Saat siapapun tahu bahwa NLP ingin memudahkan pencapaian tujuan, menyederhanakan kompleksitas, memudahkan jalan, memendekkan waktu pencapaian hasil, dan sejenisnya, bisa muncul pro dan kontra. Mengingat kalimat ‘memendekkan jalan’ atau menggunakan ‘jalan pintas’ tidak selalu diasosiasikan sebagai sesuatu yang positif. Sah-sah saja. Kadang sesuatu yang terlalu mudah atau terlalu cepat bisa diartikan tidak bagus atau kadang tidak mungkin benar-benar efektif. Tidak jarang malah sebagai sesuatu yang salah! Kadang malah ada yang berpikir, “Ini terlalu mudah, apakah ada cara yang lebih rumit dan canggih?”
Beberapa hal memang bisa melekatkan kerumitan dan kompleksitas dengan kecanggihan atau efektifitas. Jadi kalau tidak cukup rumit, pasti tidak cukup cerdas. Kalau tidak cukup kompleks dan terlalu mudah, pasti kurang canggih. Dan tentu, beberapa hal bisa saja memerlukan tingkat kerumitan tertentu. Kembali, ini soal PILIHAN.
Yang bisa jadi pertimbangan, apakah ‘jalan pintas’ itu jelek? Apakah ‘memendekkan sebuah proses’ itu buruk? Apakah ‘menyederhanakan sesuatu’ itu salah?
Huruf L pada NLP adalah singkatan dari Linguistic yang berarti ilmu dalam berkata-kata. Keterampilan dan kesadaran dalam berkata-kata akan sangat membantu manusia dalam kesehariannya terutama sekali untuk mengungkapkan PESAN SEBENARNYA dari kalimat yang diucapkannya – kata lainnya adalah untuk membuka tabir deep structure.
Selain itu, manusia juga memerlukan keterampilan dan kesadaran dalam berbahasa. Tujuannya tentu saja agar kita melatih diri; baik melalui tulisan ataupun berlisan agar pesan yang ingin disampaikan tidak sampai keliru ditanggapi.
Berikut adalah sebuah contoh penggunaan kata-kata yang dapat saja menimbulkan salah pengertian.
Sejak saya mempelajari dan mempraktekan ilmu Neuro Lingustic Programming dan Hypnotherapy, saya terus terang penasaran dan semakin penasaran mengenai kekuatan dari pikiran. Apalagi setelah mengetahui bahwa subconscious mempunyai peran penting dalam kehidupan semua orang termasuk saya.
Dan ada beberapa artikel dan buku yang menyebutkan bahwa kehidupan kita sekarang ini baik dengan segala kesuksesan atau kegagalan, tidak lepas dari pengaruh masa lalu kita. Bahkan saya sendiri sempat merasakan sulitnya untuk menapak karir selama beberapa tahun hingga akhirnya saya menemukan dan berusaha sedikit demi sedikit untuk menapakinya sehingga bisa mencapai impian yang tidak pernah saya impikan sebelumnya.
Ibaratnya anda seperti nahkoda sebuah kapal layar yang sedang berlayar menuju ke suatu tempat. Dimana anda sebagai nahkoda kapal berusaha mengarahkan agar kapal berlayar sesuai dengan tujuan yang ingin diraih. Dan yang seperti juga anda tahu, pada sebuah kapal juga terdapat anak buah kapal yang bekerja untuk mengatur dan membantu sang Nahkoda untuk mencapai tujuan. Coba anda imaginasikan bila sang anak buah kapal (ABK) yang mengurus layar memberontak dan tidak menuruti perintah sang Nahkoda pada saat terjadi badai, apa yang akan terjadi? Kapal mungkin saja terdampar bukan? Bagaimana bila ABK bagian bersih2 tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, apakah tidak akan berpengaruh terhadap yang lain? Pasti terpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi bagaimana caranya agar sang ABK mau bekerjasama dengan sang Nahkoda kapal tersebut? Yang pasti, kita harus mendamaikan atau menetralisir keadaan seperti seorang manager terhadapa anak buahnya bukan?
Faktor PENGGALAN WAKTU memainkan peranan penting dalam NLP. Beberapa orang meletakkan hal-hal baik di garis waktunya sebagai ramalan masa depan, beberapa menginstall hal-hal tidak bermanfaat. Orang berkata “Saya selalu …..” sebagai sebuah janji dan komitmen untuk melakukan dan mengalami hal yang sama lagi di masa mendatang. Bagaimana kalau “Saya selalu sial”? Sama saja. Ada sebuah KEPUTUSAN untuk sial lagi di masa mendatang. Sama seperti “Saya selalu beruntung!”.
Apakah semudah itu kita meletakkan sebuah perilaku di garis waktu? Bisa saja. Generalisasi, distorsi, dan fokus, dengan mudah melakukannya untuk kita.
==============
Simak contoh sederhana percakapan di bawah ini.
Read the rest of this entry »
“Bagaimana cara mendidik anak mandiri? Adakah caranya?”
Demikian pertanyaan yang timbul di dalam pikiran saya. Ketika melihat teman baik saya rela meninggalkan usahanya untuk mengurusi anaknya setiap hari. Mulai dari pagi sampai dengan sore hari. Dia setiap hari menghabiskan waktunya di dalam mobilnya. Sehingga mobilnya bukan lagi berfungsi sebagai “mobil bisnis” tetapi sudah menjadi “mobil sekolah” yang penuh dengan segala perlengkapan sekolah anaknya. Mulai dari botol minuman, pakaian, makanan kecil, buku-buku sampai perlengkapan kecil lainnya. Pokoknya lengkap. Wawww…..mobilnya mirip seperti seorang pengembara yang harus pergi dari satu kota ke kota yang lainnya. Walaupun tugasnya sangat MULIA. Tapi belum tentu setiap orang dapat mengikutinya caranya. Perlu sebuah NIAT yang TULUS.
by Tjia Irawan
Apakah perusahaan anda membudgetkan biaya sebagai investasi bagi PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA? Banyak perusahaan mulai PEDULI dengan PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA yang dimilikinya. Mereka membudgetkan biaya yang tidak sedikit untuk hal tersebut. Sayangnya banyak dari pelaku pengembangan SDM masih beranggapan bahwa pengembangan SDM adalah hanya melalui training.
Pernahkah perusahaan anda MENGUKUR seberapa besar dampak training terhadap peningkatan PRODUKTIFITAS perusahaan? Kalau perusahaan anda mengirimkan seorang karyawan ke sebuah training, apakah perusahaan pernah menghitung Return On Training Invesment (ROTI) yang diberikan karyawan tersebut? Olivero, Bane & Kopelman dalam study-nya menganalisis dampak Executive Coaching dibandingkan dengan training MENEMUKAN bahwa eksekutif perusahaan yang diberikan Training kenaikan produktifitas hanya sebesar 22.4% jauh lebih rendah dibandingkan dengan eksekutif perusahaan yang diberikan Coaching dimana produktifitasnya MENINGKAT sampai 88%
Selain itu sebuah study dari Mancherter Inc (Business Wire, 4 Januari 2001) mengambil 100 eksekutif perusahaan sebagai responden untuk mengukur peningkatan produktifitas dengan metode Coaching.
Sekarang, bayangkan beberapa situasi ini sebentar. Anda harus MEMILIH melalui salah satu dari dua PILIHAN jalan. Anda MEMILIH salah satunya. Anda temui kemacetan yang luar biasa! Atau Anda duduk di sebuah restoran, ingin MEMILIH makanan dari menu yang belum Anda kenal dengan baik. Anda MEMILIH salah satu makanan di situ. Ternyata makanan tersebut tidak enak dan mengecewakan sekali!
Atau Anda berada di depan sebuah rak roti. Di depan Anda puluhan PILIHAN roti dengan berbagai rasa, bentuk, warna. Anda MEMILIH beberapa, dan ternyata PILIHAN Anda tersebut tidak Anda sukai!
Atau Anda harus MEMILIH di antara tawaran dari beberapa perusahaan yang sama menariknya. Anda MEMILIH salah satunya, dan ternyata tidak menyukai PILIHAN Anda tersebut kemudian! Bahkan setelah Anda keluar dengan cepat dan MEMILIH yang berikutnya, ternyata sama tidak menariknya!
Para ahli mengatakan bahwa beberapa emosi negatif yang sangat berdampak pada kesehatan, ini tidak hanya membuat anda murung tetapi membunuh anda secara perlahan. Bisa di bilang jarang orang tahu mengenai hal ini. Nah bisa dibilang hal yang tak anda ketahui dapat merusak tubuh dan kesehatan anda loh. Jika anda sudah sadar nah anda harus mennghilangkan nya bukan ?
Dampak dari emosi yang mematikan menurut Dr. Don Colbert
Kemarahan dan kebencian terpendam dapat menyebabkan :
Tekanan darah tinggi
Sakit Kepala migrain
Penyakit jantung
Tukak lambung
Stroke
Kesedihan dan ketakutan dapat menyebabkan :
Depresi
Trauma
Phobia
Kecemasan yg berlebihan
Penyakit mental lainnya
Bisa melakukan sesuatu untuk orang lain’ adalah salah satu ungkapan paling populer saat seseorang ditanyakan apa yang penting dalam hidupnya. Bahkan, dari pengalaman saya sendiri, ungkapan tersebut cukup sering berada di Top 4. Tidak secara otomatis berarti cukup banyak orang juga yang akan berbuat baik kepada orang lain. Ini sebuah sinyal NIAT, setidaknya.
Yang menarik adalah bagaimana NIAT ini muncul di kebanyakan orang, walau tidak ada NIAT kuat untuk melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Pertanyaannya: bagaimana kita menolong orang lain di sebuah konteks kalau di konteks tersebut kita bahkan tidak bisa menolong diri sendiri? Bagaimana kita berbuat baik ke orang tanpa, tanpa berbuat baik pada diri kita sendiri? Bagaimana kita membangun hubungan baik dengan orang lain tanpa menjaga hubungan baik dengan diri kita sendiri?
Mari kita menganggap diri kita sebagai orang yang di kebanyakan situasi ingin bisa berbuat untuk orang lain. Singkatnya; FOKUS kita adalah ‘di luar’ dan/atau ‘keluar’. Kita melihat, mendengar, mengalami dengan orientasi di luar diri kita. Bagus? Tentu saja bisa sangat bagus, terutama saat atau dalam konteks kita ingin bisa peka atau membuka kepekaan sensory (indera) kita. Dan tidak dalam konteks kita ingin mengevaluasi diri atau saat kita butuh motivasi dari dalam. Dan bisa memberikan tantangan tersendiri saat kita ingin berbuat baik untuk diri sendiri, membangun RAPPORT atau hubungan baik dengan diri sendiri. Kadang, dalam tingkat paling ekstrim, malah kita akhirnya menjadi tergantung pada kebaikan orang lain, karena kita tidak kunjung berbuat baik untuk diri sendiri. Kadang kita Read the rest of this entry »
