by Tjia Irawan
Executive Coach (anggota aktif dari International Coach Federation, USA & Singapore)
Pengembang Coaching berbasis Client Centered di Indonesia
NLP menurut saya adalah sebuah ilmu yang unik, mengapa unik? Karena ilmu ini mampu diaplikasikan dalam cakupan area yang luas mulai dari dunia terapi, self development, leadership bahkan sampai aplikasi bisnis. Saat ini di Indonesia tulisan/artikel NLP yang membahas dunia terapi begitu banyak dan tersebar luas.
Pengalaman saya sebagai seorang Executive Coach yang kerap kali menangani Eksekutif dari banyak perusahaan mendorong saya untuk menuliskan artikel ini. Artikel ini akan membahas NLP dari sudut pandang dunia bisnis yang mungkin belum banyak di Indonesia. Saya memberi judul artikel-artikel yang akan saya tulis “NLP BUSINESS SERIES”.
Dan bagi anda yang ingin mendapatkan artikel ini lebih awal dibanding dengan yang lain, silahkan klik http://tjiairawan.com anda akan mendapatkan early edition dari setiap NLP BUSINESS SERIES yang akan diterbitkan. Early edition akan tersedia mulai edisi ke-2
Saya juga percaya bahwa pembaca artikel ini juga banyak yang memiliki pengalaman yang begitu luar biasa dalam dunia bisnis atau pembaca dari kalangan akademisi yang berkonsentrasi dalam pengembangan bisnis. Jika orang itu adalah anda dengan segala kerendahan hati mohon kiranya artikel ini diperkaya sehingga lebih bermanfaat bagi dunia bisnis di Indonesia.
NLP BUSINESS SERIES
4 PILAR NLP DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN (bagian pertama)
Saya tidak akan memulai serial artikel ini dari definisi tentang NLP karena saya berasumsi bahwa anda bukanlah pembaca yang awam tentang NLP. Begitu banyak artikel yang menjelaskan definisi NLP tersedia di internet. Namun bila anda benar-benar awam tentang NLP dan ingin tahu dan mempelajarinya saya merekomendasikan buku yang dituliskan oleh sahabat saya Bapak Teddi Prasetya Yuliawan yang berjudul The Art of Enjoying Life. Atau bila anda ingin mengikuti kelas pelatihan NLP saya merekomendasikan anda belajar ke Bapak RH. Wiwoho dari IndoNLP atau ke Bapak Hingdranata Nikolay dari NLP Indonesia. Mengapa saya merekomendasikan ke dua nama tersebut karena saya mempelajari NLP dari kedua orang itu dan mendapatkan manfaat dari apa yang mereka ajarkan. Namun di Indonesia perkembangan NLP begitu pesat dan Indonesia memiliki trainer-trainer NLP yang berkualitas seperti Bapak Ronny F. Ronodirdjo, Ibu Issa Kumalasari, Ibu Mariani Ng, Ibu Irene Corry dan masih banyak lagi. Atau bila anda ingin secara khusus mempelajari tentang NLP Business Consulting saya merekomendasikan mempelajarinya dari Bapak dr. Stefanus Isaac Thamsil dari Clear Heart Foundation.
Saya akan memulai NLP BUSINESS SERIES ini dengan pembahasan tentang Pilar NLP. Kalau anda browsing ke Internet anda akan menemukan ada Pilar NLP berjumlah 4, ada yang berjumlah 5 atau bahkan ada juga yang mengajarkan Pilar NLP yang berbeda. Mana yang paling benar? Dari pada dipusingkan dengan membahas mana yang paling benar dari semuanya itu saya lebih memilih untuk mengatakan bahwa tentunya semuanya mendatangkan manfaat sesuai dengan konteksnya.
Untuk menjaga netralitas dari artikel ini maka saya akan menggunakan sesuai dengan definisi yang dijabarkan di wikipedia berbahasa Indonesia
(http://id.wikipedia.org/wiki/NLP#Empat_Pilar_Utama_NLP) .
Sebagaimana sebuah bangunan maka bangunan tersebut mampu berdiri kokoh karena ditopang oleh pilar-pilar yang kuat. Buat saya memahami dengan baik dan me-master Pilar NLP adalah sebuah keharusan yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum mempelajari begitu banyak teknik-teknik NLP yang ada. Pilar NLP tersebut adalah :
1. Sensory Acuity
2. OutCome
3. Flexibility
4. Rapport
Sensory Acuity
adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi ataupun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal.
Pada saat kita membahas Sensory Acuity pada manusia tentunya kita tidak akan mengalami kesulitan. Karena manusia memiliki sensory yang jelas yang kita kenal sebagai panca indera, yaitu Visual (Penglihatan), Auditori (Pendengaran), Kinestetik (Perasaan), Olfaktori (penciuman), gustatori (Pengecapan) yang kesemuanya disingkat VAKOG. Fungsi panca indera pada manusia berfungsi hampir sama seperti input device pada komputer. CPU pada komputer tidak akan mampu memproses sesuatu jika CPU tidak menerima data atau input yang dimasukan lewat input device ke dalam CPU. Input device dalam komputer secara umum yang kita kenal dan sering kita gunakan adalah keyboard, mouse, scanner, microphone, barcode reader, dsb
Nah bila manusia memiliki definisi input device yang jelas, bagaimana dengan organisasi perusahaan? Bagaimana organisasi mengembangkan VAKOG-nya sehingga mampu menjadikannya sebagai keunggulan bagi perusahaan tersebut? Berapa banyak perusahaan yang menanggung kerugian yang besar bahkan gulung tikar karena perusahaan tersebut tidak memiliki sistem input device yang baik?
Saat ini perusahaan berlomba-lomba mengembangkan sistem input device yang mampu menjadi VAKOG bagi organisasinya.sebut saja 6 Sigma, Balance Score Card, sistem audit yang handal, marketing intelligence, HR Dashboard atau Early Warning System yang lain dsb.
Menjelang akhir tahun para Top Executive bertemu mereka mengundang para ekonom atau para ahli keuangan lainnya. Dengan tujuan apa mereka melakukan semua itu? Dengan tujuan mendapatkan Visual yang jelas tentang economic outlook di tahun berikutnya. Atau perusahaan yang mengundang customer-nya untuk mengadakan Focus Group Discussion, dengan tujuan apa mereka melakukan semua itu? Dengan tujuan agar mereka mendengar suara konsumen dan menindaklanjuti apa yang mereka dengar dari suara konsumen tersebut.
Contoh lainnya adalah ada sebuah perusahaan Taxi besar di Indonesia yang mewajibkan Manajernya dalam periode tertentu turun ke bawah dan menjadi supir taxi dan mengangkut penumpang. Dengan tujuan apa? Dengan tujuan mereka tahu apa yang dirasakan oleh supir taxi, agar mereka melihat secara langsung kondisi lapangan, mendengarkan feedback secara langsung dari penumpang taxinya. Hasilnya? Perusahaan tersebut mampu mengembangkan bisnisnya sedemikian rupa dan menjadi perusahaan taxi yang unggul di Indonesia.
Pembaca yang baik, silahkan sebutkan perusahaan yang menurut anda adalah perusahaan unggulan, maka saya dapat membuktikan bahwa perusahaan tersebut memilik Sensory Acuity yang baik. Mereka mampu mengkalibrasi perubahan-perubahan yang terjadi disekitar mereka dan selanjutnya memutuskan langkah apa yang harus diambil.
Kemampuan perusahaan membangun sistem “VAKOG”-nya menunjang kelangsungan bisnis dari perusahaan tersebut. Bukankah mata yang sehat akan mampu melihat lebih jelas? Bukankah telinga yang peka akan lebih mampu mendengar suara-suara dengan jelas bahkan mungkin suara-suara yang selama ini tidak terdengar karena terlalu kecil volume suaranya? Jadi, tunggu apa lagi segera pikirkan dan kembangkan kemampuan Sensory Acuity perusahaan anda
Nah pembaca yang baik, demikian artikel pertama dari NLP BUSINESS SERIES. Apabila ada hal yang ingin anda diskusikan secara khusus tentang perusahaan anda yang berkaitan dengan artikel ini, silahkan kirimkan email anda ke alamat coachingmedia.solutions@gmail.com
Nantikan kelanjutan artikel ini dapatkan early edition-nya mulai edisi ke-2 di http://tjiairawan.com atau dapatkan di website NLP into Action di http://nlpintoaction.com dan juga via milist kesayangan kita ini. sukses selalu untuk anda.
Salam Good to Great
July 27th, 2010 at 8:19 am
I like it! Artikel yang memberi warna dan aroma baru di kancah perNLPan. Good article, waiting for next one and next one and next one…..
August 2nd, 2010 at 1:32 pm
Pak Tjia Irawan,
Anda memang luar biasa! Beruntung di bidang NLP ada orang-orang kreatif yang mampu melakukan sinestesia seperti Anda. Walaupun saya tahu banyak perusahaan unggul yang memiliki VAKOG, namun sayangnya, saya juga tahu banyak perusahaan yang menjalankan bisnis tanpa melihat, mendengar dan merasakan apa-apa, seolah-olah mereka hanya menubruk ke sana ke mari. Akibatnya mereka sangat sibuk, stress luar biasa untuk hasil yang sangat kecil alias tak sebanding.
Bravo, saya percaya artikel Pak Tjia ini akan membuka mata para pembacanya.
Salam Berdaya
Erni Julia Kok
NLP Trainer & Coach
August 4th, 2010 at 10:43 am
@pak Henry, terima kasih buat supportnya
@
August 4th, 2010 at 11:12 am
@Ibu Erni, di Indonesia artikel yang mengupas NLP dari sisi Business Strategic lebih sedikit dibanding untuk Self Development karena itu kiranya mohon artikel2 ini dapat ibu perkaya aroma NLP nya. Sukses ya bu
August 10th, 2010 at 8:36 pm
Wow!!! Tulisan NLP alternatif selain terapi diri!
Bravo Pak Tjia. Komunitas NLP berhutang pada anda.
Salam Sukses,
Adi Putera W
August 14th, 2010 at 9:10 pm
@Adi, terima kasih pak … sukses selalu