Jun 30

by Hingdranata Nikolay

Saat siapapun tahu bahwa NLP ingin memudahkan pencapaian tujuan, menyederhanakan kompleksitas, memudahkan jalan, memendekkan waktu pencapaian hasil, dan sejenisnya, bisa muncul pro dan kontra. Mengingat kalimat ‘memendekkan jalan’ atau menggunakan ‘jalan pintas’ tidak selalu diasosiasikan sebagai sesuatu yang positif. Sah-sah saja. Kadang sesuatu yang terlalu mudah atau terlalu cepat bisa diartikan tidak bagus atau kadang tidak mungkin benar-benar efektif. Tidak jarang malah sebagai sesuatu yang salah! Kadang malah ada yang berpikir, “Ini terlalu mudah, apakah ada cara yang lebih rumit dan canggih?”

Beberapa hal memang bisa melekatkan kerumitan dan kompleksitas dengan kecanggihan atau efektifitas. Jadi kalau tidak cukup rumit, pasti tidak cukup cerdas. Kalau tidak cukup kompleks dan terlalu mudah, pasti kurang canggih. Dan tentu, beberapa hal bisa saja memerlukan tingkat kerumitan tertentu. Kembali, ini soal PILIHAN.

Yang bisa jadi pertimbangan, apakah ‘jalan pintas’ itu jelek? Apakah ‘memendekkan sebuah proses’ itu buruk? Apakah ‘menyederhanakan sesuatu’ itu salah?

Seorang NLP akan langsung menjawab ‘tergantung’! Tergantung MANFAAT.
Nah, saya mau bagi satu pertimbangan lagi: tergantung juga pada KONTEKS dan EKOLOGI! Walau di NLP salah-benar atau baik-buruk itu subyektif, kita harus perhatikan KONTEKS dan EKOLOGI sebagai ukuran yang lebih EFEKTIF untuk bertindak. BERMANFAAT untuk kita bisa jadi akan merugikan seseorang atau sebuah sistem. Kita sering temui di lingkungan kita, betapa kita marah-marah saat kita merasa dicurangi, tapi saat kita mencurangi orang lain kita mengatakannya: yang penting BERMANFAAT untuk kita dan pandangan orang lain subyektif sekali! Saya pernah bercerita bagaimana seorang teman komplain hasil karya tulisnya ‘dibajak’ orang lain, sementara ia membuat hasil karya tersebut dengan software ‘bajakan’! Atau pemusik yang marah-marah karena lagunya di-copy orang-orang dengan tidak sah, sementara ia setiap hari menonton DVD copy-an yang tidak sah. Ada juga yang mengutuk orang lain yang berselingkuh dengan pasangannya, sementara ia sendiri berselingkuh dengan pasangan orang lain! Pertimbangan yang sesuai dengan ‘NLP way’ adalah BERMANFAAT untuk kita, dan KONTEKSTUAL serta EKOLOGIS! Seorang dengan pembelajaran NLP setengah-setengah hanya ingin FOKUS pada MANFAAT-nya saja! Katanya: boleh saja menurut orang lain salah, yang penting BERMANFAAT buat saya. Lebih mudah, dan juga lebih cepat bisa memindahkan ‘salah’ ke NLP yang mengajarkan asas MANFAAT dan subyektifitas. Perilaku seperti inilah yang memberikan reputasi yang buruk kepada ‘jalan pintas’ atau ‘pencarian kemudahan’.

Kalau ternyata di sebuah KONTEKS, penggunaan ‘jalan pintas’ atau pencarian kemudahan tersebut BERMANFAAT dan EKOLOGIS, alias tidak mengganggu keseimbangan RAPPORT yang ada di situ, maka why not? Inti dari asas MANFAAT dalam NLP itu bukan hanya apakah BERMANFAAT buat saya atau tidak, tapi juga apakah itu sesuai KONTEKS dan EKOLOGIS atau tidak.

Jadi kalau kita memang mencari ‘jalan pintas’ untuk mempermudah kita mengerjakan sesuatu atau mencapai sebuah hasil, dan dengan ‘jalan pintas’ tersebut kita tetap bisa menjaga keseimbangan RAPPORT di KONTEKS tersebut, tidak merugikan sistem apapun, tidak melawan norma atau etika di KONTEKS tersebut, maka ‘jalan pintas’ tersebutlah yang ingin saya sebut sebagai BERMANFAAT. Ukuran EKOLOGI di berbagai KONTEKS kadang tidak mudah dinilai. Saya berikan Anda panduan sederhana, di antaranya: Agama, kepercayaan, etika, kultur, norma, moral, karma, kaidah aksi-reaksi, kaidah tabur-tuai, peraturan atau kesepakatan bersama, perjanjian, dan sejenisnya. Etika di sebuah KONTEKS bisa berbeda di KONTEKS lain. Peraturan pun demikian. Sesuatu bisa saja tidak ingin kita lakukan, tapi karena sudah kita perjanjikan atau sepakati dengan seseorang, kita terikat untuk menjaga EKOLOGI dengan menepatinya. Saat kita bicara mengenai RAPPORT, kita katakan menghormati MODEL DUNIA yang berlaku di KONTEKS di mana kita berada.

Mau mencari, mengkreasikan, dan menggunakan ‘jalan pintas’? Pertimbangkan ini: BERMANFAAT, KONTEKSTUAL dan EKOLOGIS! Saat Anda tidak memenuhi unsur KONTEKSTUAL dan EKOLOGIS, Anda telah ikut berkontribusi ke persepsi buruk mengenai ‘jalan pintas’.

Padahal, kita masing-masing boleh MEMILIH, bukan? Mau jalan panjang atau jalan pintas, terserah kita! Toh jalan panjang dan kompleks pun tidak otomatis berarti EKOLOGIS! Dan jalan pintas juga tidak otomatis berarti kita melanggar EKOLOGI, bukan? Karena ‘segala sesuatu berhubungan’, ‘jalan pintas’ Anda pun bisa berbuah kebaikan untuk Anda atau malah sebaliknya, entah cepat atau lambat. Menurut saya? Tergantung dari apakah Anda EKOLOGIS atau tidak.

Have a positive day!

VN:F [1.9.13_1145]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
Jalan Pintas? Kemudahan? Kenapa Tidak?, 10.0 out of 10 based on 1 rating

Leave a Reply