Pak Lurah punya hobi memelihara berbagai macam jenis burung. Di suatu pagi, burungnya hilang semua. Merasa ulah si maling sudah keterlaluan, Pak Lurah berencana untuk membawa masalah ini di pertemuan warga. Maka disebarkanlah undangan kepada para warga. Ada sekitar 200 orang warga yang hadir.
Setelah berbicara panjang lebar soal moral, akhirnya Pak Lurah masuk ke inti masalah sebenarnya mengapa mereka diundang. Lalu bertanyalah dia, “Siapa yg punya burung?” Seluruh laki-laki yang hadir segera berdiri.
Menyadari kesalahannya dalam cara bertanya. Lalu Pak Lurah buru-buru berkata, “Bukan itu maksud saya. Maksud saya adalah, siapa yg pernah lihat burung?” Seluruh warga wanita berdiri.
Berkunjung ke Psikologi UNM Makassar memberikan pelajaran berharga bagi saya. Apalagi saat bertemu dengan alumni-alumni Basic Hypnosis Class dan kembali berlatih bersama mereka melakukan proses therapy. Di Psikologi UNM saya juga bertemu dengan seorang mahasiswa yang bertanya mengenai satu kasus yang sedang ia alami. Pertanyaan ini berlanjut pada diskusi panjang tentang kemampuan diri kita. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengontrol diri nya sepenuh nya.
Awalnya saya memiliki pemahaman yang seperti kebanyakan orang. Lingkungan itu sangat mengontrol diri kita, sehingga untuk memperbaikinya maka kita harus mengubah kondisi lingkungan yang sesuai dengan kondisi yang kita inginkan. Akibat dari pemahaman ini saya begitu banyak menyalahkan orang disekitar saya atas kegagalan saya, bahkan sebelum melakukan sesuatu saya sudah menyalahkan dan tidak yakin dengan outcome saya. Saya juga banyak menulis tulisan yang menghujat pemerintah yang saat itu saya yakini mengakibatkan saya menjadi seperti diri saya saat itu.
Perubahan drastic terjadi saat Tahun 2007 saya mengenal NLP dari seorang sahabat. Menjelajahi NLP kemudian mempertemukan saya dengan guru saya “Issa Kumalasari“. Dari mempelajari NLP ini maka saya mengetahui bahwa diri saya sendirilah yang mengontrol diri saya, dan bukan nya lingkungan. “Siapa yang memutuskan untuk marah, sedih, takut, jengkel, tidak melakukan sesuatu?”. Bukankah yang memutuskan hal tersebut adalah diri kita sendiri. Bahkan untuk tidur pun yang memutuskan adalah diri kita sendiri.
Seorang wanita usia 27 Tahun dengan kondisi punggung ditekuk datang ke kantor PT. Transformasi, setelah 3 hari sebelumnya janjian untuk berdiskusi tentang permasalahan yang ia hadapi.
Dengan wajah penuh ketakutan dan suara bergetar ia mengatakan bahwa ia minder saat berhadapan dengan orang lain termasuk dengan atasannya sendiri, hal ini menyebabkan ia belum bisa meningkatkan karir di perusahaan tersebut setelah lebih dari 5 tahun bekerja, sementara teman-temannya sudah jauh lebih maju.
“Mas Dudi, apa saya bisa ber Transformasi menjadi lebih baik sementara untuk membangun kepercayaan diri saja terseok seok”
by Tjia Irawan
Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah pelatihan Konseling dalam sebagai bagian dari pengembangan area Personal Growth dalam Wheel of Life pribadi . Bagi para NLP-ers tentunya nama Virginia Satir tidaklah asing lagi karena ia adalah seorang Family Therapist besar dijamannya yang dimodel oleh para founder NLP. Oleh sebab itu training ini menjadi menarik karena teknik-teknik yang diajarkan adalah teknik Konseling dari Virginia Satir.
Awalnya saya menyangka akan mencium aroma NLP yang kuat di dalamnya. Ternyata saya keliru aroma yang tercium memang berbeda karena ada aroma kesegaran lain yang menurut saya menyenangkan dan menyegarkan. Ada fenomena yang menarik yang saya dapat dari training ini, yaitu sekitar 99% dari peserta training adalah bukan mereka yang berprofesi sebagai terapis atau konselor. Profesi mereka rata-rata adalah sebagai seorang General Manager di dalam perusahaan. Pertanyaannya adalah apa motivasi mereka atau perusahaan mereka mengikuti training ini?
Perhatikan bagaimana sebuah mesin bekerja. Konon komponen-komponen mesin terbuat dari logam pilihan. Mereka dirancang untuk bekerja dalam putaran tinggi dan tahan terhadap gesekan. Bahkan mereka dirancang untuk bekerja dalam suhu yang ekstrim. Namun dapatkah anda bayangkan mesin yang komponen-komponenya terbuat dari logam pilihan tersebut anda hidupkan atau anda fungsikan tanpa anda menaruh minyak pelumas di dalamnya? Kira-kira apa yang akan terjadi dengan mesin tersebut? Benar, mesin tersebut akan rusak karena komponen-komponennya rontok satu persatu.
Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali menjadi program manager untuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu. Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka dengan sebuah pertanyaan menggelitik. Ya, bahkan sampai sekarang saya masih terus tergelitik setiap kali mengingatnya.
“Siapa di sini yang ingin jadi pemimpin?” tanya beliau.
Serempak seluruh trainee pun mengacungkan tangan penuh percaya diri. Maklum, mereka ini adalah karyawan pilihan yang memang sudah ditengarai bibit kepemimpinannya sejak proses seleksi. Dalam hati, saya pun ikut mengacungkan tangan saya. Namun karena jaim sebagai senior, maka saya senyum-senyum saja. Hehehe…
“Bagus,” ujar beliau. Dan para trainee pun menurunkan tangan mereka.
“Nah, kalau semua orang ingin jadi pemimpin, lalu siapa dong yang jadi pengikutnya?” Tanya beliau lagi sambil tersenyum.
by Erwin Wong
Ketika Michael Jordan ditanya apa yang membuatnya menjadi terbaik dari pemain basket NBA lainnya. Michael berkata “Banyak orang yang memiliki bakat dari Tuhan, dan saya adalah salah satunya. Tapi apa yang memisahkan saya selama ini adalah anda tidak akan pernah menemukan seseorang yang lebih kompetitif dari saya. Saya tidak akan bermalas-malasan sedikitpun dalam hal apapun.”
Salah satu titik balik dari kehidupan Michael Jordan terjadi ketika dirinya berada pada kelas SMP (Tenth grade). Apa yang tidak diketahui banyak orang mengenai Michael Jordan sebagai pemain basket yang luar biasa adalah ia dikeluarkan dari Laney High School Bucaneers. Ia pulang kerumah menangis sedih sampai sore.
Apa yang biasanya terjadi pada orang lain, pada umumnya adalah menyerah dan biasanya bergabung dengan orang-orang yang salah.
Michael mengubah rasa sakit hatinya menjadi keinginan yang membara. Ia menetapkan standar yang lebih tinggi dan gol yang lebih tinggi untuk dirinya. Ia menetapkan untuk menjadi orang yang bukan hanya pemain tim yang terbaik akan tetapi juga menjadi pemain terbaik di lapangan.
by Iwan Ketan
Seberapa sering anda datang ke seminar motivasi?
Dan seberapa sering kemudian anda menjadi lemas kembali setelah kembali dari seminar tersebut?
Pernahkah anda menyadari,
Seminar motivasi bertujuan agar anda bisa mengakses ruangan ekselensi anda pribadi. Sehingga di dalam ruangan itu, anda bisa begitu semangat. Anda begitu cemerlang.
Sayangnya kebanyakan seminar motivasi “lupa” memberikan anda kunci ruangan ekselensi pribadi anda. Sehingga ketika anda membutuhkan motivasi atau untuk kembali mengakses ruangan ekselensi, anda tidak tahu bagaimana memasuki ruangan itu kembali.
Namun kini salah satu bentuk Rahasia Motivasi telah terungkap dalam tulisan ini. Dan anda akan mengetahuinya dan langsung bisa mempraktikkan agar anda selalu semangat. Yah sangat semangat. Sehingga anda bisa memunculkan rasa semangat itu kembali sepertihalnya anda sangat termotivasi ketika berada dalam acara motivasi yang pernah anda kunjungi.
Sejak saya pertama kali datang ke Medan. Tepatnya ke kampung halaman mertua di Sumatera Utara. Ada sebuah tradisi unik yang belum pernah saya temuin di kota asal saya yaitu Palembang. Tradisi tahunan yang unik ini dilaksanakan setiap mau memasuki Tahun Baru. Tepatnya satu jam sebelum jam berdentang sebanyak dua belas kali. Entahlah sudah berapa lama kegiatan rutin ini selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat Batak.
Makna TAHUN BARU
Bagi sebagian orang Batak setiap pergantian tahun bukan hanya sebuah ritualitas makan bersama. Atau menunggu detik-detik pergantian tahun. Lalu meniup terompet begitu jam menunjukkan sudah datangnya awal tahun baru. Ada sesuatu yang jauh lebih penting yaitu setiap menyambut awal tahun baru BUTUH dan PERLU melepaskan setiap belenggu perasaan seperti benci, dendam, marah, egois, kecewa dll. Intinya setiap permasalahan yang dialami di tahun yang lalu, perlu dilepaskan. Kok di awal tahun baru masih mau mengendong masalah. Biar seperti busur panah yang lepas dan mampu melaju kencang menuju sasaran.
Artikel ini terinspirasi dari pembicaraan dengan seorang sahabat yang Miracle nya. Beliau mengatakan hasil dari sebuah survey badan PBB menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia mengalami masalah mental dan pikiran.
Masalah adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan kita. Kita semua pernah mengalami nya. Kita semua pernah menghadapinya. Masalah membuat kita tetap sebagai manusia. Masalah membuat kita tetap menjadi Miracle dalam kehidupan kita.
Masalah adalah salah satu bagian terpenting dari Miracle yang diberikan Allah SWT kepada hambanya. Itu merupakan miracle yang memberikan kesuksesan pada hambanya.
Apakah NLP benar-benar berguna? Tanya seorang teman dengan sikap sinikalnya. Selanjutnya ia pun berkomentar bahwa NLP tidak pantas diberi embel-embel “ilmu” sebab NLP hanyalah bualan yang dibentuk dari tambal sulam berbagai teknik; seperti hypnotherapy, Gestalt therapy, dan Family therapy. NLP juga memungut pemikiran-pemikiran sumber lain, sebut saja Noam Chomsky, Gregory Bateson dan….(cepat-cepat saya potong: Transformational Grammar!). Teman saya membeliak, “Apa itu transformational grammar?” Sambil tersenyum saya menjawab, “Itulah Meta-model yang menjadi cikal-bakal “ilmu gathuk ini!” (Silakan baca buku The Structure of Magic Vol I oleh Richard Bandler dan John Grinder).
Di saat merenung dalam hati, saya justru dapat melihat dan menyelami kelebihan NLP, sebab diramu dengan banyak sekali pemikiran, maka teknik-teknik yang tercipta sangat fleksibel. Untuk melakukan terapi atau membantu seorang klien kita tidak perlu pusing-pusing menentukan teknik yang mana yang akan kita gunakan, sebab teknik, model, atau alat mana saja dapat digunakan untuk mengatasi masalah mana pun sepanjang kita sebagai coach atau fasilitator percaya diri. Hal ini telah sering saya saksikan dalam kelas-kelas pelatihan, dan berikut ini salah-satu contohnya.
Dalam suatu sesi assessment di ujung pelatihan, seorang peserta pelatihan (kita sebut saja dia Amat) mendapat kesempatan mempraktekkan teknik NLP yang disebut Parts Integration. Secara spesifik dia mendapatkannya dengan menarik undian, jadi bukan maksudnya memilih teknik ini. Barangkali ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu sepintas teknik NLP Parts Integration ini, siapa tahu ada pembaca yang kurang atau belum familiar.