Mar 8

by Henry Yonathan

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa selama ini telah terjadi pemerkosaan masal yang mengatasnamakan Berpikir Positif. Dan saya adalah salah satu dari korban pemerkosaan tersebut. Yang luar biasa, banyak yang sepertinya ketagihan akan jenis pemerkosaan ini!

Berpikir Positif sudah lama digaungkan dan bahkan sampai sekarang masih dapat Anda temukan buku-buku baru ataupun cetak ulang serta seminar-seminar mengenai Berpikir Positif. Tampaknya Berpikir Positif ini memang merupakan komoditi yang sangat laku dijual dan termasuk dalam kategori Virus of The Mind (baca buku Virus of The Mind oleh Richard Brodie, Edisi terjemahan berjudul: Virus Akalbudi).

Hal ini mengingatkan saya akan bunyi status Facebook dari seseorang yang berbisnis MLM (Multi-Level Marketing) yang membicarakan banyaknya hal Negatif di luar sana (baca: di luar komunitas pelaku MLM). Dan sebelumnya saya juga sempat membaca (lagi) status Facebook seorang petinggi MLM yang pernyataannya kurang lebih adalah bahwa informasi Negatif lebih parah dari virus yang mematikan.

Hmmm… jadi teringat masa-masa ketika saya masih aktif mengembangkan bisnis MLM. Setiap hari dan setiap saat HARUS Berpikir Positif. Konon, katanya Berpikir Positif akan merubah nasib hidup seseorang. Setiap peristiwa saya evaluasi dengan tolak ukur Positif atau Negatif. Bila terjadi hal Negatif, maka saya harus lupakan dan segera dirubah ke pola pikir Positif. Bila bertemu orang tertentu, saya melabel mereka dengan orang yang Positif atau Negatif. Bila membaca buku, dievaluasi dahulu, apakah ini buku Positif atau Negatif.

Lucunya adalah bagaimana saya dapat mengetahui yang saya pikirkan dan lakukan adalah Positif atau Negatif; bila saya sendiri tidak tahu apa itu Negatif (seperti kata para peringkat tinggi di MLM, “Hindari hal Negatif!”). Bagaimana saya tahu yang namanya “Pagi” atau “Malam” bila tidak pernah tahu yang namanya “Malam”? Bagaimana saya tahu kalau yang saya lakukan benar kalau tidak pernah tahu mana yang salah? Jadi, bagaimana saya menghindari hal Negatif kalau Negatif itu sendiri saya tidak diperbolehkan untuk tahu.

Apa itu Positif dan Negatif?

Dalam ilmu bahasa, ada sebuah istilah yang disebut ambigu; yang menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :

Bermakna lebih dari satu (sehingga kadang-kadang menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dsb); bermakna ganda; taksa

Terdapat kata yang ambigu dan kalimat yang ambigu. Kata ambigu merupakan kata yang multi tafsir. Sedangkan kalimat ambigu merupakan kalimat yang multi tafsir. Sederhananya, kata-kata atau kalimat-kalimat yang akan diartikan berbeda oleh orang yang berbeda atau bahkan orang yang sama. Contoh :

Kata “Bisa” dapat mengandung arti “sanggup”, “mampu”, “dapat” atau “racun”

Contoh: “Apakah anda BISA menjaga kantor selama saya tidak berada di tempat?”

Apakah maksud kata “bisa” pada kalimat ini menanyakan tentang kesanggupan atau tentang kemampuan?

Kata Positif dan Negatif adalah kata yang tergolong ambigu (Silahkan Anda buka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan lihat berapa banyak arti dari masing-masing kata tersebut). Akan menjadi semakin membingungkan bila kata-kata tersebut terdapat dalam kalimat yang ambigu pula. Akibatnya? Anda akan kebingungan memaknainya.

Tidaklah mengherankan bila banyak pelaku bisnis MLM “tersesat” dalam karirnya (atau mungkin hidup pribadinya juga) akibat Berpikir Positif. Karena kata Positif dan Negatif itu sendiri memiliki banyak makna. Hal ini bertentangan dengan salah satu sifat goal, yaitu SPESIFIK.

The Power of Negative Thinking

Dalam merancang sebuah goal (dalam NLP malah dibedakan antara goal dan outcome) seringkali orang hanya digerakkan dengan asumsi-asumsi yang menyenangkan. Sehingga orang tersebut hidup dalam mimpi. Namun apa yang terjadi dalam kenyataan adalah seringkali saat menemukan suatu rintangan, orang tersebut tidak siap menghadapinya. “Oh, Seandainya saya tahu akan ada rintangan seperti ini”. Berpikir untuk menyiapkan diri akan hambatan, kendala dan rintangan inilah yang kadang diplesetkan menjadi “Negative Thinking”; seolah-olah tidak diperbolehkan.

Aplikasi dari “Negative Thinking” dalam merancang blue-print menuju tujuan Anda adalah dengan membangun Mental Block atau Limiting Belief. Loh, bukannya Mental Block atau Limiting Belief itu harus dihilangkan? Inilah hal lucu berikutnya yang menjadi momok NLPers yang juga telah diperkosa dengan doktrin untuk menghancurkan Mental Block atau Limiting Belief. Hal yang sama juga terjadi pada para penganut Berpikir Positif atau aliran apapun yang memiliki kemiripan mind-set.

Presuposisi NLP “Semua hal yang dilakukan individu memiliki maksud baik” berlaku dalam hal ini. Tujuan dari membangun Mental Block atau Limiting Belief adalah agar Anda memasukkan semua hambatan, kendala dan rintangan yang mungkin terjadi dalam mencapai tujuan Anda, untuk kemudian Anda buatkan solusi dari masing-masing hal tersebut yang “mungkin” terjadi. Saya akan bahas mengenai hal ini dengan metode K.P.U. (Keinginan - Persiapan - Usaha) pada artikel yang akan datang, sehingga Anda dapat merasakan betapa pentingnya sebuah persiapan.

Satu lagi hal “Negatif” yang bermanfaat adalah seandainya ada berita atau informasi bahwa terdapat kerusuhan dan para pelaku kerusuhan tersebut sedang menuju daerah tempat tinggal Anda. Apakah Anda masih dapat berkata, “Berpikir Positif aja, mereka cuma mau numpang lewat”. Salah ya? Atau mungkin perkataannya, “Positifnya saya masih ada waktu untuk menyelamatkan keluarga dan benda berharga”. Ooops… baru saja terjadi ambigu Berpikir Positif.

Bagaimana dengan kisah berikut? Anak anda sedang demam tinggi dan telah memasuki hari ke-3. Bagaimana cara Anda menyusun kalimat Positif dalam menghadapi kejadian ini? Dokter kemudian memerintahkan untuk segera diadakan tes darah demi mengetahui indikasi demam berdarah. Hasil akhir seperti apakah yang Anda harapkan dari tes tersebut? Positif atau Negatif?

Cara Berpikir Baru

Apa yang hari ini “Negatif” belum tentu selamanya “Negatif”. Belajar dari sejarah masa lampau, ada keyakinan-keyakinan yang diyakini bersama sebagai sebuah kebenaran saat itu. Lalu kemudian ternyata dalam perjalanan sang waktu terbukti bahwa itu bukan kebenaran, tetapi hanyalah sebuah persepsi yang diyakini.

Masih dalam buku yang sama; Virus Akalbudi, Richard Brodie menulis, “Apa yang hendak diperlihatkan dengan semua itu adalah sifat “memetika” segala yang kita sebut realitas. Semua label yang kita kenakan pada benda-benda adalah meme, bukan Kebenaran.”. Lebih lanjut Brodie mengatakan, “Mungkin Anda mengatakan matahari terbit di Timur dan terbenam di Barat. Apa iya? Barangkali lebih akurat mengatakan bumi mengitari matahari. Tetapi, apa benar begitu? Sebenarnya semua yang ada di dunia ini dalam kadar kecil dipengaruhi oleh sesuatu yang lain. Tetapi jika Anda sedang merancang sebuah lapangan bisbol dan ingin menempatkan posisi pemukul sedemikian rupa agar cahaya matahari tidak menyilaukan matanya, mengatakan matahari terbenam di Barat bisa menjadi meme yang berguna – separo kebenaran yang berguna.”

Apa yang Brodie maksud adalah suatu ide, persepsi, pelabelan (atau apalah namanya, Brodie menyebutnya meme) bukanlah mutlak suatu kebenaran dan pada konteks tertentu memang bermanfaat. Bila hal tersebut bermanfaat, maka silahkan gunakan. Brodie juga mengatakan bahwa “Virus-virus akalbudi tumbuh subur karena Anda percaya bahwa meme virus-virus itu suatu Kebenaran”.

Dengan konsep ini, maka akan lebih memberdayakan Anda dalam berpikir, berasa dan bertindak dibandingkan konsep Berpikir Positif. Adalah sangat bijaksana bila Anda, mulai sekarang, mengembangkan kesadaran dalam memilah-milih informasi bermanfaat apa yang masuk ke dalam benak Anda. Sebab, sesuatu yang “Negatif” belum tentu tidak bermanfaat. Sesuatu yang “Positif” belum tentu juga bermanfaat. Bukankah perlu kerjasama kutub Positif dan kutub Negatif agar listrik dapat menyala?

Penutup

Tulisan ini hanyalah keyakinan saya; yang mungkin lebih banyak “ngaco”nya daripada “lempeng”nya. Tapi itu tidak penting, yang penting adalah apakah tulisan saya “Positif”? Eh maaf, maksud saya bermanfaat bagi Anda? Bila ya, silahkan sebarkan hal ini. Bila tidak sependapat dan sakit hati. Ini pun bagus! Karena saya telah berhasil memperkosa pikiran Anda. Atau mungkin pula Anda lebih menikmati sensasi diperkosa oleh Berpikir Positif? Silahkan, itu semua pilihan Anda.

Khusus bagi para MLMers, saya rekomendasikan untuk segera membaca buku Meta Leadership Marketing yang akan mengguncang keyakinan yang selama ini telah diperkosa oleh upline-upline Anda. Sebagai penutup, saya mengajak Anda untuk menyelami kalimat berikut, “Kalau Positif, lu pinter! Kalau Negatif, lu goblok!” Mohon maaf beribu maaf….

Referensi

1. Virus Akalbudi, Richard Brodie

2. Meta Leadership Marketing, Adi Putera Widjaja dan dr. Stefanus Isaac Tamzil

3. Mental Block.. Oh.. Mental Block, Adi W. Gunawan (http://adiwgunawan.com/awg.php?co=p5&mode=detil&ID=134)

4. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online

VN:F [1.1.6_502]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)

Leave a Reply