Bahasa merupakan salah satu hal penting dalam keseharian Anda dan saya. Hampir sama pentingnya dengan bernapas. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan diri Anda sendiri maupun dengan orang lain, baik disekitar Anda maupun nun-jauh disana. Saat Anda berbicara dengan diri sendiri didalam benak Anda, pasti Anda menggunakan bahasa.
Begitu pentingnya bahasa dalam keseharian Anda dan saya, namun, apakah Anda dan saya sudah menyadarinya? Tahukah Anda, dengan terampil menggunakan bahasa Anda akan cenderung lebih memiliki kendali dalam berkomunikasi. Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang berkomunikasi sangat persuasif dan ketika Anda tersadar, Anda sudah dalam pengaruhnya.
Dalam NLP ada dikenal yang namanya Presuposisi Bahasa. Presuposisi berarti menganggap sesuatu sudah disepakati kebenarannya. Contoh sederhana presuposisi bahasa adalah :
“Malam ini menu-nya apa”
Dalam kalimat tersebut ada beberapa hal yang disepakati :
- Ada yang namanya malam
- Ada yang namanya menu
- Ada yang memasak makanan
Pada aplikasinya dalam dunia bisnis dan atau sales, Anda bisa memanfaatkan presuposisi bahasa saat presentasi dan atau follow-up calon klien Anda. Contoh sederhananya adalah :
“Begitu menggunakan software akunting Bapak mulai dengan mudah mengetahui kesehatan bisnis/perusahaan Bapak, sehingga Bapak akan dengan mudah mengambil keputusan-keputsan penting.”
Dalam kalimat tersebut ada beberapa hal yang disepakati :
- Menggunakan software akunting, dan
- Mulai mengetahui kesehatan bisnis dengan mudah, dan
- Mudah mengambil keputusan penting
Jika Anda perhatikan, kalimat tersebut juga mempresuposisikan bahwa Bapak tersebut menggunakan software akunting dan merasakan manfaatnya. Hal ini akan membuat klien Anda terasosiasi. Akan berbeda bila Anda menggunakan kalimat,
“Bila Bapak membeli software akunting…”.
Presuposisi Mengakibatkan Resepsi
Ada sebuah contoh menarik mengenai presuposisi dalam kehidupan nyata. Ini saya dapat dari curhat seorang teman. Sebutlah namanya Jim. Jim hendak menikahi kekasihnya yang sudah lama dipacarinya, Kim. Jim punya kendala dalam hal pendanaan pernikahannya. Oleh sebab itu Jim memilih untuk tidak ada resepsi. Namun, hal ini tentunya perlu disepakati oleh orangtua Jim dan orangtua Kim.
Tibalah hari dimana kedua orangtua keduabelah pihak bertemu. Mama Jim sudah tahu bahwa pihak mereka sedikit kesulitan untuk menyelenggarakan resepsi. Dan Mama Jim mulai berkata kepada orangtua Kim, “Jadi begini, untuk resepsinya bagaimana? Mau setengah-setengah atau bagaimana?”
Orangtua Kim yang mendengar kalimat tersebut menanggapi dengan, “Ah itu gampang, sekarang kita cari tempat saja dulu. Saya mah tidak hitung-hitungan soal itu. Namanya orangtua, itukan sudah kewajiban kita betulkan?”. Sepulang dari pertemuan itu Jim pusing tujuh keliling. Dan Kim memberitahu Jim bahwa orangtua Kim menjadi terpicu untuk menyelenggarakan resepsi karena ucapan Mama Jim.
Dari kalimat Mama Jim, terdapat presuposisi bahwa AKAN ADA yang namanya resepsi. Padahal hal itu bisa dicegah dengan kalimat, “Jadi begini, dari kami kalau untuk mengadakan resepsi kayaknya sulit. Nah dari pihak orangtua Kim sendiri bagaimana?”. Seandainya saja Mama Jim mengerti mengenai kekuatan dari presuposisi bahasa, mungkin hal ini tidak perlu terjadi.
Presuposisi Mengakibatkan …
Beberapa minggu lalu saya pergi berenang dengan teman-teman dan ada beberapa teman SMA saya yang sudah lama tidak berjumpa. Dan mulailah kami ngobrol ngalor-ngidul. Salah satu topiknya adalah night-club dan panti pijat ++ (ternyata bukan cuma C++ yah, hehehehe).
Salah satu teman saya, sebutlah namanya Jim, bilang, “Si Kim itu kan Uzbekistan di XXX dan terbilang paling cakep, tapi klo lu ke YYY, Kim itu ngga ada apa-apanya. Gua sih dekat juga ama si Kim, tapi belum gua apa-apain.” Saya menyeletuk, “Belum lu apa-apain Jim? Artinya akan ada suatu waktu lu apa-apain?”
…
Dengan adanya contoh-contoh diatas, apakah Anda jenis orang yang mangap dulu baru mikir atau mikir dulu baru mangap? Apapun jawabannya, Anda punya kendali untuk merubahnya (for good or for bad).
March 25th, 2012 at 5:34 pm
Artikel yang menarik, memang di saat-saat tertentu kita cenderung untuk mangap dulu tanpa berpikir, sehingga sulit untuk pertanggung jawabkan ucapan kita sendiri.