Huruf L pada NLP adalah singkatan dari Linguistic yang berarti ilmu dalam berkata-kata. Keterampilan dan kesadaran dalam berkata-kata akan sangat membantu manusia dalam kesehariannya terutama sekali untuk mengungkapkan PESAN SEBENARNYA dari kalimat yang diucapkannya – kata lainnya adalah untuk membuka tabir deep structure.
Selain itu, manusia juga memerlukan keterampilan dan kesadaran dalam berbahasa. Tujuannya tentu saja agar kita melatih diri; baik melalui tulisan ataupun berlisan agar pesan yang ingin disampaikan tidak sampai keliru ditanggapi.
Berikut adalah sebuah contoh penggunaan kata-kata yang dapat saja menimbulkan salah pengertian.
Suatu saat seorang pemuka agama mengadakan sesi wawancara dengan sepasangan calon suami-istri. Sesi ini merupakan suatu keharusan sebelum mereka mendapatkan pemberkatan.
Pada pertemuan terakhir dari rangkaian wawancara tersebut, sang pemuka agama meminta agar salah satu dari pasangan tersebut untuk keluar ruangan; entah sang pria ataupun sang wanita. Lalu keluarlah sang pria terlebih dahulu. Sang pemuka agama memulai serangkaian pertanyaan yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang berbunyi, “Apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan suami-istri?”
Mari kita telaah kalimat sang pemuka agama tersebut secara NLP. Saya tidak tahu bagaimana Anda memaknai kalimat, “Apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan suami-istri?” Tetapi saya memiliki keyakinan bahwa Anda dapat menebak apa yang dimaksud oleh sang pemuka agama tersebut.
Namun demikian, apakah kalimat tersebut benar-benar mewakili apa yang dimaksud oleh sang pemuka agama?
Mari kita pecah-pecahkan kalimat tersebut sehingga dapat lebih jelas.
-
Kalian.
Kata ‘kalian’ mengandung makna orang kedua dalam bentuk jamak. Artinya lawan bicaranya lebih dari satu orang.
-
Sudah pernah
Dua kata ini saling memperkuat satu dengan lainnya akan sesuatu hal yang telah dilakukan. Artinya minimal satu kali saja telah dilakukan pada masa lampau.
-
Hubungan suami-istri
Kata ini sendiri masih dapat dipecah kembali. Dan kata-kata inilah yang menjadi permasalahannya, yaitu : mengandung ke’ambigu’an dan presuposisi yang dapat menimbulkan makna ganda.
Rahasia dibalik “Hubungan Suami-istri”
Ya, saya tau apa yang ada dalam benak dan perasaan Anda. Tapi sayangnya, bukan itu yang saya maksudkan
Yang saya maksudkan adalah kata-kata “HUBUNGAN SUAMI ISTRI”. Kata-kata ini membuat apa yang dimaksud oleh sang pengujar, dalam hal ini sang pemuka agama; belum tentu dipersepsikan sama oleh lawan bicara.
Baiklah, mari kita uraikan satu persatu. Kita mulai dengan timbulnya ambigu atau kata yang dapat bermakna ganda.
Kata “hubungan suami-istri” akan membuat orang yang mendengarnya mengalami TDS (Transderivational Search), yaitu mencari makna yang menurut dirinya sesuai dengan kalimat/kata-kata tersebut.
Umumnya orang akan mengasosiasikan kata-kata tersebut adalah dengan hubungan seksual atau bersetubuh. Padahal hubungan suami-istri tersebut dapat diartikan sebagai “apapun kegiatan yang dilakukan oleh suami-istri”. Jadi tidak berarti melulu harus “hubungan seksual atau bersetubuh”.
Jadi dari sisi ambigu sudah terdapat sisi lemah yang pertama, menganggap semua orang akan mengerti hubungan seperti apa yang dimaksud oleh kata-kata “hubungan suami-istri”.
Kata “hubungan suami-istri” juga mengandung presuposisi. Perhatikan kata “suami-istri”, yang BERANGGAPAN adanya status suami dan istri. Sehingga kata-kata “hubungan suami-istri” dapat dimaknai sebagai suatu bentuk hubungan yang dilakukan oleh orang yang TELAH berstatus suami dan istri.
Dari sisi presuposisi terdapat sisi lemah kedua, dimana yang dimaksud oleh kata-kata tersebut adalah mereka yang sudah berstatus suami-istri, sedangkan yang sedang diajak berbicara belum berstatus suami-istri. Nah, loh?
Apa dan Bagaimana Jawabannya?
Bila orang ditanya “Apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan suami-istri?” Mereka akan mengalami TDS dan membandingkannya dengan pengalaman pribadinya di masa lalu. Umumnya orang akan cenderung mengasosiasikan pertanyaan tersebut dengan “Apakah kalian sudah pernah berhubungan seksual atau bersetubuh?”. Dan orang akan menjawab “Ya” bila memang sudah pernah dan “Tidak” bila memang belum.
Bagi orang yang waspada terhadap linguistik, maka pertanyaan “Apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan suami-istri?” maka jawaban selalu akan “Tidak” atau “Belum”. Sebab secara linguistik kalimat tersebut sudah menjurus ke arah jawaban “Tidak” atau “Belum”. Sehingga, walau pada kenyataannya mereka sudah melakukan hubungan seksual atau bersetubuh, maka jawaban “Tidak” atau “Belum” tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Pertanyaannyalah yang perlu diperbaiki.
Kemungkinan lainnya adalah bingung menjawab. Mungkin karena bingung akan maksud hubungan suami-istri itu APA atau SEPERTI APA?
Pengujar dan Pendengar
Dari contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa baik sebagai pengujar ataupun pendengar, kita perlu terampil dan waspada dalam berbahasa. Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam percakapan, namun juga dalam tulisan. Sehingga dapat dirubah dari Pengujar dan Pendengar menjadi Penulis dan Pembaca.
Sebagai pengujar Anda perlu memperhatikan atau mewaspadai kata-kata atau kalimat yang Anda gunakan, agar mendapatkan jawaban yang memang sesuai dengan apa yang Anda maksudkan. Jadi berujarlah sespesifik mungkin.
Anda sebagai pendengar, perlu mewaspadai kata-kata dan kalimat yang Anda dengar, sehingga Anda dapat memberikan feedback seperlunya sesuai dengan kata-kata atau kalimat yang Anda dengar. Hal ini dapat membantu menjauhkan Anda dari masalah akibat ketidakjelasan sebuah kalimat.
Penutup
Bagi para pemuka agama yang membimbing sesi pernikahan pada agamanya masing-masing; perhatikanlah apa yang akan Anda ucapkan. Apakah sudah sesuai dengan MAKSUD Anda yang SEBENARNYA?
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca, karena ini hanyalah sharing saja. Tidak ada maksud menggurui ataupun mengajari. Sebab saya ini pun masih belajar. Bila ada sesuatu yang kurang berkenan mohon dimaafkanlah anak kemarin sore ini. Salam Sukses.
July 13th, 2009 at 10:34 am
Artikel yang menarik Pak…
Nah, kalau paragraf terakhir di atas, presuposisi-nya apa ya?
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca, karena ini hanyalah sharing saja. Tidak ada maksud menggurui ataupun mengajari. Sebab saya ini pun masih belajar. Bila ada sesuatu yang kurang berkenan mohon dimaafkanlah anak kemarin sore ini.”
Hehehe…
July 13th, 2009 at 9:37 pm
Halo Mas Teddi, senang sekali dikomentari oleh Mas Teddi.
Mengenai pertanyaan Mas Teddi, itu tergantung Map orang yang membacanya