Apr 10

by Antonius Arif

Nana adalah penjual asuransi jiwa. Dia bekerja sebagai sales asuransi jiwa karena untuk mengisi waktu yang kosong. Dia sudah mengikuti sedemikian banyak training dari salah satu perusahaan asuransi terkemuka. Hanya dia merasa sering kali terbentur dengan sikap mental, attitude dan cara berbicara dengan customer. Apalagi bila customernya sudah “resistence dan reject” kepada dia. Dimana kuota target dia harus tercapai dalam waktu 6 bulan, karena bila tidak tercapai maka dia harus kembali menjadi ibu rumah tangga.

Suatu ketika dia datang kepada saya meminta bantuan bagaimana caranya untuk bisa berkomunikasi dengan baik dan mental dia. Setelah saya menggali, sebenarnya dia sudah mendapat tips dan trik bagaimana cara berkomunikasi yang benar.

Saya berpikir sebentar, sebenarnya apa yang salah dengan semua ilmu yang sudah dia dapatkan ditraining. Lalu saya terpikir satu metode yang menurut saya cukup menarik.

Caranya….

Saya meminta dia untuk memperagakan pada saat dia ke customer dengan kondisi yang kurang baik.

Lalu, saya meminta dia untuk mundur ke belakang.

Sambil melihat dan mengimaginasikan bahwa dia ada didepan dan melihat bahwa seakan2 dia melihat dirinya didepan sedang berbicara dengan customer.

Kemudian saya tanya, apa yang kamu lihat didepan? apa penilaian kamu tentang dirimu tersebut?

Dia berkata ” saya melihat diri saya yang tidak PD, lemes, patah semangat, ragu2″

Ok. kemudian saya lakukan break state.

Lalu saya meminta dia untuk mengimajinasikan siapa kira2 yang menurut dia sangat jago dalam berjualan khususnya asuransi jiwa ini. Na, kebetulan dia memilih salah satu manajer diperusahaan tersebut.

Lalu saya meminta dia untuk mengimajinasikan bahwa si Manajer tersebut didepan dan berbicara kepada customer.

Saya tanya kemudian, apa yang kamu lihat?

” saya melihat seseorang yang energik, pintar berbicara dan semangat”

Lalu saya meminta dia untuk step in di diri si manajer tersebut. Dan saya tanya apa perasaan yang muncul?

“saya merasakan diri saya enerjik, pintar berbicara dan semangat”

ok, segera saya anchor dan saya minta dia step back. Apakah hasilnya masih sama? tetap semangat? iya, masih feel good. RUARRR BIASA katanya.

Ok, setelah itu saya break state dan future pacing.

Saya meminta dia untuk membayangkan pada saat dia bertemu dengan customer, apa yang dirasakan?

“Saya benar2 semangat dan luar biasa.”

“Wow, good”

Dan dia berkata. It’s “New” me, saya belum pernah seperti ini sebelumnya. Dia telah bertransformasi menjadi orang yang baru dan luar biasa. Serta jauh lebih PD.

SALAM

@antoniusarif

VN:F [1.1.6_502]
Rating: 6.8/10 (4 votes cast)

Leave a Reply