by Jon Win Lee
Konon, kata banyak orang dasar ilmu NLP adalah ilmu mempelajari cara memodel secara efisien dan excellent. Saya tidak tahu apakah anda setuju atau tidak dengan saya. Saat saya mulai mengetahui esensi NLP yang satu ini, pada saat yang sama pula saya menemukan sisi yang lain. Ibarat tangan kiri dan tangan kanan dalam tubuh manusia.
Perkembangan NLP pada beberapa dekade belakangan ini yang begitu pesat membuat saya bertanya-tanya kepada diri saya ini, “Mungkinkah karena kebodohan saya sehingga belum mampu meniru orang lain secara bulat-bulat?”
Ketika mengikuti sebuah sesi modeling, saya menemukan banyak sekali keharusan-keharusan dan doktrinasi-doktrinasi tanpa pilihan - yang menurut saya yang masih awam ini - adalah kewajiban yang pasti dan harus saya penuhi agar mampu menjadi sama persis dengan orang yang ada di depan saya. Orang ini ketika membawakan materinya - yang konon dianggap sangat sukses - jika mau meniru kesuksesannya saya HARUS mengikuti semua cara membawakannya tanpa terperinci.
Manusia secara utuh memiliki tangan kiri dan tangan kanan. Pada waktu orang itu melihat suatu cara menggunakan tangan kanan untuk beraktifitas main ping pong, tetapi ketika saat dipraktekkan menggunakan kaki yang berlari sehingga ilmu berlari itu dianggap sama dengan ilmu bermain ping pong. Padahal pada saat bermain ping pong dia menggunakan kakinya berlari untuk mengejar bola; ini tentu berbeda penekanannya ketika dia menggunakan kakinya dalam mempraktekkan ilmu balap lari.
Sempat terlintas di kepala saya itu lebih mirip cloning daripada modeling. Yang lebih menakjubkan ketika saya pulang ke Indonesia adalah ternyata banyak pelari yang mengaku sebagai pemain ping pong dengan tujuan bisa cepat sukses menjadi pelari seperti pengejar bola ping pong. Yang anehnya ditiru hingga pakaian, sepatu, penampilan hingga mungkin pakaian khusus pemain ping pong.
Kebodohan saya waktu itu adalah mengadu ke lembaga hukum (kantor agama yg mengeluarkan surat akte tanah
) sehingga ketika saya memodel bahwa sertifikat itu diakui sama dengan ijazah sekolah.
Perlukah perubahan dibuat sampai taraf itu agar mencapai tujuan? Itulah yang saya lakukan.
Apa sebenarnya yang dicari? Modeling tidak pernah mengajarkan manusia untuk melakukan demikian. Modeling dan NLP memilih prinsip dasar yaitu “Memberikan dan menciptakan OPSI yang lebih banyak“. Jika tanpa opsi itu bukanlah NLP. Dan prinsip dasar yang lebih baik lagi TETAP menjadi diri sendiri dan menggunakan MODEL untuk menambah RESOURCES yang dibutuhkan.
Jadi kalau anda memodel pemain ping pong dengan tangan kanan cobalah memodel dengan tangan kiri anda, begitu juga sebaliknya. Berhubungan lembaga hukum (KUA) mengeluarkan ijazah sekolah sarjana clonning, itu juga mendapatkan akreditas lembaga hukum. Itulah kebodohan saya sehingga ketika saya memodel malah berubah menjadi meng-cloning.
Tapi setelah dipikir-pikir mungkin benar juga, sih. Sama-sama olahraga. Sama sama lembaga hukum. Agar teknologi cloning langsung dapat digunakan untuk mencapai hasil instant. Itulah kecanggihan saya yang satu-satunya di dunia ini yang mempunyai hak untuk diakui sebagai lembaga modeling yang menggunakan cloning agar dengan cepat berhasil dan masalah DIANGGAP selesai.
Peringatan Keras!!!
Barang siapa meniru dan memasukkan hak cipta saya, saya biarkan masuk perangkap kesenangan atau lebih dikenal dengan surga dunia.
Karena menurut banyak orang; orang yang hebat adalah orang yang tidak bermasalah, mungkin saya adalah orang paling bodoh yang masih percaya masalah dapat mendewasakan manusia. Masalah dapat mengubah manusia tetapi manusia tidak pernah mengubah masalahnya.
Terima kasih kepada Aki Bagaskoro Koetjloek yang telah mengajarkan saya sehingga saya yakin semua di luar ilmu saya adalah benar benar benar BENAAAAAAARRRRRRR!!!

May 11th, 2009 at 9:14 pm
Aku pikir…pikir…tulisan ini ada benar ada salah…biarlah jempolku yang menentukannya…Kiri atau kanan…Ah…pilih sendiri????
May 13th, 2009 at 7:48 am
Tulisan yang ndak biasa di portal ini. no commentlah. tapi beri sudut pandang yang laen. thanks, dah! hihihihihi…