May 5

by Erni Julia Kok

Apakah Anda berkeberatan dengan judul di atas? Jika ya, ijinkan saya untuk menjelaskan maksud saya terlebih dahulu sementara Anda membaca terus. Sewaktu saya masuk sekolah dasar, ibu saya agak khawatir apakah saya yang masih berumur 7 tahun itu mampu mengurus diri sendiri, apalagi selama hidup saya tinggal di desa. Untuk amannya ibu saya “menitipkan” saya pada guru saya—ow…saya lupa nama beliau, meskipun imajinya masih utuh dalam benak saya. Beliau seorang perempuan berumur 30 an pada waktu itu. Berkulit putih dan cantik. Bila diurut-urut antara keluarga saya dari pihak ayah masih ada hubungan keluarga jauh dengan keluarga suaminya. Sekolah kami itu bekas sekolah Mandarin yang telah ditutup Orde Baru, maka letaknya pun satu kompleks dengan kelenteng dan lapangan basket. Konon beberapa pemain basket Nasional berasal dari kecamatan kecil ini dan mereka berlatih di lapangan tersebut. Hari-hari itu setiap sore sekelompok pemuda bermain di sana setelah toko-toko mereka tutup.

Jawaban ya dari Bu Guru membuat ibu tenang dan beliau segera kembali ke Kota Pontianak. Namun ibu tidak pernah tahu bahwa hanya beberapa jam setelahnya, saya segera diabaikan beliau. Tentu saja. Bodoh sekali mengharapkan seorang single mother dengan dua orang putri yang sangat cantik, halus, terpelihara dengan baik untuk berbagi perhatian dengan seorang anak desa yang bau matahari dan keringat serta bertingkah laku liar. Dari rumahnya kami berjalan ke sekolah. Ibu Guru menggandeng kedua putrinya, satu dengan tangan kanan satunya lagi tangan kiri dan beliau memberi isyarat kepada saya dengan gerakan dagu untuk mengikutinya. Saya menyeringai kikuk dan berjalan di belakang mereka seperti anjing melipat ekor. Suatu perasaan asing menyelinap dalam dada saya. Perasaan tidak berada di tempat yang tepat, tidak bersama orang yang tepat dan tidak diterima. Perasaan-perasaan itu menyadarkan saya bahwa saya harus menjaga diri sendiri. Hari-hari berikutnya saya diam-diam berharap Ibu Guru menunjukkan di depan kelas bahwa kami saling mengenal, bahwa kami masih memiliki hubungan keluarga. Tetapi saya segera menyadari bahwa di kelas saya waktu itu ada keponakan almarhum suaminya. Tidak mendapatkan pengakuan beliau membuat saya selalu bertingkah laku aneh untuk menarik perhatiannya. Tentu saja yang saya dapatkan adalah sabetan rotan atau bentakan.

Dalam hal nilai pelajaran, saya bersaing ketat dengan seorang murid laki-laki…oh, saya lupa juga namanya, tapi saya ingin menyebutnya A Chung. Mungkin benar itu namanya. Hasil ulangan kenaikan kelas menunjukkan nilai Bahasa Indonesia kami sama-sama 10 dan matematika juga sama; 7. Untuk memutuskan siapa yang berhak jadi juara kelas Ibu Guru meminta kami berdua maju ke depan kelas. A Chung dan saya berbagi papan tulis dengan kapur tulis siap di tangan dan Ibu Guru membacakan soal matematika yang harus kami pecahkan.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 7.7/10 (3 votes cast)
May 2

by Henry Yonathan

Salah satu kekuatan NLP (Neuro-Linguistic Programming) adalah linguistik. Sepengetahuan saya, semakin piawai seorang praktisi NLP, maka semakin piawai pula berlinguistik. Kemampuan seseorang mengelola linguistik di dalam dan di luar dirinya dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak terduga. Hal ini membuat saya teringat akan sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh Bapak Johanes Simatupang mengenai dirinya dan temannya yang merupakan orang Betawi.

Flower & Interest

Kisah ini terjadi di negeri Paman Sam, dimana pada waktu itu mereka masih mahasiswa. Si Betawi ini telah menyiapkan dirinya dengan kursus bahasa Inggris di Indonesia selama 1 bulan, sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Sedangkan Pak Johaness sepertinya sudah lebih dahulu tiba di Amerika Serikat dan memiliki persiapan bahasa Inggris yang cukup mumpuni.

Suatu ketika mereka mengunjungi Bank untuk suatu keperluan. Nah, mungkin karena si Betawi ini masih kaget akan dunia yang baru dan agak sok, begitu melihat teller bule yang cantik, didatanginyalah teller tersebut. Percakapanpun dimulai oleh si Betawi, “Good morning Miss. What’s the flower?”. Mendengar kalimat tersebut, sang teller menjadi seperti agak bingung dan terdiam. Melihat hal tersebut dan tidak mendapatkan jawaban, si Betawi kembali melontarkan pertanyaan, “What’s the flower?”. Sekali lagi sang teller tampak kebingungan. Dalam keadaan yang masih bingung dan tetap bersikap ramah, sang teller menjawab dengan agak terbata-bata, “I’m sorry Sir, we don’t have any flower here”. Mendapat jawaban itu, si Betawi pun menjadi gusar. “Flower… Flower!”, demikian ujarnya seraya menegaskan maksudnya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
Apr 15

by Erni Julia Kok

Outcome Thinking merupakan satu dari empat filosofi Neuro Linguistic Programming (NLP). Dasar pemikiran utamanya ada dua. Pertama bila seseorang berada pada kondisi yang tidak diinginkannya (present/problem state), ia harus merespon dengan bertanya: kondisi seperti apa yang diinginkannya (desired state)? Mencari solusi untuk mengatasi setiap problem adalah seperti berpikir di luar kotak, sebaliknya, semakin lama terpaku pada persoalan atau hal-hal yang tidak diinginkan dapat membuat persoalan menjadi semakin berat dan sulit ditangani. Sebagai contoh, bila seseorang sedang menderita sakit kepala, ia dapat memilih untuk terus-menerus merasakan penderitaannya hingga rasa sakit itu menjadi hiperbola atau meminum obat penahan sakit, kemudian mengalihkan pikirannya pada hal-hal yang menyenangkan agar dapat “melupakan” gangguan sakit kepala tersebut.

Kedua; melibatkan kecerdasan pikiran alpha sehingga kita dapat menjiwainya. Bila kita telah dapat menjiwai apa yang kita inginkan—meskipun belum terjadi, maka keinginan tersebut akan berbalik menuntun perilaku kita. Gol adalah apa yang kita rancang dengan menggunakan kecerdasan kognitif, analisis, dan logis, sedangkan outcomes adalah akibat atau hasil dari tercapainya suatu gol. Supaya peryataan gol dapat diterapkan maka perlu disusun dalam format yang terstruktur yang disebut well-formed dan mengikuti modus operandi pikiran alpha yang cerdas.

Cara menyenangkan yang sering saya gunakan untuk mengilustrasikan goal dengan outcome adalah dehidrasi di siang yang terik, segelas air yang memberi efek kesegaran. Bayangkanlah bahwa Anda sedang berkelana di padang pasir dan suatu malam Anda tertidur pulas, dan tidak tahu kalau seseorang telah mencuri persediaan air minum Anda. Keesokan harinya Anda melanjutkan perjalanan. Karena teriknya matahari di padang pasir tak terperikan, Anda segera mengalami dehidrasi, luar biasa haus; kerongkongan Anda kering, mulut Anda terasa tebal, lidah Anda terasa kaku dan bibir-bibir Anda mulai meretak. Anda berada dalam problem state dan jelas Anda menginginkan—sangat menginginkan—air! Anda tahu bagaimana rasanya air segar membasahi bibir-bibir, mulut dan melewati kerongkongan Anda (future pace). Gol atau tujuan Anda sangat jelas: air! Anda beruntung, bertemu dengan rombongan kafilah dan mereka memberi Anda sekendi air. Gol Anda tercapai. Setelah meminum secukupnya, Anda merasa segar (outcome).

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
Dec 30

by Idrus Perkasa Putra

Sadarkah Anda bila sebagian orang bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya? Contohnya, orang menggemari rokok, latah, kecanduan game, pemarah, pemalu dsb. Dan tahukah Anda, dibalik semua itu ada hal baik di dalamnya menurut pelaku tersebut? Tentunya, jika hal ini dihilangkan dalam diri orang tersebut, kemungkinan dia juga kehilangan hal positif dalam dirinya. Menariknya, negatif menurut Anda belum tentu negatif menurut orang tersebut! Yang penting untuk diingat adalah, manusia selalu hidup dan membentuk dunianya sendiri, oleh karenanya setiap manusia itu unik, dan salah besar bila memaksakan apa yang ada dipikiran kita untuk menjadi pemikiran orang lain!

Underlying Every Behaviour Is a Positive Intention, ini merupakan salah satu presuppositions dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang berartikan Selalu Ada Maksud Baik Dibalik Sebuah Perilaku. Dan inilah yang menyebabkan beberapa dari manusia bertahan dengan perilakunya yang negatif dan memilih untuk tidak dihilangkan dalam dirinya!

Dari beberapa teman terapis saya, ada yang memiliki anggapan yaitu “SAYA DAPAT MENYEMBUHKAN SETIAP PERMASALAHAN KLIEN YANG DATANG KE SAYA”, Bagus juga sih mempunyai anggapan seperti ini, TAPI persepsi seperti ini ternyata SALAH BESAR !!! (Menurut Saya). Dan kira-kira inilah yang menyebabkan beberapa sesi hipnoterapi terhadap perubahan sebuah perilaku manusia tidak berhasil.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 8.8/10 (5 votes cast)
Dec 19

by Tjia Irawan

Ide  yang tertuang dalam NLP BUSINESS SERIES diinspirasikan dari pengalaman Penulis sebagai Executive Coach, Praktisi Bisnis, dan Praktisi Pengembangan  Sumber Daya Manusia. Penulis percaya ada banyak hal yang belum lengkap yang seharusnya ada di dalam setiap artikel yang dibahas. Harapan penulis adalah NLP BUSINESS SERIES dapat menjadi seperti sebuah Operating System Komputer yang bernama LINUX dimana setiap orang yang memiliki KOMPETENSI tertentu dapat MENAMBAHKAN PENGETAHUAN dan pengalamannya ke dalam artikel ini sehingga artikel ini semakin kaya, semakin berkembang dan menjadi sumber inspirasi bagi para Pelaku Bisnis.

NLP BUSINESS SERIES

NEURO LOGICAL LEVEL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS

Neuro Logical Level atau selanjutnya penulis menyebutnya sebagai NLL saja adalah Metode NLP yang penulis sukai. Mengapa? Karena metode ini dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai area termasuk area bisnis.  NLL sangat menarik diaplikasikan dalam dunia bisnis karena dapat diaplikasikan ke dalam konsep berpikir strategis. Konsep berpikir strategis inilah yang menjadi kunci bagi PERUSAHAAN untuk memenangkan persaingan. Bagi seorang Business Practitioner yang terlibat dalam pengambilan KEPUTUSAN STRATEGIS mungkin tanpa disadari apa yang penulis tulis ini sebenarnya telah dipahami dan diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari.

Penulis tidak akan membahas level-level NLL seperti Environment, Behaviour, Capability, Value & Belief, Identity dan Spiritual sebagaimana yang sering kita baca bersama dalam buku-buku dan artikel-artikel, akan tetapi penulis akan membahasnya lebih sebagai kerangka berpikir dalam pengambilan sebuah KEPUTUSAN STRATEGIS sebagaimana konsep awal dari setiap artikel NLP BUSINESS SERIESS. Bagaimana persisnya kerangka berpikir tersebut digunakan, penulis akan membaginya menjadi 6 bagian di bawah ini :

1.       Kapan dan Dimana

2.       Apa

3.       Bagaimana

4.       Mengapa

5.       Siapa

6.       Untuk Tujuan Apa

MENGAPA

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (4 votes cast)
Dec 15

Oleh : Owen Fitzpatrick

Penterjemah : Tim NLP Into Action

Sumber http://owenfitzpatrick.com/blog/nlp-doesn%E2%80%99t-change-your-life-you-do/

Salah satu hal yang saya sukai pada sebuah wawancara dengan Richard Bandler beberapa tahun lalu adalah ketika Bandler ditanya akan menuju kemanakah NLP? Dia segera menjawab bahwa NLP tidak akan kemana-mana, sebab NLP bukanlah sesuatu yang hidup. Tentu saja, kita semua berbicara ‘tentang’ NLP dan terkadang bahasa kita menyebutnya sebagai seolah-olah ‘itu’ (sesuatu yang hidup). Namun kuncinya adalah jangan mengasumsikan bahwa NLP mampu mengubah kehidupan kita. Karena ‘itu’ (NLP) tidak dapat melakukannya. Hanya kitalah yang mampu.

Baru-baru ini Irish Institute of NLP merayakan ulang tahunnya yang kesembilan. Selama hampir sepuluh tahun, mitra saya dalam pelatihan, Brian Colbert, dan saya telah mengajar ribuan orang dari berbagai belahan dunia untuk menggunakan keterampilan dan sikap ber-NLP untuk mengubah hidup mereka.

Salah satu hal yang saya yakini yang dapat membuat kami menonjol dan memberikan pelatihan berkualitas tinggi adalah fokus yang kami miliki dalam membuat konsep-konsep menjadi sederhana. Sepanjang yang saya perhatikan, hal ini terbilang langka di bidang Neuro-Linguistic Programming. Yang seringkali terjadi adalah semakin suatu ide terdengar rumit maka seharusnya semakin bernilai mahal.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 9.8/10 (8 votes cast)
Nov 1

by Erni Julia Kok

Steve Paul Jobs (lahir 24 Februari 1955 dan meninggal 5 Oktober 2011) diakui sebagai inovator yang telah banyak menginspirasi orang-orang muda lain di dunia. Ketika belajar di sekolah menengah di Cupertino, Steve memanfaatkan waktu luang untuk menghadiri perkuliahan di The Hewlett-Packard Company di Palo Alto. Saking sering hadir di sana, dia menjadi terkenal, hal ini menyebabkan dia direkrut sebagai summer student. Di sanalah, pada usia baru 13 tahun, Jobs bertemu Stephen Wozniak sesama karyawan paruh waktu di musim panas. Keduanya segera menjadi konco pret dan tidak lama kemudian Jobs mulai membantu Wozniak menjual penemuannya yang ilegal—karena dapat dipasang pada telepon untuk digunakan menelepon jarak jauh tanpa harus membayar. Di samping itu Jobs juga memanfaatkan waktu luangnya untuk memperbaiki dan menjual sistem stereo.

Setamat sekolah menengah tahun 1972, Jobs kuliah di Reed College, Portland, Oregon, tapi dia segera menyadari tidak berminat mencapai gelar sarjana. Hanya bertahan satu semeter, Jobs berhenti. Walaupun demikian, dia bertahan selama setahun dengan hanya mengikuti mata kuliah filosofi, fisika, dan sastra. Dua tahun kemudian Jobs kembali ke California dan bergabung dengan klub pehobi komputernya Wozniak (The Homebrew Computer Club). Selain itu, Jobs mulai bekerja sebagai teknisi di Atari, perusahaan yang waktu itu memproduksi video games.

Bekerja di Atari memungkinkan Jobs menabung cukup uang sehingga dia dapat jalan-jalan ke India bersama seorang teman dari masa kuliah di Reed College, Daniel Kottke—kemudian menjadi karyawan pertama Apple. Sekembalinya ke California, Jobs mendapat tawaran dari Atari untuk membuat atau lebih tepatnya menciptakan semacam papan sirkuit yang akan diinstal pada mesin permainan “The Game Breakout”. Karena kurang paham tentang papan sirkuit, Jobs mengajak Wozniak bekerja sama. Singkat cerita, pengalaman bekerja sama di Atari ini berlanjut sebagai bibit yang menumbuhkan pohon “Appel”, sebuah perusahaan yang paling sukses dan revolusioner di abab ke-20.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
Oct 9

by Johny Rusly

Seorang profesor sedang membawakan pelajaran tentang bagaimana kata-kata dapat memberi pengaruh kepada seseorang.

Mahasiswa yang duduk di pojok kanan ujung belakang, mengacungkan tangan, berdiri, lalu menyatakan ketidak-setujuan terhadap pernyataan profesor.

Profesor dengan santai menjawab, “terima kasih atas tanggapannya, silahkan duduk kembali ANAK HARAM JADAH!”

Tidak hanya mahasiswa tersebut, seluruh kelas geger mendengar ucapan profesor. Gumanan suara, bagaikan dengungan lebah, memenuhi seisi ruangan.

Mahasiswa itu, dengan badan gemetar dan muka merah padam, duduk kembali.

Pas ketika badan mahasiswa tersebut menyentuh kursi, sang profesor berkata dengan suara yang lembut, “Maafkan saya, tadi saya salah memilih kata. MAUKAH ANDA MEMAAFKAN SAYA?”

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
Sep 30

by Wahyudi Akbar

Apa itu pikiran?

Apa itu Belief?

Apakah memungkinkan bagi saya untuk berpikir dan tidak mempercayainya?

Tentunya Anda dapat berpikir tentang sesuatu dan merepresentasikan sesuatu di dalam representasi internal Anda tanpa mempercayainya. Berpikir adalah satu hal; mempercayai (believing) juga adalah hal yang lain. Bila demikian, maka apa yang membedakannya? Kita dapat berpikir tentang sesuatu tanpa mempercayainya, bukankah itu adalah sesuatu yang dashyat bahwa kita dapat berpikir namun tidak mempercayainya.

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 9.8/10 (5 votes cast)
Sep 27

By Dudi Mardiyansyah

Mengapa karyawan, pengusaha, pegawai lainnya belum bisa menjalankan tugas, tanggung jawab dengan optimal dan profesional?

Pakar HR mengatakan, karena belum kompeten

……………………………

Kompeten/Kompetensi Itulah kata yang sering kita dengar…..

Lalu…….

Apa itu kompetensi…………

Apa Manfaatnya……………

Bagaimana cara meningkatkan kompetensi……

Read the rest of this entry »

VN:F [1.9.17_1161]
Rating: 10.0/10 (4 votes cast)