Anak–anak tidak menciptakan perilaku begitu saja, mereka mengadopsi perilaku dari sumbe–sumber yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Menurut Sosiologis Morris Massey ada beberapa periode perkembangan anak dimana mereka mengadopsi segala sesuatu yang mempengaruhi bahkan berdampak pada perilaku mereka.
Berikut 3 periode perkembangan anak yang perlu menjadi perhatian para oaring tua :
-
Umur 0 – 7 tahun Imprint Period
apa yang dilihat, dilakukan, menyerap semua yang di lihat dan di tiru, seperti busa menyerap air. Usia 0 – 7 tahun adalah rawan mengapa karena apa yang mereka lihat dianggap benar, apalagi jika ini berasal dari orang tua, bingung dan “blind belief” dapat menyebabkan trauma atau masalah lain nya.
Gimana nih cara menghindari diri kita supaya tidak terhipnotis? Tanya teman-teman kepada saya. Mereka menjadi gerah juga karena berita-berita di surat kabar yang sering memberitakan korban dari pelaku hipnotis ini. Cukup lama saya merenungkan cara yang paling praktis dan efisien. Supaya mudah diaplikasikan kepada orang lain. Aha…akhirnya ketemu juga.
Cara ini sebenarnya sudah sering kita lakukan. Terutama bagi yang sering mengendarain kendaraan bermotor. Baik motor maupun mobil. Lebih gampangnya kita namakan Teknik Kaca Spion. Sudah ribuan kali mungkin pernah kita lakukan. Tetapi kita nggak sadar bahwa dengan menggunakan teknik kaca spion ini dapat kita gunakan untuk melatih meningkatkan kesadaran di tempat umum.
Ayo…kita langsung latihan aja…..
* Ambil posisi yang nyaman bagi tubuh anda
* Rilekskan tubuh anda…Boleh dengan bernafas secara perlahan..Atau apapun Read the rest of this entry »
“Apakah memang ada perbedaan antara subconscious mind dan unconscious mind. Bedanya di mana? Dan bagaimana tahu perbedaanya? Mohon pencerahan!”
Pertanyaan di atas diajukan oleh seorang penanya di dunia maya ke saya. Pertanyaan ini membuat saya agak kaget karena dalam dunia NLP modern, hal ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Apalagi sejak adanya kebutuhan para founder NLP untuk melakukan pengkaderan trainer dan peneliti NLP generasi baru di awal tahun 2000-an. Dimana Robert Dilts memulai dengan Millenium Project, dan sepanjang yang saya tahu John Grinder dengan New Code-nya, Richard Bandler dengan Neuro Hypnotic Repatterning-nya, Connirae Andreas dengan Core Transformation dan banyak lagi. Saya pikir mereka sudah mulai mengajarkan kepada kader-kader utamanya dalam kelas khusus tentang perbedaan di antara keduanya.
Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya masih belum membedakan keduanya di dalam training yang saya selenggarakan.
Mood swing? Tergantung pada mood untuk melakukan sesuatu? Moody?
True for some people. Berlaku untuk beberapa orang, tapi tidak semua. Tidak untuk orang-orang yang percaya bahwa pikiran dan perilaku dikendalikan oleh diri sendiri.
Apakah kita masing-masing yang mengendalikan pikiran dan perilaku kita? Atau apakah kita adalah makluk ‘habit’ yang menyerahkan semuanya pada ‘kebiasaan’ saja, termasuk membiarkan mood datang dan pergi seenaknya?
Seninya bermain dengan sahabat baik kita, alam bawah sadar, adalah saat kita tidak dengan sengaja mengisi pikiran kita dengan suatu hal, maka ia ‘membantu’ kita dengan memberikan kita sesuatu untuk kita pikirkan. Kadang sesuai yang kita mau, kadang sebenarnya tidak ingin kita pikirkan. Bawah sadar tidak pernah berhenti bekerja, dan ia siap menggantikan alam sadar, saat alam sadar kita ‘take a break’, entah saat kita tidur atau saat kita tidak ingin memikirkan sesuatu. Saat ia memberikan sesuatu yang tidak relevan terhadap konteks dimana kita berada saat itu, di situlah kita berkata ‘Saya sedang tidak mood!’. Karena yang saat itu memenuhi pikiran kita, dan yang memicu respon perasaan atau perilaku kita, sama sekali tidak mendukung apa yang kita mungkin seharusnya lakukan saat itu.
Siang tadi saya ke sebuah Mall yang konon terbesar di Indonesia yang terletak di bilangan Slipi/Tomang bersama keluarga, setelah seminggu meninggalkan mereka untuk memberikan pelatihan Licensed Practitioner of NLP di Yogyakarta yang luar biasa sukses.
Saat masuk foodcourt, saya segera disadarkan bahwa sistem pembelian harus memakai kupon uang-uangan yang dibeli di loket. Seingat saya, emang sudah lama sekali Mall ini memberlakukan sistem ini untuk mengelola footcourt mereka. Tentunya ada ada alasan tertentu yang mereka miliki sehingga memutuskan menggunakan cara ini. Mungkin saja ini adalah cara untuk mengontrol agar omset setiap counter dapat diketahui dengan pasti dan tidak terjadi manipulasi jumlah pembelian dan komisi. Beberapa Mall memang memberlakukan sistem bagi hasil dan bukan sistem sewa ruang murni. Dengan cara bagi hasil ini, maka jika untung dinikmati bersama, rugi juga demikian halnya.
Well, sebagai seorang praktisi NLP, tentunya kita tidak akan melewatkan kesempatan melakukan information gathering dan getol dalam mengamati perilaku dengan attitude “ingin tahu”. Di Mall ini, saya memutuskan untuk menyalurkan hasrat mengamati perilaku pembeli yang ada di foodcourt ini, tentunya mengamati menggunakan keilmuan NLP. Saya tahu Anda penasaran bagaimana cara meninjau struktur proses perilaku dari kacamata NLP.
“In business, you don’t get what you deserve, you get what you negotiate.” - Chester L. Karrass
NEGOSIASI Adalah
Sebuah diskusi antara 2 orang atau lebih unutk mencari kesepakatan , solusi dan saling mrngntungkan kedua belah pihak.
PRINSIP NEGOSIASI
-
-
Prepare Yourself
Persiapkan diri Anda fisik dan mental, pikiran dan emosi adalah hal yang berkaitan dengan REALITA yang Anda inginkan. Ingat PERSEPSI adalah REALITA.
Apa jadinya jika sebelum negosiasi sudah khawatir?
Untuk yang sudah percaya diri, lakukan bangkitkan lagi semangat dan rasa percaya diri. Jika anda tidak mempersiapkan diri terlebih dahulu, maka Anda telah kalah bahkan sebelum negosiasi di lakukan. Read the rest of this entry »
-
“Kapan terakhir anda mengatakan I Love you kepada pasangan?”
Demikian pertanyaan yang saya lontarkan kepada peserta ketika memulai sebuah diskusi Mingguan keluarga. Tanpa memerlukan waktu yang lama, saya sudah mendapatkan banyak jawaban. Beberapa jawaban yang diberikan, “barusan tadi pagi…, sudah lupa tu…, seminggu yang lalu…, ketika pacaran…., dua puluh tahun yang lalu…”
Tahu apa yang perlu dirubah? Tahu apa yang ingin disesuaikan sehingga bisa lebih efektif? Tahu apa yang salah dalam diri? Tahu apa yang dibutuhkan sebenarnya? Tahu bahwa sebenarnya Anda bisa jauh lebih baik dari sekarang, dan perlu melakukan hal-hal tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa dijawab dengan sederhana sekali. Tidak percaya? Cari waktu sendiri untuk Anda, masukan diri Anda ke situasi rileks, entah bersantai, mendengarkan musik relaksasi, meditasi, dan kalau yang bisa self-hypnosis, lakukan. Anda akan dengan mudah menemukan berbagai perubahan, perbaikan, penyesuaian, yang perlu Anda lakukan.
Lalu, kalau sudah ketemu, bagaimana saya bisa berubah?
Lalu, apa tips berubah dengan cepat? Apakah ada cara sehingga kita bisa berubah dengan begitu cepat?
Ada! Apa itu? Berubah saja! Maksudnya?
by Abdul Aziez
”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (kesibukan pekerjaan)”
Ada fenomena menarik saat melaksanakan ibadah Sholat Jumat, terutama adalah saat mendengarkan 2 Khutbah menjelang pelaksanaan 2 rakaat Sholat. Yaitu fenomena terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur lelap (baca: mendengkur). Sampai-sampai ada ungkapan bahwa terapi Insomnia terbaik adalah saat mendengarkan Khutbah Jumat. Fenomena yang kedua adalah meskipun berada di dalam Masjid dan mendengarkan khutbah, namun pikiran kita teraktivasi untuk memikirkan hal-hal di luar materi khutbah. Karena mendengarkan Khutbah Jumat adalah bagian dari Ibadah Sholat Jumat, idealnya saat itu kita sudah berada pada state ibadah, yaitu pada gelombang otak alpha menuju theta. Sehingga kita fokus mendengar dan menyimak esensi khutbah sambil menyiapkan diri masuk ke state Sholat (theta menuju delta).
Gangguan yang biasa terjadi sehingga kita sulit mempertahankan state ini, yang pertama adalah hanyut dan gelombang otak terus menurun keterusan sampai ke delta. Jika ini terjadi maka kita tertidur, bermimpi, dan indera auditory kita tidak mampu lagi menyerap pesan yang disampaikan Khotib. Gangguan yang kedua adalah kebalikannya, karena kita khawatir ketiduran, maka kita mengaktifkan pikiran kita memikirkan hal-hal lain, bisa kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, rencana ke depan, berita di koran, prediksi kelanjutan sinetron atau hal-hal lain selain materi khutbah yang disampaikan khotib. Jika ini yang terjadi maka kita bangkit kembali ke gelombang Beta, sehingga seolah-olah kita berada di luar state Ibadah. Sekali lagi, mendengarkan khutbah adalah bagian dari Ibadah Jumat itu sendiri, bukan sekadar menunggu waktu Sholat Jumat, sehingga saat mendengarkan khutbah Jumat seharusnya kita mempertahankan state ibadah, yaitu fokus dan khusyu’.
There was a time when emotions in the workplace were considered important in relation to employee well being and job satisfaction only. In recent years, the organizations have realized that employee emotions are pervasive in the workplace. The emotions are not only a deep-seated part of work life but have an important role to play in one’s job performance. An employee’s emotions and overall temperament have a significant impact on his job performance, decision making skills, team spirit, leadership and turnover. Its is believed that employees bring their feelings of anger, fear, love and respect with them when they come to work. An employee’s emotions are essential to what happens in an organization. Emotions matter because they drive one’s performance.
Emotions at work place, generally, fall into the category of positive (good) and negative (bad) emotions. Positive emotions are those feelings of an individual that are favorable to the attainment of organizational goals while negative emotions are those that are perceived to be destructive for the organization. To classify them further, emotions can be categorized as discrete, dispositional and as moods. Discrete emotions reflect short lived emotions like joy, anger, fear and disgust which arise from the occurrence of a particular event; while dispositional define an employees overall approach towards life like cheerful, negative, etc. Moods, however, are long lasting as compared to discrete emotions.
