by Tjia Irawan
Ada salah satu cabang olah raga yang begitu fenomenal di Indonesia , yaitu sepakbola. Namun disebut fenomenal bukan karena prestasi cabang olahraga tersebut di negara ini begitu fenomenal, justru kebalikannya.
Dapatkah ANDA bayangkan dengan potensi jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, namun untuk menghasilkan satu tim sepakbola yang sanggup berbicara dikancah dunia saja tidak sanggup ?
Apa yang salah ?
Tahukah ANDA hal yang menggelikan buat saya ketika menonton acara pertandingan sepakbola di televisi ?
BENAR … komentar dari para komentatornya. Wuih komentar mereka menurut saya menunjukan mereka adalah para pakar-pakar sepakbola kelas wahid. Lebih luar biasa lagi adalah para penontonnyapun tidak mau kalah, umpatan-umpatan sampai yang bernada sarkastik keluar dari mulut mereka saat menyaksikan tim kesayanganya tidak berhasil memenangkan pertandingan.
Kira-kira apa yang terjadi kalau para komentator dan para penonton tersebut BENAR-BENAR diminta turun ke lapangan dan bermain sebagaimana PEMAIN ? ANDA pasti tahukan jawabannya ?
Saya tidak TAHU apakah ANDA TAHU kalau fenomena yang terjadi di dunia sepakbola di Indonesia tersebut mungkin juga terjadi di perusahaan ANDA ?
Berapa banyak ‘PEMAIN’ dalam perusahaan ANDA ?
Berapa banyak ‘komentator sepakbola’ dalam perusahaan ANDA ? atau
Berapa banyak ‘penonton sepakbola yang suka mengumpat’ dalam perusahaan ANDA ?
Atau dimanakah PERAN ANDA saat ini, apakah sebagai PEMAIN atau jangan-jangan ……. ?
Ha ha ha … lupakanlah ujaran saya itu, ITU tidak PENTING, yang paling PENTING adalah memastikan bahwa perusahaan ANDA memiliki banyak PEMAIN.
Sebenarnya apa yang membedakan antara PEMAIN dengan bukan PEMAIN ? Seorang PEMAIN adalah orang yang DILATIH cara untuk bermain, DIBERIKAN KESEMPATAN untuk bermain, kemudian juga DIEVALUASI permainannya dan DIBERIKAN FEEDBACK. Untuk menciptakan lebih banyak PEMAIN maka PERLU lebih banyak orang yang DILATIH, PERLU lebih banyak orang yang DIBERIKAN KESEMPATAN bermain dan juga DIEVALUASI sehingga orang tersebut MEDAPATKAN FEEDBACK yang pada akhirnya akan meningkatkan performanya sebagai seorang PEMAIN.
Pertanyaanya siapakah yang melatih PEMAIN tersebut, kemudian memberikan kesempatan bermain, mengevaluasi permainannya dan kemudian memberikan feedback sehingga setiap PEMAIN TAHU dan MAMPU meningkatkan segala POTENSI-nya dan memperbaiki segala kelemahannya ? BENAR, sebuah kesebelasan sepakbola PASTI membutuhkan peran seorang COACH.
Kira-kira apa yang akan terjadi apabila sebuah perusahaan mampu menjadikan setiap MANAJER-nya setiap LEADER-nya sebagai seorang COACH dan memilki passion sebagai seorang COACH? Apa yang terjadi kalau ANDA mampu menjadi COACH bagi diri ANDA sendiri?
Ada sebuah kesebelasan sepakbola yang begitu fenomenal beberapa tahun yang lalu diajang piala dunia. Sebelumnya kesebelasan ini adalah kesebelasan yang biasa-biasa saja dan mungkin kesebelasan yang tidak banyak bicara dalam ajang besar seperti piala dunia. Namun, saat ada seseorang yang hadir dan terlibat dalam kesebelasan tersebut maka ceritanya menjadi lain.
Saya tidak akan berpanjang lebar untuk menjawabnya, sambil ANDA terus membaca artikel ini PIKIRKAN apa yang telah terjadi pada kesebelasan Korea Selatan beberapa tahun silam dalam ajang Piala Dunia ketika mereka di COACHING oleh seorang COACH ternama yang bernama Guus Hiddink ?
Menurut ANDA kira-kira apa yang telah dilakukan oleh Guus Hiddink ya ? dan seandainya ANDA TAHU apa yang dilakukan Guus Hiddink dan ANDA MAMPU melakukannya pada perusahaan ANDA bahkan pada diri ANDA sendiri ? Kira-kira HASIL apa yang akan ANDA dapatkan ? Bukankah ANDA semakin TAHU jawabannya SEKARANG ? Tunggu apa lagi, LAKUKAN SEKARANG APA YANG ANDA TAHU …
April 24th, 2009 at 2:23 pm
Yang saya tau, bukan cuma sepak bola Pak Tjia. Tapi juga politik.
Banyak yang berkoar-koar dibawah, giliran naik, keok.
Tapi penutupnya agak membingungkan, bisa diberikan pencerahan Pak?
April 24th, 2009 at 11:16 pm
menurut saya syarat utama agar sebuah perusahaan mampu menjadikan setiap MANAJER-nya setiap LEADER-nya sebagai seorang COACH dan memilki passion sebagai seorang COACH, para MANAJER dan LEADER tersebut harus mampu menjadi COACH bagi pribadi diri mereka sendiri terlebih dahulu… agar mereka dapat melatih PEMAIN bgm cara untuk bermain, MEMBERIKAN KESEMPATAN untuk bermain, kemudian juga MENGEVALUASI permainannya sehingga akan diperoleh FEEDBACK yang pada akhirnya akan meningkatkan performa seseorang sebagai PEMAIN.
Kenyataannya, saat ini apakah sdh banyak para MANAJER dan LEADER yg seperti Guus Hiddink???
April 26th, 2009 at 5:57 am
@Pak Henry, Pada bagian penutup yang mana yang sejauh ini membingungkan bapak ?
@Pak Denny, sangat setuju dengan pertanyaan Bapak, sehingga sangat PENTING untuk memastikan posisi dan peran para MANAJER dan LEADER yang Bapak miliki ada di posisi yang mana, sehingga lebih menarik saat mempertanyakan kembali bagaimana membuat para MANAJER dan LEADER MAMPU memainkan perannya sebagai seorang COACH ? Apa yang perlu dilakukan ? Resource apa yang perlu mereka TAHU dan perlu mereka punya ?
April 26th, 2009 at 5:38 pm
Pak Tjia, kalimat “Bukankah ANDA semakin TAHU jawabannya SEKARANG ?” membuat saya bingung, sebab sepertinya alinea terakhir itu berputar-putar kalimatnya tanpa ada solusinya
April 28th, 2009 at 6:32 am
Pak Henry, Sebelum anda mulai mempercayai jawaban dan menemukan solusi atas pertanyaan yang muncul dalam pikiran dan perasaan anda apakah anda tahu kalau arti dan makna pertanyaan tersebut adalah anda semakin tahu jawabannya sekarang saat anda mulai memikirkan solusinya sekarang. Dalam Coaching kami memandang seorang coachee sebagai orang yang sangat penuh sumberdaya, sehingga sebenarnya saat inipun anda sudah punya jawabannya.
April 28th, 2009 at 7:59 am
Pak Tjia, ini hal yang baru untuk saya. Jadi ini salah satu aplikasi presup NLP dalam Coaching ya.