by Hingdranata Nikolay
Director INSPIRASI INDONESIA / NLP INDONESIA
Setiap kecenderungan di sebuah konteks tertentu awalnya terkreasikan dari sebuah perilaku baru. Awalnya pun kita tidak cenderung untuk berpikir atau berperilaku tertentu, dan kita mulai dari sesuatu yang baru. Kita ulangi, ulangi, dan ulangi. Ada re-inforcement atau ada sesuatu yang kita peroleh dari situ, entah reward, rasa aman, terhindar dari resiko, atau apapun itu, sehingga kita ulangi. Melewati waktu, dengan repetisi tersebut kita menjadi nyaman dan mahir di cara berpikir dan berperilaku tersebut. Semua kecenderungan prinsipnya adalah ‘dipelajari’ dan ‘dimahiri’.
Ini usulan ‘cara’, tanpa perlu melibatkan teknik2 NLP yang tidak dipahami secara detil oleh awam.
1. REPETISI.
Apabila di sebuah konteks kita ingin bisa lebih ‘away’, maka pelajari kecenderungan yang bermanfaat di konteks tersebut lalu LAKUKAN. Kalau kita tidak biasa beroperasi dengan program ‘away’ tentu ada potensi tidak nyaman di awal. Bagi beberapa orang, itu tanda ‘bukan gue banget’, atau ‘nggak bisa!’, yangmana kemudian mereka stop. Sah-sah saja, kalau itu PILIHAN sendiri. Tapi bagi seorang NLP, karena mau beroperasi dengan program ‘away’ di konteks tersebut, ini disebut tahap ‘belajar’ di level ‘inkompetensi sadar’ dan ‘kompetensi sadar’. Istilah umumnya, jatuh bangun, melakukan dengan masih sadar bahwa tidak enak, belum lancar, masih kurang nyaman, harus selalu dikontrol, masih butuh bimbingan, dan lain-lain.
Besok, diulangi, diulangi terus dan terus. Sampai kapan? Sampai level ‘kompetensi bawah sadar’, atau sampai merasa nyaman dan tidak perlu lagi dipikirkan saat dilakukan. Sampai otomatis. Saat mencapai taraf otomatis inilah META PROGRAM-nya sudah bergeser. Dari hasil observasi pribadi, REPETISI adalah cara yang paling menantang dan tidak disukai cukup banyak orang. Karena butuh usaha keras, melawan ketidaknyamanan, makan waktu, dan kadang harus dipaksa.
2. BERGABUNGLAH KE KELOMPOK orang dengan META PROGRAM yang ingin kita instal.
Kalau kita ingin beroperasi dengan program ‘proactive’, misalnya, maka kelompok intim kita juga sebaiknya orang-orang proactive. Saya katakan kelompok intim di sini bukan berarti tim kerja. Tapi lebih ke kelompok khusus seperti klub, organisasi, group peminatan tertentu, atau bahkan teman akrab atau gaul, dll. kita bergabung lama dengan sebuah kelompok yang beroperasi dengan META PROGRAM tertentu, lama-kelamaan kita pun akan terpengaruh. Pergeseran karena transfer META PROGRAM ini lebih mudah, karena di kelompok tersebut kita akan berbagai VALUE, BELIEF, dan bahkan IDENTITAS DIRI yang sama. Tapi, ini bukan hal mudah, karena godaan persepsi ‘bukan gue banget’ tadi, yang akhirnya membuat beberapa kita menyerah dan mengatakan ’saya tidak bisa berubah’. Kadang hal-hal seperti ini tidak secara sukarela dan kadang butuh paksaan oleh diri kita sendiri. Ingat, macan kumpul dengan macan, domba dengan domba. Orang agresif dengan orang agresif, orang pendiam dengan pendiam. Kalau mau jadi macan? Kumpul sama macan!
Kalau ada ‘gangguan’, misalnya berupa konflik internal berkepanjangan dengan pemaksaan perubahan tersebut, berarti kita perlu membangun RAPPORT dulu dengan diri sendiri. Ketidaknyaman di awal2 adalah sesuatu yang biasa, tapi kalau berkepanjangan, kita perlu meninjau dahulu unsur EKOLOGI INTERNAL kita. Kenapa ada bagian dalam diri kita yang menolak ini. Kita bisa menggunakan tools yang di NLP disebut entah PARTS INTEGRATION, SIX STEP REFRAMING, NEGOTIATING PARTS, dll.
MENGGUNAKAN SUBMODALITY?
Menggunakan tools NLP untuk membantu pergeseran META PROGRAM, bisa saja. Tidak hanya satu tool saja.
Menggunakan SUBMODALITY bisa dilakukan secara kreatif, coba cara sederhana ini.
1. Identifikasi ‘gambar’ atau ‘bayangan’ dari melakukan sesuatu dengan META PROGRAM awal kita. Identifikasi SUBMODALITY-nya. Letak, warna, ketajaman, detil, statis/bergerak, dll.
2. Identifikasi ‘gambar’ atau ”bayangan’ dari melakukan sesuatu dengan META PROGRAM pengganti. Identifikasi pula SUBMODALITY-nya. Kita akan temukan perbedaan SUBMODALITY keduanya.
3. Swap, atau tukar SUBMODALITY kedua gambar tersebut dengan CEPAT, dan perkuat untuk yang META PROGRAM-nya sesuai dengan yang kita inginkan.
4. Lakukan beberapa kali dengan semakin cepat dan cepat. Lalu notice pergeseran minat atau motivasi dalam diri sesuai aktifitas yang hendak kita lakukan.
Ini sebuah contoh PROSES sederhana saja. Masing-masing praktisi bisa dengan kreatif memodifikasi tool agar bermanfaat di konteks masing-masing.
Ingat, ini adalah alat bantu, bukan saklar otomatis yang selalu langsung
membalikan META PROGRAM secara permanen dalam semalam. Berubah hanya butuh sekian detik, tapi MAHIR di perubahan butuh waktu. Kecuali didukung oleh sebuah INTENSITAS EMOSI yang tinggi yang tersangkut dengan keinginan perubahan tersebut, REPETISI tetap kita perlukan.
Tools lain?
ANCHOR juga bisa membantu, melatih FLEKSIBILITAS diri dengan DISNEY STRATEGY bisa membantu, SWISH! bisa membantu, bahkan PHOBIA CURE yang dimofidikasi juga bisa membantu, terutama untuk ‘un-learning’ META PROGRAM lama. Bahkan, perubahan LINGUISTIK yang kita pakai sehari-hari juga bisa membantu pergeseran META PROGRAM.
Banyak tools NLP bisa membantu. Tinggal kita pelajari PROSES dalam tool
tersebut yang relevan dengan perubahan yang kita inginkan, modifikasi, lalu
LAKUKAN.
Yang PENTING? LAKUKAN!
Semoga membantu.
Have a positive day!

April 17th, 2009 at 4:02 pm
waw
semakin banyak nih ilmu yang didapat
maksih banyak
saya jadi teringat ketika mengambil master, kebetulan guru saya mencoba dengan cara chunk-up dan chunk-down yang disertai reframming. Makasih pak Hing atas sharenya
April 20th, 2009 at 4:26 pm
Mas Hing,
Artikel bagus, dan menunjukkan kelas penulisnya.
Bagus luar biasa!
Salam!