Oct 12

by dr. Stefanus Isaac Tamzil

Terapi Konyol ala NLP

Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran ketika Coach mengatakan, “Waktu kamu kuliah kedokteran dahulu apa sich yang disebut “Sembuh”; Yang diajarkan oleh guru kamu? Jangan-jangan kamu ini waktu kuliah dulu ‘Kurang Belajar’ sehingga sekarang jadi ‘Kurang Ajar’ sama pasien “

Saya yang sudah dari tadi sangat sebal menjawab sekenanya, “Sembuh itu kalau sakit dari si pasien sudah hilang.”

Coach bertanya lagi, “Jadi kalau seseorang datang dengan keluhan ‘panas badan’ , apakah dapat dikatakan sembuh jika panasnya sudah hilang?”

Dengan cepat saya menjawab, “Ya iya… lah, habis mau apa lagi?“

Dengan tidak kalah cepat Coach segera menanggapi, “HAH!!! Jadi kalau begitu kalau seseorang datang dengan keluhan panas badan kasih saja Paracetamol (salah satu obat penurun panas badan) banyak-banyak. Tidak perlu kasih yang lain lagi”.

Pada saat inilah saya mulai sadar, “Ya… tidak dong. Paracetamol ‘kan hanya untuk menghilangkan gejala panas badannya saja.”

Lalu Coach nyeletuk lagi, “Lalu kenapa dokter menambahkan antibiotik pada pasien yang datang dengan keluhan panas badan?”

Saya yang mulai mendapatkan angin mulai mengajukan protes. “Tidak semua panas badan perlu diberikan antibiotik.“

“Jangan lari dari topik. Seandainya seorang panas badan disebabkan karena tifus. Apa yang terjadi dengan pasien jika dokter hanya memberikan Paracetamol? Lalu karena dia merasa sudah sembuh dan tidak menjaga pola makan malah keluyuran seharian serta tidak istirahat yang cukup, apa yang akan terjadi?” Coach kembali membombardir saya dengan pertanyaan yang memojokan.

Saya jadi agak lemas dan perut menjadi mual ketika menjawab, “Dapat mengakibatkan ‘kematian’ karena lambungnya yang terluka dapat terjadi bocor lambung.“

Dengan suara yang tenang, Coach kembali bertanya, “Jadi apa yang disebut sebagai ‘SEMBUH’ itu?”

Tanpa perlawanan lagi, saya pun menjawab, “Kalau penyebab utama dan efek samping dari pengobatan tersebut sudah diselesaikan.“.
“Ingat baik-baik!!! Bedakan ‘Penyebab Utama’ dengan ‘Gejala Utama’. Itu yang membedakan seseorang ‘SEMBUH’ atau ‘TIDAK’. Seorang dokter saja begitu hati-hati dalam proses penyembuhan fisik sehingga tidak sembarangan melakukan pengobatan karena dapat mengakibatkan hal yang fatal. Apa yang terjadi jika kamu yang mengaku sebagai ‘terapis’ sembarangan terhadap ‘JIWA’ orang dalam melakukan sebuah proses yang kamu katakan sebagai Therapy? Bagaimana dengan nasib dari ‘JIWA’ yang malang itu kalau kamu sebagai terapisnya selalu lari dari tanggung jawab?!!!” kata Coach sambil matanya memelototi saya yang sudah sangat malu dengan pertanyaan-pertanyaan terakhir.

Dengan lirih saya masih mencoba membela diri, “Saya tidak pernah mengaku sebagai terapis. Yang saya lakukan hanyalah membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan”

Suara Coach tiba-tiba mengeras lagi, “Jangan lari dari tanggung jawab. Selama ini ‘kan setiap orang yang ‘phobia’, ‘kecanduan’, ‘depresi, ‘autis’ atau apapun, terapinya selalu itu-itu saja ‘kan? Apa bedanya seperti panas suhu badan, terapinya hanya satu yaitu Paracetamol?”

Saya kembali protes keras, “Bukankah ada begitu banyak metode terapi. Dari Fast Phobia Cure, Hypnotherapy, Client Centered, Gestalt , EFT, dll”.

Coach tersenyum mengejek, “Itu semua ‘kan hanya merk dagang yang lain dari Paracetamol. intinya hanya menyelesaikan ‘Gejala Utama’ tanpa memperdulikan ‘Penyebab Utama’!!!”

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (7 votes cast)
Petuah yang disalahgunakan IV - Bagian 2, 10.0 out of 10 based on 7 ratings

4 Responses to “Petuah yang disalahgunakan IV – Bagian 2”

  1. Abee Says:

    Inspirasional Pak !!, salam kenal. Lalu bagaimana menyelesaikan ‘Gejala Utama’ ” dan juga” ‘Penyebab Utama’!!!” dari sang pasien ?. Maaf ini pertanyaan dari pemula Pak.. mohon maaf masih belajar Pak

    Salam

  2. Stefanus Says:

    Salam Kenal Abee , menurut coach kami utk dapat menyelesaikan gejala utama dan penyebab utama maka perlu melatih SDM dari orang itu dan juga meta programnya juga , terema kasih dan maju terus

    Salam

    Stefanus

  3. rendi Says:

    Ga paham blas pak.
    Walau kata-katanya dari coach itu masuk akal. terus penyelesaiannya gimana.
    Tolong kalau menjawab itu jangan nanggung. Saya ga tau apa2 ttg NLP.

    Salam,.

  4. stefanus Says:

    Salam Rendi,

    mohon maaf jika jawabannya kurang memuaskan , mungkin dengan membaca bagian ke 3 Rendi akan menemukan jawaban yang Rendi cari , jika masih belum jelas boleh ditanyakan lagi

    terima kasih Stefanus

Leave a Reply