Terapi Konyol ala NLP
Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran ketika Coach mengatakan, “Waktu kamu kuliah kedokteran dahulu apa sich yang disebut “Sembuh”; Yang diajarkan oleh guru kamu? Jangan-jangan kamu ini waktu kuliah dulu ‘Kurang Belajar’ sehingga sekarang jadi ‘Kurang Ajar’ sama pasien “
Saya yang sudah dari tadi sangat sebal menjawab sekenanya, “Sembuh itu kalau sakit dari si pasien sudah hilang.”
Coach bertanya lagi, “Jadi kalau seseorang datang dengan keluhan ‘panas badan’ , apakah dapat dikatakan sembuh jika panasnya sudah hilang?”
Saya menemukan salah satu kasus klien yang cukup simpel dan kadang bila saya pun diawal karir saya sebagai Hypnotherapist dan Mind Therapist suka tergoda untuk langsung mengeksekusi secara langsung tanpa bertanya lebih lanjut dan lebih dalam.
Karena saking simpelnya, ternyata bukan saya saja yang bisa melakukan itu, bahkan seorang Hypnotherapist yang cukup terkenal di negeri seberang pun bisa melakukan kesalahan yang sama. Kasusnya hanya soal percaya diri dalam public speaking. Na, kebetulan klien saya ini sudah pernah diterapi di negeri seberang dengan salah satu hypnotherapist ternama dan juga instruktur Hypnotherapist terbaik di dunia. Karena mungkin mereka menganggap kasus ini mudah, beliau hanya melakukan sugesti secara langsung dan melakukan object imagery.
Memang sih, dia merasa lebih baik sedikit tetapi masalahnya tidak terselesaikan dengan baik. Lalu, saya mencoba untuk melakukan behavioral assement serta hypno analisis dan ternyata masalahnya tidak disana. Masalahnya ada dimasa kecilnya dia dan segera saya melakukan teknik hypnotherapeutic regresi, informed child technique serta forgiveness therapy serta saya lanjut ke future timelinenya dia. Apa yang terjadi? Dia merasa jauh lebih baik dan lebih baik dari sebelumnya. Dan saya tidak lupa untuk memasukan unsur teknik spinning serta anchor.
