Saat artikel singkat ini ditulis, akan diadakan Indonesia Hypnosis Summit 2010. Pada acara IHS tersebut direncanakan akan bergabung berbagai praktisi dari berbagai lembaga dan aliran, termasuk NLP dan EFT. Ini mengingatkan saya kembali akan banyaknya kebingungan dalam membedakan Neuro-Linguistic Programming (NLP) dengan Hypnosis/Hypnotherapy.
Sebagai seorang pemula, saya juga mengalami masalah dalam membedakan Hypnosis dengan NLP. Mengapa dalam pelatihan-pelatihan Hypnosis/Hypnotherapy ada materi NLP-nya? Mengapa pada beberapa pelatihan sertifikasi NLP juga diberikan sertifikasi Hypnosis/Hypnotherapy? Mengapa pula ada beberapa praktisi Hypnosis/Hypnotherapy yang sinis terhadap NLP? Yang tidak kalah lucunya, ada seorang praktisi NLP dan trainer yang cukup senior, malah sinis terhadap Hypnosis/Hypnotherapy.
Dalam perjalanan mencari jawaban, akhirnya terdamparlah saya di sebuah forum tempat berkumpulnya para praktisi, pelajar dan pengajar Hypnosis dan NLP serta kawanannya. Masih jelas teringat, kalimat sang moderator ketika menimpali perbedaan Hypnosis dan NLP.
Sang moderator menulis:
“Selama saya belajar NLP rasanya dalam setiap buku atau pelatihan guru-guru saya tidak pernah berujar tentang trance deh. karena metode yang digunakan oleh para founder NLP adalah hasil memodel para terapis yang mumpuni dibidangnya. nah yg menarik waktu memodel milton erickson. erickson sendiri tidak terlalu memusingkan apakah suyet itu sudah trance apa belum atau kedalaman trance sampai sejauh mana. nah NLP sendiri dapat digunakan pada waktu kapanpun, dimanapun oleh siapapun”
Saya menyadari bahwa tanggapan dari moderator tersebut masih memerlukan penjelasan tambahan, hingga beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang praktisi Hypnosis/Hypnotherapy yang juga seorang Master Practitioner NLP. In my opinion, he is talented. Awalnya, saya ingin mengikuti kelas Hypnosis yang beliau adakan. Namun, setelah berdiskusi secara online, beliau menawarkan untuk pembelajaran One-on-One saja.
Dalam beberapa diskusi kami; baik secara online ataupun tatap muka, beliau mengatakan:
“NLP adalah Hypnosis versi 2.0. Demikian pula EFT, SEDONA dan segala bentuk terapi dan coaching”.
Saya sempat terperanjat. Walaupun sudah sejak beberapa waktu lamanya, saya memiliki anggapan pribadi bahwa NLP, EFT, SEDONA sebenarnya bermain di ranah hypnosis juga. Namun, baru kali ini saya bertemu dengan seorang yang dengan lantang dan tegas mengatakan demikian.
Karena penasaran, saya lalu membuka kembali buku The User Manual for The Brain Vol. 1, Bab 9, tertulis:
“Also, in NLP, we do not use formal hypnotic inductions. Rather we informally utillize the natural trans-derivational search (TDS, see Chapter Thriteen) transitioning proceses that occur when the human mind makes meaning of language. This means that a listener’s mind always and inevitably ‘goes inside’ and uses its stored logic (learnings, history and experiences) to make sense of things. Hypnosis as such does not necessarily operate in opposition to reason or violational control. Actually, it accesses such!”
Mengacu pada buku ini berarti; dengan pendekatan kerangka NLP kita secara alamiah membawa seseorang ke dalam kondisi TDS. Saat TDS, orang yang ‘masuk ke dalam’ dirinya sendiri dan segala pikiran dan perasaannya bermain untuk dapat memaknai dan merespon segala sesuatunya.
Hubungan Meta Model dan Hypnosis
Meta Model pada awalnya dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder sebagai alat untuk mengidentifikasi dan menanggapi pola-pola permasalahan dalam percakapan seseorang dalam konteks terapi. Prinsip dasar dari Meta Model adalah notasi Korzybski, “The map is not the territory”. Model terhadap dunia (realita) sekitar kita yang kita buat melalui otak dan bahasa kita, bukanlah dunia (realita) itu sendiri, melainkan hanyalah respresentasi dari dunia (realita).
Meta Model akan mengajak mitra diskusi untuk menggali kembali informasi dalam dirinya yang telah mengalami distorsi, tertinggal ataupun tergeneralisasi. Inilah pola-pola bahasa yang digunakan Fritz Perls dan Virginia Satir untuk membawa klien-klien mereka menemukan keajabain, yaitu dengan semakin spesifik atas masalah yang mereka ungkapkan.
Sebatas yang saya ketahui, Milton Model akan membawa seseorang ke dalam keadaan trance dan Meta Model akan membawa orang keluar dari trance. Sebagai orang yang berkeingintahuan tinggi, saya menantang Sang Master Practitioner tersebut. Berikut petikan pembicaraan kami,
“Lah, kan Meta Model bawa orang keluar dari trance?”, tanya saya.
“Itu juga hypnosis”, jawab sang pakar.
Sang Master Prac melanjutkan, “Dengan konsep trance, coba lu pikirin kenapa Meta Model juga membuat orang trance?”
Saya sempat termenung beberapa menit. Dalam benak saya yang sedang mencari-cari jawaban. Tiba-tiba pencerahan muncul! Bukankah Sang Master Prac sedang bertanya kepada saya? Dan saya sedang ‘masuk ke dalam’ untuk mencari jawaban? Bukankah hal yang sama terjadi saat Anda menggunakan Meta Model? Bukankah pertanyaan saya tadi membuat Anda ‘masuk ke dalam’ juga?
Bagaimana Sang Empu Menjawab?
Dalam buku Richard Bandler’s Guide to TRANCE-formation, Bab 1, tertulis:
“I have written many books and talked to many hundreds of thousands of people about hypnosis and NLP, and people are still confused about the similarities and differences between the two. In this book I hope to simplify the issue. My attitude is that at some level or other, EVERYTHING IS HYPNOSIS. People are not simply in or out of trance but are moving from one trance to another”
Richard Bandler dengan jelas mengatakan bahwa pada tingkat tertentu, segalanya adalah hypnosis. Orang bukannya masuk dan keluar trance, tetapi berpindah dari trance yang satu menuju trance yang lain. Mungkin hal inilah yang menyebabkan Bandler sering menggunakan hypnosis pada beberapa videonya.
Penutup
Menurut Anda, apa yang terjadi saat Bandler dan Grinder melakukan pemodelan terhadap Satir, Perls, dan Erickson. Atau siapapun yang mereka model? Were they in trance?
Referensi
-
The User Manual for The Brain Vol. 1
-
Richard Bandler’s Guide to TRANCE-formation
-
Online NLP Encyclopedia
Leave a Reply