Nov 1

by dr. Stefanus Isaac Tamzil

Terapi Konyol ala NLP – Terakhir

Baru kali ini perasaan saya begitu lelahnya, padahal pada awalnya saya begitu antusias untuk memulai diskusi. Emosi saya dipermainkan terus menerus sehingga saya sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri debat yang sepertinya tidak berkesudahan ini. Apalagi ketika Coach mulai menyinggung lagi perbedaan antara ‘Gejala Utama’ dengan ‘Penyebab Utama’.

Merasa punya jawaban yang tepat, saya kembali bertanya. “Lho, kalau seseorang datang dengan ‘Phobia kecoa’. Penyebab utamanya ya pasti kecoa lah. Memangnya ada yang lain?”

Tiba-tiba Coach mengubah posisi duduknya sembari bertanya “Bagaimana jika ‘kecoa’ itu adalah ‘metaphor’ dari ‘Penyebab Utama?’

“Hah??!! Apakah ada hal seperti itu?” kembali saya tersentak kaget.

“Sangat banyak! Terutama di Indonesia yang budayanya tidak memungkinkan seseorang untuk membuka diri terlalu banyak“

Coach melanjutkan dengan lirih, “Bertobatlah. Bahkan sampai sekarang para founder dan developer  NLP tidak menggunakan istilah therapy didalam karya karyanya. Berhentilah menjadi The Rapist. Dan mulai belajar menjadi therapist yang sesungguhnya dimulai dengan melakukan therapy terhadap diri sendiri.”

Tiba-tiba saya teringat kembali asal muasal mengapa kami memulai diskusi. Lalu saya pun menuntut . “Lalu mengapa Bapak berani menggunakan istilah Differential Integral Therapy?”.

Coach hanya tersenyum.

Pada saat itu saya tersadar bahwa Coach kembali lagi telah berhasil melakukan therapy terhadap kesombongan dan kemunafikan diri saya yang merasa menjadi TUHAN. Melalui keyakinan bahwa selama ini saya merasa mampu menyembuhkan JIWA MANUSIA.

Tanpa sadar air mata menetes keluar dari ujung kedua kelopak mata saya.

VN:F [1.1.6_502]
Rating: 8.9/10 (9 votes cast)

Leave a Reply