by Tjia Irawan
Bagi saya kadang hidup ini membingungkan. Apalagi kalau kaitannya dengan mencari pasangan hidup. Untuk urusan yang satu ini, Anda dipersilahkan menilai saya agak narsis. Memang, saya bukanlah orang yang sulit untuk mendekati dan memulai sebuah hubungan dengan lawan jenis. Sebaliknya begitu mudahnya kawan-kawan wanita silih berganti mewarnai perjalanan hidup saya. Namun apakah dengan begitu mudahnya pula saya mencari pasangan hidup? Disinilah saya kena batunya!
Berbicara mengenai pasangan hidup artinya adalah orang yang akan berpasangan dengan saya untuk mengarungi lautan kehidupan bersama-sama.
Apabila saya ditanya ingin istri yang seperti apa? Secara jujur saya akui ketertarikan terhadap faktor fisik tertentu yang akan keluar menjadi jawabannya. Saya pikir, saya tidak sedirian. Coba saja amati realty show yang lagi naik daun; Take Me Out Indonesia. Begitu kandidat yang muncul tidak menarik secara fisik, langsung tanpa ampun pada mematikan lampunya.
Saya pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita yang secara perawakan mampu menggetarkan dunia persilatan. Memang ada rasa bangga saat berjalan dengan kekasih yang cantik. Apalagi jika ada tatapan iri dari laki-laki lain. Kayaknya asyik banget, gitu loh! Namun, pada ujungnya semua harus saya akhiri. Entah ini sebuah kebetulan apa tidak? Mereka memiliki ciri-ciri yang hampir sama. Selain mampu menggetarkan kancah persilatan, mereka juga turut mengguncang dompet saya. Memang saya tidak boleh melakukan generalisasi, tapi apa daya nasib saya berkata lain. Ibarat mobil mewah, penangananya pun perlu disesuaikan. Masa disamakan dengan mikrolet? Saya saja yang tidak tahu diri. Untunglah segera sadar diri.
Hingga suatu ketika adik saya minta tolong untuk menemaninya dalam satu acara kegiatan kerohanian. Di sana saya berkenalan dengan beberapa wanita sekaligus. Tuhan memang baik, selain memberikan saya modal “good looking” juga dikasih “good tasting”. Tidak ada satupun wanita yang saya kenal di acara tersebut yang mampu menarik perhatian saya. Dalam perjalanan pulang dengan bus, ada seorang wanita yang baru saya kenal di acara tersebut duduk tepat di belakang saya dan entah bagaimana kami pun bertukar cerita sepanjang perjalanan. Setelah acara itu, kami paling bertegur sapa jika bertemu di tempat ibadah saja. Sisanya, tidak ada yang istimewa.
Sampai suatu ketika orang tua dari atasan saya meninggal. Karena tidak ada teman yang mau menemani, iseng-iseng saya menelepon ke kawan wanita yang saya ceritakan di atas. Ternyata dia bersedia menemani! Cukup unik juga, ternyata kencan pertama kami adalah melayat ke rumah duka.
Sepulangnya dari sana, tiba-tiba muncul sedikit getaran dalam hati; yang di beberapa tahun kemudian membuat saya memutuskan untuk menjadikan dia sebagai teman dalam mengarungi kehidupan bersama-sama.
Perjalanan kehidupan bukanlah melulu ditempuh via jalan beraspal hotmix yang lebar. Dihiasi pemandangan hijau yang memanjakan mata di kiri dan kanan jalan. Tapi juga ada jalan yang terkadang terjal, menyempit, dan tikungan berbahaya. Mungkin juga harus melewati dan memotong sungai kadang perlu menanjaki tebing.
Bagi seorang pengiat otomotif, mungkin akan memberikan nasehat bahwa sebuah mobil mewah dengan ground clearance rendah tidak akan mampu melewati medan kehidupan seperti di atas. Untuk melewati perjalanan tersebut, mungkin dibutuhkan Jeep Off-Road dengan double gardan yang dilengkapi dengan winch. Mobil tersebut mungkin bukan kenderaan dengan suspensi yang empuk dan bahkan tidak dilengkapi dengan air conditioner. Namun mobil tersebut dilengkapi dengan snorkle yang mampu membuat mobil tersebut aman ketika harus melewati sungai yang dalam. Dan yang pasti ketika memandang mobil tersebut ada rasa kagum yang teramat dalam dan menyadari kalau bukan karena mobil ini belum tentu perjalanan yang sudah ditempuh sudah sejauh ini.
Saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya jika ada pembaca yang merasa bahwa saya terlalu menyederhanakan pasangan hidup yang disamakan dengan sebuah mobil. Saya sungguh tidak bermaksud demikian. Ini akibat dari keterbatasan kemampuan saya dalam memilih metafora – sebagai seorang mantan anak motor jalanan.
Pertanyaan untuk didiskusikan:
Apa keinginan dan kebutuhan Anda dalam memilih pasangan atau karir? Apakah Anda menyadari setiap konsekwensi atas pilihan Anda? Sebetulnya adakah pasangan ideal atau pekerjaan ideal dalam hidup ini?
Ikuti terus G.R.O.W. Your Life Coaching Session setiap minggu dan kirimkan jawaban Anda ke coachingmedia.solutions@gmail.com. Dapatkan 2 tiket gratis dalam Workshop 1 hari di Januari 2010.
January 8th, 2010 at 1:58 pm
Luar biasa, sy jd sadar diri nih. Apakah sy harus rombak mindset saya ya???…. Ma kasih ya om artikelnya.