sama tenggorokan saya sepertinya tercekat dan kering.
“Kamu tahu ‘kan bahwa banyak orang menjadi terlalu percaya diri sehingga hidupnya malah jadi bangkrut setelah ikut training jalan di atas api yang diselenggarakan di Malaysia dan Singapura.”
“Betul? Memang masalahnya ada di mana?”
“Masalahnya adalah mereka tidak tahu mengapa metode dan teknik itu terlihat seperti membawa perubahan.”
“Lalu? Dari para founder pun saya belajar bahwa dalam NLP lebih menekankan akan ‘How’nya daripada ‘Why’nya.”
“Betul!”
“Di tingkat praktisi dan master praktisi bahkan di tingkat trainer juga jarang membicarakan ‘Why’nya. Kenapa hal ini sekarang jadi masalah?”
“Setuju! Coba kamu ingat-ingat lagi pada waktu kamu mendapatkan kelas khusus Robert Dilts… Apa yang kamu pelajari di sana?
Saya terdiam dengan pertanyaan itu.
Coach kemudian melanjutkan,“Di tingkat seperti ini kamu seharusnya sudah dapat membedakan ‘Why’ sebagai pembenaran atau ‘Why’ yang dipakai sebagai tools awal untuk mengenal kebenaran.”
“Ok, baik. Tapi dalam hal apa saya perlu berubah agar tidak menjerumuskan orang-orang dari pemahaman yang merugikan?”
Sambil tersenyum tipis Coach berkata, “Mulailah membedakan Subconsciuous dan Unconsciuos dalam pengajaran dan terapimu.”
“Hah!!? Apakah hal itu begitu penting untuk tingkatan NLP Indonesia saat ini?” ujar saya setengah protes. (Saat itu masih di awal tahun 2000-an)
Dengan tenang Coach bertanya kembali, “Apa bahasa Indonesianya untuk menerjemahkan Subconscious Mind?”
“Pikiran Bawah sadar!” jawab saya setengah berteriak.
“Apa? PIKIRAN Bawah Sadar?” Nada dan suara Coach agak keras dan sinis.
“Emang betul, kok. Apanya yang salah?” Kenapa dari tadi semuanya salah terus, batin saya yang memang sudah sangat kesal dari sejak tadi.
“Pada waktu kamu menyebut Pikiran Bawah Sadar ke murid-muridmu. Kamu sudah menginstall bahwa Mind manusia hanyalah terdiri dari pikiran. Orang seperti kamu inilah yang telah merusak bangsa ini sehingga sampai pada kondisi seperti sekarang ini.”
“Loh? Mind itu ‘kan pikiran. Dimana-mana terjemahannya begitu!” ujar saya dengan marah.
“Coba buka kamus Thesaurus. Apa itu Mind?”
Jawab saya, “Isi otak. Brain!”
“Apakah brain hanya berisi pikiran?”
Di situ saya tersentak sadar, “Oh!”
“Di dalam Mind manusia berisi pikiran dan perasaan sehingga ketika kamu menterjemahkannya sebagai PIKIRAN Bawah Sadar. Kamu sudah menginstall mereka untuk hanya mengunakan pikiran dan tidak mengunakan perasaan dalam bertindak dan berperilaku. Akibatnya, manusia Indonesia menjadi tidak tahu malu. Oleh karenanya bertobatlah! Sudah terlalu dalam dosa yang kamu perbuat dalam pelatihan-pelatihan yang kamu selenggarakan!”
May 23rd, 2009 at 10:23 am
Terima kasih pak telah diingatkan kembali mengenai pentingnya membedakan keduanya. Di tunggu artikel berikutnxa
May 25th, 2009 at 11:43 am
Membaca tulisan Pak Tjia Irawan..saya sbg trainer jadi ikutan bersalah dan malu…krn dalam map saya, mind ya pikiran…terimakasih pak…anda telah memberikan pencerahan…penting dan perlu, salam berkelimpahan….
March 9th, 2010 at 8:01 pm
Nah… Lha terus bedanya Sub-Conscius dan Un-Conscius itu apa pak Stev???
March 11th, 2010 at 9:43 pm
Otak itu Betul isinya adalah Pikiran. Omong Kosong dan Pembohongan Publik apabila ada yang Mengatakan di Otak ada Perasaan..!!!
Dalam Al Quran sudah banyak dijelaskan bahwa Perasaan itu letaknya di Qolbu!!!
Qolbu bahasa Arab, bahasa Inggrisnya Heart… dan Bahasa Indonesianya adalah Jantung(Hati).
Sadarlah wahai para Trainer… Sekali salah memberikan ILMU kepada orang banyak, akan sangat Berbahaya akibatnya…!!!
Sangat Berbahaya Sekali jika ada Coach NLP yang mengatakan didalam Brain itu ada Perasaan…!
March 11th, 2010 at 9:54 pm
Koreksi Pak Stef.
Otak itu memang benar isinya cuma Pikiran.. Dan Perasaan itu Letaknya Di jantung pak…
Pembohongan Publik dan Sangat Menyesatkan jika ada yang berkata di Otak itu ada Perasaan Juga…
Sangat Berbahaya….
Bertobatlah….
Selama ini Indonesia banyak Terpuruk Ekonomi dan Moralnya karena terlalu mengagungakan Otak. Mereka Lupa, ada bagian tubuh lain yang Jauh Lebih Powerful yang harus diperhatikan. Yaitu Qolbu/Heart/Jantung(Hati).
Dan letak perasaan itu didalam Qolbu atau Jantung. atau oleh sebagian orang indonesia dikatakan Hati..
September 12th, 2011 at 10:48 am
@Kaisar Sukses
Oh ya..? Kalau memang Anda benar, Tolong tunjukkan kepada publik Surah dan Ayat al-Quran yang mana yang menyatakan bahwa perasaan itu adanya di jantung..? Justru orang seperti Anda yang pantas bertaubat, yang menyatakan bahwa hati cuma berisi perasaan ? Dapat dari mana ente ? Faktanya Jantung merupakan komponen tubuh yang memasok darah ke seluruh tubuh manusia. Jangan ngomong kalau gak ngerti..?
December 19th, 2011 at 11:29 pm
Bagus sekali tulisan nya Pak Stefanus….ijin share Pak.tks