May 13

Goal vs Outcome

Apa yang membedakan antara Goal dengan Outcome? Sebelum saya belajar NLP saya tahunya Goal. Goal sudah merupakan suatu target yang harus dicapai. Saya masih ingat persis ketika masih bekerja dulu, perusahaan memberikan training setting Goal dan banyak yang tahu bahwa Goal itu harus disetting dengan SMART yaitu Specisific, Measureable, Achievable, Realistic dan Timeframe. Memang betul Goal harus spesifik, tapi apakah dengan spesifikAnda akan mencapainya? Contohnya Jika Anda mempunyai goal yang spesifik yaitu saya tidak ingin malas. Apakah spesifik? Ya. Apakah bisa mencapainya? saya katakan tidak. Mengapa? Karena goalnya saja sudah fokus pada masalah yaitu Problem Thinking. Ingat, ketika kita fokus pada masalah, apa yang terjadi? Ya masalah akan datang. Nah bagaimana Anda akan mencapai goalAnda ketika Anda fokus pada masalah? Itulah salah satu perbedaan yang membedakan. Di dalam outcome, ada satu set kerangka yang terbentuk dengan baik. Bedanya Outcome dengan Goal, Outcome melibatkan lima panca indera. Ketika Anda mencapainya, Anda bisa merasakan kegembiraan, bahkanoutcomeAnda sudah bisa Anda lihat, dengar dan rasakan di dalam diri Anda sebelum terlihat dari luar.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
Apr 29

by Wahyudi Akbar

Seorang Meta-Coach dilatih 7 skill dalam memfasilitasi seseorang, diantara 7 skill utama tersebut antaranya adalah kemampuan Receiving Feedback atau Menerima Masukan.

Bagi saya pribadi kemampuan receiving feedback menjadi salah satu kemampuan yang sangat penting dalam menunjang perkembangan diri saya sebagai seorang coach, trainer maupun sebagai individu. Dan saya selalu haus akan feedback, walau kadang feedback itu menyakitkan. :D

Yang saya ingin sharingkan sekarang ini adalah bagaimana kita sebagai seorang coach menerima feedback dari respon atau hasil dari klien/coachee kita.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
Apr 8

by Ang Denny Wijaya

Beberapa hari ini, semenjak pulang dari Coaching Mastery di Bali, ada beberapa pertanyaan yang terus saya tanyakan dalam diri saya. Salah satunya adalah mengapa seseorang perlu untuk dicoach?

Ketika saya membaca artikel-artikel dari Michael Hall dan juga dari rekan-rekan meta coach, seperti Coach Wahyudi, Coach Utoro, serta Coach Teddi ternyata ada banyak sekali manfaat dari coaching, terutama menggunakan teknik meta coach.

Dari sekian manfaat tersebut, ada sebuah manfaat yang menjadi perhatian saya, yaitu “SELF LEADERSHIP

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
Apr 2

Halo Sobat NLPINA, jumpa lagi dalam seri “Field Report”! Pada hari Sabtu, 17 Maret 2013 kemarin, NLP Into Action mendapatkan kehormatan diundang oleh Indonesia NLP Society untuk hadir dalam program dwi wulan mereka, yaitu NLP Talk. NLP Talk mengusung semboyan “Ketika NLP Begitu ASYIKnya untuk diBINCANGKAN dan diAPLIKASIKAN”. Sepengetahuan kami, program ini sudah berjalan sekian lama dan pada kesempatan kali ini menampilkan dua pembicara, yaitu Bapak Syamsul Hatta dan Bapak Ronny F. Ronodirdjo.

Setiba di lokasi, kami di sambut oleh Pak Andra Hanindyo dan Pak Teddi Prasetya. Kami sempat berbincang-bincang dengan Pak Teddi, pendiri komunitas NLP virtual pertama di Indonesia – Indonesia NLP Society, mengenai training yang diikutinya beberapa minggu lalu. Bincang-bincang yang seru!

Peserta yang hadir pada NLP Talk kali ini sekitar 100an orang, yang kebanyakan merupakan agen asuransi. Hal ini terbukti pada saat Pak Syamsul Hatta memulai sesi pertama dan menanyakan kabar para peserta. Para agen asuransi menyambutnya dengan cara yang berbeda dari peserta lainnya. Bagusnya… tidak sampai ada yang naik bangku dan loncat-loncat :) . Sesi pertama ini akan mengusung seri pembelajaran NLP. Jadi, pada setiap NLP Talk, sesi pertama memang disuguhkan untuk dapat mengunyah materi NLP dalam porsi kecil.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
Mar 21

by Ang Denny Wijaya

Seringkali saat seseorang memutuskan menjadi seorang penjual, ada satu tantangan yang dihadapi, yaitu bagaimana mengatasi ketakutan ketika berjualan.

Pertama-tama yang perlu kita ketahui adalah,  perasaan tidak bisa ditekan, karena perasaan seperti sebuah per, jika ditekan, maka lama-kelamaan ia akan seperti pegas. Semakin ditekan, semakin lama ia akan semakin kuat, dan suatu saat ketika kita lengah, ia akan “meledak” keluar.

Pernahkah anda menahan marah anda, anda tahan, lalu kejadian lagi, lalu anda tahan, dan kemudian tiba-tiba saat sudah habis kesabaran anda, anda marah sebesar-besarnya dan sekuat-kuatnya?
Begitupula dengan takut jualan, semakin dipaksakan, semakin ditahan, membuat penjual semakin gelisah, mudah emosi, mudah tersinggung,

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 4.8/10 (4 votes cast)
Mar 18

by Yudhi K. Gunawan

Orang yang bekerja di bidang penjualan akan nyaman menggunakan teknik menjual berbasis NLP. Meskipun teknik NLP umumnya digunakan di setiap area kehidupan. Banyak metode yang sangat efektif yang dapat langsung diterapkan pada penjualan. NLP adalah mengenai komunikasi internal dan eksternal yang efektif serta mempengaruhi perubahan state. Itulah yang dilakukan oleh top sales, berkomunikasi dengan baik dan mempengaruhi state pelanggan.

Ada banyak teknik NLP  yang dapat digunakan untuk melakukan close the sales secara mudah. Untuk kesempatan kali ini, kita akan bahas 4 teknik dalam nlp untuk melejitkan penjualan.

Teknik #1.  Rapport

Kita semua tahu bahwa setengah dari alasan kita membeli sesuatu adalah karena kualitas produk, sementara separuh lainnya adalah karena kita menyukai orang yang menjualnya. Kita lebih bersedia untuk membeli dari seseorang yang kita sukai daripada dari seseorang tang tidak kita sukai. Jadi sebagai seorang tenaga penjualan, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah membuat pelanggan Anda menyukai Anda dan Anda harus melakukannya dengan cepat untuk membangun hubungan baik dengan mereka.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 5.8/10 (4 votes cast)
Mar 12

by Tjia Irawan

Pernahkah Anda mengatakan “Berpikir Positif” atau mengajak orang lain untuk “Berpikir Positif”? Jika jawaban Anda adalah “YA” ijinkan saya untuk bertanya, apa arti dari kalimat berpikir positif? Atau lebih spesifik lagi adalah apa arti kata positif dalam kalimat berpikir positif?

Saya ingin bertanya, jika Anda mendengar kata “berpikir” apa gambaran atau sesuatu yang muncul di benak anda? Lalu sekarang jika Anda mendengar kata ”positif”, apa gambaran atau sesuatu yang sekarang muncul di benak Anda? Jika yang Anda maksud dari arti kata positif adalah hal-hal yang baik, maka apakah jika Anda positif terkena demam berdarah adalah hal yang baik pula? Bagaimana dengan kalimat ini, “positif hamil di luar nikah, positif terserang virus, dsb?”. Jadi kalau begitu apa arti dari kata “Berpikir Positif” berdasarkan arti dari masing-masing kata tadi? Bagi saya, dengan contoh-contoh kalimat tadi sebuah ajakan berpikir positif menjadi sebuah ajakan yang membingungkan, bagaimana dengan Anda?

Kata positif dan negatif mengingatkan saya kembali kepada masa-masa sekolah, ketika membahas mengenai kutub-kutub magnet, dimana jika kutub positif pada magnet didekatkan dengan kutub positif maka akan terjadi daya tolak-menolak, sedangkan jika kutub positif didekatkan dengan kutub negatif pada magnet maka akan terjadi daya tarik-menarik yang akan membuat magnet melekat. Jadi ketika pertama kali mendengar kalimat “Berpikir Positif” saat saya di Sekolah Dasar, yang terbayang di benak saya adalah memikirkan tentang kutub-kutub magnet. Mungkin Anda tidak seperti itu, tapi saya mengalaminya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
Feb 12

by Tatang Akasa

Penilaian apa yang akan Anda berikan pada saat mendengar suara raungan sirene mobil ambulans di siang hari? Bagus atau jelek? Coba ambil waktu sebentar untuk memikirkannya sebelum memberikan jawaban karena jawaban yang diberikan akan mengarah pada suatu kesimpulan yang ujung-ujungnya akan menentukan perbuatan kita bermanfaat atau tidak bermanfaat.

Pada umumnya orang akan menjawab jelek pada saat mendengar raungan sirene. Jarang ada orang yang mengatakan bagus. Namun, seorang praktisi NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang terampil, tidak akan langsung loncat pada suatu judgement atau penilain karena judgement akan memiliki value tertentu yang akan mempengaruhi baik atau buruknya perilaku seseorang.

Jadi apa jawabannya kalau begitu? Menurut saya, jawaban yang paling pas untuk pertanyaan diatas adalah “TERGANTUNG!”

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
Jan 3

by Tjia Irawan

Sebenarnya saya sedang asik-asiknya “mengganggu” pikiran dan perasaan beberapa orang tentang konsep mental block di Twitter, namun sahabat saya @HonjiMilagro mendorong saya untuk menuliskannya dalam bentuk artikel, maka akhirnya saya menuliskan artikel ini.

Apa yang Anda pahami tentang mental block? Beberapa orang memandang mental block seperti “kucing kurap” yang harus dimusnahkan dan dibuang jauh-jauh. Mental block seolah dilihat sebagai aib yang menjijikan bagi beberapa orang.

Ketika saya diundang berbicara sebagai narasumber di acara Indonesia NLP Summit 2012 oleh sahabat saya Bapak Yan Nurindra, saya mengusung tema mental block sebagai pokok bahasan di acara tersebut. Ternyata tema tersebut menjadi tema yang disukai peserta sehingga membuat panitia dapat pekerjaan tambahan beberapa kali menambah kursi karena peserta terus bertambah memenuhi ruang seminar.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 8.6/10 (8 votes cast)
Nov 12

by Andra Hanindyo

“Seekor burung bisa terbang karena dia yakin dia tak bisa berenang”

Sahabat, pernahkah diri ini bertanya kepada burung apa kiranya yang membuat mahluk Tuhan ini berani terbang tinggi meliuk indah menjalani hidupnya? Diri yang haus ingin belajar membaca kehidupan ini pun ikut bertanya-tanya keyakinan apa gerangan yang mendorong seekor burung bisa terbang tinggi.

Pertanyaan itu berhenti kala pikiran ini memikirkan, “Mungkinkah burung terbang bila ia yakin bisa berenang?” Ya bukankah apa-apa yang kita lakukan merupakan apa-apa  yang kita yakini?

“When you believe it you will see it”

Teringat sebuah presuposisi dalam NLP yang mengatakan bahwa “When you believe it, you will see it”. Selain itu Tad James dan Wyatt Woodsmall pernah menulis bahwa keyakinanadalah semacam tombol ON dan OFF dari kemampuan kita melakukan sesuatu.

”Keyakinan adalah semacam tombol ON/OFF dari kemampuan kita melakukan sesuatu.”

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 7.3/10 (4 votes cast)