Setiap saat menyebut kata enelpi (NLP atau Neuro Linguistic Programming) saya mendapatkan respon yang berbeda. Ada yang langsung memasang muka bengong, ada yang dengan lugu bertanya makanan apa itu, dan ada yang dengan sedikit pengetahuan bertanya “apakah sama dengan hipnosis atau hipnotis”? Tapi respon yang paling sering dan paling saya sukai adalah: “Enelpi itu luar biasa ya?! Kayaknya sedang booming deh di Indonesia sekarang ini.” Perlu diketahui bahwa istilah sedang booming di Indonesia sudah saya dengar sejak 2005, ketika saya sendiri baru pertama kali mengenal behavior science yang satu ini.
Setelah mengikuti kelas Personal Power yang dipimpin Maha Guru NLP Indonesia, saya memutuskan untuk belajar secara sungguh-sungguh dari sumbernya. Dalam perjalanan belajar itulah, perilaku saya mulai berubah. Saya lebih berdaya mengendalikan energy in motion—emosi—saya, belajar mendengarkan dan memahami the model of the world orang lain. Komunikasi saya dengan anggota keluarga—terutama putra saya— dan dengan rekan-rekan kerja jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tahun 2006 saya berkesempatan belajar langsung dari NLP co founder, John Grinder, PhD dan disertifikasi sebagai Advanced NLP Coach. Tidak puas saya mengulang kelas practitioner dan master practitioner dengan Mindtransformation di Singapore. Akhirnya tahun 2009 saya menginjakkan kaki saya di tempat “sakral” NLP, Santa Cruz, California, AS ketika saya mengikuti kursus NLP Trainer and Consultancy di bawah bimbingan Robert Dilts, Judith DeLozier dan Suzy Smith.
Akhirnya saya dapat menyelesaikan semua ganjalan emosional saya setelah menempuh perjalanan belajar yang cukup panjang ini, dan saya pun akhirnya berani membuka kelas sertifikasi bulan Juli yang lalu. Keberaniaan saya tentu saja juga disebabkan endorsement yang diberikan Robert Dilts; bahwa jika saya membuka kelas practitioner dan alumi ingin melanjutkan di NLP University, akan diterima. Jika saya membuka kelas master practitioner, maka alumi yang ingin melanjutkan NLP Trainer and Consultancy juga akan diterima.
Kelas akhir pekan perdana di Surabaya sukses. Kelas perdana di Jakarta, secara kualitas sukses luar biasa, namun secara kuantitas ada sukses yang tertunda. Kelihatannya perlu melakukan koordinasi lebih baik dalam pemasaran. Bagaimanapun juga saya merasa berbahagia dan terberkati mendapatkan kesempatan membagikan keluarbiasaan NLP. Keyakinan saya terhadap kedigdayaan NLP sebagai pengubah perilaku semakin diteguhkan pula. Sebelum kedua kelas sertifikasi ini, sebenarnya saya telah menggunakan NLP untuk coaching—one on one atau kelompok, dan memasukkan NLP dalam program untuk melayani klien-klien dunia usaha. Walaupun semua coaching dan kelas publik maupun in-house berjalan lancar, saya belum sepenuhnya yakin bahwa NLP seberdaya itu. Saya masih mencurigai keberhasilan disebabkan kesiapan para peserta atau mereka terlalu ingin menunjukkan bahwa mereka sendiri bisa menerima pelajaran dengan baik. Tapi kelas sertifikasi mengukuhkan kepercayaan saya. Orang-orang datang dengan permasalahan dan harapan berbeda-beda, tapi semuanya dapat diatasi dengan berbagai teknik NLP.
Seorang mahasiswa psikologi tingkat S2 yang sedang menyusun tesis langsung menyadari bagaimana ia dapat menggunakan NLP untuk menyelesaikan tesisnya, pertama sebagai penyemangat diri dan kedua untuk dasar terapi. Seorang psikolog yang telah puluhan tahun praktek sebagai HRD di sebuah perusahaan besar mengatakan ia dapat menyelesaikan permasalahan dengan pasangan dan juga mampu menjadi coach yang lebih baik di perusahaan. Kasus paling banyak adalah NLP dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri. Tapi yang paling menakjubkan adalah betapa cepatnya NLP mengatasi berbagai kasus phobia. Seorang dokter spesialis yang telah 35 tahun menderita acrophobia sembuh dalam waktu kurang dari 30 menit proses dengan Dissociative Technique. Seorang pemuda yang telah 15 tahun menderita zoophobia (takut pada laba-laba—segala ukuran—) berhasil sembuh dengan proses Swish Pattern. Pemuda yang sama ini juga takut berada di ruangan sempit (sesak nafas di ruang sempit) berhasil diatasi dengan Fast Phobia Model. Dan dalam latihan-latihan di kelas, di mana para peserta mendadak bisa, seorang menyembuhkan orang lainnya, termasuk mengatasi ketergantungan pada rokok. Ternyata NLP memang bisa!
Menurut saya, kehebatan teknik-teknik NLP bukan terletak pada tingkat kecanggihannya yang justru akan menyulitkan, misalnya teknik desensitisasi di mana penderita phobia diekspos pada keadaan yang mirip dengan apa yang ia takuti untuk waktu yang cukup lama dan berulang-ulang. Pendekatan ini dapat saja menimbulkan ketidaknyamanan bahkan menyakitkan bagi si penderita, sekaligus sangat merepotkan. Teknik-teknik NLP dijiwai oleh presupposition bahwa orang-orang memiliki sumber daya yang dibutuhkannya untuk bertindak (people have the resources to acts). Di dasar pikirannya (deep structure) setiap orang tersimpan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi problem yang sedang dihadapi.
Bagaimana dengan meningkatkan kepercayaan diri? Saya menyaksikan setiap peserta menjadi percaya diri dan hal ini tentu saja disebabkan mereka mengenal diri lebih baik dan mengijinkan dirinya untuk percaya bahwa dirinya lebih daripada yang disadarinya. Percaya diri tak perlu digenjot dengan berjalan di atas bara api, memecahkan sesuatu dengan tangan kosong (omong-omong saya melakukan keduanya ketika berada di posisi peserta) dan kesimpulan saya cara-cara seperti itu agak berlebihan, maka saya memutuskan untuk menunjukkan kepada peserta bagaimana mendapatkan kepercayaan diri dan memercayai bahwa mereka bisa! Dan jika Anda yang membaca artikel ini bertanya kepada saya bagaimana dapat percaya diri, jawaban saya adalah pertanyaan untuk Anda renungkan: Adakah alasan yang tepat untuk tidak memercayai diri Anda sendiri? Bagaimana kalau mulai saat ini Anda memercayai kemampuan diri Anda? Apapun yang Anda pikir tentang diri Anda selama ini, Anda lebih dari itu!
Salam berdaya!
August 23rd, 2010 at 9:26 pm
NLP memang RACUN?
August 24th, 2010 at 9:34 am
Bravo Sister Erni….Luar Biasa…Memang apapun saya “BISA” jika saya pikir “BISA”….
June 19th, 2011 at 10:53 am
Bisa??? itu artinya Racun khan?
June 21st, 2011 at 7:48 am
BISA di sini tentu saja berarti DAPAT (bisa dicek di Kamus Bahasa Indonesia). Namun, jika ada yang berpendapat bisa=racun, jadi NLP Memang Racun, bagus juga. Sebab racun yang digunakan dengan takaran yang tepat dapat mengaktifkan sirkuit otak, hehehehe…
Terima kasih atas komentarnya, bagaimanapun…
Salam berdaya selalu.