by Tjia Irawan
Executive Coach (anggota aktif dari International Coach Federation, USA & Singapore)
Pengembang Coaching berbasis Client Centered di Indonesia
Ide yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach dan Praktisi Bisnis dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.
NLP BUSINESS SERIES
4 PILAR NLP DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN (bagian 4)
Setelah kita membahas Pilar NLP yang bernama RAPPORT, kini saatnya kita membahas Pilar NLP yang ke-4 yaitu FLEXIBILITY. Artikel tentang FLEXIBILITY ini akan menutup serial artikel 4 Pilar NLP dalam Organisasi Perusahaan. Bagi pembaca yang belum mendapatkan bagian pertama, kedua dan ketiga, dipersilahkan mendapatkannya di http://tjiairawan.com atau http://nlpintoaction.com .
FLEXIBILITY
Ketika seseorang mempelajari NLP, ia akan diperkenalkan dengan satu hukum yang bernama The Law of Requisite Variety yang secara bebas dapat saya terjemahkan sebagai bahwa “hanya orang yang paling FLEKSIBEL di dalam sistem yang akan menguasai sistem”. Pertanyaan yang paling menarik adalah bagaimana caranya agar FLEKSIBEL? Bagaimana caranya ORGANISASI PERUSAHAAN menjadi ORGANISASI yang FLEKSIBEL. Ada banyak cara untuk menjadi FLEKSIBEL namun di dalam artikel ini saya menjawabnya bahwa FLEKSIBEL sangat terkait dengan ALTERNATIF PILIHAN. Semakin seseorang memiliki banyak ALTERNATIF PILIHAN yang dapat dia pilih maka semakin FLEKSIBEL-ah orang tersebut dalam merespon dan mengambil tindakan yang diperlukan ketika menghadapi sesuatu, demikian pula halnya dengan ORGANISASI PERUSAHAAN.
Membuat ORGANISASI menjadi FLEKSIBEL dalam menghadapi tantangan dalam rangka pencapaian OUTCOME dapat dilakukan dengan menciptakan MENTAL BLOCK YANG DISENGAJA. Sehingga PERUSAHAAN tersebut memiliki PILIHAN lain ketika dibutuhkan. Ya, anda tidak salah membacanya, yang saya maksud adalah benar-benar menciptakan MENTAL BLOCK YANG DISENGAJA. Mengapa begitu? Bukankah mental block justru harus dihilangkan agar perjalanan dalam rangka pencapaian OUTCOME dapat berjalan lancar?
Mental block akan benar-benar menjadi halangan atau rintangan ketika hal itu menjadi beban karena ORGANISASI tidak memiliki PILIHAN TINDAKAN untuk mengatasi mental block tersebut. Bagaimana dengan mental block yang sengaja diciptakan?
Saat ini banyak PERUSAHAAN di Indonesia mulai memikirkan untuk membangun sistem yang dinamakan Disaster Recovery Plan. Banyaknya bencana dan kejadian-kejadian yang menghambat bisnis seperti kebakaran, huru-hara, ancaman bom mendorong PERUSAHAAN mempercepat program Disaster Recovery Plan. Pertanyaan saya adalah apakah kebakaran sudah terjadi? Apakah gempa bumi sudah terjadi? Apakah bom sudah meledak? Belum pastinya, kalau begitu buat apa membangun sistem tersebut?
Namun PERUSAHAAN bertindak seolah-olah kejadian tersebut sudah terjadi dan mereka mempersiapkan diri dengan memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kejadian tersebut atau seandainya kejadian tersebut terjadi. Langkah-langkah tersebut mereka tuangkan dalam SOP dan mereka simulasikan berulang-ulang. Mereka bertindak seolah-olah menghadapi kejadian yang sebenarnya. Jepang adalah negara dengan tingkat kejadian gempa bumi termasuk yang tertinggi di dunia, namun ketika gempa bumi terjadi korban yang jatuh sedikit. Penduduk di negara Jepang memiliki PILIHAN tindakan yang lebih banyak dibanding dengan penduduk negara lain yang tidak mempersiapkan diri menghadapi gempa.
Apakah PERUSAHAAN yang FLEKSIBEL penerapannya hanya untuk Disaster Recovery Plan saja? Tentu tidak. Setiap PERUSAHAAN dapat menciptakan sendiri mental block-mental block yang paling mungkin terjadi (untuk menentukan mental block paling mungkin terjadi dapat digunakan satu tool yang dalam NLP dikenal sebagai Disney Creativity Model yang pasti akan dibahas dalam NLP BUSINESS SERIES berikutnya), kemudian memikirkan tindakan solusinya. Misalnya menciptakan mental block bagaimana seandainya penerapan pasar bebas benar-benar terjadi tanpa proteksi sama sekali dari pemerintah, bagaimana seandainya kompetitor menciptakan produk yang serupa namun dengan harga yang lebih murah, bagaimana jika harga minyak menembus angka psikologis PERUSAHAAN dan sebagainya. INGAT semakin PERUSAHAAN memiliki PILIHAN tindakan yang dapat diambil semakin PERUSAHAAN tersebut menjadi lebih FLEKSIBEL.
Dengan menciptakan mental block yang disengaja akan membuat PERUSAHAAN memikirkan langkah alternatif yang perlu diambil bila kejadian sebenarnya terjadi dan alternatif-alternatif tindakan tersebut akan MENAMBAH PILIHAN bagi PERUSAHAAN tersebut dan akhirnya pada saat dibutuhkan PERUSAHAAN akan menjadi FLEKSIBEL untuk menentukan PILIHAN-PILIHAN apa yang perlu diambil untuk menghadapi halangan dalam rangka pencapaian OUTCOME tersebut.
Selamat menambah PILIHAN bagi PERUSAHAAN anda.
(Dengan ditulis dan dibahasnya FLEXIBILITY maka topik bahasan 4 Pilar NLP dalam Organisasi Perusahaan berakhir. NLP BUSINESS SERIES selanjutnya akan membahas salah satu tool NLP yang dinamakan S.C.O.R.E Model)
Salam Good to Great
August 19th, 2010 at 5:24 am
Ternyata Mental Blok dalam konteks tertentu perlu diciptakan guna menghadapi hal-hal yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi dimasa mendatang.
Artikel ini, menurut saya, memberikan sentuhan baru akan teori Teori Mental Block. Thanx Pak Tjia