by Tjia Irawan
Acapkali ketika sedang melakukan sesi wawancara dengan para calon karyawan baru, saya kadang terkenang akan masa-masa awal ketika saya pertama sekali diwawancara untuk hal yang sama. Dimana pada waktu itu, selepas SMA saya memutuskan untuk bekerja dan menunda sejenak pendidikan di perguruan tinggi. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kursus perbankan singkat yang pada akhirnya mengantarkan saya bekerja pada sebuah bank swasta nasional. (baca kembali; G.R.O.W. Your Life: #1 di sini)
Sebuah hal yang tidak pernah terlupakan adalah pertanyaan tentang kesediaan saya ditempatkan di bagian keuangan? Waktu itu, saya dengan serta merta dan tanpa berpikir panjang berkata, “Ya, saya bersedia!” Padahal dalam surat lamaran tersebut saya melamar sebagai staf administrasi kredit sesuai dengan kursus perbankan yang saya ikuti. Entahlah, mungkin saya terlalu terinspirasi dengan pepatah tidak ada rotan akarpun jadi. Yang penting diterima bekerja dululah; yang lainnya biar bagaimana nanti saja.
Singkat cerita setelah diterima bekerja dan beberapa kali pindah unit kerja, akhirnya saya pun menduduki posisi sebagai orang yang memiliki peran dan tanggung jawab sebagai pengelola SDM di perusahaan tempat saya bekerja.
Di posisi ini, membuat saya yang paling sering mewawancarai para pelamar dibandingkan kawan-kawan dalam wilayah kerja saya. Tahukah anda? Bahwa apa yang dahulu saya pernah lakukan, sekarang berulang kembali. Acapkali para pelamar kerja ketika saya tanyakan pertanyaan “Apakah bersedia duduk di posisi X?” Padahal yang dilamarnya adalah posisi Y, maka jawabannya adalah “Saya bersedia!” Walaupun dari sisi background pendidikan atau pengalaman kadang jauh berbeda.
Hal ini menjadi asyik ketika mencermati dunia pengembangan SDM. Saya menemukan banyak fenomena-fenomena yang menarik. Pada saat yang sama, saya juga adalah salah seorang narasumber di sebuah acara radio rutin setiap bulan yang membahas tentang dunia pengembangan SDM. Acara tersebut bersifat interaktif; setiap pendengar dapat bertanya langsung tentang apa saja yang sedang mereka hadapi dalam dunia kerjanya. Dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali saya terima, membuat saya menyimpulkan ada dua bagian besar fenomena yang dihadapi oleh perusahaan dalam pengelolaan SDM-nya, yaitu:
Pertama, karyawan loyal. Mereka adalah karyawan yang benar-benar ada untuk berkarya dan menghasilkan kontribusi yang optimal. Mereka bekerja dengan penuh semangat karena mereka menemukan ALASAN mengapa mereka melakukan hal tersebut. ALASAN tersebut membuat mereka tahu siapa dirinya dan akan kemana mereka akan pergi. Mereka punya tujuan yang jekas akan panggilan mereka dan hampir dipastikan mereka sukses membangun karier mereka karena mereka adalah bintang.
Yang kedua adalah karyawan “loyal”. Mereka adalah tipe karyawan yang ada dan bekerja karena mereka tidak menemukan pilihan lain selain yang mereka kerjakan saat ini. Mereka sering mengeluh terhadap apa yang terjadi di sekeliling mereka. Saya sering menemukan karyawan dengan tipe seperti ini. Ketika ditantang dengan pernyataan,”Jika kamu tidak nyaman bekerja di sini, silahkan melamar ke perusahaan lain yang menurut kamu lebih baik” Maka respon mereka hampir pasti sama, yaitu tidak berani melangkah.
Mengapa? Karena sebenarnya mereka menyadari seberapa besar kapasitas yang mereka miliki. Mereka memiliki banyak ketidakpuasan dalam hidup dan pekerjaannya. Namun mereka tidak mampu menjawab ketidakpuasan pribadinya. Karyawan tipe ini melihat bahwa sumber masalah ada pada orang lain bukan pada dirinya. Berbeda dengan karyawan tipe pertama yang melihat bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sekeliling mereka. Oleh karenanya, mereka pun berpikir bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas setiap tindakan mereka.
Mungkinkah apa yang terjadi di sesi wawancara menjadi cerminan awal akan ke arah mana seorang karyawan akan terbentuk? Saya hanya melihat pada pengalaman saya sendiri. Motivasi awal saya waktu itu adalah yang penting saya bekerja, walaupun penempatannya tidak sesuai dengan keinginan saya yang penting masuk dan diterima dulu dalam perusahaan ini. Sehingga pernah selama beberapa tahun saya tidak menemukan gairah dan kenikmatan dalam membangun karier. Saya mengalami disorientasi dalam membangun karier. Karena saya tidak tahu apa yang saya inginkan dan apa yang saya maknai dalam bekerja. Berbagai training motivasi - yang menurut beberapa kawan baik dan bagus saya ikuti. Namun pada waktu itu belum berdampak apapun dalam diri saya. Tentunya anda dapat membayangkan bagaimana rasanya hidup dalam sebuah lingkaran rutinitas yang itu-itu saja. Hal ini baru berakhir, ketika saya berani memutuskan lingkaran ini dan mengambil tanggungjawab atas setiap langkah dan tindakan saya.
Saya tidak menyamaratakan bahwa orang yang pada waktu sesi wawancara memberikan jawaban seperti saya akan mengalami hal seperti yang saya ceritakan. Mungkin banyak juga orang yang sukses dalam kariernya walaupun pada waktu wawancara jawabannya, “Yang penting bekerja dulu, deh!” Atau yang sebaliknya juga dapat terjadi. Waktu habis dan berlalu begitu saja tanpa ada perubahan berarti dalam hidup ini.
Saya pun akhirnya menemukan jawaban atas apa yang saya hadapi dan mulai mengubah arah serta tindakan yang memang perlu dilakukan. Dan apa yang terjadi kemudian? Benar! Saya kini memetik hasilnya. Saya bersyukur mendapatkan sebuah karier yang baik di usia yang masih relatif muda.
Pertanyaan untuk didiskusikan:
Jelaskan dengan singkat, bagaimana persisnya karir yang Anda dambakan dalam kehidupan ini dan bagaimana cara Anda dalam mengapainya? Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi kejenuhan dalam bidang pekerjaan Anda?
Ikuti terus G.R.O.W. Your Life Coaching Session setiap minggu dan kirimkan jawaban Anda ke coachingmedia.solutions@gmail.com. Dapatkan 2 tiket gratis dalam Workshop 1 hari di Januari 2010.
Bila Anda terlewat 2 artikel sebelumnya silahkan klik URL berikut :
http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/grow-your-life-1-apa-atau-bagaimana/
http://nlpintoaction.com/aplikasi-nlp/grow-your-life-2-ingin-atau-butuh/
Pastikan Anda membaca keseluruhan serial artikel untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai bagaimana merancang hidup yg lebih bermakna.

Leave a Reply